
"Kemana pak Andre?" tanya Yansen pada orang suruhannya.
Kedua pria berbadan tegap didepannya jadi gemetaran mendapat pertanyaan yang sulit dijawab oleh kedua pria itu.
"Ada apa dengan kalian? kenapa kalian jadi ketakutan seperti itu?" tanya Yansen.
Brukkkk
Brukkk
Kedua pria itu langsung berlutut didepan Yansen. Mereka tahu betul temperamen Yansen yang kurang baik, kalau pria itu tidak senang, hanya butuh waktu hitungan detik baginya untuk melubangi kepala mereka.
"Ampun bos, sepertinya kita kecolongan kali ini."
"Apa maksud kalian kecolongan?"
"Sepertinya pak Andre sudah pergi sebelum kami sampai disana. Kami sudah menggedor-gedor rumah itu, tapi tetap saja pak Andre tidak keluar."
Mendengar itu Yansen segera membuat panggilan untuk Andre, namun nomor pria itu sudah tidak aktif. Yansenpun bergegas pergi kerumah Andre untuk mengeceknya secara langsung, namun hasilnya tetap nihil. Andre memang tidak ada dirumah itu.
"Zavier. Datanglah kerumah pak Andre, beritahu yang lain juga."
"Ada apa?"
"Sepertinya pak Andre di culik. Dia menghilang," ujar Yansen.
"Apa??? oke aku akan kesana sekarang,"
Yansen memijat kepalanya, masalah seakan bertubi-tubi menimpa dirinya. Setelah menunggu sekian lama, Zavier dan teman-temannya datang.
"Apa yang terjadi?" tanya Zavier setelah turun dari mobil.
"Aku tidak tahu. Pak Andre tiba-tiba menghilang."
"Apa kamu yakin dia benar-benar di culik?" tanya Diego.
"Aku tidak bisa memastikannya. Soalnya rumahnya benar-benar dikunci dengan rapi. Seperti bukan kasus penculikkan."
"Mungkin dia sedang pergi keluar, atau sedang berbelanja mungkin," timpal Owen.
"Itu tidak mungkin. Soalnya aku sudah berjanji menyuruh anak buahku menjemputnya, karena dia aku suruh tinggal dirumahku."
"Apa mungkin dia pergi sendiri kerumahmu? mingkin dia sedang dalam perjalanan kerumahmu saat ini," ujar Owen.
"Ini sudah lewat hampir satu jam. Kalau itu memang benar, pasti dia menghubungiku. Sekarang yang jadi masalah nomor ponselnya sudah tidak aktif."
"Apa dirumah ini belum ada cctv?" tanya Zavier.
"Aku baru mau memasangnya hari ini. Agar saat Evellyn pulang, bisa ketahuan." Jawab Yansen.
"Kalau memang pak Andre diculik, siapa yang menculik dia? bukankah Ivanka sudah kita lenyapkan?" ucap Diego.
"Kenapa jadi seperti teka teki begini sih? atau jangan-jangan Evellyn yang membawa ayahnya pergi?" ucap Owen.
__ADS_1
Yansen langsung menoleh kearah Owen. Pendapat Owen itu begitu masuk akal baginya.
"Apa mungkin begitu?" tanya Yansen.
"Mungkin saja kan? Evellyn nggak mau ketemu kamu, dia memutuskan buat pergi agar dirinya merasa aman. Mungkin dia jadi trauma karena sudah dua kali lolos dari maut. Mungkin saja kan?" ucap Owen dengan hipotesanya.
Yansen tiba-tiba berwajah murung, Diego langsung menyenggol Zavier. Karena Zavier sangat pandai mengendalikan situasi.
"Itu hanya hipotesa sementara. Belum tentu juga seperti itu. Masih banyak kemungkinan lain. Lagian pak Andre pasti bantu jelasin masalah ini," ucap Zavier.
"Aha...ada satu lagi ini kemungkinannya," ujar Owen.
"Apa?" tanya Mereka serentak.
"Bukankah Evellyn punya ibu dan saudara tiri? jangan-jangan merekalah yang sudah nyulik pak Andre. Berharap Evellyn menebusnya," ucap Owen.
"Ada benarnya juga, itu lebih masuk akal. wanita tukang judi itu pasti sangat butuh uang untuk menyalurkan hobinya itu," ujar Diego.
"Kalau begitu kita kesana saja sekarang," ucap Yansen sembari beranjak memasuki mobilnya.
Zavier dan teman-temannya mengikuti Yansen dari belakang. Tidak butuh waktu lama, para mobil sport keluaran terbaru itu tiba disebuah rumah sederhana, tempat saat anak buah Yansen menjemput Andre pertama kali.
Tok
Tok
Tok
Kriekkkk
"Pak Andre nya ada?" tanya Yansen.
"Ayah? ada apa ya?" tanya Sandra.
"Kami datang ingin memberitahukan bahwa beliau mendapat hadiah undian dari Bank."
"Hadiah dari Bank? Bank apa?"
"Anda suruh saja pak Andre keluar, kami tidak punya banyak waktu. Kami ingin menyerahkan uang cash sekarang juga." ujar Diego.
"Uang?" mata Sandra langsung berbinar.
"Apa tidak bisa diwakilkan saja? ayah saya lagi pergi soalnya."
"Pergi kemana?" tanya Yansen.
"Beliau pergi kerumah saudaranya yang punya hajatan. Mungkin lusa baru pulang."
"Kapan pak Andre perginya?"
"Kemarin." Jawab Sandra asal.
"Baiklah, kalau begitu lusa kami akan datang lagi. karena hal ini tidak bisa diwakilkan. Permisi ujar Yansen.
__ADS_1
Yansen dan teman-temannya bergegas pergi, sementara Sandra bergegas masuk kedalam untuk membuat panggilan untuk Miranda.
"Sial. Disaat seperti ini, ibu malah nggak ada. Aku kan bingung cari solusinya gimana," gerutu Sandra.
Sementara itu Yansen dan teman-temannya kembali berdiskusi setelah mereka sampai di markas.
"Terlihat sekali gadis kecil itu memang bibit ibunya," ujar Yansen.
"Memang siapa dia?" tanya Owen.
"Bisa ditebak kalau itu saudara tirinya Evellyn," ucap Zavier.
"Nggak kebayang Evellyn hidup dengan orang seperti itu bertahun-tahun. Pembohongnya itu loh, kayaknya nggak ada obatnya lagi," timpal Diego.
"Sudah dipastikan pak Andre tidak mungkin berada disana. Itu sudah sangat jelas sekali," ujar Yansen.
"Setuju," ucap Zavier.
"Entah mengapa aku merasa kasus kali ini tidak sesederhana yang kita pikir. Aku merasa akan ada hal besar yang akan terjadi dalam hidupku kali ini," ujar Yansen sembari tertunduk.
"Kamu tenang saja. disini kita ada 4 orang pilar. Kita ini pasti kuat buat saling topang. Aku yakin semua akan berakhir dengan indah," ucap Zavier.
"Kalian tahu? inilah alasan Aku tidak ingin jatuh cinta pada seorang wanita. Inilah yang paling aku takutkan. Sekarang sudah terbukti, sekalinya aku menginginkan wanita dalam hidupku, aku seakan jatuh sejatuh-jatuhnya," tutur Yansen.
"Itulah resiko kalau berani mencintai, harus berani patah hati. Tapi kamu jangan menyerah juga," ujar Zavier.
Yansen lagi-lagi berperilaku melow, pria itu berbaring disofa panjang dengan tangan melintang didahinya.
*****
"Sebenarnya kenapa kalian mengurungku disini? kalian itu siapa? mana Yansen?" tanya Andre bertubi-tubi.
"Diamlah jangan berisik. Lagian kamu salah alamat kalau nyari Yansen disini, disini bukan wilayahnya." Jawab salah seorang penjaga.
"Ini bukan wilayah Yansen? apa aku sudah salah mengikuti orang. Apa jangan-jangan mereka ini musuh Yansen," batin Andre.
Andre larut dalam pemikirannya sendiri, sampai lamunan itu harus buyar, saat seorang pria tampan datang menemuinya di ruangan itu dengan senyum terbaiknya.
"Siapa kamu?" tanya Andre tanpa basa-basi.
"Aku adalah malaikat bagimu dan bagi putrimu." Jawab Orland dengan santai.
"Putriku? apa maksudmu?" tanya Andre.
Tanpa banyak bicara Orland mengeluarkan ponselnya, dan memperlihatkan sebuah video yang menampilkan Evellyn disana.
"Eve...Eve anakku, dia masih hidup?" Andre menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Mata Andre memanas, dan air matanya terjatuh seketika karena terharu.
"Dia akan tetap hidup, kalau anda bersikap baik selama anda belum kugunakan."
"Apa maksudmu?"
"Yansen musuh yang ingin aku lenyapkan dari muka bumi ini. Aku akan menggunakan anakmu sebagai kelemahannya, dan mungkin kamu juga akan berguna. Jadi bersikap baiklah selama disini, kalau ingin anak dan cucumu selamat." Jawab Orland.
__ADS_1
Andre langsung terdiam. Baginya itu persyaratan yang mudah, dia cukup lega mengetahui Evellyn dalam keadaan baik-baik saja. Andre yakin suatu saat mereka akan bertemu lagi.
TO BE CONTINUE...🤗🙏