
Seperti yang Orland janjikan pada Ivanka, gadis itu kini sedang berada dalam sebuah ruangan khusus. Yah, Ivanka sedang melakukan bedah plastik untuk merubah wajahnya menjadi yang dia inginkan.
Setelah melakukan operasi berkali-kali, akhirnya Ivanka menjadi sosok baru saat ini.
"Sempurna," ujar Ivanka saat melihat dirinya disebuah cermin besar.
"Apa kamu puas dengan hasilnya?" tanya Orland.
"Sangat puas. Kebetulan aku juga penyuka drakor, jadi aku memang ingin wajahku dirubah menjadi orang ala-ala sana."
"Baguslah kalau kamu puas."
"Jadi kamu ingin aku bagaimana setelah ini?" tanya Ivanka.
"Tentu saja menjalankan misi selanjutnya. Bukankah kamu ingin melihat Yansen hancur?" tanya Orland.
"Ya. Aku begitu sakit hati dikhianati dan dicampakan begitu saja. Jadi tentu saja aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu."
"Kalau begitu datangi dia seperti awal waktu kamu bertemu dengannya. Buat dia jatuh cinta padamu, jangan langsung mengeksekusinya. Kamu nikmati saja semua apa yang dia berikan padamu, karena ada seseorang yang lebih pantas menghakimi dirinya nanti."
"Baiklah aku mengerti. Aku juga tidak ingin ini berakhir dengan cepat. Ngomong-ngomong, apa aku mendapatkan bagianku setelah dia dilenyapkan?"
"Tentu saja. Setiap orang melakukan kerjasama atau berbisnis denganku, tidak pernah mengalami kerugian."
"Baiklah. Aku senang bekerjasama denganmu, apa kamu menginginkan lebih?" tanya Ivanka dengan tatapan menggoda.
Orland mengerutkan dahinya, dia memang suka menghabiskan waktu dengan wanita diatas ranjang. Tapi dia tidak pernah berpikir untuk berhubungan dengan wanita yang sama dari musuh bebuyutannya.
"Tidak. Kalau kamu sedang ingin, kamu bisa mengajak anak buahku yang ada disini untuk bercinta denganmu."
"Aih...meski aku menginginkan hal itu, tapi aku tidak bergaul dengan sembarangan orang."
"Aku heran, kenapa Yansen memilih wanita seperti ini buat jadi patner ranjangnya. Apa matanya itu sudah buta? meskipun dia menggunakan pengaman sekalipun, seharusnya dia merasakan jijik karena wanita ini bisa dipakai oleh sembarang pria," batin Yansen.
"Aku pergi dulu. Ada hal yang harus aku tangani,' ujar Orland
"Oke." Jawab Ivanka.
Orland melangkahkan kaki pergi dari tempat itu. Dia tidak ingin berada disisi Ivanka terlalu lama, karena wanita itu selalu berusaha merayu dirinya.
"Kamu sedang apa?" tanya Orland saat tiba dikediamannya.
"Sedang buat rujak kak, kakak mau?" tanya Evellyn.
"Apa itu mangga muda?" tanya Orland.
__ADS_1
"Ya. Aku melihatnya ada dibelakang rumah ini, jadi aku memetiknya dua buah."
"Itu kan sangat asam. Apa lambungmu tidak akan bermasalah?"
"Tidak kak. Sepertinya ini keinginan anakku." Jawab Evellyn.
"Baiklah. Tapi jangan terlalu banyak ya? kakak nggak mau kamu jadi sakit perut,"
"Iya kak." Jawab Evellyn yang mulai mencocolkan irisan mangga muda kedalam semangkuk kecil sambal rujak.
Orland hanya bisa menyipitkan matanya saat melihat Evellyn dengan begitu nikmat memakan satu persatu irisan mangga muda kedalam mulutnya. Dan tanpa sadar Evellyn sudah menghabiskan semua mangga itu tanpa sisa.
"Sepertinya kamu puas sekali," ujar Orland.
"Iya kak. Rasanya sangat senang, kalau apa yang aku inginkan keturutan." Jawab Evellyn sembari terkekeh.
"Teruslah bahagia, dengan begitu anakmu juga akan tumbuh sempurna," ucap Orland.
"Emm." Evellyn mengangguk.
"Kalau boleh tahu, seandainya kamu ingin meneruskan sekolah, cita-cita apa yang kamu inginkan?" tanya Orland.
"Dokter." Jawab Evellyn.
"Dokter? kenapa harus dokter?" tanya Orland.
"Kenapa tidak kamu wujudkan saja?"
"Mewujudkan dengan apa? aku tidak punya uang sepeserpun. Uang pemberian dari bajingan itu ada di ATM yang nggak tahu ada dimana sekarang." Jawab Evellyn.
"Lagipula kalau aku kuliah, bagaimana dengan anakku? siapa yang akan mengurusnya?" sambung Evellyn.
"Memangnya kalau kamu tidak bertemu dengan kakak, siapa yang akan mengurus anakmu saat kamu pergi bekerja?" tanya Orland.
Evellyn terdiam. Apa yang Orland katakan, ada benarnya juga.
"Untuk itu kamu harus melanjutkan kuliahmu, serahkan urusan itu pada kakak. Kakak akan menyewakan jasa baby sitter terbaik untuk anakmu."
"Tapi kak. Aku tidak punya uang untuk melanjutkan kuliah,"
"Kakak yang akan membiayaimu." Jawab Orland.
Greppppp
Evellyn memeluk Orland tiba-tiba. Gadis itu sudah terisak dalam pelukkan pria itu.
__ADS_1
"Makasih kakak. Jasa kakak nggak pernah aku lupakan. Tapi aku harus melanjutkan kemana? kalau disini aku takut bertemu pria jahat itu, karena belum waktunya aku membalaskan dendam ini."
"Ya. Kamu harus jadi orang kuat dulu, dan kakak akan mewujudkan semua itu."
"Makasih kak."
"Kamu tidak usah khawatir, nanti akan kakak carikan tempat kuliah terbaik untukmu."
"Makasih ya kak. Cuma ucapan terima kasih yang bisa aku berikan saat ini."
"Tidak masalah, nanti kalau sudah jadi dokter kakak ingin dirawat olehmu."
"Emm, pasti. Karena tidak ada keluarga lain diantara kita. Jadi hanya kakaklah keluargaku satu-satunya saat ini."
Seperti yang sudah disepakati, Evellyn menjalani hidupnya dengan baik saat ini. Semua rasa sedih dan rasa sakit dia lupakan untuk sementara waktu, karena dia ingin menjadi orang besar dulu sebelum membalaskan semua rasa sakit hatinya.
*****
"Tidak terasa sudah 6 bulan Evellyn pergi, kalau dia memang masih ada di dunia ini, bulan ini seharusnya bulan kelahiran anakku bukan?" ujar Yansen.
Pria itu menghisap dalam-dalam sebatang rokok yang terapit diantara jari telunjuk dan jari tengahnya. Setelah itu dia menghembuskan asapnya ke udara, membentuknya menjadi bulatan-bulatan sesuai cetakan mulutnya.
"Aku percaya suatu saat dia pasti akan menemuimu meskipun kita tidak tahu apa tujuannya. Sekarang yang harus kamu lakukan hanya bisa menjalani hidupmu lebih baik lagi." ucap Zavier.
"Kapan kita akan menyerang geng sampah itu lagi?" tanya Yansen.
"Aku tahu kamu sedang dalam keadaan tidak baik, jangan hanya karena itu, kamu malah menghancurkan dirimu sendiri. Bersikap tenanglah saat ini, lagipula mereka tidak melakukan gerakkan apapun saat ini." Jawab Zavier.
"Bosan kalau cuma ngurusin perusahaan saja, aku butuh sesuatu yang bisa memacu adrenalinku," ujar Yansen.
"Bukankah kamu sudah punya mainan baru?" ledek Zavier.
"Siapa? korea palsu itu? nggak tertarik, meskipun bodynya mirip Ivanka." Jawab Yansen.
"Lagipula aku sudah memutuskan untuk berhenti asa celup lagi, kehilangan Evellyn membuatku sadar, bahwa cuma dengan dia aku merasakan nikmat saat bercinta dengan seorang gadis."
"Ya iyalah nikmat, yang kamu masuki itu masih perawan Yan," tukas Owen.
"Tidak. Bukan hanya itu, sejujurnya ada sesuatu yang ada pada diri Evellyn yang membuatku ingin selalu menyentuhnya dan dekat dengannya. Bahkan sebelum aku menodainyapun, diam-diam aku sering tidur dengannya, meskipun tidak melakukan apapun."
"Wah...wah...wah..rupanya kamu sudah lama ya suka sama Eve? lagaknya saja nggak suka dan judes sama gadis itu, ternyata aslinya gitu toh?" ucap Owen.
"Ho'oh Yan. Kalau melihat sikapmu sama dia waktu itu, kayaknya mustahil kamu bisa suka sama dia," timpal Diego.
Yansen jadi mengingat-ingat saat kebersamaannya dengan Evellyn. Meski tidak pernah bersikap romantis pada gadis itu, Evellyn sebenarnya tidak tahu bahwa tiap kali berdekatan dengannya sejak kejadian malam itu, jantungnya selalu berdegup dengan kencang.
__ADS_1
TO BE CONTINUE...🤗🙏