
"Sebenarnya aku nggak mau cerita ini, tapi aku kasihan melihatmu yang terus-terusan di tipu sama si Orland. Apa kamu tahu? si Ivanka bahkan dia biayai untuk operasi plastik agar dia bisa menjerat Yansen lagi. Tapi nggak tahu deh, berhasil apa enggaknya,"
"Apa wanita itu berwajah oriental?" tanya Evellyn.
"Kok kamu tahu?"
"Aku pernah melihatnya waktu di Palembang."
"Ya dia merubah wajahnya seperti gadis di negeri gingseng itu. Nggak tahu Yansen berhasil dia taklukkan apa nggak."
Evellyn tertunduk. Entah kenapa dia merasa tidak rela, harus dikalahkan oleh wanita yang sama untuk kedua kalinya.
"Kamu bilang tidak mencintainya, heh...munafik. Oh ya ada satu hal kebusukkan Orland lagi yang perlu kamu ketahui. Mungkin hal ini yang sedikit mengguncang hatimu, aku harap kamu mau bergabung denganku untuk menghancurkan dua orang itu,"
Evellyn menatap Pria berkepala plontos itu dengan nyalang.
"Jangan-Jangan semua ceritamu ini bohong? kamu hanya ingin mendoktrin pikiranku, sehingga aku jadi berbalik menyerang mereka. Iya kan?" tanya Evellyn.
"Buat apa aku berbohong? kamu akan menyesal setelah tahu faktanya, bahwa sebenarnya ayahmu masih hidup dan di kurung Orland didalam markas."
"Ap-Apa? tidak mungkin! dasar pembohong besar," ucap Evellyn.
"Oke baiklah. Anggap saja aku jadi dermawan hari ini, kamu bisa melihat ini kalau begitu,"
Pria itu menyodorkan ponselnya dan memperlihatkan foto-foto Andre didalam sebuah ruangan tertutup. Evellyn mengecek tanggal berapa foto itu diambil, dan benar saja. Foto itu sudah sangat lama. Hampir 11 tahun yang lalu, dan Evellyn tahu itu bukan berada dirumah yang Yansen berikan.
Air mata Evellyn jatuh seketika. Dia benar-benar tidak bisa percaya, orang yang dia anggap baik selama ini ternyata sudah merencanakan semuanya.
"Heh...baru percaya kamu?" pria itu menyambar ponselnya kembali dari tangan Evellyn.
"Kamu itu cuma dijadikan Orland sebagai pion, untuk melenyapkan Yansen," ucap pria itu.
"Ini mimpi bukan? dia tidak mungkin sejahat itu," ujar Evellyn.
"Tapi pada kenyataannya semua ini memang sudah dia rencanakan. Tapi aku tidak mengerti, kenapa dia bisa bergabung dengan Yansen. apa mereka menjadikanmu sebagai bahan taruhan?" pria itu kembali memprovokasi Evellyn.
"Katakan! apa tujuanmu memberitahu semua ini padaku?" tanya Evellyn.
"Aku ingin kamu bergabung denganku. Kita hancurkan kedua pria itu, kita akan membagi semua asetnya 50:50. Samudera adalah anak kandungnya, jadi semua aset pasti jadi miliknya. Begitu juga dengan Orland, Samudera sudah dia masukkan dalam kartu keluarganya, jadi otomatis Samudera pula yang berhak menguasai seluruh hartanya. Karena kedua pria itu hidup sebatang kara di dunia ini. Bagaimana?"
"Oke deal," ujar Evellyn dengan mengulurkan tangannya.
__ADS_1
"Are you sure?" tanya pria itu.
"Ya. Aku tidak pernah seyakin ini dalam hidupku."
"Mama. Apa yang mama lakukan?" tanya Samudera.
"Diamlah Samudera. Kedua pria ini sudah menghancurkan hidup mama, dengan kedua pria ini lenyap, hidup mama akan tenang. Kamu tidak apa-apa tidak memiliki papa, nanti akan mama carikan yang otaknya agak warasan sedikit. Hidup mama ini sudah sial karena mengenal dua pria itu," ujar Evellyn.
Pria berkepala plontos itu menyeringai, karena merasa berhasil memprovokasi Evellyn.
"Tapi Ma, Papa Orland selalu baik sama Samudera, dia nggak pernah nyakitin Samudera. Papa Yansen juga, bukankah dia nggak berniat melenyapkan kita? bukankah ini ulah yang namanya Ivanka itu?"
"Jangan mengajari mama Samudera. Kamu mau jadi kaya raya bukan? dengan kita melenyapkan kedua pria itu, kita akan hidup merdeka dan tidak akan kekurangan," ujar Evellyn.
"Baiklah. Samudera akan menuruti mama," ujar Samudera tertunduk lesu.
"Bagus. Dengan begitu ini akan jauh lebih mudah, Kita bisa menjadikan Samudera sebagai umpan," ujar pria itu.
"Umpan? apa maksudmu? aku nggak mau ya putraku jadi tumbal?" tanya Evellyn.
"Gadis bodoh! siapa yang mau menjadikan putramu tumbal? kita akan menjadikan Samudera sebagai kelemahan mereka, setelah itu kita tangkap dia dan bunuh mereka."
"Baiklah aku setuju." Jawab Evellyn.
"Apa kami masih diperlakukan seperti sandera begini?" tanya Evellyn.
Pria berkepala plontos itu menatap Evellyn, untuk sesaat pandangan mata mereka bertaut seolah yang satu ingin mencari kepercayaan, dan yang lainnya seolah ingin meyakinkan.
"Bagaimana mungkin kamu ingin menjadikan kami patner, tapi kamu sendiri tidak mempercayai kami," ujar Evellyn.
"Oke. Kalian bebas berkeliaran di Markas ini, tapi tidak boleh keluar dari wilayah markas lebih dari 50 meter," ujar pria itu.
"Tidak masalah. Itu sudah cukup bagi kami, kami hanya butuh udara segar," ujar Evellyn.
"Oke."
Pria itupun pergi dari ruangan itu tanpa mengunci pintu seperti yang biasa dia lakukan.
"Awasi mereka. Lumpuhkan saja kalau memang tidak bisa dikendalikan," ujar pria itu pada anak buahnya.
Sementara itu Evellyn mengedipkan matanya ke arah Samudera. Samudera yang mengerti hanya menanggapinya dengan seringai.
__ADS_1
*****
"Sial sekali, padahal sedikit lagi aku bertemu dengan putraku. Tapi si brengsek itu mengacaukan semuanya. Lihat saja, kalau aku berhasil mengetahui siapa dia, aku akan menghancurkan rahangnya agar dia tidak bisa tertawa lagi," ujar Yansen sembari menghisap rokoknya.
"Sepertinya aku tahu siapa pria itu, aku melihatnya sekilas. Meski kepalanya sudah tidak memiliki rambut lagi, tapi aku sangat mengenal gestur tubuhnya dengan baik," ujar Orland.
Yah...saat ini Orland memang tengah berada di markas Yansen bersama dengan Zavier dan teman-temannya. Para pria berumur itu sudah percaya, kalau Orland memang sudah berada di pihak mereka. Terlebih saat ini ada luka tembak di telapak tangannya, karena hendak melindungi Diego dari peluru musuh.
"Siapa dia?" tanya Yansen.
"Aku yakin 100% itu adalah si Codet." Jawab Orland.
"Codet?" Yansen, Zavier, Owen dan Diego bertanya bersamaan.
"Ya codet," ujar Orland.
"Benar juga, pantas saja seperti ada yang kurang. Ternyata si muka seram itu yang absen," ujar Owen.
"Sialan. Hari itu dia membuat Evellyn tertembak, kali ini dia menyandra anakku dan Evellyn. aku benar-benar akan mencencang tubuh manusia laknat itu dan melemparkannya ke kandang buaya," ujar Yansen.
"Bagian onderdilnya buat aku ya?" tanya Owen.
"Buat apa? kamu punya kelainan?" tanya Orland.
"Mau ku awetkan, dan akan aku buat untuk gantungan kunci." Jawab Owen sembari terkekeh.
"Hissstttt nggak kebayang kalau beneran, bisa-bisa tiap malam kamu dihantuinya karena minta di kembalikan onderdilnya itu," ucap Diego.
"Tapi Le, kenapa Codet nggak bergabung denganmu lagi?" tanya Yansen.
"Itu karena aku mengistimewakan Evellyn dan juga pak Andre. Dia tidak suka kalau aku terlalu dekat dengan Evellyn, karena menurutnya sudah jauh melenceng dari tujuan awal kami,"
"Jadi dia memutuskan untuk keluar setelah aku mengusirnya lebih dulu." Sambung Orland.
Yansen terdiam, pria itu merasa cemburu saat Orland mengatakan sudah mengistimewakan Evellyn. Sementara dia sudah lama tidak menyentuh gadis itu.
"Aku harap kamu kubur dalam-dalam perasaanmu itu, karena Evellyn hanya milikku," ujar Yansen.
"Kalau soal itu kita bertaruh nasib saja. Siapa yang akan dia pilih, aku atau kamu," Orland sengaja memprovokasi Yansen.
"Aku akan mencencangmu sama seperti si Codet, kalau berani berebut denganku."
__ADS_1
Mendengar itu Orland tertawa keras, dia tidak menyangka bisa melihat Yansen bisa sebucin ini terhadap seorang wanita.
TO BE CONTINUE...🤗🙏