Belenggu Mafia Lapuk

Belenggu Mafia Lapuk
70. Siuman


__ADS_3

"Beruntung kalian cepat membawanya kerumah sakit, kalau terlambat sedikit saja, nyawanya bisa nggak tertolong lagi," ujar dokter.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Evellyn.


"Dia sudah melewati masa kritisnya, sekarang kita hanya tinggal menunggu dia siuman saja." Jawab Dokter.


Evellyn, Zavier dan yang lain bisa bernafas lega setelah mendengar penjelasan dokter.


"Dokter. Apa kita bisa menjenguknya sekarang?" tanya Zavier.


"Pasien akan kami pindahkan ke ruang perawatan dulu, setelah itu baru kalian boleh menjenguknya." Jawab Dokter.


Setelah Yansen di pindahkan, Evellyn, Zavier dan teman-temannya yang lain masuk kedalam ruang perawatan dimana Yansen berada.


"Aku tidak menyangka dia bisa melakukan hal konyol seperti ini," ujar Zavier sembari menatap Yansen yang terbaring lemah diatas ranjang.


"Iya. Padahal dia ini orang yang sangat keras kepala dan orang yang rasional. Aku tidak percaya dia bisa lemah hanya karena seorang wanita," timpal Diego.


"Ini semua gara-gara aku. Andai saja aku tidak membohongi perasaanku terus menerus pasti semua ini tidak terjadi," ucap Evellyn.


"Tapi seharusnya Yansen bisa bersabar, selama 10 tahun lebih dia punya keyakinan kamu masih hidup disaat semua orang sudah mengira kamu itu sudah meninggal. Sekarang saat kamu sudah di depan mata, kenapa jadi dia yang menyerah?" ucap Owen.


"Mungkin dia merasa lelah berjuang. Sehingga dipikirannya lebih baik mati daripada harus kehilangan lagi," ujar Zavier.


Evellyn mendekati tempat tidur Yansen, dan menggenggam erat tangan yang tampak kurus saat terakhir kali mereka bertemu. Zavier ikut mendekat kearah tempat tidur dan menatap sahabatnya yang tengah terbaring lemah.


"Sejak kamu pergi, dia tidak mengurus dirinya dengan baik. Makan tidak teratur dan tidur tidak lebih dari 6 jam sehari. Kamu adalah sumber kebahagiaan dia. Aku sudah berteman dengan dia berpuluh-puluh tahun, baru dengan kamu dia benar-benar merasakan jatuh cinta. Mungkin bisa dibilang kamulah cinta pertamanya " ucap Zavier.


"Cinta pertama? di umur setua ini?" tanya Evellyn.


"Yansen memang bukan pria suci. Bisa dibilang petualang ranjangnya sudah tidak terhitung, termasuk Ivanka. Tapi tidak sekalipun dia benar-benar melabuhkan hatinya untuk seorang wanita. Tak ada satu orangpun wanita yang bisa menggetarkan hatinya kecuali kamu."


"Apa kamu tahu? meski dia petualang ranjang, namun dia selalu menggunakan pengaman termasuk Ivanka. Hanya denganmu dia tidak menggunakannya, itu membuktikan kamu sangat istimewa baginya. Hanya saja dia terlalu membesarkan gengsinya, hingga telat menyadari perasaannya padamu," sambung Zavier.

__ADS_1


"Evellyn. Apa kamu sungguh mencintainya dan mau menerimanya? jika iya, kakak senang sekali mendengarnya. Tapi jika tidak, maka kakak mohon pergilah sejauh mungkin. Jangan pernah sekalipun muncul dihadapannya, karena itu akan mempengaruhi mentalnya lagi."


"Kakak tidak tahu setelah kamu pergi dia bisa bertahan atau tidak. Tapi setidaknya dia tidak lagi berharap dan sakit hati saat melihatmu bersama pria lain. Kakak yakin, seiring berjalannya waktu, dia pasti bisa melupakanmu," sambung Zavier.


"Mungkin perpisahan kami selama 10 tahun lebih, bisa menjadikan kami sama-sama dewasa. Aku juga tidak mengklaim diriku seutuhnya benar, karena aku menyadari saat itu aku juga ceroboh terlalu percaya dengan tipu daya Ivanka. Tapi dengan kepergianku juga ada hikmahnya. Dia jadi bisa menyadari perasaannya padaku," ujar Evellyn.


"Aku hanya tidak percaya saja, pria secerdas dan setangkas dia bisa bertindak seperti ini. Sungguh ini diluar dugaan Eve kak,"


"Apa kamu mau menerimanya karena terpaksa? apa itu karena takut dia bunuh diri dan kamu terseret?' tanya Zavier.


Mendengar pertanyaan itu Evellyn menggelengkan kepalanya sembari tersenyum.


"Sejak pertama kali aku menyukainya, ketika itu usiaku baru 17 tahun, dan sampai saat inipun perasaan itu sama sekali tidak berubah. Mungkin waktu itu aku hanya merasa tidak di inginkan, jadi penolakkanku bertemu dengannya, hanya wujud dari rasa amarahku."


"Aku selalu mencintainya, meskipun dia selalu kasar padaku. Tapi aku tahu dia diam-diam selalu masuk dalam selimutku ketika aku sedang tertidur. Hanya saja dia tidak tahu kalau aku pribadi yang sensitif dengan sentuhan, hingga saat dia memelukku aku terpaksa berubah jadi patung. Heh...dia sangat nakal," Evellyn terkekeh.


"Dan yang paling menyebalkan, saat dia melakukan itu semua, keesokkan harinya dia bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa." ucap Zavier.


"Iya kakak benar. Dan dia bertingkah seperti majikan yang galak, padahal kalau malam butuh pelukkan. Dasar playboy," ujar Evellyn kembali terkekeh.


"Daripada melihat dia diam seperti ini, lemah seperti ini, akan lebih baik kalau dia memarahiku saja. Aku tidak suka dia yang lemah seperti ini. Hikz...." Evellyn terisak.


Orland yang mendengar semua isi hati Evellyn merasa hatinya sedikit berdenyut. Sama seperti Yansen, dirinya juga tidak pernah menyukai wanita. Namun saat bertemu dengan Evellyn, gadis itu mampu merubah semua persepsinya tentang cinta.


"Orland. Kamu harus berbesar hati menerima kekalahanmu. Sejak dulu Yansen memang unggul dalam segala hal. dia unggul karena dia mampu. Tidak masalah kamu tidak mendapatkan Evellyn, kamu bisa mencari yang seperti dia nantinya," batin Orland.


"Malam ini siapa yang mau nungguin Yansen?" aku nggak bisa nih, ada bocil dirumah, kasihan biniku," ujar Owen.


"Kakak-Kakak semua pulang saja, biar aku yang jaga Yansen," ucap Evellyn.


"Kamu nggak takut jaga sendirian?" tanya Zavier.


"Nggak. Aku juga butuh berdua dengan Yansen." Jawab Evellyn.

__ADS_1


"Ya elah, pasangan terbucin baru," ujar Diego yang dijawab kekehan oleh Evellyn.


"Ya sudah kita pergi ya? sudah sore banget ini. Kabari kita kalau ada apa-apa," ujar Owen.


"Ya." Jawab Evellyn.


"Eve," Orland bersuara. Pria itu tidak tahu Evellyn sudah memaafkan kesalahannya atau tidak. Dia tahu kesalahan yang dia lakukan sangat fatal.


"Eve titip samudera sama ayah sementara waktu," ujar Evellyn.


"Ya. Eve...."


"Kakak pulang saja. Eve belum mood membahas masalah apapun saat ini," potong Evellyn.


"Oke." Orland kemudian berbalik badan dan pergi setelah menutup pintu ruangan itu.


"Hey...tuan sombong, mau berapa lama kamu terpejam? kalau terlalu lama, aku akan benar-benar pergi. Bangunlah, aku rindu kamu memarahiku," ujar Evellyn dengan mata berkaca-kaca.


"Tapi aku rindu melakukan hal lain denganmu," ucap Yansen yang baru tersadar dan mendengar perkataan Evellyn.


"Tu-Tuan...." ucap Evellyn lirih.


"Tuan apanya? kenapa kamu memanggil calon suamimu begitu?"


"Siapa calon suami? jangan terlalu percaya diri. Aku sangat cantik dan seksi, masih muda lagi, mana mau aku sama pria tua sepertimu," ucap Evellyn.


Yansen terdiam. Setiap kali Evellyn mengatai dia tua, dirinya jadi tersadar, bahwa dirinya memang tidak pantas untuk gadis itu, sehingga wajahnya jadi lesu dan datar.


"Kamu benar. Maaf hanya karena tidak ingin ditinggalkan olehmu, aku jadi bersikap impulsif. Perkataanmu memangg benar, usia kita memang terpaut jauh. Seharusnya aku tidak boleh egois dan menahanmu pergi, kamu berhak bahagia dan mendapatkan orang yang lebih baik. Sedangkan aku? aku sudah tua, mungkin umurku tidak akan lama lagi. Aku...."


"Apa anda sudah selesai bicara?" tanya Evellyn kesal, hingga Yansen jadi terdiam.


Yansen jadi takut menatap Evellyn, karena gadis itu terlihat sangat murka kepadanya.

__ADS_1


TO BE CONTINUE...🤗🙏


__ADS_2