
"Mama percaya, dengan semua yang dikatakan oleh orang itu?" tanya Samudera saat melihat wajah Evellyn yang mendung dan meneteskan air mata setelah kepergian codet.
"Mama tidak tahu harus percaya sepenuhnya atau tidak, mama hanya merasa kecewa saja jika semua yang dikatakan orang itu adalah benar. Mama sangat merindukan kakekmu. Hikz..."
Samudera memeluk Evellyn yang tubuhnya bergetar karena menangis.
"Mama cuma tidak bisa menerima kalau Orland benar-benar melakukan itu pada Mama. Lalu untuk apa kebaikkan palsunya selama ini? orang yang mama percaya, malah orang yang sudah memisahkan mama dari kakekmu lebih dari 10 tahun. Dia bahkan membuatkan makam palsu untuk kakekmu, demi memuluskan rencananya itu."
"Pantas saja dia ingin agar mama mendekati papamu, agar mama bisa menguasai seluruh hartanya, kemudian melenyapkannya. Sangat masuk akal jika kebohongannya sebesar ini."
"Sebaiknya kita jangan menduga-duga, saat bertemu dengan papa Orland lagi, kita bisa bertanya sepuasnya. Samudera masih bibgung, kalau dia memang berniat jahat, kenapa dia ingin menyelamatkan kita dan bergabung dengan papa Yansen?"
"Lagipula, kalau mengingat kebaikkannya selama 10 tahun terkahir ini, rasanya itu mustahil. Samudera bisa merasakan ketulusan papa Orland. Dia tidak pernah memarahiku, dia selalu membelikan apapun yang aku mau. Dia menyuapiku, membersihkan kotoranku, dan menemaniku tidur."
"Dia tidak pernah memberikan tanggung jawab mengurusku pada seorang baby sitter. Jika dia melakukannya, itu karena dia memilii keperluan diluar rumah. Kadang dia juga mengajakku ke kantor, aku pernah bertanya padanya kenapa dia mebawaku ke kantor, meskipun aku pulang sekolah? papa bilang, dia tidak bisa percaya pada siapapun untuk mengurusku. Jadi setiap pulang sekolah, akan ada yang menungguku di depan gerbang sekolah dan membawaku kekantornya."
"Coba mama pikir, bukankah aku ini cuma anak pion? tapi kenapa dia harus sebaik itu padaku?" tanya Samudera.
"Itulah yang mama tidak mengerti. Dia selalu mengistimewakan kita, kalau memang dia ingin menjadikan mama pion untuk melenyapkan papa Yansen, kenapa harus menunggu 10 tahun?"
"Apa mungkin papa Orland benar-benar menyukai mama seperti yang orang itu bilang?" tanya Samudera.
"Omong kosong. Nggak ada yang seperti itu," ujar Evellyn.
"Bagaimana kalau itu benar?" goda Samudera.
"Jangan bicara ngawur. Sekarang kita harus memikitkan, bagaimana caranya bisa kabur dari sini," ujar Evellyn setengah berbisik.
"Apa mama punya rencana?" tanya Samudera.
Evellyn meraih kedua sisi wajah putranya.
"Samudera dengarkan mama, nanti kalau ada kesempatan kabur untukmu, maka ambilah kesempatan itu. Jangan menoleh kebelakang lagi hanya karena kamu memikirkan mama. Ambilah kesempatan itu selagi ada, jika kamu berhasil kabur, maka kamu bisa meminta bantuan pada papamu ataupun pada papa Orland. Apa kamu mengerti?" tanya Evellyn.
__ADS_1
"Samudera mengerti ma,"
"Bagus. Jangan jadikan hubungan kita menjadi pengganggu emosionalmu, sehingga kamu jadi lemah. Ingat, kamu itu anak laki-laki, jadi harus kuat dan tidak boleh lemah. Apa kamu mengerti?" tanya Evellyn.
"Mengerti ma." Jawab Samudera.
"Bagus. Itu baru anak mama namanya," ujar Evellyn sembari menepuk pipi Samudera pelan.
"Sekarang kita harus mencari celah, agar bisa kabur dari sini," ujar Evellyn dan di angguki oleh Samudera.
Samudera berjalan-jalan mengitari markas, mereka ingin mempelajari situasi disekitar markas itu. Dan Samudera menemukan sebuah gudang yang sepertinya tempat penyimpanan bahan bakar. Samudera juga bisa melihat, kalau markas itu berada tepat ditengah-tengah hutan. Mungkin itulah alasan mereka menyimpan banyak bahan bakar di gudang itu.
"Ma, sepertinya saat ini kita sedang berada didalam hutan," ujar Samudera.
"Ya kamu benar. Kita harus bekerja keras untuk bisa keluar dari tempat ini. Tapi Samudera, apapun itu kita tidak boleh melepaskan peluang walau sekecil apapun itu."
"Samudera mengerti ma." Jawab Samudera.
Disisi lain, Yansen dan teman-temannya tengah sibuk mengatur strategi penyergapan kembali. Orang-Orang sudah mereka kerahkan untuk mencari keberadaan Codet dan komplotannya.
Orland tampak berpikir keras, dia tidak ingin terlambat untuk menyelamatkan Evellyn dan Samudera.
"Sekiranya mungkinkah Codet mempunyai dua markas?" tanya Orland.
"Kenapa tidak mungkin? cuma kamu yang bisa menjawabnya. Sebanyak apa kamu memberikan dia uang selama ini," ujar Zavier.
"Aku rasa memang cukup kalau untuk membangun sebuah markas besar." Jawab Orland.
"Lalu menurut pemikirannu, dimana kira-kira dia akan membuat markasnya itu?" tanya Yansen.
"Aku tidak tahu ini benar atau tidak, tapi dia pernah menyarankan padaku untuk membuat markas di dalam hutan. Mungkinkah dia membuat markasnya didalam hutan?" tanya Orland.
"Mungkin saja. Baiklah, kita akan menyuruh orang-orang kita untuk menyisiri tiap hutan terdekat," ucap Yansen.
__ADS_1
"Setuju," ujar Owen.
Yansen pun mengerahkan anak buahnya untuk menyisiri tiap hutan. Yansen tidak ingin membuang banyak waktu, karena dia sangat mengkhawatirkan keselamatan Evellyn dan Samudera.
"Lapor bos. Yansen mengerahkan anak buahnya untuk menyisiri tiap hutan. Kalau seperti itu, markas kita akan ketahuan," ujar Paiman.
"Sial. Cepat sekali pergerakkan mereka, ini pasti andil Orland juga."
"Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang bos? kita tidak mungkin melawan mereka dengan kondisi orang-orang kita yang banyak tewas ditangan mereka waktu itu?"
"Ada berapa jumlah orang yang tersisa?" tanya Codet.
"Hanya sekitar 40 orang lagi bos. Sudah pasti kita kalah telak dengan jumlah mereka yang mencapai ratusan orang."
"Kamu tidak usaha khawatir, kita masih memiliki sandera. Mereka tidak mungkin bertindak gegabah yang akan menyakiti dua sandera kita."
"Kenapa tidak kita umpankan saja anak itu? mereka pasti akan menuruti permintaan kita," tanya pria itu.
"Itu akan kita lakukan. Aku akan membuat negosiasi dengan mereka."
"Itu lebih baik, dari pada kita tidak mendapat apapun. Kita minta saja uang tebusannya, setelah itu kita bisa kabur keluar kota atau keluar negeri."
"Kenapa kamu bisa berpikir begitu?"
"Codet. Aku hargai semua ambisimu itu. Jauh-Jauh aku merantau kemari hanya ingin jadi orang jahat. Jadi orang jahat juga butuh penghasilan. Aku masih punya anak bini di kampung," ujar Paiman.
"Dengan kita minta uang tebusan, minimal kita bisa menikmati hasil kerja keras kita. Dan uangnya bisa kita buat untuk membangun kerajaan baru, mencari orang-orang baru, dan lebih memperkuat sistem kita lagi. Tapi kalau kamu masih ingin bertarung dengan mengandalkan 40 orang itu, itu sama saja bunuh diri namanya," sambung Paiman.
Codet tampak berpikir keras sembari menatap sahabat dari kecilnya itu dengan lekat.
"Paiman benar, aku tidak boleh mati dengan cepat. Minimal aku harus bisa membalaskan dendamku pada Orland," batin Codet
"Lagi pula uang yang akan aku minta tidak akan sedikit jumlahnya. Aku akan membangun kerajaan baru dan lebih besar tentunya,"
__ADS_1
Codet kemudian menyeringai, sementara Samudera yang menguping pembicaraan itu segera pergi dari persembunyiannya dan ingin segera memberitahu Evellyn tentang apa yang dia dengar.