Belenggu Mafia Lapuk

Belenggu Mafia Lapuk
40.Mencurigai Ivanka


__ADS_3

"Tidak Go, sepertinya kemungkinan Ivanka terlibat juga ada," ujar Yansen.


"Apa maksudmu? mana mungkin dia terlibat? dia kan sedang di Amerika sekarang," tanya Diego.


"Tidak. Ada bagian cerita yang terlewat untuk kalian dengar. Dihari Evellyn menemuiku, Ivanka sempat menguping pembicaraan kami. Dia langsung masuk keruang kerjaku saat mendengar Evellyn hamil."


"Dia protes, dan tidak mengizinkan aku bertanggung jawab atas kehamilan Evellyn. Setelah itu aku menyuruhnya keluar dari ruangan itu. Dan saat aku selesai bicara dengan Evellyn, aku melihat dia pergi dengan tergesa-gesa. Dia bilang akan pergi ke Amerika karena ada temannya yang akan menikah. Bukankah menurut kalian itu terlalu mencurigakan?" tanya Yansen.


"Kamu benar. Bukankah seharusnya dia tinggal diam disisimu karena takut Evellyn mengambilmu darinya? ini malah mentingin kondangan, jangan-jangan memang dia dalangnya," ujar Owen.


"Daripada menduga-duga, kita selidiki dulu awal mulanya. Bukankah dia bilang ingin pergi ke Amerika? jadi kita pergi ke bandara lagi saja, kita cek disana, apa ada nama Ivanka melakukan penerbangan ke Amerika di hari itu?" ujar Zavier.


"Setuju. Lebih cepat lebih baik," ucap Diego.


Merekapun memutuskan untuk kembali ke bandara. Dan merekapun menemukan pencerahan. Yah...Ivanka tidak pernah melakukan penerbangan ke Amerika, dan itu menguatkan kecurigaan mereka pada wanita itu.


"Wanita itu nyalinya sangat besar. Beraninya dia membohongiku. Lihat saja, kalau memang terbukti dia menyakiti Evellyn, aku akan melenyapkannya," ujar Yansen.


"Gawat. Singa kita bisa ngamuk ini," bisik Owen ditelinga Diego.


"Biar tahu rasa si muka dempul," bisik Diego kembali.


Yansen membuat panggilan untuk Ivanka, gadis yang tengah bernyanyi-nyanyi di dalam bathup itu cukup terkejut saat melihat ada panggilan dari Yansen. Pasalnya pria itu biasanya tidak pernah menelpon dia duluan meskipun dia pergi selama apapun.


Ivanka segera menegakkan tubuhnya, dan meraih ponselnya itu.


"Ya-Yansen?"


"Dimana kamu?" tanya Yansen.


"Di Amerika." Jawab Ivanka.


"Amerika bagian mana? aku sedang berada di Amerika saat ini,"


"Kamu di Amerika?" Ivanka terkejut.


"Ya. Aku menyusulmu karena ingin membuat kejutan untukmu," ujar Yansen.


"Katakan kamu ada dimana sekarang? aku akan pergi ketempatmu sekarang juga," sambung Yansen.

__ADS_1


"Kamu pasti lelah, kamu beritirahat saja dulu. Besok aku akan menemuimu, katakan kamu nginap di hotel mana saat ini?" tanya Ivanka.


Yansen sudah mulai hilang kesabaran. Sudah jelas sekali wanita itu sedang menghindari dirinya. Baru kali ini Ivanka menolak bertemu dengannya dengan alasan yang terdengar klise pula.


"Kamu masih saja ingin berbohong setelah kusindir habis-habisan? apa kamu pikir aku memiliki banyak waktu untuk bersenda gurau denganmu? aku tahu kamu tidak berada di Amerika saat ini, jadi katakan kamu ada dimana sekarang!" kata-kata Yansen semuanya penuh penekanan.


Ivanka menelan ludahnya, gadis itu jadi gusar seketika. Dia tahu Yansen sedang diliputi amarah saat ini.


"A-Aku akan pulang besok. Saat ini aku sedang menenangkan diri,"


"Menenangkan diri? menenangkan diri dari apa? apa kamu sudah melakukan hal tidak terpuji?" Yansen masih sekuat mungkin meredam emosinya.


"Semua ini gara-gara kamu, jelas saja aku menenangkan diri dari kamu. Kamu tidak mau berkomitmen denganku, tapi kamu malah menghamili dia. Kamu tiap kali bercinta denganku selalu memakai pengaman meskipun aku sudah memakai kontrasepsi, tapi dengan dia?"


"Heh...kamu menyamakan dia denganmu, tentu saja kamu tidak layak."


"Yansen!" hardik Ivanka. Gadis itu benar-benar merasa tersinggung.


"Teganya kamu berkata begitu padaku? kita bersama bukan sehari dua hari, tapi sudah hampir 8 tahun. Dan sekarang kamu tega menghinaku setelah puas menggunakanku?"


"Kamu sudah tahu aku memang bajingan sedari dulu, tapi kamu masih bersedia merangkak ke atas ranjangku. Menurutmu siapa yang bodoh disini?"


"Hal apa? kalau cuma ingin menghinaku, lebih baik tidak usah."


Yansen mengepalkan tangan dengan erat, dia terlampau emosi saat ini. Zavier memberikan kode padanya, agar Yansen segera mengendalikan diri. Yansen menghela nafas panjang, dia mulai berbicara dengan lembut agar Ivanka mau memberitahu keberadaannya.


"Tentu saja karena aku sudah berubah pikiran."


"Apa maksudmu?" tanya Ivanka.


"Maaf aku terlalu emosi tadi. Aku marah padamu karena membohongiku, kita ini sudah lama bersama bukan? kamu berkata ke Amerika, ternyata tidak disana, jelas saja aku khawatir."


"Kamu mengkhawatirkan aku?" tanya Ivanka.


"Tentu saja. Kamu itu wanitaku, wanita yang selalu memuaskanku selama hampir 8 tahun ini, mana mungkin aku tidak mengkhawatirkanmu."


Pipi Ivanka merona, baru kali ini dia mendengar Yansen bicara lembut dan terdengar romantis ditelinganya.


"Kamu pulang ya? jangan merajuk lagi, aku tidak akan menikahi Evellyn apalagi menginginkan anak itu." ujar Yansen.

__ADS_1


"Apa kamu ingin aku menjemputmu?" tanya Yansen.


"Baiklah jemput aku. Sesekali aku ingin melihat ketulusanmu, jemput aku di Apartement pribadiku."


"Baiklah sayangku, tunggu aku ya?" ujar Yansen.


Yansen mengakhiri panggilan itu dengan gigi terkancing satu sama lain.


"Jijik sekali aku dengar kamu berbicara seperti itu," ujar Diego.


"Ho'oh kesannya kayak lelaki bertulang lunak," timpal Owen sembari terkekeh.


"Dia ingin melihat ketulusanku, dia akan lihat kalau tanganku sudah mencekik mati lehernya," ujar Yansen.


"Kamu harus kendalikan dirimu Yan. Meskipun kamu ingin menekannya, kamu juga tidak boleh emosi berlebihan," ucap Zavier.


"Itu tergantung bagaimana performa dia. Kalau dia membuatku jengkel setengah mati, maka aku akan membuat dia mati beneran." Jawab Yansen.


"Sekarang bagaimana? apa kita akan menemui dia sekarang juga?" tanya Diego.


"Tentu saja. Jangan buang-buang waktu lagi. Kalau bukan dia pelakunya, kita bisa meneruskan pencarian lagi." Jawab Yansen.


"Baiklah ayo," ujar Zavier.


Merekapun bergegas pergi ke Apartement Ivanka. Ivanka yang hatinya tengah berbunga-bunga, segera mencari pakaian terbaik dilemarinya. Dia ingin berdandan secantik mungkin, agar Yansen semakin tergila-gila padanya. Setidaknya itu yang Ivanka pikirkan.


"Akhirnya tiba juga saat-saat seperti ini. Aku akan melakukan apapun agar bisa menjadi nyonya Yansen. Yansen hanya milikku, tidak boleh seorangpun memiliki dia selain aku. terlebih anak ingusan itu," ujar ivanka lirih.


Ivanka menyemprotkan parfum dibajunya, parfum yang wanginya sangat disukai oleh Yansen. Parfum yang dibelikan pria itu ketika mereka sedang liburan ke New ziland 7 bulan yang lalu.


Ivanka melihat dirinya dicermin, dia begitu mengagumi dirinya sendiri disana. Hingga senyumnya kembali terbit, saat suara bel apartementnya berbunyi.


"Itu pasti Yansen," ujar Ivanka.


Ivanka bergegas keluar kamar, karena ingin segera membukakan pintu untuk sang pujaan hatinya.


Krieeekkkk


Tebakkan Ivanka benar adanya. Pria didepannya memang sosok Yansen yang dia tunggu-tunggu. Senyum Ivanka mengembang sempurna saat melihat Yansen berada didepannya. Namun senyum itu lenyap seketika saat melihat ekspresi Yansen yang tidak biasa, terlebih kehadiran Diego, Zavier dan Owen yang muncul tiba-tiba dibelakang pria itu.

__ADS_1


TO BE CONTINUE...🤗🙏


__ADS_2