
"Mau kemana kamu?" ujar Yansen saat melihat Evellyn yang tengah bersiap untuk pergi.
"Mau pergi tuan."
"Siapa yang mengizinkanmu pergi? siapa yang majikan disini? kamu atau aku?" tanya Yasen.
Zavier, Owen dan Diego menahan tawanya. Mereka tahu, bukan itu poin utamanya.Yansen tidak suka kalau Evellyn pergi dengan laki-laki lain.
"Saya cuma pergi sebentar, pacar saya sedang berulang tahun hari ini. Kami ingin merayakannya bersama." Jawab Evellyn.
"Sekali tidak ya tidak. Awas saja kalau kamu berani pergi,"
"Bagaimana kalau saya mengajak pacar saya kemari? apa boleh?" tanya Evellyn asal.
Yansen terdiam, dia tidak memiliki alasan untuk melarang Evellyn, meskipun sebenarnya dia ingin.
"Silahkan saja. Bilang sama pacarmu, jangan bawa tangan kosong. Aku mau buah-buahan segar dan mahal."
"Tuan tenang saja, pacarku bukan orang pelit. Tuan tunggu saja disini," ujar Evellyn.
Evellyn bergegas pergi. Dia ingin meminta bantuan Doni untuk melancarkan aksinya.
"Kamu terlihat sekali kalau sedang cemburu pada bocah ingusan itu," ujar Zavier.
"Cemburu apanya? jangan ngasal, buktinya aku menyuruh dia membawa pacarnya kemari," ucap Yansen.
Diego dan Owen mencebikkan bibirnya. Mereka paling tahu seperti apa sahabatnya itu.
"Kemana mereka? apa bocah itu mengelabuhiku? ini sudah lebih dari 20 menit, tapi dia tidak kembali juga," ujar Yansen.
"Mungkin mereka sedang mencari buah segar dan mahal," sindir Zavier.
Ceklek
Yang dibicarakan tiba-tiba muncul, dengan tangan yang saling bergandengan.
"Sayang. Kenalin, mereka semua kakakku. Nah yang berbaring itu Om ku," ujar Evellyn.
Owen, Zavier dan Diego menahan tawanya. Sememtara Yansen langsung berwajah masam.
"Hai kak...hai Om, moga cepat sembuh ya om." sapa Doni.
"Hai...," ujar Zavier, Owen, dan Diego bersamaan.
"Kak. Kita rayain ultah Doni disini nggak apa kan? kami udah beli kue kecil soalnya. oh ya Om, ini buah segar dan mahal dari Doni," ujar Evellyn sembari meletakkan parcell diatas nakas.
"Sayang. Make a wish dong," ujar Evellyn setelah menyalakan sebuah lilin.
Doni berpura-pura memejamkan mata dan berdo'a. Semua gara-gara Evellyn, karena sejujurnya hari ini sama sekali bukan hari ulang tahunnya. Dia melakukan ini karena ingin membantu Evellyn.
Perlahan Doni membuka mata dan meniup lilin itu.
"Yeyyy...selamat ulang tahun sayang,"
Cup
Evellyn mencium pipi Doni secara tiba-tiba. Owen, Zavier dan Diego menutup mulut mereka sembari melirik kearah Yansen.
"Makasih sayang. Ini bunga yang kujanjikan tiap hari untukmu," ujar Doni yang menjulurkan setangkai bunga mawar merah dari balik jaketnya.
"Makasih sayang. I love you,"
"Love you too." Jawab Doni sembari mengelus pipi Evellyn.
"Astaga...kalian para bocil romantis sekali," ujar Zavier.
"Iya. Kakak jadi iri melihat kemesraan kalian," ucap Diego.
__ADS_1
"Iya. Kita jadi banyak belajar dari kalian, soalnya kita sama sekali nggak bisa bersikap romantis," timpal Owen.
"Ya sudah aku potong kuenya ya?" ujar Evellyn.
Evellyn memotong kue itu dan menyuapi Doni, demikian sebaliknya. Doni menyuapi Evellyn dengan mesra. Jangan ditanya bagaimana raut wajah Yansen saat ini. Merahnya tomat, kalah merah dari wajahnya.
"Om mau kue?" Doni menawarkan.
"Kue seperti itu bikin aku alergi, aku biasa makan kue harga jutaan." Jawab Yansen asal.
"Gitu ya Om? ya maaf saja om, ini kue yang dibelikan Evellyn. Meski harganya dua ribu sekalipun, kalau pacar yang memberikannya, terasa harga 2 milyar. Makasih sayangku," ujar Doni.
Gigi Yansen bergemeratuk, rasanya dia ingin melempar Doni keluar jendela. Sementara Owen, Diego dan Zavier, sangat menikmati tontonan gratis itu
"Sayang. Apa kamu tidak merasakan gerah?" tanya Doni.
"Sedikit." Jawab Evellyn.
"Rambutmu sangat panjang, biarkan aku mengikatnya untukmu. Agar rasa gerahmu berkurang,"
"Iya. Biar ku ambil dulu ikat rambutnya," Evellyn mencari ikat rambut didalam tas kecilnya.
"Ini," ujar Evellyn.
Doni mulai menyisir rambut panjang Evelly dan mengikat rambut gadis itu. Seperti yang dia perkirakan, saat Doni berniat akan mencium ceruk leher gadis itu, suara Yansen menggelegar seketika.
"Apa yang kamu lakukan?" hardik Yansen.
Pranggggg
Sebuah apel menggelinding ke lantai, saat pria itu melemparnya tepat mengenai sebuah gelas dan pecah.
"Om kenapa marah?" tanya Doni.
"Jaga sikapmu itu!"
Tawa Owen, Zavier dan Diego nyaris meledak saat melihat reaksi Yansen tersebut.
"Eve. Bawa keluar bocah ingusan ini, dan kamu segera kembali lagi kesini."
"Ya." Jawab Evellyn singkat.
Evellyn memberikan kode untuk Doni, merekapun keluar dari ruangan itu.
"Makasih ya Don atas bantuannya," ujar Evellyn.
"Jadi pria yang berbaring itu pria yang ingin kamu taklukkan?"
"Ya."
"Aku bisa melihat kalau pria itu menyukaimu," ujar Doni.
"Masak sih Don?"
"Ye...dibilangin nggak percaya. Apa kamu tidak merasa kalau dia tadi sangat cemburu melihat kemesraan kita?"
"Tapi bagaimana caranya agar dia mau mengakui perasaannya itu?" tanya Evellyn.
"Lagipula dia sudah memiliki kekasih," sambung Evellyn.
"Apa? dia sudah punya pacar? kamu kenapa menyukai pacar orang? seperti nggak ada laki-laki lain saja."
"Wanitanya nggak pantas buat dia,"
"Terus yang pantas itu kamu? kamu nggak boleh gitu, coba bayangin kalau posisi wanita itu ada di kamu."
"Aku tidak bisa menjelaskannya padamu, yang pasti mereka tidak mungkin bersama juga."
__ADS_1
"Hah...terserah saja. Yang penting aku sudah mengingatkanmu sebagai teman,"
Sementara itu didalam ruangan Yansen, Tawa Owen, Diego dan Zavier pecah. Mereka sungguh puas saat melihat wajah masam Yansen.
"Daripada kalian menduga-duga, lebih baik urus surat keluarku sekarang juga," ucap Yansen mengalihkan pembicaraan.
"Huuu..masih saja munaroh," ejek Diego.
"Di embat orang benaran baru tahu rasa. Apalagi sainganmu sangat berat. Lama-Lama Evellyn juga mikir, mendingan daun muda kemana-mana," timpal Zavier.
"Tapi Evellyn dan Doni serasi juga ya!" ujar Owen.
"Apa kalian tidak bisa menutup mulut kalian itu?" hardik Yansen.
"Kalian itu...."
Kriekkkk
Lagi-Lagi mulut Yansen bungkam, saat melihat kedatangan Evellyn.
"Bocil sini," ujar Zavier.
"Ya kak,"
"Kamu sudah lama pacaran sama Doni?" tanya Zavier.
"Sekitar sebulan kak."
"Wah....masih anget coy," timpal Diego sembari melirik kerah Yansen.
"Kamu serasi sekali sama dia bocil," Owen memanasi.
"Makasih kak. Ada kemungkinan kami berencana menikah muda setelah lulus sekolah." Jawab Evellyn.
"Widihhh...mantap itu Cil, itu artinya kami bakal segera gendong cucu, atau keponakan ya?" ucap Owen.
"Mana bisa seperti itu? kamu masih utang kerja sama aku selama dua tahun. Apa kamu mau dikenakan pinalti?" ujar Yansen tiba-tiba.
"Doni akan membayar pinaltinya."
Yansen tertawa keras hingga pria itu terbatuk.
"Pria itu mau membayarnya? pakai apa? dengkul? bocah ingusam itu, bahkan hanya mampu membelikanmu setangkai bunga, bagaimana dia mau membayar uang pinaltinya?"
"Memang tuan mau minta dibayar berapa?"
"10 milayar." Jawab Yansen asal.
"10 milyar? apa itu tidak terlalu mengada-ada?"
"Bilang saja kalau pacarmu itu miskin. Pakai sok bilang mau bayarin lagi,"
"Kakak yang akan membayar pinaltinya, anggap saja itu hadiah pernikahanmu," ucap Zavier.
"Kakak juga mau bayarin," timpal Diego.
"Ya sudah kita bagi tiga saja kalau begitu. Anggap saja itu hadiah pernikahan dari kami bertiga," ucap Owen.
"Sungguh?" wajah Evellyn berbinar.
"Tentu saja. Kami ingin kamu bahagia dengan orang yang kamu cintai, kamu sangat hebat. Meski berusia muda tapi berani berkomitment." Sindir Zavier.
"Kalian apa-apaan mau bantuin dia?" tanya Yansen tidak senang.
"Kenapa? kan nggak ada didalam perjanjian, kalau kami tidak boleh membantunya." Jawab Zavier.
Lagi-Lagi Yansen merasa dongkol dengan ulah teman-temannya itu. Pria itu lagi-Lagi berpikir keras untuk menggagalkan rencana Evellyn itu.
__ADS_1
TO Be Continue...😊🙏