Belenggu Mafia Lapuk

Belenggu Mafia Lapuk
42. Kesepakatan


__ADS_3

Sudah 2 hari Yansen dan tim SAR menyusuri perairan, namun tanda-tanda keberadaan Evellyn sama sekali belum terlihat. Yansen sudah mulai lelah dan frustasi. Sejak tahu Evellyn menghilang, pola makan dan tidur Yansen sama sekali tidak teratur. Wajah Yansen sudah terlihat pucat dengan tubuh yang sedikit lemah.


"Sebaiknya kita hentikan pencarian, ini sudah sangat jauh. Bahkan ini sudah melebihi tempat kamu ditemukan waktu itu," ujar Zavier.


"Tidak. Ku mohon kita jangan menyerah, aku yakin kita bisa menemukannya. Aku takut Evellyn sedang menunggu pertolongan kita," ucap Yansen.


Zavier menghela nafas, dia merasa kasihan karena Yansen sudah seperti orang linglung. Kehilangan Evellyn cukup berpengaruh bagi pria itu. Untuk menenangkan perasaan Yansen, Zavier memerintahkan untuk melanjutkan pencarian beberapa kilometer lagi.


Setelah hari ke tiga, pencarian itu kemudian dihentikan. Mengingat persediaan bahan makanan yang sudah menipis dan kondisi Yansen yang memburuk. Setelah mencapai pelabuhan, Yansen pun segera dilarikan kerumah sakit karena tiba-tiba pria itu tidak sadarkan diri.


Yansen perlahan membuka matanya, pandangan mata pria itu sedikit kabur karena kepalanya sedikit merasakan pusing. Dia juga merasakan sedikit nyeri dipunggung tangannya, karena tangannya di infus.


"Kamu sudah sadar?" tanya Andre.


Yansen menoleh kearah sumber suara, dan mendapati Andre berada disamping tempat tidurnya.


"Pak,"


Untuk pertama kalinya Yansen memanggil Andre dengan sebutan bapak. Namun yang lebih membuat Andre trenyuh lagi, pria arogant itu menangis seperti anak berusia 5 tahun. Yansen menggenggam kedua tangan Andre dan menciumnya.


"Maafkan aku pak. Gara-Gara aku Evellyn menghilang, gara-gara aku Eve celaka. Meskipun aku sudah membalas orang yang sudah menyakitinya, tapi tetap saja dadaku masih merasa sesak. A-Aku belum bisa kehilangan Eve...a-aku....hikz..."


Andre menepuk-nepuk punggung tangan Yansen yang masih bertumpu diatas tangannya.


"Bapak sudah dengar ceritanya dari teman-temanmu. Sudahlah, jangan bersedih lagi, bapak yakin Evellyn baik-baik saja. Selagi kita tidak menemukan mayatnya, anggap saja dia sedang kuliah di luar negeri." ujar Andre.


Sebenarnya bukan Andre tidak merasakan sedih kehilangan putrinya. Tapi dia memiliki satu keyakinan, bahwa putrinya dalam keadaan baik-baik saja.


"Aku tidak tahu bagaimana caranya menebus rasa bersalahku sama bapak. Gara-Gara perbuatanku, bapak jadi kehilangan putri bapak satu-satunya," ucap Yansen sembari sesekali menyeka air matanya.


"Kita berdo'a saja Eve dan anakmu dalam keadaan sehat. Kamu tenang saja, kalau dia memang selamat, dia pasti akan menemuiku," ujar Andre.


"Emm." Yansen mengangguk.


Sementara itu ditempat berbeda, Ivanka cukup merasa lega karena ada orang yang sudah menyelamatkan dia dari maut. Namun saat ini dia sedang bingung, karena dirinya berada disebuah ruangan yang kunci.


Tap


Tap


Tap


Seorang pria berjalan mendekati ruangan, tempat Ivanka berada.


Kriekkkk

__ADS_1


Ivanka menoleh, karena pintu kamar yang dia tempati dibuka seseorang. Seorang pria tampan berwajah lembut menghampiri dirinya, dengan senyum terkembang disudut bibirnya.


"Sudah kuduga baju itu pas ditubuhmu,"


"Terima kasih anda sudah menolongku. Kalau boleh tahu siapa anda sebenarnya? kenapa aku seperti dikurung disini," tanya Ivanka.


"Siapa yang mengurungmu? apa orang-orangku menyakitimu? maaf kalau kesannya kamu dikurung disini, itu semua karena mereka ingin menjagamu."


"Lalu siapa kamu sebenarnya?"


"Aku bukan siapa-siapa. Perkenalkan, namaku Orland."


"Orland? sepertinya namamu sangat familiar ditelingaku. Apa kamu seorang Pengusaha?"


"Ya. Wah...aku merasa tersanjung loh, ternyata aku cukup terkenal dikalangan wanita cantik," Orland terkekeh.


"Kebetulan orang yang pernah dekat denganku juga seorang pengusaha, jadi sedikit banyak aku sering mendengar dia membicarakan tentang patner bisnisnya."


"Oh ya? siapa orang yang pernah dekat denganmu itu? rata-rata aku sangat mengenal semua pengusaha kota J."


"Dia Yansen. Kamu pasti mengenalnya, meskipun tidak bertatapan secara langsung. Tapi itu dulu, sekarang aku menganggapnya musuhku."


"Kenapa?"


"Karena dialah aku berada ditengah laut."


"Kamu tahu sendiri tabiat seorang pria, setelah bosan dan mendapatkan wanita baru, dia mencampakkam aku begitu saja. Padahal hubungan kami sudah terjalin hampir 8 tahun,"


"Oh ya Tuhan...kejam sekali dia," ujar Orland dengan wajah dibuat simpatik sedemikian rupa.


"Yah..mau bagaimana lagi, aku ini cuma wanita biasa yang terbuai oleh bujuk rayu laki-laki. Dia menjanjikan ingin menikahiku, tapi pada kenyataannya aku dibuang begitu saja," Ivanka berpura-pura sedih.


"Heh...ternyata aku menyelamatkan seekor ular betina. Meski Yansen adalah musuhku, tapi aku mengenal baik mantan sahabatmu itu. Dia tidak pernah memperlakukan orang dengan tidak adil, hanya dengan aku saja yang begitu," batin Orland.


"Tapi tidak apa-apa, wanita ini sepertinya bisa juga kupakai untuk umpan menghancurkan Yansen. Yansen, tunggulah hari kehancuranmu."


"Jadi kamu mau bagaimana sekarang?"


"Aku tidak tahu. Jika aku kembali kerumah pasti akan ketahuan, dan dia pasti akan berusaha melenyapkan aku lagi. Aku sangat takut, hikz..." Ivanka mengeluarkan senjata pamungkasnya.


Orland memutar bola matanya dengan malas tanpa Ivanka ketahui. Pria itu tahu betul sedang berhadapan dengan wanita seperti apa saat ini.


"Kalau kamu mau, kamu bisa tinggal disini selama apapun yang kamu mau."


"Benarkah?" tanya Ivanka semringah.

__ADS_1


"Apa kamu menginginkan operasi plastik agar Yansen tidak mengenalimu?"


"Tentu saja. Tapi itu kan butuh biaya besar,"


"Tidak masalah. Kalau kamu mau, aku bisa mendatangkan dokter bedah plastik terbaik untukmu."


"Benarkah? tapi..."


"Tapi kenapa?"


"Bukankah ini terdengar aneh, kalau kamu membantuku dengan cuma-cuma?"


Orland menyeringai, sembari menatap kearah Ivanka.


"Balasannya cukup ringan. Kamu hanya perlu bekerja denganku,"


"Hanya itu saja?"


"Tentu saja. Kamu hanya perlu tanda tangan kontrak sebelum mulai bekerja nanti,"


"Kamu tidak membuat tipuan untukku bukan?"


"Kamu bisa membaca surat kontaknya sebelum menandatanganinya."


"Baiklah, aku setuju." ujar Ivanka.


"Istirahatlah, surat kontraknya akan siap untukmu besok. Setelah itu kita bisa melakukan operasi plastik untukmu,"


"Satu hal yang masih jadi pertanyaanku. Apa kamu ada masalah dengan Yansen?"


Orland menatap wajah Ivanka kembali. Wanita didepannya ini dinilainya terlalu banyak berbicara.


"Hanya sedikit kesalahfahaman saja. Tapi butuh waktu yang lama untuk mengakhiri itu semua."


"Aku tidak tahu bentuk permusuhanmu dengan dia seperti apa, tapi kamu tidak perlu khawatir, saat ini kita sedang berada dalam satu kubu yang sama."


"Oke." Jawab Orland singkat. Pria itu hanya ingin segera pergi dari situ, dirinya paling tidak betah jika terlalu lama berinteraksi dengan wanita. Terlebih wanita yang menyesatkan seperti Ivanka.


Ivanka menyeringai, saat Orland sudah keluar dari tempat itu. Gadis itu cukup lega, karena dirinya memperoleh keberuntungan yang besar. Sementara itu Orland yang baru tiba dirumah pribadinya langsung dihampiri oleh seorang pelayan.


"Ada apa?" tanya Orland.


"Maaf tuan. Nona yang ada dikamar tamu sudah sadar." jawab pelayan.


Orland menghentikan gerakkan tangannya, pria itu kemudian menyeringai. Setelah menunggu 4 hari, akhirnya gadis yang dia selamatkan sadar juga.

__ADS_1


TO BE CONTINUE...🤗🙏


__ADS_2