
"Kalian pasti mau bilang kalau aku halu lagi kan? atau mau bilang aku sudah gila?" tanya Yansen.
"Tidak. Kita nggak ada yang bilang begitu, iya kan Zav?" Owen melempar pertanyaan itu pada Zavier.
"Eh? i-iya Yan. Kamu jangan sensi dong. Lagian kamu liat Eve dimana?"
Zavier bertanya dengan iseng, karena menurut pemikirannya Evellyn tidak mungkin berada di Palembang.
"Sudahlah, kalian juga tidak akan percaya padaku," ucap Yansen.
Yansen kemudian langsung menyambar handuk dan masuk ke dalam kamar mandi.
Brakkkk
Yansen menutup pintu kamar mandi dengan lumayan keras, hingga Zavier, Owen dan Diego terjengkit kaget.
"Hah...sepertinya kita dipaksa harus percaya ucapannya. Tapi dipikirkan berapa kalipun, dia tidak mungkin berada disini kan? buat apa Evellyn ada disini?" ujar Owen.
"Menurutmu kenapa tidak mungkin?"
"Ya secara ini sumatera coy. Jarak tempuh tercepat menggunakan pesawat. Sedangkan kalau mau lewat jalur darat, dia harus nyebrang pakai kapal dari pelabuhan merak ke bakauheuni. Masih melewati propinsi Lampung tuh. Ini perjalanan dari Lampung ke Palembang juga nggak kaleng-kaleng. Bisa memakan waktu hingga setengah hari kan?" Jawab Owen.
"Coba kalian pikir? kenapa harus Palembang? kenapa nggak ke Bandung, Tanggerang, Banten, Bogor. Atau kalau mau jauh dikit, nyebrang ke Lampung." Sambung Owen.
"Dipikirkan ba...."
Kata-Kata Owen terhenti saat melihat Yansen sudah keluar dari kamar mandi dengan wajah masam. Pria itu tidak mengucapkan sepatah kata pun, karena perasaannya sedang buruk saat ini.
Yansen bergegas berpakaian dan membaringkan tubuhnya dengan membelakangi para sahabatnya itu. Zavier, Owen dan Diego saling berpandangan, dan merekapun memutuskan tidak ingin mengganggu Yansen saat ini. Mereka membiarkan Yansen buat istirahat.
"Eve...benarkah tadi itu kamu? ini sudah 3 tahun lebih, kenapa kamu masih saja bersembunyi? aku tidak perduli meski semua orang mengatakan kalau kamu itu sudah tidak ada, tapi bagiku kamu itu masih hidup. Dan aku yakin, orang yang ku lihat tadi benar-benar kamu. Mataku tidak pernah salah mengenali orang," batin Yansen.
"Eve...datanglah sekali lagi ke dalam mimpiku, aku sangat merindukanmu,"
Mata Yansen perlahan meredup, hingga tanpa sadar diapun tertidur pulas.
"Mama," wajah Samudera berbinar, saat orang yang dia panggil mama dilayar ponsel, membuat panggilan video kesekian kalinya.
"Jagoan mama lagi apa. Hem? apa sudah makan?" tanya Evellyn.
"Sudah Ma,"
__ADS_1
"Tadi makan apa?" tanya Evellyn.
"Nuget ayam. Papa Orland membeli banyak buat Samudera."
"Wah...jadi makannya harus banyak dong, biar cepat besar."
"Apa kalau Samudera cepat besar, mama cepat pulang?" tanya Samudera.
Pertanyaan Samudera yang menginginkan dirinya pulang, bukanlah sekali dua kali. Tapi setiap dirinya melakukan panggilan video, Evellyn selalu mendapat pertanyaan serupa.
"Oh ya iya dong. Itu artinya Samudera sudah mampu melindungi mama. Jadi mama nggak takut lagi sama orang jahat,"
"Kalau gitu Samudera akan makan yang banyak, biar cepat bertemu mama."
"Anak mama memang pintar," ujar Evellyn yang selalu menyembunyikan rasa sedihnya.
"Samudera...ayo mandi," terdengar suara teriakkan dari arah belakang.
"Ma. Samudera mandi dulu ya? Papa Orland sudah panggil-panggil Samudera."
"Oke. Dada sayang...emmuuachh..."
"Dada mama...emuuuacchh..."
"Yansen. Anak kita sudah berusia 3 tahun sekarang, apa kamu masih memegang prinsipmu itu? atau mungkin sudah menikah dengan Ivanka? andai saja kamu tidak berbuat kejam padaku, mungkin saat ini kita sudah jadi keluaga yang bahagia. Tapi kenapa kamu memaksaku mengeluarkan sisi iblis dalam diriku? bahkan rasa benciku tidak bisa hapus, meskipun ini sudah hampir 4 tahun," ujar Evellyn lirih.
"Sepertinya rasa cinta nona pada orang itu sangat dalam,"
Lala membuat Evellyn terkejut, karena gadis dewasa itu mendengar gumamannya. Evellyn tersenyum getir, saat mendengar pertanyaan Lala.
"Dia cinta pertamaku. Dari dia aku banyak tahu segala hal. Tentang cinta, pengorbanan, arti memberi dan menerima, juga sebuah penghianatan."
"Kamu mencintainya, tapi kamu juga membencinya."
"Mau bagaimana lagi. Dialah yang merenggut hal berharga dariku, aku membecinya karena kenapa harus dia yang menjadi ayah dari anakku."
"Kudengar usiamu dan dia terpaut jauh?"
"17 tahun. Awalnya tidak ada masalah bagiku dengan jarak usia sejauh itu. Aku yakin semuanya akan baik-baik saja. Tapi ternyata aku keliru, menjalin hubungan dengan pria dewasa ternyata memberi dia banyak keuntungan. Termasuk menipu gadis belia sepertiku. Kakak Lala belum mau menikah?"
"Keinginan itu sudah terkubur sejak lama,"
__ADS_1
"Kenapa?"
"Orang yang aku cintai tidak suka berkomitment. Baginya hubungan di atas ranjang hanya hubungan mutualisme. Padahal aku juga tidak masalah dengan jarak usia kami yang terpaut 8 tahun."
"Aih...kenapa kita ini harus terbelenggu dengan para bujang lapuk itu. Mending tahu diri disukai daun muda. Ini malah milih membujang seumur hidup. Apa dia pikir kalau mati bisa menguburkan diri mereka sendiri," ujar Evellyn asal yang membuat Lala terkekeh mendengarnya.
*****
Yansen masih dalam mode diam, saat menikmati menu sarapan dari pihak hotel. Melihat situasi yang lumayan canggung, Zavier mencoba untuk mencairkan suasana.
"Yan. Kamu jangan salah faham ke kita ya? kita nggak bermaksud gitu kok? lagipula coba kamu pikir juga, kira-kira apa mungkin Evellyn berada disini? kenapa harus Palembang? ini sumatera, terlalu jauh bagi Evellyn buat sembunyi kesini." ujar Zavier.
Yansen meletakkan sendok dan garpunya, kemudian menatap para sahabatnya satu persatu.
"Aku yakin dengan penglihatanku. Tapi bisa jadi juga itu hanya mirip. Tidak masalah, kalian jangan merasa aku marah pada kalian, karena kalian mengataiku berhalusinasi atau sudah terganggu saraf, juga mental."
"Kita nggak serius mengatakan itu. Mana mungkin kami mengatai itu dengan nada serius. Kamu itu saudara kami," timpal Owen.
"Kalau kami memang menyinggung perasaanmu, kami minta maaf ya?" ujar Diego.
"Hah...baiklah, maaf kalian diterima." ujar Yansen sembari menyunggingkan senyumnya.
"Ngomong-ngomong kapan kita pergi liburan?" tanya Owen.
"Kita selesaikan dulu urusan bisnisnya. sebentar lagi si Korea Kw akan datang, kalian atur dia agar tidak membuat masalah untukku." Jawab Yansen.
"Baiklah," ujara Zavier.
"Habiskan makanan kalian, aku mau mengajak kalian melihat jembatan Ampera dan juga Benteng Kuto Besak." ucap Yansen.
"Apaan itu?" tanya Owen.
"Tentu saja tempat bersejarah. Jembatan Ampera itu dibangun diatas sungai Musi. Jangan-Jangan kalian juga nggak tahu sungai Musi itu apa?"
"Ya mau gimana lagi Yan. Namanya juga lupa," timpal Diego.
"Alibi aja terus. Bilang aja sekolah dulu sering minggat. Jadi nggak tahu cerita tentang sejarah pahlawan dahulu.," ucap Yansen.
"Ya sudah cepat, aku jadi penasaran, seperti apa tempat yang kamu sebutkan itu. Kalau kamu tanya aku tentang jenis-jenis pempek Palembang, mungkin aku tahu. Soalnya pernah beli paketan." Jawab Owen sembari terkekeh.
"Ya sudah makan yang cepat, jam segini tidak terlalu panas buat nongkrong diasana," ujar Yansen.
__ADS_1
Setelah menyelesaikan sarapan mereka, Yansen dan teman-temannya bergegas pergi kentempat yang ingin mereka tuju.
TO BE CONTINUE...🤗🙏