
"Yansen Lenox. Itu nama papamu, dia seorang pengusaha." Jawab Evellyn.
Evellyn sangat gugup, kalau-kalau Samudera minta ingin bertemu papanya. Tapi kekhawatiran Evellyn tidak terjadi, karena sepertinya Samudera tipe anak yang tenang dan tidak suka memaksakan kehendak.
"Apa papa seorang pria blasteran?" tanya Samudera.
"Tidak tahu. Karena mama juga tidak pernah bertemu dengan nenek dan kakekmu. Papamu juga tidak pernah bercerita."
"Bukankah itu aneh? apa mama dan papa menjalani hubungan yang rumit? sehingga mama harus pergi saat mengandungku?" batin Samudera.
"Semoga Samudera tidak minta yang aneh-aneh terutama ingin minta bertemu dengan si brengsek itu," batin Evellyn.
"Ma...apa mama tidak keberatan kalau Samudera bertanya satu hal lagi?"
"Bertaya apa?" tanya Evellyn gugup.
"Apa dulu papa tidak menginginkan kita? karena sampai detik ini papa tidak pernah menemuiku," ujar Samudera.
Evellyn sekuat hati menahan, agar air matanya tidak tumpah ruah dihadapan putranya. Meskipun putranya tidak bertanya tentang bertemu Yansen, tapi pertanyaan ini pertanyaan nomor dua tersulit baginya.
Suata Evelly tercekat ditenggorokkanya, karena menaham air matanya yang akan melaju.
"Kalau mama tidak suka dengan pertanyaanku, tidak usah dijawab. Mama jangan menangis,"
Tes
Samudera berkata seperti itu malah membuat Evellyn menumpahkan semua kesedihannya dan memeluk putranya itu dengan erat.
"Apa papa menyakiti mama?" tanya Samudera.
"Tidak!" Jawab Evellyn dengan cepat.
"Samudera dengarkan mama. Apapun yang terjadi antara mama dan papa, itu hanya bagian dari masa lalu. Sejahat apapun papa kamu, dia tetap orang tua yang harus di hormati. Apa kamu mengerti?" tanya Evellyn sembari tetap memegang kedua sisi wajah putranya.
"Emm." Samudera mengangguk.
"Bagiku tidak masalah dengan kejadian yang tidak pernah kulihat secara langsung. Asal jangan dia menyakiti mama didepan mataku di waktu yang sekarang ini, Samudera tidak akan bisa menerimanya."
Evellyn tahu, sisi lain dari seorang pria sangatlah mengerikan. Meskipun itu seorang anak- anak sekalipun.
__ADS_1
"Ada apa denganku? aku mengajarinya agar tidak memusuhi papanya. Padahal nyawa pria itu juga tidak akan lama bersarang di raganya," batin Evellyn.
"Samudera. Besok mama ada panggilan interview di rumah sakit, apa kamu mau menemani mama?" tanya Evellyn.
"Baiklah," ujar Samudera.
Ada fakta yang tidak teman-teman Yansen ketahui. Sejak ucapan Owen terdengar ditelinga pria itu. Nyaris tiap hari di waktu yang sama, Yansen pergi ke taman itu dan berharap bertemu dengan anak yang bernama Samudera itu. Tapi sayangnya dia tidak pernah menemukannya.
Tak
Tak
Tak
Jari-Jari Samudera bergerak lincah menyentuh huruf-huruf yang ada dilayar ponselnya. Huruf yang terdiri dari dua kata 'Yansen Lenox', yang muncul di laman pencarian ponselnya. Samudera menscrol layar ponselnya, nama itu itu hanya satu orang saja yang muncul diberbagai artikel. Samudera membuka beberapa foto yang menampilkan orang yang dia ingin ketahui, dan benar saja wajah itu memang benar-benar mirip dengannya.
Ada satu lagi yang menarik perhatian dari seorang Samudera. Bocah 10 tahun itu melihat sebuah foto kebersamaan Yansen dan ketiga temannya dengan mengenakan pakaian resmi. Dan dari ke empat orang yang ada didalam foto, satu orang diantaranya pernah dia temui. Yah, dialah Owen yang dia pernah temui di taman.
"Pantas saja dia menyebutkan nama papa, ternyata dia sahabatnya. Apa dia menceritakan tentang aku pada papa? lalu bagaimana reaksi papa saat mendengarnya?" ujar Samudera lirih.
Samudera kemudian mencari-cari artikel mengenai sosok Yansen lebih jauh, dan juga ingin mengetahui tentang kehidupan pribadinya.
Samudera kemudian menutup laman pencarian dan beristirahat. Karena hari sudah larut malam, dan besok pagi dia harus menemani Evellyn buat wawancara.
*****
"Tuan apa hari ini kita jadi menjenguk rekan bisnis anda dirumah sakit?" tanya Tasya.
Tasya menatap bibir Yansen, karena ingin menunggu jawaban pria itu. Sudah 10 tahun Tasya alias Ivanka berjuang mendekati Yansen kembali meskipun dengan wajahnya yang baru. Namun pria yang sudah berubah jadi musuhnya itu sama sekali tidak bergeming. Jadi terpaksa Tasya merubah tujuannya sesuai yang Orland perintahkan. Sudah banyak rahasia perusahaan yang sudah dia curi dan dia simpan dalam satu flashdisk.
"Jadi. Sebentar lagi kita akan kesana, sebaiknya kita jenguk pagi ini saja. Karena nanti siang kita akan ada meeting." Jawab Yansen tanpa mengalihkan pandangannya pada layar laptop.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Yansen segera menutup latopnya dan pergi kerumah sakit bersama Tasya. Mereka juga tidak lupa mampir untuk membeli parcell buah untuk rekan bisnisnya itu
"Usia tuan Riko padahal masih tergolong muda ya? baru 45 tahun, tapi sudah mengidap penyakit yang berat begitu," ujar Tasya.
Yansen hanya diam, tidak menanggapi ucapan Tasya. Karena diapun sedang memikirkan hal yang sama.
"Tuhan...jika aku bisa meminta dan diberi kesempatan, bolehkah aku bertemu dengan anakku? aku sudah tua, aku takut terkena penyakit seperti temanku itu dan tidak punya kesempatan untuk memperbaiki semua kesalahanku," batin Yansen.
__ADS_1
"Papa," ucap Samudera lirih, saat melihat Yansen berjalan melewati koridor bersama Tasya.
"Siapa wanita itu? apa dia calon ibu tiri?" ucap Samudera.
Samudera hanya menatap punggung Yansen dari kejauhan. Namun tiba-tiba Yansen menghentikan langkahnya dan berbalik badan, karena merasa ada sesuatu yang begitu familiar dia rasakan. Samudera segera bersembunyi di balik tembok, dia tidak ingin Yansen tahu keberadaannya, sebelum Evellyn memberikan dia izin.
"Ada apa tuan?" tanya Tasya.
"Tidak ada apa-apa. Ayo," Yansen kembali meneruskan langkah kakinya.
Setelah menunggu hampir 1 jam, Evellyn akhirnya keluar dari ruang HRD dengan senyum semringah dibibirnya.
"Sayang," Evellyn memeluk putranya dengan bahagia.
"Ada apa?" tanya Samudera.
"Mama diterima kerja. Besok mama mulai masuk bekerja."
"Itu bagus. Emm...Ma,"
"Hem?"
"Tadi Samudera lihat papa," ujar Samudera yang kemudian diam untuk melihat reaksi Evellyn.
Mendengar itu tentu saja Evellyn terkejut. Pasalnya Samudera sama sekali belum pernah dia ajak menemui Yansen.
"Apa kamu nggak salah lihat? kamu kan belum pernah bertemu papa."
"Tidak pernah bertemu bukan berarti tidak bisa mengenali orang tua sendiri. Terlebih wajahnya sangat mirip denganku," ujar Samudera.
"Ma,"
"Ya?"
"Apa mama keberatan jika seandainya Samudera bertemu dengan papa sekali saja?" tanya Samudera.
Evellyn tertegun mendengar pertanyaan itu. Pikiran-pikiran buruk langsung menghantui Evellyn. Hal yang paling dia takutkan adalah, Yansen menahan putranya dan merebut putranya itu darinya.
"Bagaimana jika mama mengatakan jangan! apa kamu mau menuruti perintah mama?" tanya Evellyn sembari menatap kedua bola mata putranya yang juga sedang menatap lembut kearahnya.
__ADS_1
TO BE CONTINUE ...🤗🙏