
Anda siapa?" tanya Evellyn saat melihat seorang pria tampan masuk mendekatinya.
Orland memasang wajah manis, seolah keramahan diwajahnya tidak akan pernah lekang dimakan usia.
Orland duduk ditepi tempat tidur, dimana gadis itu tengah berbaring dengan lemah.
"Kenalkan, aku Orland. Orang yang sudah menyelamatkan kamu saat tenggelam." Jawab Orland.
Kepingan-Kepingan ingatan tentang kejadian waktu itu kembali muncul, sehingga membuat tubuh Evellyn jadi bergetar kerakutan. Melihat rasa trauma yang Evellyn rasakan, Orland mencoba menenangkan Evellyn dengan perkataanya.
"Tenanglah. Kamu tidak usah takut, disini kamu akan aman." ujar Orland
"Saya ada dimana sekarang?" tanya Evellyn.
"Kamu berada dirumah pribadi saya. Tapi agak sedikit dipinggiran kota," ucap Orland.
Evellyn terdiam, namun tiba-tiba dia teringat hal yang jauh lebih penting ketika tangannya menyentuh perutnya.
"A-Anakku..." ucap Evellyn lirih, namun masih bisa Orland dengar.
"Anak? anak siapa?" tanya Orland.
"Tu-Tuan, apa anakku baik-baik saja?" tanya Evellyn panik.
"Anak? apa maksudmu?" Orland bertanya balik.
"Aku sedang mengandung, aku ingin tahu keadaan anakku," ujar Evellyn yang bergegas turun dari atas tempat tidur.
Orland yang terkejut, dipaksa sadar seketika saat melihat Evellyn yang terhuyung karena berjalan terburu-buru.
"Kamu tenanglah! tidak perlu kemanapun. Kamu masih lemah, biar dokter kandungan yang akan memeriksamu kemari," ujar Orland.
Evellyn kembali berbaring diatas tempat tidur dan dibantu oleh Orland.
"Tuan. Terima kasih, anda baik sekali padaku. Maaf sudah merepotkan."
"Tidak masalah. Lebih baik kamu istirahat dulu, nanti kita bisa ngobrol lagi setelah dokter itu datang."
"Baiklah," ujar Evellyn.
Orland segera keluar dari ruangan itu, untuk memanggil dokter kandungan terbaik kerumahnya.
"Bukankah menurut penyelidikkan gadis itu baru saja menyelesaikan sekolahnya? apa gadis itu memang terjerumus dalam pergaulan bebas? anak jaman sekarang, memamg suka bikin pusing orang tua. Baru 17 tahun sudah hamil diluar nikah," gerutu Orland.
Orland menunggu diluar pintu, saat seorang dokter kandungan memeriksa keadaan Evellyn dan juga kandungannya.
"Bagaimana keadaan anak saya dok?" tanya Evellyn.
"Saat urine di test, hasilnya masih positif. Tapi alangkah baiknya, anda melakukan pemeriksaan dirumah sakit, lebih tepatnya cek melalui USG. Kita tidak tahu saat anda terjatuh ke laut, mengeluarkan darah atau tidak. Takutnya terjadi ancaman keguguran."
"Baiklah, saya akan mendengarkan saran anda."
Dokter itu kemudian undur diri dan juga sudah menjelaskan pada Orland tentang keadaan Evellyn.
"Apa kamu sudah menikah? sepertinya usiamu masih sangat muda," ujar Orland mulai mengorek tentang Evellyn.
"Belum. Usiaku memang baru 17 tahun." Jawab Evellyn.
__ADS_1
"Kamu terlibat pergaulan bebas ya?" tanya Orland.
Evellyn tersenyum miris, mata gadis itu langsung berkaca-kaca.
"Maaf kalau sudah menyinggungmu," sambung Orland.
"Tidak masalah kak. Aku tidak keberatan menceritakan masalahku pada kakak, agar kakak tahu kenapa aku bisa berakhir jatuh kedalam laut itu."
"Apa yang terjadi?" tanya Orland.
Evellyn kemudian menceritakan kejadian yang menimpanya. Mulai dari dirinya yang melarikan diri dari rumah, pertemuannya dengan Yansen, sampai kejadian yang menghancurkan hidupnya itu.
"Jadi kamu saat ini sedang mengandung anak dari majikanmu itu?" tanya Orland yang masih syok dengan cerita Evellyn.
Evellyn menganggukkan kepalanya, dengan air matanya yang sudah membasahi seluruh wajahnya.
"Dia tidak ingin bertanggung jawab, itulah sebabnya dia ingin melenyapkan aku dan anakku."
"Apa kamu sangat menyukai pria itu?"
Mendengar pertanyaan Orland, Evellyn tiba-tiba tertawa keras, namun air matanya semakin mengucur deras. Orland tahu, air mata yang Evellyn perlihatkan adalah air mata kesakitan gadis itu.
"Aku tidak akan berkata munafik, karena rasa cinta itu pasti masih ada. Tapi sejak dia menenggelamkan aku di laut itu, aku bersumpah akan membunuh semua tentang dia dalam hidupku."
"Ini sangat luar biasa, perjaka tua itu bisa menghamili gadis belia ini. Apa sebenarnya dia juga menyukai gadis ini? setahuku dia selalu menggunakan pengaman saat berhubungan dengan wanita. Heh...Yansen, akhirnya aku menemukan kartu matimu. Aku akan membuatmu menyerahkan sendiri tampuk kekuasaanmu itu," batin Orland.
"Jadi apa rencanamu kedepannya?" tanya Orland.
"Yang pasti aku mau melahirkan anakku dulu,"
"Kenapa tidak kamu gugurkan saja anak itu?"
"Gadis kecil ini sangat luar biasa. Bagaimana mungkin di usianya yang belia, tapi memiliki pemikiran yang sangat dewasa? seharusnya dia sangat ketakutan saat ini, tapi itu sama sekali tidak terlihat. Dia malah terlihat sangat berani," batin Orland.
"Kak. Maukah kakak menolongku sekali lagi?" tanya Evellyn.
"Kamu mau minta tolong apa?"
"Maukah kakak membawaku kerumah sakit untuk memeriksakan kandunganku?"
"Baiklah, kakak akan mengantarmu." Jawab Orland.
Orland kemudian memapah Evellyn untuk membawa gadis itu kerumah sakit. Setelah dilakukan pemeriksaan secara menyeluruh, hasilnya bisa membuat senyum Evellyn mengembang, karena bayi yang dia kandung baik-baik saja.
"Kak. Makasih ya? aku nggak akan pernah melupakan semua kebaikkan kakak."
"Sama-Sama." jawab Orland.
"Baiklah kak, kalau gitu kita pisah disini saja. Suatu saat kita pasti akan ketemu lagi."
"Eh? kamu mau kemana? bukankah kamu bilang tidak punya tempat tinggal? kamu juga tidak punya uang, kamu lagi hamil sekarang, kondisimu juga masih lemah. Sebaiknya kamu tinggal saja sama kakak untuk sementara waktu,"
"Aku nggak enak kalau ngerepotin kakak terus,"
"Tidak masalah, kakak juga hidup sebatang kara. mungkin kita jodoh dalam hal ini. Kamu butuh pertolongan, sementara kakak butuh keluarga."
"Makasih kak." ucap Evellyn dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
Evellyn dan Orland masuk kedalam mobil, sembari menuju rumah, mereka kembali berbincang.
"Apa kamu tidak memilliki keluarga lain?" tanya Orland.
Disinggung masalah itu, Evellyn jadi teringat sosok Andre. Namun pandangan mata Evellyn tiba-tiba berubah jadi sayu karena tidak berdaya.
"Seharusnya aku masih memiliki ayah disisiku. Tapi mengingat kekejaman pria itu, rasanya harapanku menjadi tipis."
"Kenapa?"
"Aku takut ayahku juga dilenyapkan karena ingin menghilangkan jejak."
"Kakak akan membantumu untuk menemukan ayahmu. Katakan! dimana alamat terakhirnya."
"Benarkah kakak mau membantuku?"
"Tentu saja. Sekarang kamu keluarga baruku, dan sudah kuanggap sebagai adik. Bukankah sebagai keluarga kita harus saling menolong?"
"Makasih kak. Hikz..." tangis Evellyn pecah seketika.
"Heh. Bertambah lagi kartu AS ku. Ternyata tiba juga dimana hari kehancuranmu itu Yansen. Tapi kamu tenang saja, aku akan membuat hidupmu sangat dramatis dan tragis. Aku akan membuat orang-orang yang tadinya memcintaimu, berbalik membencimu," batin Orland.
*****
Keesokkan harinya...
"Apa sebaiknya bapak tinggal dirumahku saja?" tanya Yansen diseberang telpon.
"Tidak apa, bapak disini saja. Bapak takut Evellyn pulang dan mencari bapak kerumah."
"Bapak tenang saja, aku akan menyuruh orang-orangku untuk menjaga rumah itu. Aku takut setelah ini orang yang mengincar Evellyn, akan mengincar Bapak juga."
"Baiklah kalau begitu. Bapak akan siap-siap sekarang."
"Bapak tidak usah kemari, akan ada orangku yang menjemput bapak nanti."
"Baiklah." Jawab Andre.
Andre pun bersiap-siap memasukkan seluruh pakaiannya kedalam sebuah tas.
Tok
Tok
Tok
"Apa itu orang-orangnya Yansen? cepat sekali mereka datang?"
Andre meraih tasnya, dan kemudian membuka pintu.
Kriekkkk
"Bapak Andre?" tanya seorang pria bertubuh besar.
"Ya."
"Ikut kami,"
__ADS_1
Tanpa bertanya Andre mengekor dibelakang kedua pria bertubuh besar itu. Sementara itu kedua pria itu merasa bingung, karena Andre membawa tas besar, seolah dirinya sangat pasrah untuk di tawan.
TO BE CONTINUE...🤗🙏