
Orang-Orang Yansen dan Orland bergerak maju, untuk menyerbu markas yang tampak terlihat tenang itu. Namun satu hal yang rombongan Yansen tidak ketahui, dari jarak 1 Km markas itu dilengkapi dengan sisi tv yang langsung terhubung langsung ke ruang utama yang ditinggali oleh pemimpin markas.
Pria berkepala plontos itu, cuma bisa menyeringai. Karena saat ini dirinya sedang menunggu hellykopter yang akan menjemputnya diatas atap markas. Tentu saja dia membawa serta Evellyn dan Samudera bersamanya.
Evellyn dan Samudera tidak berdaya, saat dirinya sempat melihat wajah Orland dilayar monitar. Ingin rasanya dia menjerit saat ini, tapi dia dam Samudera tidak memiliki kemampuan sekarang. Karena tangan mereka terikat, sementara mulutnya di beri lakban.
"Kalian semua habisi mereka! siapapun yang berhasil selamat, akan mendapat hadiah yang besar. Terutama yang berhasil membawa kepala Yansen dan Orland padaku. Aku tunggu kalian di markas Utama," ujar pria berkepala plontos dari sebuah pengeras suara, yang bisa didengar oleh seluruh anak buahnya.
Tentu saja anak buahnya sangat senang mendengar semua itu. Itu artinya mereka akan mendapatkan uang yang banyak. Dan yang berhasil selamat merupakan orang terkuat dikelompoknya, dan bisa jadi naik pangkat sesuai yang pemimpin mereka inginkan.
Evellyn mengerutkan dahinya saat mendengar pria berkepala plontos itu menyebutkan nama Yansen dan Orland secara bersamaan.
"Kenapa? kamu kaget? ya kamu boleh berbangga hati, karena kedua orang yang menyukaimu itu sedang berada disini untuk menyelamatkanmu."
Ingin sekali Evellyn berkomentar, tapi saat ini mulutnya masih di lakban.
"Tapi kamu tenang saja, aku akan membantumu melenyapkan kedua orang itu. Yang satu pria yang kamu benci, yang satunya pria yang sudah membohongimu selama 10 tahun," sambung pria itu.
"Apa maksud pria ini? membohongiku selama 10 tahun? siapa? Orland kah?" batin Evellyn.
"Ya. Sesuai perkiraanmu, benar si Orland yang aku maksud. Tapi saat ini tidak ada waktu menjelaskannya, mungkin setelah mereka mati dan kita berada di hellykopter aku akan membantumu menjelaskan semuanya. Apa kamu senang?"
Evellyn hanya mampu menggelengkan kepalanya saat ini. Meski dia tidak tahu kesalahan apa yang di perbuat Orland padanya, tapi dia hanya bisa mengingat kebaikkan pria itu saat ini.
Door
Door
Door
__ADS_1
"Hah...sepertinya semua sudah di mulai, aku tidak akan membiarkan mereka mendapatkan kalian dengan mudah, sebelum tujuanku tercapai. Aku malah berharap mereka mati semua, agar semua kekuasaan mereka beralih padaku."
"Dasar pengecut!" teriak Evellyn, namun suara itu sama sekali tidak terdengar karena mulutnya yang tertutup rapat oleh lakban.
Pria berkepala plontos itu segera menarik tangan Evellyn dan Samudera, saat sebuah hellykopter sudah berada diatas atap.
"Jangan tembak!" teriak Yansen, saat melihat pria itu membawa Evellyn dan Samudera naik ke atas hellykopter.
"Kenapa tidak boleh menembak? aku bisa mengatasinya. Apa kamu meragukan kemampuanku?" tanya Zavier.
"Tidak Zav. Aku sama sekali tidak meragukan kemampuanmu, tapi aku juga tidak ingin mengambil resiko. Saat kamu melukai pria itu, bisa jadi anak buahnya menjatuhkan Evellyn dan anakku dari atas. Aku tidak mau itu terjadi," ujar Yansen.
"Ah...ya kamu benar. Ya sudah, biarkan pria itu kabur. Kita bantai dulu seluruh anak buahnya disini. Dengan dia tidak memiliki pendukung, tentu dia akan mati langkah. Orang itu pasti punya tujuan, dan dia pasti menginginkan sesuatu. Jadi otomatis dia pasti akan menghubungi kita lagi," ujar Zavier.
"Oke, sikat!" ucap Yansen.
Baku tembak kembali terjadi. Pertikaian itu hingga memakan waktu berjam-jam dan hingga sampai malam hari. Sudah tidak terhitung ada berapa peluruh yang meluncur dari senjata api mereka.
Srakkk
Srakkk
"Aku akui kedua priamu itu cukup hebat karena bisa bertahan sampai sejauh ini. Tapi mereka tidak tahu, amunisi terakhir di markas itu adalah bom yang sudah dipasang di berbagai tempat. Jadi, intinya mereka tidak akan ada yang selamat."
"Dasar bajingan pengecut! lalu untuk apa kamu menyandera kami, kalau memang kamu yakin bisa menghabisi mereka?"
"Buat jaga-jaga saja. Lagian buat apa juga kamu sekesal itu padaku? bukankah kedua pria itu juga sudah buruk dimatamu? tapi biar aku beri tahu beberapa hal padamu, mungkin cerita ini sekedar buat penyesalanmu saja. Yansen, sama sekali tidak ada hubungannya dengan jatuhnya kamu kedalam laut,"
Mata Evellyn terbelalak saat mendengar ucapan pria berkepala plontos itu.
__ADS_1
"Apa maksudmu dia tidak terlibat? kamu tahu apa soal ini?" tanya Evellyn.
"Tentu saja aku tahu. Karena pelaku sebenarnya bahkan sudah berpihak pada Orland." Jawab pria itu.
Evellyn lagi-lagi mengerutkan dahinya, pria didepannya itu seperti sedang berteka-teki dengannya.
Pria itu terkekeh saat melihat wajah kebingungan di wajah Evellyn. Sementara Samudera hanya bisa menyimak ucapan pria itu. Dengan kecerdasan yang Samudera miliki, anak itu sudah menangkap secara garis besar arti ucapan pria yang menurutnya buruk rupa itu.
"Oh iya, aku hampir lupa kalau kamu menganggap Orland seperti dewa penyelamatmu. Padahal tanpa kalian tahu, bahwa dialah penjahat yang sebenarnya," ujar pria itu.
"Berhentilah bicara omong kosong. Katakan yang jelas, apa maksud dari ucapanmu itu," ucap Evellyn.
"Hah...baiklah biar aku beritahu kamu yang sebenarnya. Jadi yang sebenarnya punya rencana ingin melenyapkanmu itu adalah Ivanka, bukan Yansen."
Evellyn cukup terkejut karena pria dihadapannya itu tahu tentang Ivanka, yang artinya tidak ada alasan untuk tidak sedikit percaya ucapan pria itu.
"Yah...yang mengirimmu chat waktu itu bukanlah Yansen, melainkan Ivanka. Ivanka hanya meminjam nama Yansen, untuk memancingmu keluar dan menemuinya. Padahal gadis itu berencana ingin melenyapkanmu dan anakmu."
Mata Evellyn lagi-lagi terbelalak. Gadis itu jadi teringat kejadian sekitar 11 tahun yabg lalu, saat kesalahafahaman yang mungkin saja bisa terjadi antara dirinya dan Yansen. Sangat masuk akal baginya kalau pelakunya bukan Yansen, karena jauh dilubuk hatinya dia juga tidak menduga Yansen akan bersikap kejam seperti itu, mengingat kebaikkannya selama ini.
"Apa kamu tahu? Yansen mencarimu seperti orang gila. Dia bahkan menyewa tim khusus karena yakin kamu masih hidup. Apa kamu tahu apa yang dilakukan pria itu terhadap Ivanka? yah...dia membalasnya dengan cara yang sama. Dia menjatuhkan Ivanka ditengah-tengah laut. Tapi kamu pasti tidak akan menyangka, siapa orang yang sudah menyelamatkan Ivanka dari maut itu."
"Siapa?" tanya Evellyn.
"Orland. Karena dia memiliki rencananya sendiri,"
"Tidak mungkin," ujar Evellyn.
"Apanya yang tidak mungkin? kamu itu sudah dibodohi oleh Orland selama 10 tahun lebih. Dia itu hanya ingin menjadikanmu pion untuk menghancurkan Yansen, yang sudah bermusuhan dengannya selama 20 tahun lebih."
__ADS_1
"Ap-apa?" Evellyn syok.