Belenggu Mafia Lapuk

Belenggu Mafia Lapuk
17. Pura-Pura Amnesia


__ADS_3

"Menurutmu aku sedang melakukan apa?" Yansen balik bertanya, karena dia sendiri bingung harus menjawab apa.


"A-Aku tidak tahu." Jawab Evellyn sembari melengos. Gadis itu baru sadar, dirinya salah melemparkan pertanyaan yang membuat malu dirinya sendiri.


"Sebaiknya jangan bertanya hal yang tidak perlu ditanyakan. Yang pasti jangan berpikiran macam-macam, tidak ada hal yang aneh terjadi antara aku dan kamu."


"Ya. Maaf,"


"Hah...selamat, ada untungnya gadis kecil ini takut padaku. Kalau tidak, bagaimana aku akan menjawab pertanyaannya itu. Nggak mungkin kan aku pura-pura amnsesia?" batin Yansen.


"Tuan. Sepertinya sudah cukup banyak, kita bisa mengambilnya lagi kalau persediaannya sudah habis," ujar Evellyn.


"Baiklah. Ayo kita kembali,"


"Emm."


Yansen berjalan lebih dulu didepan Evellyn. Sementara Evellyn berjalan sedikit lebih lambat, karena punggungnya masih merasakan sakit.


Yansen menoleh kebelakang, dan melihat Evellyn sedikit jauh tertinggal dibelakang.


"Kenapa?" tanya Yansen sembari mendekati Evellyn.


Yansen melihat keringat Evellyn yang cukup banyak didahinya, ditambah wajah gadis itu sedikit memucat.


"Naiklah," ujar Yansen sembari berjongkok dan menyuruh Evellyn untuk naik ke punggungnya.


"Eh? ta-tapi bagaimana kalau anda keberatan tuan?"


"Naiklah! jangan membuatku memberikan perintah dua atau tiga kali. Kalau tidak, aku akan melemparkanmu kelaut. Mau?"


"Eh? ba-baiklah,"


Evellyn bergegas naik ke punggung Yansen, punggung kekar dan indah yang pernah Evellyn lihat.


Deg


Deg


Deg


"Aduh kenapa nih dengan jantungku? apa tuan Yansen bisa mendengarnya? kalau iya, bisa gawat ini,"


"Tuan. Boleh Eve bertanya lagi?"


"Hemm."


"Kenapa tuan ikut jatuh kelaut? sementara tuan tidak memiliki luka tembak dimanapun?"


"Memangnya harus kena luka tembak dulu, baru menghindar? aku kan tidak bodoh sepertimu, yang suka rela menghadang peluru."


"Ughhhh mulut pria ini sangat tajam. Aku terluka juga demi melindungi dia, apa dia itu tidak bisa bicara dengan normal sedikit? tahu gitu biarkan aja dia yang kena pelurunya," batin Evellyn bersunggut kesal.


"Ternyata meski badanmu kecil, tapi tubuhmu lumayan berat. Pasti keberatan dosa nih," ujar Yansen.


"Terus aja menghinaku,"

__ADS_1


"Dosa masih sedikit tuan,"


"Tahu darimana dosamu sedikit?"


"Soalnya usiaku baru 17 tahun, sedangkan usia tuan 34 tahun. menurut perhitungan, mungkin dosa tuan dua kali lipat lebih banyak daripada dosa saya."


"Memangnya perlu ya mengingatkan umur saya begitu? jadi intinya kamu mau bilang saya sudah tua kan?"


"Memang kenyataannya begitu. Giliran dia yang terpojok, tidak mau terima. Dasar pria tua egois," batin Evellyn.


"Kalau tidak ingat punggungmu masih sakit, sudah kulemparkan kamu ketanah!" gerutu Yansen.


Evellyn diam saja, dia tidak ingin lagi menanggapi ucapan Yansen yang akan jadi urusan yang panjang.


Sesampai dibibir pulau, Yansen menurunkan Evellyn perlahan. Gadis itu menata buah apel dan berry diatas tumpukan kelapa muda yang sudah terbuka. Evellyn kemudian duduk dipasir, lebih dekat dari air laut yang menyapu bibir pulau.


Yansen yang mengerti kegelisahan Evellyn, duduk menghampiri gadis kecil itu.


"Apa kamu takut?" tanya Yansen, sembari menjatuhkan bokongnya diatas pasir.


"Tidak." Jawab Evellyn sembari menggelengkan kepalanya.


"Sejak memutuskan menghadang peluru itu, aku sudah siap akan resiko kematian didepan mataku." Sambung Evellyn sembari menatap samudra luas didepan sana.


"Lalu apa yang kamu pikirkan?"


"Ayahku. Dia pasti gelisah memikirkanku. Sebagai anak kandungnya, seharusnya aku yang berkewajiban menjaga dia. Bukan malah meninggalkan dia dalam sarang musuh, yang siap kapan saja meracuninya."


"Lalu kenapa kamu tidak kembali saja?"


"Selagi bisa mempertahankan harga diriku, aku akan mempertahankannya. Paling tidak aku memberikannya pada orang yang aku cintai, bukan dengan cara menjajakan diri."


"Ayah pasti akan baik-baik saja. Kecuali beliau pergi karena penyakitnya."


"Apa yang membuatmu yakin mereka tidak akan membunuh ayahmu?"


"Kalau mereka membunuhnya, maka tak ada alasan lagi diriku kembali bukan? dan itu berarti mereka hilang kesempatan untuk bisa menangkapku dan menjualku."


"Hah...sejujurnya aku lelah hidup begini. Setelah lulus sekolah nanti, aku akan bekerja dan mengumpulkan uang yang banyak. Aku akan pergi membawa ayah dari sana,"


"Aku bisa meminjamkan uang padamu."


"Meminjamkan uang?"


"Kalau kamu hanya butuh membawa ayahmu keluar dari situ, mungkin aku masih bisa membantumu."


"Benarkah?" tanya Evellyn semringah.


"Tapi Evellyn, kamu tentu tahu aku ini orang yang perhitungan. Aku tentu saja tidak mau rugi,"


"Apa maksud tuan? apa anda ingin meminta imbalan?"


"Tentu saja. Kamu pasti tahu kan, orang seperti mereka pasti akan menyewa tukang pukul handal? dan itu nyawa taruhannya."


"Apa yang anda inginkan?"

__ADS_1


"Kalau kamu mau membayarnya dengan uang, tentu kamu tidak akan sanggup."


"Lalu tuan mau apa?"


"Kita hitung saja masa kerjamu. Kalau hutang sebelumnya kamu bayar dengan bekerja gratis selama setahun, maka aku ingin kamu menambah masa kerjamu menjadi 2 tahun. Bagaimana? tentu setimpalkan?"


"Deal." tanpa pikir panjang Evellyn menyetujui persyaratan dari Yansen. Sementara pria itu menyeringai didalam hati.


"Tuan. Kita asyik membuat kesepakatan sendiri disini, apa kira-kira kita akan ditemukan?"


"Kamu tenang saja. Aku tahu betul seperti apa teman-temanku itu. Mereka tidak akan berhenti sampai mereka benar-benar menemukan kita." hibur Yansen. Padahal dia sendiri ragu dengan pemikirannya sendiri.


"Bagaimana kalau mereka menyerah, dan berpikir kalau kita sudah mati. Bagaimana cara kita keluar dari sini?"


"Bukankah kamu bilang kamu tidak takut? kenapa aku mendengar sepertinya kamu sedang takut saat ini."


"Aku tidak takut dengan kematianku, tapi aku mengkhawatirkan tuan. Kalau tuan ikut mati bersamaku disini, itu artinya sia-sia aku menghadang peluru itu untuk tuan."


"Eve..."


"Hmm?"


"Terima kasih,"


"Apa aku tidak salah dengar? si mulut silet ini mengucapkan terima kasih padaku?"


"Kenapa kamu tidak merespon uncapanku? merasa diatas angin ya?"


"Uggggfffff...baru saja bersikap manis, semenit kemudian kumat lagi gilanya."


"Kok malah bengong?"


"Ya tuan maunya saya bagaimana? harus senyum sambil koprol gitu?"


"Jangan berlebihan. Setidaknya kamu menghargai ketulusan aku yang mau mengucapkan terima kasih. Kamu termasuk beruntung mendapatkan ucapan itu dariku, biasanya aku sama sekali tidak perduli."


"Iyuuhhh...sombong. Memangnya ucapan terima kasih dari dia seperti dapat emas berlian?"


"Iya tuanku yang tampan, sama-sama atas ucapan terima kasihnya."


"Terima kasih sudah memujiku tampan, karena itu memang sesuai kenyataan."


Evellyn memutar bola matanya dengan malas. Semntara itu Yansen sangat senang karena bisa mengalihkan kesedihan Evellyn , meskipun dengan cara membuat gadis itu kesal padanya.


"Tuan. Kapan anda akan menikah?"


"Tidak akan pernah."


"Kenapa? apa anda tidak ingin punya anak?"


"Aku tidak suka anak-anak."


"Eh? la-lalu bagaimana dengan kak Ivanka?"


"Kamu tidak perlu memikirkan itu, lagipula usiamu terlalu dini untuk tahu urusan orang dewasa."

__ADS_1


Evellyn sekali lagi dibuat kesal. Karena dirinya merasa cukup dewasa untuk mencerna apa yang Yansen maksudkan, namun Yansen sama sekali tidak mengizinkan dirinya masuk lebih dalam untuk mengorek tentang diri tuannya itu.


TO BE CONTINUE...🤗🙏


__ADS_2