
Hari ini adalah hari yang membahagiakan bagi Yansen dan Evellyn. Baru 1 jam yang lalu, mereka sudah resmi menyandang status sebagai suami dan istri. Saat ini mereka langsung menggelar resepsi pernikahan yang di selenggarakan di salah satu hotel berbintang.
Ucapan selamat banjir dari kalangan kolega dan rekan bisnis Yansen. Para tamu yang datang dari berbagai kalangan, hingga pesta penikahan itu sangatlah meriah.
Dan setelah resepsi selesai di adakan, merekapun saat ini tengah berada di kamar pengantin.
"Aku tidak bisa menggambarkan betapa bahagianya aku saat ini," ujar Yansen.
"Apa yang membuatmu bahagia?" tanya Evellyn sembari membiarkan tangannya di genggam erat oleh Yansen.
"Tentu saja karena menikahi wanita yang spesial sepertimu. Terus aku juga tidak menyangka, bisa melepaskan semua prinsip-prinsip konyolku yang dulu,"
"Prinsip konyol? yang mana?" tanya Evellyn.
"Aku pernah bilang tidak ingin menikah dan tidak ingin memiliki anak." Jawab Yansen.
"Tapi sejak bertemu denganmu, semua prinsip itu perlahan memudar. Meski awalnya aku selalu menyangkal perasaanku, tapi lama kelamaan aku mulai menyadari, kalau perasaanku padamu itu nyata."
"Kalau boleh tahu, sejak kapan perasaanmu itu muncul?" tanya Evellyn.
"Tapi jangan marah ya?"
"Tidak akan." Jawab Evellyn penasaran.
"Sejak diatas kapal itu. Saat aku melihat tubuhmu yang sempurna sedang tertiup angin. Entah mengapa jantungku tiba-tiba berdetak dengan cepat," ujar Yansen.
"Dasar mesum. Otakmu itu tidak jauh dari ************," ujar Evellyn.
"Tapi aku benar-benar mengagumi apapun yang kamu miliki, apalagi saat...." Yansen menaik turunkan alisnya.
Pukkk
Evellyn menepuk dada Yansen pelan, tangan mungil itu kemudian di genggam erat oleh Yansen.
"Aku mencintaimu," bisik Yansen yang membuat wajah Evellyn merona.
"Aku juga mencintaimu." Jawab Evellyn.
Yansen tidak menyia-nyiakan moment romantis itu, pria itu merebahkan tubuh Evellyn dan mengakses seluruh yang dia sukai. Evellyn hanya bisa memejamkan matanya, dan menikmati apapun yang Yansen lakukan padanya.
"Ah...." suara merdu itu keluar dari mulut Evellyn, saat pria itu mulai membenamkan wajahnya disalah satu puncak berwarna merah muda.
__ADS_1
Entah sejak kapan mereka pun tidak mengenakan apapun dan mulai bercumbu panas. Mereka saling memberi dan saling mengakses satu sama lain.
"Ah...Yansen..." Suara Evellyn semakin merdu, saat Yansen membenamkan miliknya dan memompanya secara perlahan.
Suara-Suara merdu Evellyn dan Yansen saling bersahutan. Yansen benar-benar memberikan Evellyn pengalaman bercinta yang tak terlupakan dengan seluruh pengalaman yang dia miliki. Pria itu tidak membiarkan evellyn mengeluh tentang kepandaiannya diatas ranjang, karena dia merasa dirinyalah casanova sejati.
"Ah..ah...Yansen..." Evellyn meneriakkan nama Yansen berkali-kali setiap akan mendapatkan pelepasannya.
"Ah...sayang..." Yansenpun mengerang panjang, saat mendapatkan pelepasan serupa.
Host
Host
Host
Nafas mereka sama-sama memburu, dengan keringat yang menggenang satu sama lain.
"Capek?" tanya Yansen.
"Emm." Evellyn mengangguk.
"Lagi? apa tenagamu itu kuda?"
"Aku ingin membuktikan padamu, kalau ucapanku tidak main-main. Meski menurutmu aku adalah pria tua, tapi aku sanggup bertempur hingga 7 hari 7 malam,"
"Sinting," ucap Evellyn sembari mencebikkan bibirnya
Yansen membuktikan kata-katanya, malan itu Evellyn hanya mendapat waktu sedikit untuk beristirahat. Hingga fajar menjelang, Yansen barulah menghentikan aksinya itu hingga tubuh Evellyn terasa remuk redam.
*****
Dua hari kemudian...
"Kamu benar-benar akan pergi ke London?" tanya Yansen.
"Ya. Aku pikir aku ingin membuka lembaran baru disana. Lagi pula aku sudah lama tidak mengontrol bisnisku disana." Jawab Orland.
"Papa mau ninggalin Samudera?" tanya Samudera.
"Tentu saja tidak. Nanti setiap liburan sekolah, kamu bisa pergi mengunjungi papa ke London. Ini hanya bicara soal jarak, tapi hati kita akan selalu dekat." Jawab Orland.
__ADS_1
Samudera berhambur kepelukkan Orland, dan untuk kali pertama Orland melihat Samudera menangis terisak. Sungguh hati Orland sangat berat meninggalkan Samudera. Tapi dia harus melakukannya, karena pria itu ingin melupakan semua kenangan buruk dan memulai lembaran baru di negara asing.
Orland melambaikan tangannya, saat dirinya memasuki bandara. Setelah itu Yansen, Evellyn dan Samudera kembali pulang kerumahnya.
"Kenapa? kamu sedih Orland pergi?" tanya Yansen.
"Maaf," ujar Evellyn sembari menyeka air matanya.
"Tidak apa, aku mengerti perasaanmu. Nanti kalau urusan kantor agak longgar, kita bisa mengunjunginya kesana. Atau saat Samudera liburan sekolah juga boleh," ucap Yansen.
"Benarkah?" tanya Evellyn antusias.
"Tapi aku ingin tahu, kenapa kamu bisa sesedih itu saat dia pergi? apa saat berpisah denganku, kamu menunjukkan kesedihan yang sama?" tanya Yansen.
"Meski tujuannya untuk menjauhkanku darimu, tapi dia sangat baik padaku. Apapun yang aku inginkan, selalu dia penuhi. Terlebih saat aku sedang hamil Samudera. Seluruh ngidamku, dialah yang mencarinya sendiri. Bahkan meski di tengah malam, dia rela mencari makanan yang aku inginkan."
Yansen terdiam. Dirinya merasa bersalah, karena tidak ada di samping Evellyn saat-saat tersulit wanita itu. Dan yang paling menyakitkan baginya adalah, ada pria lain yang memenuhi semua kebutuhan wanita yang dia cintai.
"Maafkan aku. Seharusnya aku mendengarkan penjelasanmu, dan tidak menghindarimu terus menerus. Andai saja itu kulakukan, tentu kita tidak akan sama-sama tersiksa dan menderita," sambung Evellyn.
Evellyn meraih kedua sisi wajah Yansen. Wajah pria itu terlihat murung, setelah mendengar ucapannya.
"Kamu saat itu memang tidak bersamaku karena satu hal, tapi apa kamu tahu? meski bertahun-tahun perpisahan kita, aku sama sekali tidak bisa menghilangkanmu dari pikiranku. Aku selalu menyangkal, bahwa kamu sudah berlaku tidak adil padaku. Dan ternyata perkiraanku itu benar."
"Mungkin dengan perpisahan kita yang sekian lama, bisa sama-sama membuat kita jadi lebih dewasa, dan sekarang kita sudah dipersatukan. Jadi aku harap kamu jangan pernah merasa iri hati pada Orland, kamu dan dia punya tempat yang berbeda dalam hatiku," sambung Evellyn.
"Aku mengerti," ujar Yansen.
"Sekarang apa rencanamu kedepannya?" tanya Evellyn.
"Tentu saja membuat anak yang banyak, dan menghabiskan sisa umur kita bersama." Jawab Yansen.
"Aisssss...pikiranmu tidak jauh dari hal itu saja,"
"Loh salahnya dimana?"
Evellyn mengomel sembari masuk ke kamarnya. Begitulah kehidupan rumah tangga yang Yansen dan Evellyn jalani. Hingga di bulan berikutnya Evellyn mendapat kabar gembira bahwa dirinya di beri kepercayaan untuk mengandung kembali.
Dan untuk tahun berikutnya, Orland juga memberikan kabar gembira bahwa dirinya akan menikahi seorang warga negara asing di London. Yansen sekeluarga, Zavier dan teman-teman yang lain juga menghadiri pernikahan itu, sekalian untuk berlibur bersama.
END🙏
__ADS_1