Belenggu Mafia Lapuk

Belenggu Mafia Lapuk
38. Panik


__ADS_3

"Jangan kamu kira aku tidak tahu tujuanmu terburu-buru begini. Kamu ingin pergi kerumahku karena ingin mengambil ponsel itu kan? kamu ingin melenyapkan barang buktinya kan?" Andre mencerca Yansen dengan banyak pertanyaan.


Namun Yansen tetap saja diam membisu. Pikiran pria itu lebih memikirkan dimana keberadaan Evellyn saat ini.


"Apa sebelum pergi dia mengatakan sesuatu?"


"Masih berpura-pura juga rupanya. Jangan kamu kira aku akan luluh dan mudah tertipu. Kamu...."


"Tolong anda berpikir rasional sedikit. Buat apa aku mengajaknya bertemu diluar, sementara kami bisa bicara sepuasnya dirumahku. Aku berani bersumpah demi apapun, aku tidak pernah mengirim chat itu pada Evellyn."


Andre terdiam. Pria disampingnya itu begitu meyakinkan dirinya.


"Apa mungkin sudah terjadi kesalahfahaman disini? kalau dia benar tidak melakukan apapun pada Evellyn, lalu dimana putriku saat ini? apa Evellyn memiliki musuh lain?" batin Andre.


"Apa kamu sungguh-sungguh bukan pengirim chat itu?"


"Bukan. Itulah sebabnya aku harus memastikan isi chat itu. Jika beruntung, kita bisa melacak nomor si pengirim."


Suasanan mendadak hening. Kedua pria itu larut dalam pemikiran mereka masing-masing.


"Eve. Aku harap kamu baik-baik saja, sebenarnya siapa yang menginginkan kamu celaka? sehingga orang itu harus menggunakan namaku untuk memfitnahku. Apa tujuan orang itu sebenarnya? apa dia ingin Evellyn membenciku?" batin Yansen.


Yansen semakin menambah kecepatan mobilnya. Dia tidak ingin terlambat sedetikpun, karena dia ingin segera menemukan keberadaan Evellyn.


Tidak memakan waktu lama bagi mobil sport milik Yansen, agar sampai dikediaman Andre. Pria itu segera bergegas masuk kedalam rumah, karena ingin segera membaca isi chat itu.


"Dimana ponselnya?" tanya Yansen.


Andre bergegas mengambil ponsel itu dikamarmya, kemudian memberikannya pada Yansen. Yansen dengan tidak sabar membuka aplikasi itu. Matanya terbelalak saat benar-benar ada orang yang mengatasnamakan dirinya untuk menipu Evellyn.


"Kurang ajar! bajingan mana yang berani berurusan denganku. Apa dia tidak sayang dengan nyawanya?" gerutu Yansen.


Yansen mencoba membuat panggilan pada nomor si pengirim, namun sudah barang tentu nomor itu sudah tidak aktif lagi. Yansen segera membuat panggilan untuk Zavier dan teman-temannya, agar segera menemuinya dikediaman Andre. Tidak menunggu berapa lama kemudian, ketiga temannya pun datang.


"Apa yang terjadi?" tanya Zavier.


Tanpa menjawab, Yansen menyodorkan ponsel Evellyn, agar teman-temannya membaca isi itu.

__ADS_1


"Ada seseorang memakai namaku untuk menipu Evellyn. Aku tidak tahu tujuannya apa, yang jelas aku yakin dia ingin membuat kesalahfahaman antara aku dan Evellyn."


"Apa kamu sudah menghubungi nomor itu?" tanya Diego.


"Sudah, tapi tidak aktif." Jawab Yansen.


"Hubungi orang kita standby untuk ngecek nomor itu. Jadi pada saat nomornya aktif, lokasinya bisa terlacak," timpal Owen.


"Sekarang kita langsung cek ke lokasinya saja. Bukankah dia janjian di kafe Star?" tanya Zavier.


"Oke kita langsung kesana saja." Jawab Yansen.


"Aku ikut," ujar Andre yang langsung diangguki oleh Yansen.


Mereka berlimapun pergi menuju kafe sesuai yang ada pada petunjuk isi chat di ponsel Evellyn. Namun saat mengecek cctv disana, cctv itu sudah diretas dan mereka tidak menemukan petunjuk apapun.


"Suruh orang-orang kita untuk meretas cctv jalan!" ujar Yansen sembari memijat keningnya.


Otak Yansen tidak mampu berpikir dengan benar saat ini. Pikiran-pikiran buruk sudah bergelayut dibenaknya.


"Evellyn. Kumohon kamu harus baik-baik saja, minimal jangan pergi dalam keadaan salah faham begini," batin Yansen.


"Meski temperamennya buruk, dan sikapnya cuek, tapi entah mengapa aku percaya kalau dia bisa melindungi Evellyn dengan baik. Evellyn, kembalikah nak. Apa kamu tidak ingin melihat, berondong tuamu sudah membalas cintamu?" batin Andre.


"Gimana?" tanya Yansen.


"Sepertinya ini sudah direncanakan dengan matang, mereka bahkan sudah menyabotase seluruh cctv jalan agar tidak dapat diretas." Jawab Zavier.


"Apa ini ulah Orland? tapi kenapa dia menargetkan Evellyn?" tanya Yansen.


"Jawabannya cukup simple, karena dia menganggap Evellyn adalah wanitamu." Jawab Diego.


"Siapa Orland?" tanya Andre.


"Salah satu musuh kami. Salah satu geng penguasa bawah tanah." Jawab Owen.


"Penguasa bawah tanah? kenapa kalian bisa berurusan dengan orang berbahaya seperti itu? kalian harus menjauh dari geng mafia itu, kalau tidak ingin terbunuh," ujar Andre.

__ADS_1


Diego hampir saja kelepasan tertawa saat mendengar ucapan Andre. Andai pria itu tahu, bahwa orang yang menghamili putrinya adalah ketua mafia terbesar di kota J.


"Jadi kita harus bagaimana sekarang? tidak mungkin kita menyerbu kesana tanpa penyelidikkan terlebih dahulu. Iya kalau benar mereka yang menculik Evellyn, kalau bukan gimana?" tanya Diego.


"Benar yang Diego katakan. Kita harus selidiki dulu, baru bertindak," timpal Owen.


"Baiklah. Suruh orang kita untuk menyelidiki mereka. ketika itu benar, segera hubungi aku. Biar aku sendiri yang menjemput Evellyn." ujar Yansen.


"Jangan gegabah. Itulah yang mereka inginkan. Orland ingin melenyapkanmu, agar bisa menjadi pemimpin mafia terbesar di kota J," ujar Zavier.


Andre mendekati Yansen dan mentap mata pria itu.


"Aku tidak tahu kamu itu seperti apa, berasal dari keluarga mana, dan pekerjaanmu apa. Tapi Yansen, aku percaya satu hal, kamu bisa membawa putriku kembali ke sisiku dengan selamat."


"Berjanjilah kamu akan menemukannya Yansen. Berjanjilah kamu akan membawa putriku kembali," sambung Andre dengan mata berkaca-kaca.


Yansen tidak menjawab pria parubaya itu dengan ucapan, tapi kepalanya sudah mewakili semuanya.


Setelah mengantar Andre pulang, Yansen dan teman-temannya kembali berdiskusi di markas.


"Sebenarnya siapa saja yang tahu tentang kehamilan Evellyn?" tanya Diego.


"Emang apa hubungannya dengan kasus ini?" tanya Owen.


"Barangkali mereka ingin menjadikan Evellyn sandra sekaligus calon anak kalian untuk mengancammu." Jawab Diego.


"Kalau itu memang benar, berarti kita berhadapan dengan seorang pengecut. Hanya seorang pengecut yang menggunakan wanita dan anak-anak untuk menyelesaikan masalah," ujar Zavier.


Diego mencolek paha Zavier, dan memberikan kode dengan mulutnya. Zavier menoleh kearah Yansen yang tampak diam saja dan frustasi.


"Hah...bersabarlah Yan. Berdo'alah, semoga Evellyn dan anakmu baik-baik saja," ujar Zavier.


"Aku hanya merasa bersalah pada Evellyn. Aku benar-benar sudah menghancurkan hidupnya terutama hatinya. Ini karena aku terlalu mementingkan egoku, dan sekarang aku malah kehilangan dia." ucap Yansen sembari tertunduk sedih.


Zavier dan teman-temannya saling berpandangan. Selama mereka berteman, baru kali ini mereka melihat sisi Yansen yang lembut seperti ini. Bahkan biarpun ratusan gadis yang bersedia menaiki ranjangnya, namun hanya dengan Evellyn pria itu bisa takluk.


Yansen berbaring diatas sofa panjang yang dia duduki. Pria itu meletakkan tangannya diatas dahinya sembari memejamkan mata. Kenangan-kenangan manis antara dirinya dan Evellyn menari-nari dipelupuk matanya, terutama saat mereka terdampar dipulau. Juga saat Yansen diam-diam masuk ke kamar gadis itu dan memeluknya. Hati Yansen saat ini benar-benar sedang rapuh, hingga dia tidak berminat lagi bicara dengan teman-temannya.

__ADS_1


TO BE CONTINUE...🤗🙏


__ADS_2