
Evellyn menatap seonggok pusara yang tampak masih baru, dengan taburan aneka bunga diatasnya. Evellyn menatap nama di pusara itu, benar itu nama ayahnya. Lutut Evellynpun lemas seketika dan berlutut digundukkan tanah merah itu.
Sekuat mungkin gadis belia itu menahan air matanya agar tidak tumpah ruah, namun tetap saja dia kalah. Air mata itu meluncur dengan sendirinya tanpa di komando.
Setelah puas menangisi pusara ayahnya, Evellyn memanjatkan do'a sebisanya. Setelah itu dia menyeka air matanya dan menatap kearah Orland.
"Maaf kak. Aku tidak bisa mengendalikan air mataku, sepertinya mentalku memang lemah."
"Tidak masalah. Kita akan bangun mental kamu itu secara perlahan. Sekarang kamu sudah bebas dari belenggu orang itu, dia sendiri yang membuangmu. Jadi kamu harus membangun citramu yang lain,"
"Aku mengerti kak." Jawab Evellyn.
"Kalau begitu kita pulang sekarang. Untuk sementara kamu harus bersabar, hingga anakmu lahir."
"Ya kak."Jawab Evellyn.
Evellyn dan Orland pun pulang kerumah. Hingga pulang kerumahpun Evellyn tidak mengetahui kalau pusara yang dia kunjungi itu adalah pusara palsu. Pusara buatan tanpa penghuni.
"Uggghh"
Yansen memegang kepalanya yang terasa pusing. Tubuh itu menyusut hingga 3 kg selama Yansen kehilangan Evellyn. Melihat ada pergerakkan, Zavier terbangun dan mendekati Yansen.
"Kamu sudah sadar?"
"Kenapa aku ada dirumah sakit lagi?"
"Semalam kamu mabuk kemudian tidak sadarkan diri. Kami menyadari ada yang tidak beres denganmu. Dan benar saja, kamu bukan hanya tidak sadarkan diri karena mabuk, tapi itu karena ada penyakit yang bersarang ditubuhmu."
"Aku sakit apa?"
"Dokter bilang lambungmu terluka akibat kamu terlalu banyak mengkonsumsi alkohol yang berlebihan." Jawab Zavier.
"Jadi dari sini kedepan, kamu dilarang minum alkohol lagi. Kalau tidak itu bisa membahayakan nyawamu," sambung Zavier.
"Biar ajalah mati. Biar cepat nyusul Evellyn dan minta maaf sama dia dan anakku." ujar Yansen.
"Jangan bicara sembarangan. Lagipula aku punya firasat, bahwa Evellyn masih hidup dan baik-baik saja. Pokoknya selagi mayatnya tidak kita temukan, masih ada kemungkinan dia masih hidup."
"Bagaimana perkembangan tentang pak Andre?"
"Kita sudah menyuruh orang meretas cctv jalanan. Tapi anehnya cctv itu lagi-lagi sudah di sabotase."
"Bukankah ini aneh? apa ini bukan perbuatan orland?" tanya Yansen.
__ADS_1
"Gaya pengecut seperti ini seperti gaya Orland. Cuma dia yang bisa melakukan ini. Kalau orang lain buat apa berbuat ini padaku? aku tidak punya masalah apapun dengan orang lain. sambung Yansen.
"Kita akan menyuruh orang-orang kita buat memantau pergerakkan Orland lebih seksama lagi." ujar Zavier.
"Perhatikan siapa saja yang keluar masuk dalam markas itu. Laporkan sedetail apapun, agar kita bisa mengembangkan hipotesa yang kita dapat selama ini." ucap Yansen.
"Baiklah. Tapi untuk saat ini kamu jangan dulu banyak pikiran, kamu harus banyak istirahat agar kesehatanmu itu cepat pulih," ujar Diego.
Yansen kembali berbaring, pria itu tidak sengaja melirik sebotol air mineral besar yang tentu saja mengingatkan dia pada Evellyn, saat mereka pertama kali membuat perjanjian sebagai pelayan dan majikan.
"Kamu mau minum?" tanya Owen karena melihat Yansen memandangi botol air mineral itu dengan pandangan sayu.
"Ya."Jawab Yansen singkat meskipun sebenarnya dia sama sekali tidak merasakan haus.
Yansen bersandar diranjang, dengan bantal sebagai tumpuan. Pria itu kemudian meraih botol air mineral yang Owen berikan, namun tidak memgambil gelas yang ada ditangan kiri sahabatnya itu.
Bukannya meminum air itu, Yansen malah memeluk botok berisi air itu dengan mata yang berkaca-kaca. Zavier dan teman-temannya hanya bisa menghela nafas panjang, Yansen saat ini seperti bukan Yansen yang mereka kenal dulu.
*****
Hoekkk
Hoekk
Hoekk
Dokter segera memeriksa kembali keadaan Yansen. Namun Dokter bisa memastikan kalau kondisi Yansen sudah membaik.
"Apa luka dilambungnya sudah lumayan parah dok?" tanya Zavier.
"Seharusnya sudah membaik. Tapi saya juga heran, mungkin sebaiknya kita lakukan pemeriksaan lebih lanjut."
"Lakukan apa saja agar keadaan teman saya cepat pulih dok," ucap Diego.
"Dokter. Apa saya boleh memakan rujak?" tanya Yansen.
"Rujak?" tanya Zavier, Owen dan Diego bersamaan.
"Apa kamu ingin segera masuk kuburan? daripada mati karena rujak, mending kamu mati ditanganku," ujar Diego kesal.
"Iya Yan. Kamu kok yang aneh-aneh aja. Sudah tahu lambungmu lagi bermasalah, tapi malah makan yang kayak gitu. Itu bunuh diri namanya," timpal Owen.
"Ya tapi sangat ingin makan itu. Rasanya lidahku sangat pahit, tapi air liurku pengen keluar terus," ujar Yansen.
__ADS_1
"Apa anda sudah memiliki istri?" tanya Dokter.
"Belum." Jawab Yansen.
"Saya kira anda sudah memiliki istri, kalau istri anda mengandung, mungkin keanehan ini disebabkan karena anda mengalami kehamilan simpatik," ujar dokter.
"Kehamilan simpatik? maksudnya bagaimana? apa si Yansen sedang hamil saat ini?" tanya Owen.
"Hamil mbahmu! emang kalau Yansen hamil, mau dikeluarkan lewat mana?" tanya Diego kesal.
Yansen yang kondisinya lemah, terpaksa harus tertawa mendengar pertanyaan konyol itu.
"Ya barang kali dari lobang hidung," timpal Owen asal.
Dokter yang menangani Yansen jadi ikut terkekeh mendengar banyolan teman-teman Yansen.
"Kehamilan simpatik bukan berarti suami jadi ikutan hamil. Tapi suami biasanya mengalami ngidam yang sama atau bisa jadi istri tidak mengalami ngidam, tapi sang suamilah yang merasakan itu."
"Oh begitu," ujar Owen dan Diego serentak.
Yansen terdiam. Lagi-Lagi wajah pria itu mendung seketika.
"Apa kamu benar-benar masih hidup Eve? apa benar yang kurasakan ini adalah efek dari ngidam. Itu berarti kamu masih hidup bukan?" batin Yansen.
"Jika iya, maafkan aku yang tidak bisa memenuhi semua keinginanmu saat ini. Jika memang kamu masih hidup, kembalilah sayang...aku ingin memperbaiki semuanya, aku ingin kita bahagia bersama anak-anak kita,"
"Ya sudah, untuk sementara waktu jangan dulu memakan rujaknya ya tuan? takutnya lambung anda belum bisa menerima itu," ujar dokter.
"Baik dok." Jawab Yansen.
Dokter itupun keluar dari ruangan itu, Zavier bergegas duduk ditepi ranjang tempat tidur.
"Kamu dengar itu?" tanya Zavier.
"Kalau yang dibilang dokter benar, itu artinya Evellyn masih hidup saat ini. Mungkin saat ini dia sedang diselamatkan orang baik, dan butuh waktu memulihkan diri. Dan sudah tentu anakmu akan baik-baik saja, soalnya kamu kan sedang ngidam saat ini," sambung Zavier.
"Makasih. Kata-Katamu sangat menghiburku. Aku juga berharap begitu, mungkin saat ini Evellyn sedang butuh waktu. Aku jadi berpikir, hilangnya pak Andre memang ada hubungannya dengan Evellyn." ucap Yansen.
"Kalau itu benar, pak Andre pasti sudah membantumu menjelaskan semuanya ke Evellyn, dan Evellyn pasti akan menemuimu," ujar Zavier.
"Itulah yang masih menjadi teka-teki. Apa mungkin dia tidak ingin memaafkan aku dan pergi jauh bersama pak Andre?" ucap Yansen.
Suasana mendadak hening, mereka larut dalam pemikiran mereka masing-masing.
__ADS_1
TO BE CONTINUE...🤗🙏