
"Ka-Kamu tahu semuanya?" tanya Doni.
"Sayangnya iya. Tapi tidak apa-apa, tidak usah khawatir. Kita sama-sama saling memanfaatkan. Aku sama sekali tidak keberatan kamu jadikan bahan taruhan,"
"Maaf ya Eve,"
"Tidak masalah. Emang kalau menang dapat berapa duit sih?" tanya Evellyn.
"Nggak banyak sih, cuma 5 juta."
"Sontoloyo, kalian menghargai aku cuma 5 jeti. Pokonya kalau dapat tu duit traktir aku selama seminggu di kantin, kalau nggak aku umumin satu sekolahan, bila perlu satu kecamatan."
"Eh...jangan dong. Iya aku traktir deh, emang kamu mau manfaatin aku apa?"
"Kamu nggak perlu tahu. Tapi saat aku butuh bantuan, kamu harus siap ya?" ujar Evellyn.
"Iya."
"Pulang yuk? udah malam, ntar kakak aku marah."
"Oke."
Waktu menunjukkan pukul 10 malam, saat Doni mengantar Evellyn pulang. Seperti biasa, Yansen hanya mengintip dari tirai jendela rumahnya.
"Sudah puas kencannya?" tanya Yansen sembari menyilangkan kedua tangan didadanya.
Evellyn menghentikan langkah kakinya saat mendengar suara Yansen dari arah belakang punggungnya. Tapi kemudian Evellyn berlalu pergi tanpa menjawab pertanyaan itu, yang membuat Yansen tambah berang.
Pranggg
Yansen yang kesal, melampiaskannya pada gelas minuman yang ada diatas meja.
"Kenapa aku begitu kesal saat dia tidak memperdulikan aku, apa ini gara-gara bocah ingusan itu? mau sampai kapan dia mau perang dingin denganku?"
"Tidak bisa, ini harus diperjelas. Aku nggak mau dia semakin kurang ajar padaku," ujar Yansen.
Yansen segera menyusul Evellyn kedalam kamarnya. Yansen yang kesal, langsung masuk kedalam kamar Evellyn tanpa mengetuk pintu.
Brakkkk
"Mau sampai kapan kamu mau bersikap begitu sama majikanmu?" tanya Yansen.
__ADS_1
Evellyn yang hendak melepaskan bajunya , jadi mengurungkan niatnya itu.
"Maaf. Meski anda seorang majikan, seharusnya anda tidak melupakan etika saat memasuki kamar pelayan anda, terlebih pelayan anda seorang gadis. Jangan mentang-mentang anda majikan dirumah ini, bukan berarti anda bisa bersikap seenaknya saja."
"Jadi maumu apa sebenarnya?"
"Mauku anda cukup diam, tidak usah hiraukan saya. Anda juga tidak akan mengerti perasaan saya saat ini. Jadi kita jalani peran kita masing-masing. Anda cuma ingin pelayan yang membersihkan rumah anda dan juga memasak untuk anda, dan saya akan melakukan itu semua. Jangan mengajakku berbicara diluar pekerjaanku sebagai pelayan, itu sudah cukup membantuku."
"Kamu sudah kelewatan kurang ajarnya Evellyn. Apa begitu caramu berbicara dengan majikanmu?"
"Lalu tuan seperti apa? apa seorang majikan sah-sah saja menodai pelayannya?" tanya Evellyn.
"Cukup!" bentak Yansen.
Evellyn terjengkit kaget karena bentakkan Yansen yang menggelegar. Tatapan pria itu begitu menghunus, hingga membuat Evellyn sedikit ketakutan.
Yansen menyeret tangan Evellyn keruang kerjanya, pria itu bergegas menarik laci meja dan mengambil buku cek disana.
Yansen meraih tangan Evellyn, dan meletakkan selembar cek diatas telapak tangan gadis itu.
"Ini kan intinya yang kalian para wanita mau?" ucap Yansen.
"Terima kasih. Harga ini memang sepadan, terima kasih atas perhatian anda. Tapi bisakah anda memasukkan uang ini kedalam sebuah ATM saja? kalau ingin membayar jasaku diharapkan jangan nanggung,"
"Heh. Sudah kuduga, lagaknya saja kalian para wanita sok protes. Ujung-Ujungnya duit juga. Kamu tenang saja, besok ATM yang kamu inginkan itu akan berada ditanganmu."
"Terima kasih tuan yang dermawan,"
Evellyn berlalu dari hadapan Yansen, diiringi air matanya yang jatuh tanpa Yansen sadari.
"Bujang lapuk brengsek! apa dia pikir aku akan menolak uang itu? sudah kepalang basah, kamu menganggapku wanita seperti itu bukan? aku menolak ataupun menerima, apa bedanya dimata bajingan itu. Daripada aku nggak dapat apa-apa, lebih baik aku sikat saja uang itu. Paling tidak uang itu bisa aku gunakan untuk buka usaha setelah pergi dari neraka ini." ujar Evellyn lirih.
"Heh...diluar dugaanku, gadis kecil itu malah menerima uang itu dengan tangan terbuka. Jadi untuk apa dia menolak saat ibu tirinya akan menjual dia? ternyata hanya kamuflase. Aku terlalu memandang tinggi gadis itu, ternyata tidak ada bedanya dengan gadis yang lain. Murahan!" gerutu Yansen.
Evellyn membasahi tubuhnya dengan bulir-bulir air dari shower. Gadis itu memejamkan matanya, kata-kata hinaan dari Yansen begitu terngiang-ngiang ditelinganya.
"Aku hanya berharap waktu cepat berlalu, agar aku segera pergi dari rumah ini dan tidak lagi bertemu dengan dia selamanya."
"Hah...ternyata aku menyukai pria brengsek! sudah tua, tapi tidak tahu diri. Aku sumpahi sengsara dunia akhirat." gerutu Evellyn.
*****
__ADS_1
Satu bulan kemudian...
Suasana tampak hening, karena saat ini semua siswa kelas 3, sedang mengadakan ujian nasional. Semua siswa tampak serius mengerjakan semua soal-soal, tidak terkecuali Evellyn. Tidak banyak orang mengetahui, kalau Evellyn merupakan siswa berprestasi disekolah sebelumnya.
"Ah...akhirnya selesai juga." Evellyn merenggangkan tubuhnya saat menyelesaikan ujian terakhir.
Meskipun dia yakin tidak ingin melanjutkan sekolah, tapi dia tetap mengerjakan soal-soal itu dengan sungguh-sungguh.
"Bocil, kamu ada dimana?" tanya Diego.
"Masih di sekolah kak. Ada apa?" tanya Evellyn.
"Bisa kah kamu pulang cepat? Yansen sedang ada dirumah sakit, tangannya terluka."
Evellyn terdiam. Dia tidak ingin perduli lagi dengan pria yang sudah melukai hatinya itu. Sudah satu bulan Yansen dan dirinya bersikap seperti orang asing. Bahkan baru tadi malam Evellyn memanfaatkan Doni untuk datang kerumah itu, dengan berpura-pura berkencan.
"Maaf kak, sekarang aku sedang tidak bisa. Eve lagi ujian nasional saat ini." Jawab Evellyn dengan dusta. Karena ujian itu baru saja berakhir.
"Oh gitu. Ya sudah, yang semangat ya bocil,"
"Ya kak, makasih."
Diego mengakhiri percakapan itu dan menggelengkan kepalanya.
"Sebenarnya ada apa antara kamu dan Evellyn? kenapa dia marah padamu?" tanya Diego.
Yansen menatap para sahabatnya satu persatu. Pria itu berpikir mungkin inilah saatnya dia jujur, agar dia bisa memecahkan masalahnya itu bersama teman-temannya.
"Aku sudah menodainya." Jawab Yansen singkat.
"Apa???" Diego, Zavier dan Owen terkejut bersamaan.
"Apa kamu sudah gila? kenapa kamu melakukan itu? dia masih sangat kecil," ujar Zavier emosi.
"Sebenarnya apa yang terjadi? kenapa kamu sampai melakukan itu padanya?" tanya Diego.
Yansen kemudian menceritakan semua peristiwa yang terjadi pada waktu itu. Zavier dan teman-temannya hanya bisa memijat kepalanya mendengar kebodohan Yansen. Dari mereka berempat, memang cuma Yansen pria yang tidak peka dengan perasaan wanita. Segala sesuatu, selalu dia ukur dengan uang. Karena prinsipnya, semua masalah hanya bisa diselesaikan dengan uang.
Ditempat lain Evellyn tengah merenung, meskipun mulutnya berkata jahat, tapi tetap saja pikirannya tertuju pada Yansen.
TO BE CONTINUE...🤗🙏
__ADS_1