
Kriekkkkkk
Yansen menekan handle pintu ruangan, dimana tempat Owen berbaring dirawat.
Drap
Drap
Drap
Pukkk
"Hey..bangun, enak banget ya jadi orang sakit? jadi bisa liburan panjang, juga nggak perlu disuruh-suruh?"
Blammmm
Mata Owen terbuka seketika, saat telinganya merasa mendengar suara orang yang ingin dia dengar.
Perlahan pria itu membalikkan tubuhnya, berharap itu adalah kenyataan, bukan sekedar halusinasinya.
"Yan-Yansen?"
"Ya, ini aku. Kenapa nggak senang lihat aku selamat?"
"Yan-Yansen? sungguh ini kau?"
Owen spontan ingin duduk. Tapi lengannya yang sakit menahan dirinya untuk bergerak lebih lincah seperti biasanya.
"Ckk...perhatikan tanganmu itu, kamu belum sembuh!" ujar Yansen yang melihat Owen kesakitan.
"Kemarilah," ujar Owen.
Yansen mendekat kearah Owen, pria itu tahu apa yang Owen inginkan. Yansen segera memberi pelukkan untuk sahabatnya itu.
"Aku senang kamu selamat, kamu tidak tahu betapa takutnya aku saat mendengar dirimu hilang."
"Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku," ucap Yansen setelah pelukkan mereka terlerai.
"Sebenarnya apa yang terjadi? kemana kamu selama ini?"
"Evellyn menghadang peluru untukku dan jatuh kelaut. Saat itu posisiku juga terdesak, dan aku memutuskan untuk menjatuhkan diri juga kelaut. Saat terbangun, ternyata aku dan Evellyn terdampar disebuah pulau kecil."
"Astaga...lalu bagaimana keadaan Evellyn?"
"Beruntung dia selamat, dan pelurunya sudah dikeluarkan. Tapi saat ini dia juga dirawat dirumah sakit ini."
"Hah...syukurlah. Kalian bisa selamat, itu merupakan sebuah mujizat. Saat kami sudah sehat nanti, kita harus merayakannya."
"Ya, harus."
"Sayang. Ayo kita pulang," ujar Ivanka.
Mendengar itu Owen memutar bola mata dengan malas. Pria itu tahu betul apa kemauan gadis penggila urusan ranjang itu.
"Kamu beristirahatlah, aku juga ingin istirahat. Rasanya badanku sakit semua, karena tidur diatas pasir selama 3 hari,"
"Baiklah, kamu istirahat saja."
__ADS_1
"Besok aku akan menjengukmu lagi."
"Emm." Owen mengangguk.
Yansen melangkah pergi keluar ruangan. Sebelum benar-benar pulang, Yansen menyempatkan diri menemui Evellyn. Entah mengapa dia ingin berpamitan dengan Evellyn, hal yang seharusnya tidak perlu dia lakukan.
"Kita kenapa keruangan ini?" tanya Ivanka.
"Aku harus melihat keadaannya dan sekalian pamitan pulang."
"Buat apa? kamu kan majikan dia? kenapa harus sesopan itu?"
Yansen hanya menatap datar ke arah ivanka, yang membuat gadis itu diam seketika.
Krieeekkkk
"Tuan," senyum Evellyn mengembang saat melihat kedatangan Yansen.
Namun senyum itu mendadak hilang, saat melihat Ivanka dibelakang pria itu.
"Kamu tidak apa ditinggal sendiri kan? ada suster yang akan menjagamu. Aku harus pulang dulu, mau mandi dan beristirahat."
"Emm." Evellyn hanya menganggukkan kepalanya.
Sejujurnya hati Evellyn sedang menjerit saat ini, dia paling tidak suka suasana rumah sakit, apalagi dengan jarum suntik. Ivanka tersenyum sinis sebelum meninggalkan ruangan itu dan mengekor dibelakang Yansen.
Air mata Evellyn membasahi pipinya, gadis itu sangat ingin ditemani saat ini.
"Ibu. Eve rindu ibu, ibu kapan jemput eve? hikz..."
Kadang kala saat Evellyn sedang dalam keputusasaan, Gadis itu selalu ingin minta di jemput oleh sang ibu yang telah melahirkannya dan telah meninggal dunia 7 tahun yang lalu.
"Aku pengen mandi," ujar Yansen.
"Mandi bersama yuk?"
"Terserah saja." Jawab Yansen.
Seperti biasa, mandi bersama ala Ivanka tentu saja sembari menggoda Yansen dengan tubuhnya. Yansen yang sudah beberapa hari tidak bercinta, lambat laun jadi tergoda juga. Dua insan itu bercumbu mesra. Namun saat ingin berbuat jauh, tiba-tiba saja bayangan wajah Evellyn melintas dibenaknya, hingga Yansen menghentikan kegiatan yang setengah panas itu.
"Sayang. Kamu kenapa sih? nanggung ini,"
"Aku benar-benar lelah. Lain kali saja," ujar Yansen dan segera membersihkan diri di bawah shower.
Ivanka berdecak kesal karena Yansen mengabaikan dirinya begitu saja. Padahal sebelumnya dia sangat yakin, kalau Yansen sedang terbakar gairah sama seperti dirinya.
"Besok kalian datang temui aku," ujar Yansen diseberang telpon.
"Baik tuan."
Yansen mengakhiri panggilan itu secara sepihak. Yansen kemudian membaringkan tubuhnya yang lelah, hanya dalam hitungan detik, pria itu sudah tertidur dan mendengkur.
"Hah...aku terlalu berpikir berlebihan, ternyata dia benar-benar lelah. Seharusnya aku mengerti dia, dia sudah mengalami hal yang mengerikan."
Ivanka berbaring disamping Yansen dan memeluk erat pria itu hingga terlelap.
"Hikz...tuan, Eve takut tinggal sendirian. Tuan ada dimana?"
__ADS_1
Blammmmm
Mata Yansen terbuka seketika, mimpi itu begitu terasa nyata. Yansen memindahkan tangan Ivanka dari tubuhnya dan turun dari tempat tidur. Pria itu kemudian meraih ponselnya dan melihat jam disana yang sudah menunjukkan pukul 2 dini hari.
.Yansen mencuci wajahnya dan meraih kunci mobilnya, kemudian pergi meninggalkan rumahnya. Saat menemukan pedagang martabak dipinggir jalan, Yansen menyinggahinya dan membeli martabak untuk Evellyn.
Krieekkkkkk
Yansen menekan handle pintu ruangan Evellyn, dan hal pertama yang dia dengar adalah suara isak tangis gadis kecil itu dari balik selimut.
"Eve,"
Srukkkk
Evellyn membuka selimutnya karena seperti mendengar suara Yansen. Gadis itu segera berbalik badan, dan Yansen dapat melihat kalau wajah gadis itu sudah dipenuhi dengan air mata.
"Kenapa? apa yang membuatmu menangis tengah malam begini?"
"Tu-Tuan? apa ini benar-benar anda?
"Ya."
"Tuan, hikz..."
Evellyn berhambur kepelukkan Yansen, dan entah mengapa Yansen ingin membalas pelukkan itu.
"Ada apa?" tanya Yansen.
"Ada apa?" Evellyn yang tersadar, jadi bingung memberi alasan untuk tuannya itu.
"A-Aku lapar." Hanya itu alasan yang Evellyn bisa pikirkan dan keluar dari mulutnya.
"Aku membawakan martabak untukmu, apa kamu mau?"
"Emm." Evellyn mengangguk.
"Aku tidak tahu toping apa yang kamu sukai, jadi aku membelikan toping keju coklat untukmu,"
"Terima kasih tuan."
"Emm. Makanlah,"
Evellyn membuka kotak martabak yang Yansen belikan untuknya. Makanan itu terasa nikmat, karena masih begitu hangat bahkan cenderung panas.
"Buka mulut tuan," ujar Evellyn.
"Aku tidak suka makanan manis,"
"Untuk malam ini saja," ujar Evellyn.
Entah mengapa Yansen menurut saja apa yang Evellyn minta, padahal pria itu paling tidak suka dipaksa, apalagi dipaksa memakan hal yang dia tidak sukai.
"Enak kan? makan manis itu terasa enak kalau kita makannya sedikit, kalau kita memakannya terlalu berlebihan, itulah tuan jadi tidak menyukainya. Kenapa? takut diabetes ya?" tanya Evellyn.
"Tidak juga, sejak kecil memang kurang suka makanan manis. Bahkan minum kopi saja, aku tidak suka jika ditambahkan gula terlalu banyak."
"Akan eve ingat,"
__ADS_1
Eve menikmati martabak sembari mengobrol dengan Yansen. Tidak terasa Evellyn jadi mengantuk dan tertidur. Yansen mengusap puncak kepala Evellyn, pria itu merasa ada yang salah dengan perasaannya terhadap Evellyn. Namun Yansen menganggap itu hanya perasaan sayangnya terhadap seorang adik, karena dirinya memang tidak memiliki keluarga ataupun sanak saudara.
TO BE CONTINUE ...🤗🙏