
"Jadi kita belum menemui rekan bisnis kita itu?" tanya Diego, saat mereka baru saja turun dari pesawat.
"Kita refreshing saja dulu. Aku sudah banyak referensi buat kita liburan di kota Palembang." Jawab Yansen.
"Baiklah. Kami mengikut saja, jadi kita mau nginap dimana buat nanti malam?" tanya Diego.
"Temanku sudah merekomendasikan salah satu hotel terbaik. Dia bilang ada yang dekat dengan sebuah mall disana. Namanya hotel Arya duta."
"Baguslah. Semoga saja tempatnya nyaman,"
"Bukan hanya nyaman, kita juga mudah buat kemana-mana. Karena hotelnya ditempat yang mudah dijangkau," ujar Yansen.
Yansen dan teman-temannya memanggil taksi untuk mengantar mereka kepenginapan. Benar yang teman Yansen katakan, hotel yang pria itu rekomendasikan memang dekat dengan sebuah pusat perbelanjaan. Yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki.
Setelah check in hotel, Yansen dan teman-temannya memutuskan untuk pergi ke pusat perbelanjaan, untuk membeli beberapa keperluan mereka. Mereka juga membeli beberapa makanan dan camilan.
"Katanya si korea KW mau nyusul kesini ya?" tanya Zavier.
"Ya. Lumayanlah buat disuruh nyatet pas meeting dengan rekan bisnis nanti."Jawab Yansen.
"Awas hati-hati loh, kelihatan sekali kalau si Korea Kw suka sekali sama kamu," ucap Owen.
"Nggak mempan! biarpun dia telanjang didepanku, aku nggak bakalan tergoda." Jawab Yansen.
"Ah...yang benar...." ledek Diego.
"Sudah ku bilang, kalau bukan Evellyn aku nggak mau." Jawab Yansen.
Zavier, Owen, dan Diego mencebikkan bibirnya saat mendengar ucapan Yansen yang sudah dia dengungkan berkali-kali itu.
"Ah...sial," ujar Yansen.
"Ada apa?" tanya Zavier.
"Aku lupa mau beli cukuran jenggot. Kalian duluan saja balik ke hotel, ntar aku nyusul." Jawab Yansen.
"Ya nggak apa. Ntar kita temani saja nyari sama-sama," ujar Zavier.
"Nggak perlu. Nanti aku belikan saja buat kalian," ucap Yansen.
"Oke. Kami tunggu di hotel ya?" ujar Zavier.
"Oke." Jawab Yansen.
Yansen berpisah dengan teman-temannya. Pria itu kembali memasuki area super market untuk mencari apa yang dia butuhkan. Saat Yansen sudah menemukan apa yang dia cari, pria itu bergegas menuruni tangga karena ingin segera kembali ke hotel. Namun saat sedang melihat kearah atas, Yansen melihat Evellyn yang tengah mengobrol dengan seorang wanita.
"Eve....Eve...." Gumam Yansen.
Yansen bergegas menuruni anak tangga, dan segera manaiki tangga yang lain agar cepat naik keatas.Yansen berlari sekencang mungkin, agar dirinya cepat sampai ke tempat dirinya melihat keberadaan Evellyn.
"Eve...."
__ADS_1
Hosh
Hosh
Hosh
Nafas Yansen ngos-ngosan saat tiba ditempat dirinya melihat Evellyn. Namun dirinya sama sekali tidak menemukan orang yang dia lihat. Yang dia yakini itu adalah Evellyn, gadis yang dia cari selama ini. Mata Yansen mencari kesana kemari, namun sama sekali tidak menemukan apa yang dia cari.
Yansen bergegas mencari Evellyn kesegala tempat yang bisa dia jangkau, namun semua berakhir dengan kecewa. Sementara itu, disebuah sudut seseorang menyeringai, karena dia sudah berhasil menggagalkan pertemuan antara Evellyn dan Yansen.
Flashback On
"Eve...Eve...." Guman Yansen.
Evellyn yang tengah asyik menjelaskan sesuatu pada Lala, sama sekali tidak melihat kearah bawah. Namun tidak dengan Lala, gadis itu sempat beradu mata dengan Yansen. Dan gadis itu tahu, Yansen ingin menemui Evellyn.
"Emm...Nona maaf, sebaiknya kita ngobrol sambil cari makan saja. Saya sedang ingin makan ayam goreng saat ini," ujar Lala.
"Oke. Aku jadi pengen juga, sudah lama nggak makan itu."
"Yuk," ujar Lala.
Evellyn mengikuti Lala, sementara itu Lala menyeringai puas karena sudah berhasil menggagalkan pertemuan Evellyn dan Yansen.
Flashback Off
"Nona mau pesan ayam bagian apa?" tanya Lala.
"Oke. Nanti akan ada pelayan yang antar ya? soalnya pengen ke toilet, sudah nggak tahan," ucap Lala.
"Ya sudah kamu ke toilet saja, biar aku pesan sendiri saja."
"Jangan nona, saya jadi nggak enak."
"Tidak masalah. Jangan sungkan, daripada kamu boker disini?" ucap Evellyn sembari terkekeh.
"Ya sudah, saya ke toilet dulu ya?"
"Emmm." Evellyn mengangguk.
Lala melangkah pergi menuju toilet, namun satu hal yang Evellyn tidak tahu, Lala bukan benar-benar ingin pergi ketempat itu, melainkan ingin menghubungi sang majikan.
"Lapor tuan," ujar Lala.
"Ada apa?" tanya Orland.
"Yansen sedang berada di Palembang saat ini. Tadi hampir saja dia berhasil menemukan nona Evellyn."
"Apa kamu yakin dia Yansen?"
"100% yakin tuan. Saat melihat Evellyn dia bergegas berlari kearah kami. Beruntung aku berhasil mengalihkan perhatian nona Evellyn dan segera pergi dari situ."
__ADS_1
"Hufffttt...syukurlah. Kamu awasi terus dia. Aku juga akan mencari tahu untuk apa Yansen pergi ke sana," ujar Orland.
"Baik tuan,"
"Kabari terus kalau ada perkembangan baru,"
"Siap tuan."Jawab Lala.
Lala mengakhiri panggilan itu dan segera kembali ketempat Evellyn berada.
"Sudah?" tanya Evellyn.
"Sudah." Jawab Lala.
"Makan yuk, ayamnya dari tadi sudah manggil-manggil," ujar Evellyn.
"Kenapa tadi nona tidak duluan saja?"
"Mana enak makan sendiri, makanya aku menunggumu. Oh ya, kamu kan asli orang Palembang, kenapa kamu nggak pulang ke rumahmu?" tanya Evellyn sembari meraih sepotong dada ayam yang terlihat sangat menggiurkan.
"Rumahku palembang bagian daerah,"
"Oh ya? daerah mana?" tanya Evellyn.
"Pagar alam."
"Apa itu jauh dari sini?"
"Ya...sekitar 6 jam perjalanan lagi. Tapi kalau nona kesana, pasti nona sangat menyukainya."
"Kenapa? apa disana memiliki tempat pariwisata?"
"Ya. Disana ada air terjun, udaranya sangat sejuk, disana juga ada perkebunan teh yang sangat luas."
"Wah...pasti menyenangkan. Kapan kak Lala bawa aku kesana?"
"Tidak bisa janji, soalnya aku harus kembali ke kota J pekan depan. Sudah saatnya nona dilepas sendiri disini."
"Hah...memang seharusnya bukan? meskipun nggak ingin, tapi tetap harus dijalani. Saat disana nanti, aku minta tolong jagain anakku ya kak?"
"Nona tenang saja. Tuan Orland tidak akan membiarkan tuan muda menderita. Dia pasti mendapatkan semua hal terbaik dalam hidupnya."
"Aku percaya. Karena akupun sudah merasakan semua itu saat ini," ujar Evellyn sembari tersenyum.
Sementara itu ditempat berbeda, Yansen tiba dikamar hotel dengan wajah murung. Melihat wajah Yansen yang kusut, Zavier dan teman-temannya hanya bisa saling berpandangan saja.
"Kamu kenapa?" tanya Zavier.
"Seharusnya tadi aku membiarkan kalian tetap bersamaku. Setidaknya Evellyn jadi cepat ketemu," ucap Yansen.
Zavier dan teman-temannya jadi menepuk dahi mereka. Mereka mengira Yansen lagi-lagi berhalusinasi tentang Evellyn. Tanpa mereka tahu, apa yang Yansen lihat memang benar adanya. Melihat ekspresi teman-temannya, Yansen sudah tahu, pasti mereka akan mengatai dirinya sudah gila atau berhalusinasi.
__ADS_1
TO BE CONTINUE....🤗🙏