Belenggu Mafia Lapuk

Belenggu Mafia Lapuk
53. Tidak Mungkin


__ADS_3

"Kak Lala kenapa pergi mendadak hari ini?" tanya Evellyn saat melihat Lala memasukkan pakaiannya kedalam koper.


"Tuan Orland membutuhkan bantuanku, lagian aku lihat Nona juga sudah bisa mandiri. Beberapa tempat juga sudah hafal."


"Hah...rasanya nggak rela kak Lala pergi," ucap Evellyn.


"Lambat laun pasti terjadi juga. Pokoknya jalani kehidupan nona dengan baik selama disini. Tidak lama lagi nona akan lulus, dan menjadi seorang dokter. Nona harus belajar yang rajin, jangan sia-siakan perjuangan nona yang berpisah dengan anak selama bertahun-tahun."


"Makasih kak. Nasehatmu akan aku dengar," ujar Evellyn.


"Jam berapa pesawat kakak terbang?" tanya Evellyn.


"Jam 2 siang. Masih ada waktu 2 jam lagi sebelum berangkat. Tapi agar menghindari macet, kakak mau berangkat sekarang saja biar nggak terlambat."


"Hah...sedihnya," ujar Evellyn.


"Kamu pergi jalan gih, biar nggak suntuk. Dari sini mall yang paling dekat Palembang Square. Ini malam minggu, pasti ramai pengunjungnya. Disana juga sudah ada bioskopnya, kami bisa pergi nonton kalau bosan."


"Akan aku pikirkan," ujar Evellyn.


Lala akhirnya pergi setelah memesan taksi online. Meski sedikit berat berpisah dengan Evellyn, dia tetap meninggalkan gadis itu sendiri karena ada tugas lain yang menunggunya.


"Sepertinya benar yang dikatakan kak Lala, mungkin aku butuh refreshing kali ya? suntuk banget ini. Sekalian aku mau cari barang buat keperluanku," ucap Evellyn.


Evellyn bersiap-siap akan pergi ke Mall Palembang Square . Sekarang Evellyn juga tidak kesulitan lagi buat berpergian, karena dirinya sudah memiliki sepeda motor untuk menemaninya kemanapun.


Evellyn terlihat cantik dengan tubuhnya yang semampai. Kaos putih ketat, dengan celana jeans berwarna hitam sama sekali tidak memperlihatkan bahwa gadis itu sudah pernah melahirkan seorang anak.


Setelah menempuh perjalanan hampir 20 menit, Evellyn akhirnya tiba di mall dan segera memarkirkan motornya.


Evellyn berjalan mengelilingi area super market, dengan mendorong sebuah troli.


Deg


Deg

__ADS_1


Deg


Evellyn tiba-tiba menghentikan langkah kakinya karena jantungnya berdebar tiba-tiba.


"Kamu mau cari apa?" tanya Yansen.


"Buah." Jawab Tasya, gadis yang dijuluki Yansen Korea Kw.


Bibir Evellyn bergetar saat menyebut lirih nama Yansen. Matanya dengan mudah memanas, ternyata suara pria itu masih dia rindukan meski sudah berpisah lebih dari 3 tahun.


"Itu tidak mungkin dia kan? mana mungkin dia ada di kota ini. Itu pasti hanya mirip suara dia," batin Evellyn.


Evellyn perlahan membalikkan tubuhnya, untuk memastikan siapa pemilik suara itu. Namun Evellyn benar-benar tertegun, karena Yansen benar-benar ada tidak jauh dari tempatnya berdiri. Evellynpun bergegas bersembunyi di salah satu rak, yang merupakan tumpukkan mie instan.


Tes


Air mata Evellyn tanpa sadar jatuh seketika. Evellyn menyadari jantungnya yang berdebar, karena pria yang dia cintai sekaligus dia benci sedang berada didekatnya.


"Kamu sama sekali tidak berubah, masih tampan seperti dulu," ucap Evellyn lirih.


"Siapa wanita itu? yang jelas bukan Ivanka. Apa dia kekasih barunya? apa dia sudah mencampakkan Ivanka dan mencari daun muda? dasar pria keparat! aku sumpahi burungmu kurapan," ujar Evellyn kesal.


Dari kejauhan Evellyn melihat Diego, Owen, dan Zavier mendekat. Diego menarik tangan Tasya untuk menjauh dari Yansen, yang membuat dahi Evellyn jadi mengerut.


"Ah...kak Zavier, Kak Owen dan kak Diego, aku sangat merindukan kalian semua. Kalian sangat baik padaku, dan selalu membantuku. Apakah kalian pernah merasakan kehilangan saat aku pergi?" batin Evellyn.


Evellyn jadi teringat dengan semua kebaikkan yang Zavier dan teman-teman lakukan padanya. Juga saat-saat kebersamaan yang penuh canda tawa bersama mereka.


Yansen tiba-tiba menoleh kearahnya, dan mendekat kearah Evellyn berdiri. Melihat itu Evellyn bergegas pergi dan mencari tempat persembunyian baru. Yansen kecewa, saat instingnya dia rasa salah dan tidak menemukan apa yang dia cari.


Pak


Zavier menepuk pundak Yansen, karena sahabatnya itu terlihat bingung sekaligus sedih.


"Ada apa? apa ada sesuatu yang kamu cari" tanya Zavier.

__ADS_1


"Aku seperti melihat keberadaan Evellyn." Jawab Yansen.


Zavier menghela nafasnya, sudah bertahun-tahun kejadian itu, tapi Yansen sama sekali tidak bisa melupakan Evellyn.


"Ya sudah, ayo kita kesana lagi! bisa jadi kamu cuma salah liat, atau perasaanmu saja."


Yansen mengikuti perkataan Zavier dengan wajah murung. Wajah yang tidak luput dari perhatian Evellyn.


"Ada apa dengan wajah itu? baru kali ini aku melihat ekspresinya seperti itu."


Evellyn sangat menyesal karena tidak bisa mendengar percakapan antara Yansen dan Zavier. Jadi dia tidak tahu apa yang mereka bicarakan, sehingga Yansen memasang ekspresi seperti itu.


"Ayo kita kembali ke Hotel! udah nggak ada lagi kan yang di beli?" tanya Zavier.


Zavier ingin segera mengajak Yansen kembali ke hotel, karena perasaan Yansen saat ini sedang dalam keadaan tidak baik. Zavier memberikan isyarat pada Diego dan Owen, yang langsung di mengerti oleh kedua pria itu.


Evellyn menatap punggung Yansen yang semakin lama semakin menjauh, ada rasa sesak didadanya seolah dirinya tidak ingin Yansen pergi jauh darinya.


Evellyn mengusap dadanya berkali-kali, karena ingin menenangkan jantungnya itu.


"Evellyn. Kamu tidak boleh lemah, ingatlah kenapa sampai kamu berada jauh disini. Jauh dari anakmu dan juga kehilangan orang tuamu. Itu semua gara-gara pria jahat itu. Kamu tidak boleh mudah luluh, meskipun dia bersujud dikakimu sekalipun." ujar Evellyn lirih.


Evellyn menyeka air matanya dengan kikat, dan segera pergi bertolak belakang dengan Yansen. Dia tidak ingin mengambil resiko bertemu dengan pria itu, dan akan dilenyapkan sekali lagi. Setidaknya itulah yang dia pikirkan selama ini.


"Yan. Maaf nih, tanpa bermaksud menghinamu, tapi ini sudah masuk ke ranah gangguan mental. Kami semua sayang sama kamu, tapi kalau kamu terus-terusan begini, kamu sudah seperti orang yang terkena paranoid," ujar Diego.


"Kamu tidak perlu mengucapkan kata kiasan seperti itu, bilang saja kalau kamu ingin mengatakan kalau aku ini sudah sakit mental, atau sudah menjadi gila." Jawab yansen.


"Kamu jangan tersinggung dengan kata-kataku. Tapi beneran deh, selama ini kamu selalu merasa Evellyn berada didekatmu. Tapi kamu tidak pernah berpikir rasional, untuk apa Evellyn jauh-jauh berada di pulau sumatera begini?" ucap Diego.


"Aku tahu tidak ada seorangpun percaya dengan ucapanku. Tapi itu tidak apa-apa. Aku tidak memaksa kalian buat percaya dengan ucapanku itu. Aku tahu pikiranku sedang tidak waras saat ini." ucap Yansen.


Teman-Teman Yansen hanya bisa menghela nafas panjang, karena mereka tahu tidak akan pernah menang jika berdebat dengan Yansen. Sementara itu Evellyn bergegas pulang, dia mengurungkan niatnya untuk belanja. Dia tidak ingin bertemu Yansen, dalam keadaan dirinya sedang berjuang mati-matian menjadi orang besar.


TO BE CONTINUE...🤗🙏

__ADS_1


__ADS_2