
Jantung Evellyn berdegup kencang, saat akan memasuki ruangan khusus untuk ayahnya. Dia berharap ini bukan sebuah mimpi, yang hanya memberikan dia sebuah harapan besar.
Evellyn dan Samudera menatap seorang pria berusia senja, sedang meringkuk dan membelakangi pintu ruangan itu. Bibir Evellyn bergetar saat akan memanggil ayahnya, suaranya terasa tercekat di tenggorokkan.
"A-Ayah," suara Evellyn bergetar.
Blammmm
Mata Andre terbuka, saat mendengar suara yang begitu dia kenali. Andre langsung membalikkan badan seketika, pria yang sudah ditumbuhi uban di kepala itu matanya tampak berkaca-kaca.
"Ayah...."
Evellyn berhambur kepelukkan Andre. Kedua manusia itu sama-sama tergugu karena menahan rasa rindu yang sudah lama terpendam.
"Eve kangen yah," ujar Evellyn terisak.
"Ayah juga," ujar Andre dengah tubuh bergetar.
"Apa dia cucu ayah?" tanya Andre saat melihat bocah di belakang Evellyn.
"Emm." Evellyn mengangguk sembari menyeka air matanya.
"Apa dia sudah bertemu Yansen? apa dia menyelamatkan kalian dari orang jahat itu?" tanya Andre.
"Darimana ayah tahu?"
"Salah satu penjaga di sini ada yang keceplosan. Ayah sangat bersyukur kalian kembali dengan selamat." Jawab Andre.
"Kemarilah!" ujar Andre.
Samudera mendekat, dan kemudian memeluk kakeknya itu.
"Cucu kakek yang tampan dan gagah. Kamu persis seperti Yansen. Apa kamu sudah bertemu ayahmu. Hem?" tanya Andre.
"Sudah kek."
"Sudah ngobrol dengannya?"
Samudera menoleh kearah Evellyn yang tampak diam saja.
"Biarkan dia bicara dengan papanya, walau bagaimanapun dia darah dagingnya,"
"Tapi Yah...."
"Begitu banyak kesalahfahaman yang terhadi diantar kalian, seharusnya kalian harus banyak bicara satu sama lain."
__ADS_1
"Tapi Eve belum bisa memaafkan perbuatannya yang sudah-sudah,"
"Itu karena dia belum menyadari perasaanya padamu."
"Sekarang tidak penting lagi perasaan diantara kami. Aku ingin menjalani hidup ini jauh lebih tenang lagi. Eve kemari karena ingin mengajak ayah pergi dari sini," ujar Evellyn.
"Kemana?" tanya Andre.
"Kemana saja asalkan pergi jauh dari Orland dan Yansen. Sekarang Evellyn sudah jadi dokter, Evellyn yakin kita bisa hidup bertiga dengan lebih baik," ujar Evellyn.
"Baiklah kalau itu maumu, ayah menurut saja." ucap Andre.
"Ayo kita pergi sekarang,"
"Eve....eve...kakak mohon jangan pergi ya? pulanglah ke rumah kakak. Rumah kakak, rumahmu juga. Please jangan tinggalin kakak," ujar Orland.
"Maaf kak. Aku nggak bisa, aku mau membangun keluargaku sendiri," ucap Evellyn.
"Kamu mau kemana? pak tolong bujukin Eve pak," ujar Orland.
"Yang pasti kami mau pindah keluar kota. Biarkan kami melupakan semua kenangan buruk di kota ini, biarkan kami menemukan kebahagiaan kami yang baru. Aku ucapkan terima kasih banyak, berkat kakak, aku sudah menjadi seorang dokter. Tapi aku rasa semua impas dengan kebohongan yang kakak lakukan selama 10 tahun lebih. Kakak tidak pernah tahu rasanya menderita kehilangan orang yang kita cintai dan kita sayangi,"
"Ayo Yah," sambung Evellyn sembari menarik tangan Andre. Namun saat mereka tiba di depan pintu markas, sosok Yansen muncul, baru turun dari mobilnya.
"Eve. Apa itu benar? kamu mau ninggalin aku lagi? apa belum cukup kamu menghukumku selama 10 tahun ini? di saat semua orang mengatakan kamu sudah tiada, hanya aku yang percaya kamu masih hidup dan melihatmu waktu di Palembang. Semua orang mengatakan aku ini hanya halusinasi, dan bahkan aku dikatakan sudah gila. Tapi aku tidak perduli, itu semua demi untuk hari ini, hari pertemuan dan kebersamaan kita. Dan apa ini? kamu mau misahin aku dengan anakku lagi?"
"Dia anakku bukan anakmu! sejak kapan kamu menginginkan anak dariku?" hardik Evellyn hingga bibir gadis itu bergetar dan matanya berkaca-kaca.
"Aku mohon ampuni aku untuk kesalahanku dimasa lalu,"
Brukkkk
Yansen berlutut di depan Evellyn, namun gadis itu memalingkan wajahnya.
"Aku tahu aku salah, tolong beri aku kesempatan. Aku sangat mencintaimu," ujar Yansen.
"Omong kosong! ayo Yah, jangan dengarkan ocehan para pria tua ini," ucap Evellyn.
"Bocil...."
Zavier, Owen, dan Diego baru tiba dan melihat Evellyn beranjak pergi.
"Bocil kamu mau kemana?" tanya Zavier.
"Ka-Kakak," hanya di depan Zavier Evellyn bisa bertingkah seperti bocah, itu karena pria itu selalu memanjakan dan selalu baik dengannya sejak dulu.
__ADS_1
Yansen segera beranjak dari tanah, dan mendekati Zavier.
"Zav. Katakan padanya, jangan pergi tinggalin aku Zav. Aku bisa mati kalau sekali ini dia ninggalin aku," ucap Yansen.
"Bocil. Kamu mau pergi ninggalin kakak-kakak lagi? kamu bahkan nggak hadir waktu kakak menikah, kalau kamu marah sama Yansen, ya marah saja padanya. Tapi masak kamu marah sama kakak juga dan mau pergi?" ujar Zavier.
"Kok ngomongnya gitu Zav?" tanya Yansen kesal.
"Kak maaf, tapi Eve mau bukak lembaran baru. Eve cukup trauma menghadapi cobaan yang sudah lalu. Lagipula Eve masih muda, masih bisa memilih yang lebih baik," sindir Evellyn.
Yansen tertunduk tak berdaya, rasanya langit menimpa tubuhnya. Andre hanya bisa bungkam, dia tidak bisa mengarahkan putrinya untuk menerima Yansen, meskipun dia tahu Yansen sudah berubah jauh lebih baik.
"Ayo Yah," ujar Evellyn sembari menarik tangan Andre dan Samudera.
Saat baru melangkah beberapa meter, Zavier berteriak histeris.
"Yan. Apa yang kamu lakukan? dasar bodoh!" hardik Zavier.
Pria itu sangat panik, saat melihat darah mengucur dari pegelangan tangan pria itu, dan sebuah belati yang sudah jatuh ke tanah. Zavier segera meraih sapu tangan, Orland berlari mengambil kotak P3K. Sementara Evellyn berdiri mematung dengan tubuh bergetar.
"Diego. Cepat siapkan mobil, ini lukanya terlalu dalam. Darahnya tidak bisa dihentikan. Cepat!" teriak Zavier.
Diego bergegas masuk mobil, dan menghidupkan mesinnya. Sementara wajah Yansen makin lama makin pucat, karena darahnya terlalu banyak keluar.
"Ka-Kakak. Bolehkah Eve ikut?" tanya Evellyn yang kemudian di angguki oleh Zavier.
"Samudera disini dulu dengan kakek ya? nanti kalau situasi membaik, boleh nyusul."
"Ya Ma." Jawab Samudera.
Zavier segera membopong tubuh Yansen dan masuk mobil. Evellyn segera menyusul dan ikut masuk.
"Dasar pria tua yang bodoh. Kenapa harus bunuh diri hanya untuk menahanku pergi, awas saja kalau kamu berani mati dulu sebelum menikahiku, aku akan mengobrak abrik kuburanmu. Jadi tolong bangunlah! jangan membuatku takut," Evellyn terisak.
Zavier, Diego dan Owen tersenyum saat mendengar ucapan Evellyn. Namun mereka juga sangat cemas, karena Yansen sudah tidak sadarkan diri.
Dengan kecepatan diatas rata-rata, mereka jadi lebih cepat sampai. Zavier segera membopong Yansen, dan memasukkannya keruang IGD.
"Maaf pasien banyak sekali mengeluarkan darah, untuk sementara stok golongan darah AB sedang kosong. Apa keluarganya ada yang golongan darahnya sama?" tanya seorang dokter saat selesai melakukan pemeriksaan.
"Saya. Ambil saja darah saya," ujar Evellyn.
"Baiklah. Ikut saya untuk melakukan pengecekkan lebih dulu," ucap dokter yang diangguki oleh Evellyn.
Evellyn bergegas mengikuti dokter. Sementara Zavier, Orland, Diego, dan Owen merasa sangat bersalah, karena golongan darah mereka semua berbeda dengan Yansen.
__ADS_1