
Byuurrrrrr
Yansen menceburkan Evellyn kedalam bathup, hingga gadis kecil itu basah kuyup. Namun diluar dugaan Yansen, Evellyn terlihat bertambah sexy dengan keadaan seperti itu hingga jantung Yansen jadi berdebar-debar.
Bibir Evellyn bergetar karena merasakan kedinginan, namun tubuhnya masih saja kurang nyaman. Hingga tanpa sadar, Evellyn menanggalkan semua kain yang melekat ditubuhnya.
"Oh...shitt..."
Yansen mengumpat kesal, karena sesuatu dibawah sana sudah mengacung sempurna. Sementara itu Evellyn menggeliat tidak mampu lagi mengontrol diri.
Yansen mengangkat tubuh Evellyn dan membungkusnya dengan handuk. Sekuat mungkin Yansen bersikap profesional meskipun hawa panas mulai menjalar ditubuhnya.
"Tu-Tuan...tolong aku, rasanya ini tidak nyaman sekali. Aku mohon," Evellyn mengalungkan kedua tangannya dileher Yansen.
"Eve. Bersabarlah, biar aku panggilkan dokter saja untukmu."
Yansen melepaskan tangan Evellyn. Dan membantu gadis itu berbaring diatas tempat tidur. Yansen juga menyelimuti tubuh telanjang itu.
Tap
Tangan Evellyn mencekal tangan Yansen, hingga pria itu sulit berkonsentrasi saat selimut tebal itu sudah tidak lagi menutupi bagian yang paling indah dan paling Yansen sukai.
"Tuan jangan pergi," ujar Evellyn.
Evellyn menarik tangan Yansen, hingga pria itu terjerembab diatas tempat tidur. Evellyn kemudian menaiki tubuh pria itu, hingga Yansen jadi tegang seketika saat gadis itu menuntun tangannya untuk bermain diatas kedua benda favoritenya.
Brukkkk
Yansen kali ini yang mengambil kendali.
"Eve aku tahu saat ini kamu sedang dipengaruhi oleh obat. Apa kamu tahu sedang berhadapan dengan siapa?"
"Tuan Yansen."
"Bagus kalau kamu ingat. Jadi jangan salahkan aku, kamu yang meminta ini. aku harap kamu tidak menyesalinya,"
"Ahh...." Evellyn mende**h saat Yansen sudah membenamkan wajahnya dipuncak dadanya yang sensitif.
Yansen yang sudah terbakar gairah, segera melepaskan pakaiannya tanpa sisa. Bisa Yansen rasakan saat pria matang itu mencium gadis belia itu, Evellyn sama sekali tidak mengerti caranya berciuman dengan baik. Itu membuktikan Evellyn sangat minim pengalaman.
"Ahh...Yansen...ohh.."
Tubuh gadis itu bergelinjang, saat Yansen sudah bermain di lembah lembab dibawah sana. Tubuh gadis itu bergetar saat merasakan ada sesuatu yang mendesak ingin keluar dari arah bawah sana.
"Ahh...ahhh.."
Kepala Evellyn terdorong jauh kesana, saat sebuah gelombang dahsyat menghantam pertahanannya.
"Ini baru permulaan baby. Kamu akan merasakan hal yang jauh lebih indah lagi," bisik Yansen.
Yansen menempatkan miliknya diatara dua kaki mulus milik Evellyn, dan perlahan membenamkan miliknya itu jauh melesak masuk kesana.
__ADS_1
"Eemmmpptt...ahh...sakiiittt..."
Evellyn meringis kesakitan saat benda tumpul itu menyeruak perlahan kedalam liang hangat miliknya. Namun bukannya berhenti, Yansen malah menekannya semakin dalam, hingga saat sesuatu yang menghalangi pergerakkannya, Yansen sejenak berhenti.
"Apa kamu ingin lebih?" bisik Yansen.
"Ya ," Evellyn yang tidak sadar hanya bisa menjawab sesuai kontrol bibirnya saja.
Yansen menyeringai, dan semakin memperdalam miliknya. Namun pertahanan itu tidak mudah untuk ditembus, hingga Yansen melakukan sebuah sentakkan yang lumayan keras dan membuat miliknya melenggang bebas didalam sana.
"Aaaakkkhhh...sakiiittt..." Jerit Evellyn saat benda besar dan kokoh itu menyeruak masuk kedalam miliknya.
Yansen memejamkan matanya sesaat, menikmati cengkraman kuat dibawah sana. Setelah cukup rileks, Yansen mulai menggerakkan pinggulnya hingga terdengar suara derit ranjang yang berirama.
Semakin lama, suara derit itu semakin keras. Seiring suara Yansen dan Evellyn yang saling bersahutan. Begitu kerasnya Yansen mengguncang tubuh Evellyn, hingga pria itu membutuhkan dua pegangan untuk menopang kedua telapak tangannya.
"Ahhh...Eve..."
Yansen mengerang panjang, saat beberapa detik yang lalu Evellyn mengerang lebih dulu untuk mendapatkan pelepasan yang kesekian kalinya.
Hosh
Hosh
Hosh
Nafas keduanya saling memburu satu sama lain. Setelah beristirahat sejenak, kedua insan itu kembali bercinta dan menghabiskan malam panjang bersama.
*****
Evellyn mengerutkan keningnya, karena merasakan pusing dikepalanya. Evellyn juga merasakan sakit disekujur tubuhnya terutama daerah intinya.
Perlahan Evellyn membuka mata dan melihat suasana sekitar yang begitu terasa asing baginya.
"Ini dimana?" ujar Evellyn lirih.
"Ssssttt," Evellyn mendesis saat intinya berasa sakit dan perih.
Mata Evellyn membulat, saat dirinya sadar kalau saat ini dirinya tidak mengenakan apapun. Terlebih Evellyn melihat ada banyak tanda kepemilikkan didaerah dadanya.
"Ap-Ap yang terjadi?" ucap Evellyn lirih.
Evellyn menyibakkan selimut, dan mendapati ada noda darah disprei putih itu. Mata Evellyn terbelalak, seiring air matanya yang sudah menetes ke pipinya.
Evellyn mencoba mengingat apa yang terjadi. Dan potongan demi potongan ingatan seakan menjadi slide di ingatannya, hingga gadis itu menutup mulutnya tanda tak percaya.
Evellyn melihat ada secarik kertas diatas meja, gadis itu bergegas turun dan membaca isi kertas itu.
"Pakailah baju yang ada di paperbag. ada uang di dalamnya. Pulanglah dengan taksi, aku ada urusan sebentar."
Evellyn meremas kertas itu dan membuangnya kedalam sampah. Gadis itu kemudian segera berpakaian dan pergi menggunakan taksi. Air mata Evellyn mengalir deras disepanjang perjalanan menuju rumah Andre. Rasa sakit ditubuhnya, tidak sebanding dengan rasa sakit dihatinya karena sudah kehilangan mahkota miliknya.
__ADS_1
Sementara itu, Yansen yang mengatakan ada urusan diluar, ternyata pergi menenangkan diri di markas. Pria yang baru tersadar itu sedang kebingungan harus bersikap seperti apa pada Evellyn.
Setelah puas merenung, Yansen memutuskan untuk pulang kerumah.
"Sayang. Kamu kemana saja semalam? kenapa tiba-tiba menghilang begitu saja? pelayanmu juga, sampai saat ini belum pulang. Aku sudah laper banget ini,"
"Eve belum pulang?"
"Ya. Nggak tahu dia dimana. Sebaiknya kamu pecat saja, cari yang lebih tua sedikit, biar ada tanggung jawabnya."
Yansen tidak mendengarkan ucapan Ivanka. Pria itu malah membuat panggilan pada Evellyn, namun nomor ponsel gadis itu sama sekali tidak aktif.
Yansen kemudian membuat panggilan untuk hotel, untuk memastikan keberadaan Evellyn.
"Maaf tuan. Gadis itu sudah pergi sejak tadi lagi,"
"Baiklah terima kasih."
Yansen menghela nafas. Sepertinya dia tahu kemana Evellyn pergi. Yansen memutuskan untuk membiarkan gadis itu disana, sampai perasaan gadis itu menjadi tenang.
*****
Satu minggu kemudian...
Krieekkk
Evellyn membuka pintu dan mendapati Yansen berada didepannya. Tanpa melepaskan kaca mata hitamnya, Yansen berkata seolah tidak melakukan kesalahan apapun.
"Sudah terlalu lama liburannya. Aku rasa cukup satu minggu kamu berada disini," ujar Yansen.
"Siapa Eve?" tanya Andre.
"Oh tuan Yansen. Silahkan masuk tuan, apa anda sudah melakukan perjalanan bisnisnya?"
Yansen mengerutkan dahinya saat mendengar pertanyaan itu.
"Sepertinya gadis kecil ini berbohong pada Ayahnya," batin Yansen.
"Ya. Itulah sebabnya saya menjemput dia kemari,"
"Baiklah. Bersiaplah Eve, jangan biarkan majikanmu menunggu terlalu lama."
Evellyn menatap kearah Yansen. Meski menggunakan kaca mata hitam, Evellyn mampu menembus tatapan mata pria itu.
"Sepertinya Eve sangat marah padaku. Aku bisa melihat ada rasa kecewa dimatanya itu,"
"Pria yang aku percaya ternyata tega memanfaatkan ketidakberdayaanku. Yang lebih menyakitkan adalah, dia sama sekali tidak ada rasa bersalah sedikitpun,"
Tanpa banyak kata Evellyn masuk kedalam mobil Yansen. Selama menuju jalan pulang, tak ada yang berani bersuara lebih dulu. Dua insan itu larut dalam pemikiran mereka masing-masing.
TO BE CONTINUE...🤗🙏
__ADS_1