
"Apa anak itu memang tidak pernah nongol disekolah?" tanya Miranda pada putri semata wayangnya.
"Tidak Bu. Anak itu seperti hilang di telan bumi,'
"Anak sialan itu sangat menyusahkan! kalau begini caranya, kita bisa kehilangan rumah ini."
"Kalau kita kehilangan rumah ini, kita mau pindah kemana Bu? itulah ibu rubah dong kebiasaan judi ibu itu. Kita jadi sengsara begini kan?"
"Anak kurang ajar, kenapa kamu mau sok mengajari ibu? ibu judi juga bayar sendiri, nggak minta bantuan siapapun."
"Tapi kita terancam kehilangan rumah kita gara-gara ibu. Kalau itu sampai terjadi, kita mau tinggal dimana bu?"
"Makanya kamu bantu mikir dong, gimana caranya bisa menemukan anak sialan itu secepatnya."
"Aku akan tanyakan dia pada teman-teman akrabnya, siapa tahu Eve sering menghubungi mereka."
"Ya lakukan apa saja, agar anak itu segera ketemu."
"Lalu bagaimana kalau tidak ketemu bu?"
"Ya kita terpaksa harus meninggalkan rumah ini, sertifikat rumah ini sudah ada pada mereka."
"Apa kita akan membawa ayah bersama kita?"
"Menurutmu apa kita perlu membawanya? bukankah hanya akan menyusahkan kita saja?"
"Tapi ayah masih bermanfaat buat kita bu, bukankah bisa buat senjata untuk bisa membuat eve kembali pada kita?"
"Maksudnya?"
"Suatu saat eve pasti kembali mencari ayahnya, disaat itu kita bisa menangkap dia dan menjualnya."
"Benar juga. Kenapa ibu tidak kepikiran akan hal itu?"
"Untuk sekarang biarkan kita memelihara ayahnya, tapi eve tetap harus membayar mahal atas jasa kita itu."
"Kamu benar. Ibu juga sama sekali tidak mau dirugikan."
Sementara itu ditempat berbeda, Evelly sedang menghadapi masalah besar saat ini. Baru seminggu sekolah di tempat yang baru, dia sudah membuat Yansen harus dipanggil keruang kepala sekolah, karena dirinya terlibat dalam perkelahian.
Yansen yang tercantum sebagai wali dari Evellyn, terpaksa datang kesekolah. Berutung bahu Yansen sudah mulai pulih, jadi pria itu bisa mendatangi sekolah itu.
__ADS_1
Yansen menatap Evellyn yang kondisinya sudah sangat memprihatinkan. Seragam gadis itu terlihat robek disana sini, rambut gadis itu juga sudah acak-acakkan dengan kondisi sedikit basah.
Melihat kedatangan Yansen, Evellyn sama sekali tidak berani menatap kearah majikkannya itu. Dia terlalu takut, hingga ingin rasanya dia pergi kabur saja dari situ.
Selain Yansen. Ada beberapa wali murid lain yang berada ditempat itu, wali itu tidak lain adalah wali dari murid yang terlibat pertengkaran yang sama dengan Evellyn.
"Jadi begini tuan Yansen. Maaf sebelumnya, adik anda ini sudah melakukan tindak kekerasan pada ketiga temannya ini. Anda pasti tahu, tindak kekerasan yang meninggalkan bukti seperti ini sangat beresiko dan bisa membuat adik anda masuk kedalam penjara."
Yansen melirik kearah ketiga gadis yang memiliki penampilan tak kalah kacau dari Evellyn. Tapi penampilan ketiga gadis itu jauh lebih mengerikan, karena wajah mereka terdapat memar dan luka akibat pukulan dan cakaran.
"Apa memar dan cakaran itu Eve yang melakukannya?" tanya Yansen pada ketiga gadis itu.
"Iya Om." Jawab ketiga gadis itu serentak.
Sementara itu Evellyn hanya diam saja, yang menandakan dirinya tidak membantah sama sekali ucapan ketiga gadis itu.
"Bukankah itu keren? gadis kecil ini bisa menghajar ketiga gadis ini seorang diri?" batin Yansen.
Yansen melirik kearah Evellyn yang kepalanya semakin terbenam kebawah.
"Jadi, bagaimana anda mau menyelesaikan perkara ini? adik anda ini sangat keterlaluan pada anak kami. Kami saja tidak pernah memukulnya," ujar salah satu wali murid.
"Apa anda yakin ini sepenuhnya salah adik saya? yang saya tangkap disini, adik saya pasti sudah mengalami pengeroyokkan."
"Oh...jadi anda menginginkan uang?" tanya Yansen.
"Tentu saja. Kami membutuhkan itu buat berobat anak kami,"
"Katakan! berapa yang kalian butuhkan?"
Mendengar itu kepala Evellyn menatap kearah Yansen.
"Tu...eh...kakak...itu tidak perlu. Eve nggak salah disini, biarkan mereka memukulku kembali, kakak tidak perlu mengeluarkan uang buat mereka." ujar Evellyn.
"Kamu diam saja. Tidak usah banyak bicara, siapa yang sudah membuatku repot datang kemari." tutur Yansen.
Evellyn terdiam seketika, dia sama sekali tidak berani lagi menatap kearah Yansen.
"Matilah Eve. Kamu pasti di usir setelah ini, kamu sudah membuat susah majikanmu, dan sekarang kamu malah membuatnya kehilangan uang banyak." batin Evellyn.
"Setelah kami berunding, kami memutuskan meminta uang damai 15 juta satu orang."
__ADS_1
"Kalian silahkan tulis nomor rekening kalian dikertas, saya pastikan hari ini kalian akan menerima uangnya."
Mereka begitu bersemangat menulis nomor rekening mereka pada secarik kertas. Setelah melakukan kesepakatan, Yansen membawa pulang Evellyn. Tak ada satu patah katapun yang keluar dari mulut Evellyn, karena gadis itu terlalu takut untuk bersuara.
Setelah sampai dirumah, Yansen segera membuka kulkas dan mencari minuman dingin disana. Sementara itu, Evellyn hanya bisa mengekor dibelakangnya sembari kepala tertunduk.
Setelah minum, Yansen duduk di meja makan, sementara Evellyn masih berdiri dihadapannya dengan jari jemari yang masih bertautan satu sama lain.
"Duduklah!'
Evellyn menarik sebuah kursi untuk dia dudukki, saat ini dirinya duduk tepat berada diseberang Yansen.
"Apa kamu ingin menjelaskan sesuatu?"
"Tuan. Saya benar-benar minta maaf, saya tahu saya salah..."
"Bukankah disekolah kamu bilang itu bukan salahmu?" Yansen memotong pembicaraan Evellyn.
"Ya. Itu memang sepenuhnya bukan salahku, mereka membullyku, dan aku tidak punya cukup kesabaran saat mendengarkan semua ocehan mereka. Tapi seharusnya aku tidak boleh begitu, harusnya aku bersabar, kalau tidak tuan tidak akan rugi materi dan dipermalukan olehku." Jawab Evellyn dengan wajah tertunduk.
Yansen menatap Evellyn, pria itu tahu kalau gadis itu sangat takut padanya.
"Kalau kamu tidak merasa salah, kenapa kamu harus takut? seharusnya kamu patahkan saja sekalian tangan mereka."
"Eh?" Evellyn tiba-tiba melihat ke arah Yansen lalu kemudian menunduk lagi saat pandangan mata mereka bertemu.
"Tidak masalah aku kehilangan banyak uang asal kamu benar. Lagipula seharusnya kalau aku mau, aku tidak perlu mengeluarkan uang sepeserpun. Malah mereka yang seharusnya mengeluarkan uang untuk kita. Tapi berhubung hari ini aku dalam keadaan tidak mood untuk mengurisi hal kecil seperti itu, maka aku dengan suka rela melepaskan mereka."
"Sekali lagi Eve minta maaf tuan,"
"Lalu bagaimana caramu mengganti uangku?"
"Gimana sih? tadi bilangnya nggak masalah kehilangan uang, yang penting aku benar. Ini kok lain lagi? dasar pria perhitungan," batin Evellyn.
"Saat ini Eve nggak punya uang tuan, tuan bisa memasukkannya kedalam daftar hutang yang lama."
"Baiklah,"
"Baiklah? dasar pelit," batin Evellyn.
Tanpa banyak kata lagi, Yansen pergi menaikki tangga. Pria itu masuk medalam kamarnya dan tidak tahan untuk tidak tertawa.
__ADS_1
TO BE CONTINUE...🤗🙏