Belenggu Mafia Lapuk

Belenggu Mafia Lapuk
36.Menghilang


__ADS_3

Hari mulai senja saat Evellyn dan kedua pria itu tiba disebuah pelabuhan. Karena perjalanan dianggap Evellyn terlalu jauh, dan tubuhnya sedikit lelah, Evellyn sama sekali tidak sadar kalau dirinya sudah dibawa kesebuah pelabuhan.


Evellyn mengerjapkan matanya saat kedua pria itu membangunkannya. Evellyn melirik kearah matahari yang sudah berubah sedikit agak merah dan akan terbenam.


"Bukankah ini pelabuhan waktu itu? apa dia akan melamarku di kapal pesiar waktu itu?" ucap Evellyn lirih.


"Apa dia membuat kejutan bersama kak Zavier dan yang lainnya?" Senyum Evellyn mengembang.


Begitu besar harapan Evellyn pada hubungan dia dan Yansen, sehingga didalam pikirannya hanya berisi tentang masa depannya dan Yansen saja.


"Turunlah," ujar salah seorang pria bertubuh kekar.


Evellyn menuruti perkataan pria itu dan menatap disekelilingnya untuk memcari keberadaan Yansen.


"Dimana tuan Yansen?" tanya Evellyn.


"Beliau menunggu anda diujung sana,"


Evellyn mengekor dibelakang kedua pria itu. Di ujung sana tampak sepi, meskipun penerangan masih terlihat ditepi-tepi pelabuhan. Evellyn mulai sedikit kelelahan mengekor dibelakang, perutnyapun mulai sedikit kram.


"Apa masih jauh?" tanya Evellyn sembari memegang perutnya.


Kedua pria itu berhenti sembari saling berpandangan. Mereka juga saling mengamati wilayah sekitar dan kemudian mendekati Evellyn.


"Sepertinya disini juga aman, sepi, mungkin disini saja kita eksekusi," ujar salah seorang dari mereka.


Evellyn mengerutkan dahinya, gadis itu seolah ingin mencerna ucapan dari pria itu.


"Sebebarnya dimana tuan Yansen? kenapa kalian malah asyik ngobrol sendiri?" Evellyn mulai curiga.


Kedua pria itu malah menyeringai, seringai itu terlalu menakutkan hingga Evellyn tidak perlu berpikir dua kali untuk segera kabur dari situ.


Tap


Tangan Evellyn dicekal oleh kedua pria itu, dan saat dirinya ingin berteriak, salah seorang dari pria itu sudah sigap membekap mulutnya dengan tangan.


"Maaf nona kecil, tuan Yansen tidak menginginkan anda dan anak yang anda kandung. Dia menyuruh kami untuk melenyapkan anda, agar tidak menimbulkan masalah dikemudian hari," ujar Salah seorang pria yang berkumis tebal.


"Kamu angkat kedua kakinya! kita langsung lemparkan saja dia disini," sambung pria itu.


Rekan pria itupun menuruti perintah temannya, dengan mulut yang masih terbungkam, Evellyn masih berusaha menjerit meskipuan suaranya masih teredam.

__ADS_1


"Tuhan, kumohon lindungi aku dan anakku," batin Evellyn diiringi cairan bening yang meleleh dari sudut matanya.


Evellyn dengan sisa tenaganya masih berusaha membrontak, dengan memukul-mukul dada pria itu. Namun semuanya sia-sia, kedua pria itu terlampau besar dan kuat dari dirinya.


Byuuuurrrrrrrr


Setelah hitungan ketiga kedua pria itu melemparkan tubuh Evellyn kedalam air. Untuk sejenak tangan Evellyn masih menimbulkan riak dipermukaan, namun karena tubuh itu lemah ditambah dirinya tidak bisa berenang, Evellyn akhirnya pasrah.


Air mata Evellyn yang bercampur air lautan memang tidak menimbulkan bekas, tapi rasa sakit dihati Evellyn benar-benar membuat gadis itu mengutuk Yansen berkali-kali.


"Yansen, cintaku dan kebencianku padamu akan ku bawa sampai mati. Rasa sakit yang aku rasakan, membuat dendamku akan kubayar lunas jika aku diberi kesempatan hidup sekali lagi. Aku akan membuatmu menyesal telah melakukan kekejaman untuk hari ini,"


Evellyn perlahan memejamkan matanya, kenangan demi kenangan saat dirinya dan Yansen berada dalam dekapan satu sama lain saat terdampar dipulau terpencil seakan ditayangkan berulang-ulang, begitu juga saat pertengkaran-pertengkaran kecil mereka, saat Yansen diam-diam masuk kedalam kamarnya dan memeluk erat dirinya. Sungguh, sampai Evellyn memejamkan mata karena hilang kesadaranpun gadis itu masih tidak bisa percaya, pria yang dia cintai sudah melukai perasaannya hingga kedasar yang terparah.


Deg


Deg


Deg


Di tempat berbeda Yansen tiba-tiba merasakan jantungnya berdebar tidak karuan. Yansen bahkan harus menepikan mobilnya, karena perasaannya benar-benar tidak enak saat ini. Dan entah mengapa bayangan wajah Evellyn seakan menari-nari dipelupuk matanya.


"Apa aku kerumah ayahnya saja? dia pasti berada disana saat ini," ujar Yansen lirih.


Yansen mengusap wajahnya berkali-kali, rasa bimbang dan ragu bergelayut dihatinya. Yansen memutuskan untuk pergi ketempat rencana awal. Yansen memang janjian dengan teman-temannya disebuah klub malam, karena Yansen ingin membahas masalahnya dengan para sahabatnya itu.


"Datang juga akhirnya," ujar Diego.


"Apa mobil sportmu itu sudah berubah jadi odong-odong? kamu terlambat hampir 1jam Yan?" tanya Owen.


"Sebenarnya apa yang ingin kamu diskusikan! sepertinya serius sekali?" tanya Zavier.


"Evellyn hamil." Jawab Yansen singkat, sembari menyambar segelas minuman dari tangan Diego.


Sementara itu ketiga temannya jadi saling berpandangan, karena masih belum mengerti arah pembicaraan.


"Anak siapa? apa anak dengan bocah ingusan itu?" tanya Diego.


"Awalnya aku juga mengira begitu, mengingat anak itu berpacaran dengan bocah ingusan itu. Tapi Evellyn bilang itu anakku, dan dia tidak pernah melakukan hal itu dengan pria lain."


"Jadi?" tanya Zavier.

__ADS_1


"Tentu saja aku menyuruh dia menggugurkan kandungan itu, bahkan aku sudah memberikan uang padanya." Jawab Yansen.


"Apa???" ketiga sahabat Yansen berteriak bersamaan.


"Apa kamu sudah gila? itu darah dagingmu sendiri," hardik Zavier.


"Aku tidak suka anak-anak."Jawab Yansen enteng.


Pranggggg


Zavier membanting gelas minuman, membuat semua orang jadi terkejut.


"Yan. Kita ini semua bajingan, tapi aku tidak menyangka kamu tega melakukan itu pada anak yang usianya bahkan masih 17 tahun. Apa kamu tidak berpikir kalau saat ini dia sedang ketakutan? dia butuh teman berbagi, dan dia hanya ingin percaya padamu dengan mendatangimu. Tapi kamu malah...ah..ya Tuhan..."


"Bagaimana mungkin hati dan perasaanmu itu benar-benar mati, aku bahkan sangat menginginkan ada seorang wanita baik-baik mengandung anakku, tapi kamu malah menghina Evellyn dengan uangmu. Apa kamu sudah gila?" sambung Zavier penuh emosi.


"Iya Yan. Maaf, tapi kali ini kamu sangat kelewatan. Apa kamu pikir menggugurkan kandungan itu tidak berbahaya? gadis itu baru 17 tahun, dia bisa kehilangan nyawamya." timpal Owen.


Deg


Deg


Deg


Yansen mendadak gelisah, tapi tetap saja dia dilema.


"Banyak cara meskipun kamu tidak menyukai anak-anak, anak yang sudah dilahirkan Evellyn bisa saja kamu titipkan di panti asuhan, atau jual ke orang yang tidak memiliki keturunan. Setidaknya itu lebih baik daripada membunuhnya," ujar Diego.


"Kamu sudah menyakiti Evellyn berkali-kali Yan, meskipun dia tidak mengatakannya, dan usianya baru 17 tahun, bukan berarti dia tidak memiliki hati dan perasaan. Dia pasti sangat terhina, kamu sudah menghancurkan hidupnya tapi juga dengan tega menghinanya," timpal Zavier.


"Jadi aku harus bagaimana?"


"Kami tahu sebenarnya kamu suka kan dengan Evellyn? tapi gengsimu itu terlalu kamu junjung tinggi. Jagan sampai kamu menyesal setelah kehilangan dia," ujar Zavier.


"Paling tidak kamu minta maaf padanya sekarang, dan suruh dia urungkan niat untuk menggugurkan kandungannya itu. Jangan nambahi dosa, bayi itu tidak bersalah, kalau kamu nggak mau mengasuh anakmu, aku mau mengakuinya sebagai anakku." ujar Diego.


Entah menagapa Yansen merasa tidak senang mendengar ucapan Diego.


"Aku bahkan akan memasukkan anak itu kedalam kartu keluargaku sebagai anak kandung kalau kamu tidak mau. Tapi ingat, kalau sampai itu kejadian, jangan harap aku memperbolehkanmu memanggil dia dengan sebutan anak."


"Dan yang lebih ekstrim lagi, aku yang akan menikahi Evellyn kalau dia mau," sambung Diego.

__ADS_1


Hati Yansen benar-benar panas mendengarnya. Pria itu mengotak atik ponselnya, dan dia bertambah kesal saat nomor ponsel Evellyn sama sekali tidak bisa dihubungi.


TO BE CONTINUE...🤗🙏


__ADS_2