Belenggu Mafia Lapuk

Belenggu Mafia Lapuk
8. Kedatangan Ivanka


__ADS_3

"Sayang. Jemput aku, aku sudah sampai di bandara ini," Ivanka membuat panggilan untuk Yansen.


Yansen yang tengah duduk santai sembari menikmati teh, terpaksa meletakkan minuman itu, agar berkonsentrasi saat bicara dengan kekasihnya itu.


"Aku tidak bisa menjemputmu, aku akan menyuruh yang lain. Tanganku masih sakit dibuat menyetir,"


"Ckk...siapa kali ini yang akan kamu suruh menjemputku?"


"Antara bocah tiga itu.Sekarang akan aku matikan dulu telponnya, aku ingin menghubungi mereka dulu."


"Oke." Jawab Ivanka dengan malas.


Yansen kemudian membuat panggilan untuk ketiga sahabatnya. Dan yang terkena imbas kali ini adalah giliran Diego, karena yang lain banyak sekali membuat alasan.


"Diego yang akan menjemputmu, tunggu disana dan jangan kemana-mana."


"Ya." Jawab Ivanka.


Setelah menunggu hampir 30 menit, akhirnya Diego tiba dengan mobil lambourgininya.


"Lama sekali,"


"Sorry. Macet."


"Alasan lama."


Diego tidak lagi menanggapi ucapan Ivanka, karena dia tahu betul perangai gadis itu. Sepanjang jalan Diego sama sekali tidak mengajak Ivanka bicara, terlebih gadis itu sangat sibuk merias wajahnya karena akan segera bertemu dengan pujaan hatinya.


"Apa istimewanya gadis dempulan ini, apa mata Yansen buta? jelas sekali dia cuma menang didada ama bokong doang, itupun juga tidak seberapa."


"Itulah sebabnya aku lebih suka gonta ganti wanita, jaman sekarang sangat sulit mencari yang benar-benar orisinil,"


mobil mewah berwarna kuning yang Diego kendarai akhirnya tiba dikediaman Yansen, setelah memakan waktu hampir 30 menit lamanya.


"Sayang...." teriak Ivanka dari arah tangga.


Gadis itu bergegas naik keatas dan membuka pintu kamar Yansen.


"Kau sudah datang?"


"Emm." Ivanka segera berhambur kepelukkan Yansen.


"Tanganmu yang mana yang terkena tembakan?" tanya Ivanka.


"Ini." Yansen menunjukkan bahunya yang sedikit menyisakan luka basah.


"Masih sakit?"


"Sedikit."


"Apa masih bisa dipakai..." Ivanka mengedipkan matanya.


"Itu masih sangat berfungsi," ujar Yansen yang segera mengungkung Ivanka.


Dengan tergesa-gesa dua insan itu melepaskan pakaian mereka, hingga hanya sekejap benda-benda itu semuanya sudah berserakkan dilantai.


"Oh...honey...lebih cepat," des*h Ivanka.


Yansen semakin mempercepat tempo gerakkannya, hingga tubuh gadis yang berada dibawah kungkungannya terombang-ambing.


Sementara itu Evellyn yang baru saja pulang sekolah, tidak langsung naik ke atas. Gadis itu bergegas masak menu makan siang di dapur.


"Tuan Yansen pasti belum makan siang, akhir-akhir ini dia selalu menungguku pulang dulu, untuk makan siang bersama. Sebaiknya aku panggil dia dulu,"


Evellyn bergegas naik keatas karena di ingin segera memanggil Yansen, terlebih perut gadis itu sudah sangat lapar. Namun gerakkan tangannya terhenti diudara, saat gadis itu bermaksud ingin mengetuk pintu kamar Yansen.


Suara-Suara dari dalam yang bersahutan, membuat Evelly sangat penasaran. Gadis itu malah menempelkan telinganya di daun pintu.

__ADS_1


"Ah...Yansen...aku mencintaimu," Ivanka mengerang panjang saat dirinya lagi-lagi mendapat pelepasan untuk kesekian kalinya.


Tidak berapa lama kemudian, Yansenpun meneriakkan nama Ivanka dan ambruk diatas tubuh gadis itu.


Glekkkkk


Evellyn menelan ludahnya, tubuhnya tiba-tiba merinding. Apa yang dia dengar barusan, hal yang tak pantas dia dengar sebagai gadis yang baru saja menginjak usia 17 tahun.


Evellyn kembali bergegas turun kebawah, dan makan siang sendiri dengan tergesa-gesa. Sementara itu Yansen meraih ponselnya untuk melihat jam dibenda pipih itu.


"Sudah jam 2. pantas saja perutku sudah lapar. Vanka, apa kamu mau makan siang bersamaku? kalau mau kita turun kebawah,"


"Aku tidak sanggup lagi menuruni tangga, aku mau tidur. Lagipula aku masih kenyang,"


"Baiklah. Kalau begitu aku turun dulu,"


"Emm."


Yansen mengenakan kembali pakaiannya, dan bergegas turun kebawah.


"Eh?"


Evellyn terkejut saat melihat Yansen yang akan menuruni anak tangga. Sementara dirinya baru saja selesai makan dan ingin segera naik keatas.


"Kamu sudah masak?"


"Sudah tuan."


"Makan?"


"Sudah. Maaf tuan saya makan duluan, soalnya saya sudah kelaparan."


Yansen menatap kearah Evellyn. Dan gadis itu tertunduk karena takut.


"Apa kamu sebelumnya sudah naik keatas!" tanya Yansen.


"Dia Ivanka kekasihku. Dia baru datang dari luar negeri."


"Oh..."


Hanya itu kata yang keluar dari mulut Evellyn. Yansen turun tanpa peduli dengan Evellyn yang masih mematung dianak tangga pertama. Setelah tersadar, Evellyn bergegas naik keatas karena ingin segera beristirahat.


Waktu menunjukkan pukul 4 sore, ketika Ivanka terbangun dari tidur panjangnya. Gadis itu menatap pria disampingnya yang tengah sibuk dengan laptopnya.


"Sudah bangun?" tanya Yansen.


"Emm. Apa yang kamu kerjakan?"


"Biasa, pekerjaan kantor."


"Sayang. Kuperhatikan kamarmu sekarang bersih dan wangi, apa kamu sengaja membersihkan kamarmu, karena aku akan datang?"


"Sekarang aku sudah memiliki pembantu baru."


"Pembantu baru?"


"Ya. Ya pekerjaanya cuma beres-beres dan masak saja."


"Kenapa kamu tiba-tiba menggunakan jasa pembantu?"


"Aku pikir dia akan membantuku meringankan pekerjaanku, terlebih saat ini aku sedang terluka dan butuh bantuan."


"Iya juga. Aku hampir melupakan hal itu."


"Sekarang kamu buruan mandi, aku akan memperkenalkan kamu dengan dia. Oh ya, jangan terkejut, karena dia masih tergolong anak-anak."


"Anak-Anak?"

__ADS_1


"17 tahun."


"Kenapa kamu mempekerjakan anak-anak dirumahmu?"


"Ceritanya panjang, saat ini dia juga sedang sekolah 3 SMA di dekat rumah ini."


"Apa sebenarnya yang terjadi? atau jangan-jangan dia peliharaan barumu ya?"


"Ckk...Vanka, kamu paling tahu. Aku paling tidak suka kalau kamu bicara yang aneh-aneh begitu,"


"Ya mau bagaimana lagi, sebagai kekasihmu, aku juga punya radar cemburu." Jawab Ivanka.


"Dia tidak pantas untuk menjadi sainganmu."


"Kenapa?"


"Masih gadis ingusan. Aku lebih suka gadis matang sepertimu," goda Yansen yang membuat Ivanka tersipu.


"Ya sudah, aku mandi dulu."


"Apa kamu ingin kita mandi bersama?"


"Siapa takut." Ivanka mengdipkan mata.


Seperti sebelum-sebelumnya, kegiatan mandi bareng itu jadi berlangsung cukup lama. Dua insan itu kembali bergelut dan membuat gaduh didalam sana, hingga tidak terasa mereka memakan waktu satu jam lamanya.


"Apa menurutmu aku masih sangat luar biasa?" tanya Ivanka disela nafasnya yang memburu.


"Bahkan kamu lebih hebat dari sebelumnya. Apa disana kamu banyak berlatih?"


Ivanka mengerti arah pembicaraan Yansen. Dia menyadari hubungan dirinya dan pria itu hanya sebatas patner diatas ranjang. Mereka memang sepasang kekasih, tapi mereka memberikan kebebasan untuk melampiaskan hasrat mereka dengan siapapun.


"Aku butuh itu,"


"Tidak masalah. Aku juga disini begitu, hanya saja pastikan jangan dengan sembarang orang. Aku tidak mau kamu menulariku penyakit aneh."


"Aku bisa menjaminnya kalau soal itu. Lagipula kenapa harus takut? selama ini kamu selalu menggunakan pengaman saat bercinta denganku."


"Untuk jaga-jaga saja. Ya sudah ayo kita mandi, sebentar lagi malam. Aku ingin kita makan malam bersama dengan Evellyn."


"Evellyn?"


"Nama pembantu baruku itu. Oh ya, aku minta kamu jangan memperlakukan dia seperti pembantu sungguhan, dia masih kecil. Anggap saja dia adikmu,"


"Ya." Jawab Ivanka.


Setelah membersihkan diri, Yansen dan Ivanka bergegas berpakaian dan turun kebawah. Ivanka menatap Evellyn yang tengah sibuk membuat makan malam.


"Apa masakkannya benar-benar layak makan? walau bagaimanapun dia masih bocah. Mana mungkin masakkannya lebih enak dari masakkan orang dewasa," batin Ivanka.


"Eve, kemarilah!"


Evellyn menoleh dan mendapati Ivanka dan Yansen sedang duduk diruang tamu. Evellyn mengecilkan api kompor, karena takut masakannya jadi gosong.


"Apa masakkanmu sudah selesai?"


"Sebentar lagi tuan."


"Perkenalkan, dia Ivanka."


"Selamat datang nyonya Ivanka."


"Emm."Ivanka mengangguk.


Ivanka menatap kearah gadis cantik dan manis didepannya. Meski usianya belia, Ivanka akui tubuh gadis itu sangat bagus meskipun ditutupi oleh kaos yang longgar. Mata modelnya tidak bisa dibohongi, Evellyn memikiki daya jual yang tinggi.


TO BE CONTINUE...🤗🙏

__ADS_1


__ADS_2