
"Apa kamu melihat berita di tv akhir-akhir ini?" tanya Zavier.
"Apa berita tentang geng sampah yang baru-baru ini muncul?" tanya Yansen, sembari meneguk softdrink.
"Ya. Apa menurutmu itu orang-orangnya Orland?" tanya Zavier.
"Bukan." Jawab Yansen yakin.
"Kenapa kamu seyakin itu? sudah 10 tahun terakhir, dia tidak membuat ulah. Mungkin mereka muncul lagi dengan kekuatan yang lebih besar," tanya Zavier.
"Aku tidak bisa menjelaskannya secara gamblang padamu. Tapi aku sangat yakin itu bukan dia. Untuk apa dia menyakiti warga sipil yang nggak berdosa? meskipun dia musuhku, tapi dia hanya menginginkan kekuasaanku. Dia hanya penasaran dengan sesuatu yang sampai saat ini tidak pernah aku ungkapkan padanya."
"Sebenarnya kenapa kamu begitu betah bermusuhan dengannya? apa sebaiknya tidak kamu jelaskan saja duduk permasalahannya? jadi semua dendamnya yang salah alamat itu bisa kelar, dan kita juga bisa hidup dengan tenang," ucap Diego.
"Orland bukan pendengar yang baik. Aku sudah pernah ingin menjelaskan itu padanya. Tapi karena rasa irinya padaku, dia lebih meyakini apa yang menurut pikirannya benar." Jawab Yansen.
"Jadi sebenarnya siapa mereka? kalau begini caranya, orang-orang ini akan merusak citra mafia baik-baik seperti kita. Ya meskipun pekerjaan mafia ini nggak ada yang 100% bersih, tapi paling tidak kita tidak pernah menyakiti warga sipil yang nggak tahu apa-apa." tanya Owen.
"Mungkin sebentar lagi kita akan tahu. Menurutku, onar yang mereka buat hanya untuk memberi salam perkenalan. Agar nama mereka juga dikenal dan disegani. Kita lihat saja kedepannya, kita pasti akan tahu tujuan mereka sebenarnya," ucap Yansen.
"Hissshh...belum kelar urusan dengan Orland, ini muncul lagi calon musuh baru," ujar Owen.
"Yang penting mereka nggak nyolek kita saja, kalau mereka melakukan itu apa boleh buat." ucap Yansen.
"Ya sudahlah, aku duluan cabut ya? kasihan biniku dianggurin, udah kelamaan puasa ini. Ini waktunya buka puasa, jadi mau cari yang nikmat-nikmat," ujar Owen.
Pria berusia 44 tahun itu memang lebih dulu menikah 3 tahun yang lalu. Setelah menunda momongan selama dua tahun, Owen memutuskan ingin memiliki anak karena merasa sudah waktunya. Owen menikahi seorang pramugari cantik, karena 4 tahun yang lalu dia sering melakukan perjalanan bisnis keluar negeri.
"Udah 40 hari ya? jadi mau buka puasa," ujar Diego terkekeh.
"Iya dong, kalian jangan nunda kayak aku waktu itu. Setelah kupikir-pikir, sayang sama umur. Meski kita dapat daun muda, tapi serasa mau cepat mati kalau usia sudah setua ini," ucap Owen.
Diego dan Zavier juga sudah menikah 1 tahun yang lalu, namun mereka masih ingin menunda momongan terlebih dahulu. Hanya Yansen yang tidak bergeming dari kesendiriannya. Dia masih saja belum bisa melupakan masa lalunya. Sejak kepergian Evellyn, pria itu sudah jauh berubah. Terutama kebiasaanya yang sering gonta ganti wanita sudah lama dia tinggalkan.
__ADS_1
Owen pamit lebih dulu meninggalkan markas, saat sedang asyik mendengarkan musik, dirinya terkejut karena hampir saja menabrak seseorang yang tiba-tiba saja menyebrang saat ditikungan sebuah taman.
"Shiiitt...." Owen mengerem mendadak. Jantungnya serasa mau berhenti berdetak karena hampir saja dia menabrak seseorang.
Owen segera turun untuk memastikan orang itu baik-baik saja.
"Apa kamu tidak apa-apa?" tanya Owen sembari ingin membantu orang itu berdiri.
Owen tidak menyangka orang yang dia hampir tabrak adalah seorang anak yang hampir remaja, dan wajahnya sangat mirip dengan sahabatnya.
"Ya-Yansen," gumam Owen, namun masih bisa didengar oleh Samudera. Hingga anak itu jadi mengerutkan dahinya.
"Maaf om, aku jalannya nggak nengok kanan kiri." ujar Samudera.
Owen belum merespon sama sekali ucapan Samudera. Pria itu masih menatap kearah anak yang sangat mirip dengan sahabatnya itu.
"Siapa namamu nak?" tanya Owen.
"Samudera om. Sekali lagi maaf ya om? maaf samudera buru-buru," ujar Samudera yang segera bangkit dan pergi.
Owen segera bergegas memasuki mobil kembali. Dan kembali menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Andai Yansen dan anak itu disejajarkan, mereka sudah seperti ayah dan anak. Tunggu! shittt...." Owen tiba-tiba mengerem mendadak.
"Kenapa aku melupakan fakta itu? apa mungkin anak itu adalah anak Yansen dan Evellyn?" ujar Owen.
Owen bergegas membuat panggilan untuk Yansen yang ternyata masih berkumpul di markas bersama Diego dan Zavier.
"Ya ada apa?" tanya Yansen. Ponselnya memang dia sengaja dibuat dengan mode pengeras suara.
"Yansen apa kamu akan percaya dengan apa yang akan kukatakan ini?"
"Katakan saja, jangan berbelit-belit. Aku tidak punya banyak waktu mendengarkan ocehan yang tidak penting," ujar Yansen yang dibalas kekehan oleh Owen.
__ADS_1
"Aku tadi hampir menabrak seorang anak yang usianya sekitar 10 tahunan. Kau tahu? anak itu wajahnya seperti pinang dibelah kampak denganmu."
"Kampak?" Zavier dan Diego jadi tertawa keras mendengar istilah yang Owen ucapkan. Namun tidak dengan Yansen. Pria yang semula sedang mengupas kacang kulit, jadi menghentikan gerakkan tangannya.
"Dimana kamu bertemu dengannya?" tanya Yansen.
"Taman yang akhir-akhir ini banyak dikunjungi orang, karena ada objek payung gantung." Jawab Owen.
"Oh ya. Anak itu bernama Samudera," sambung Owen.
Yansen segera mengakhiri panggilan itu secara sepihak. Pria itu pun segera bangkit dari tempat duduknya.
"Kamu mau kemana?" tanya Zavier.
"Mau ketaman. Mau memastikan sendiri anak itu.Kalau itu benar, bukankah ada kemungkinan dia itu anakku?"
"Sialan si Owen. Baru juga Yansen pikirannya agak normal dikit, udah di pacu lagi." batin Zavier.
"Yan...aku nggak mau kamu tersakiti lagi karena soal ini. Sudah 10 tahun lebih kamu menderita, please jangan lagi bertindak impulsif. Lupakan semuanya oke?" ujar Zavier.
"Nggak mungkin aku bisa melupakan begitu saja? ini harapan bagiku meskipun itu tidak pasti sekalipun. Kalau tidak mau ikut, tunggulah disini atau kalian pulang saja."
Yansen langsung keluar dari markas dan masuk kedalam mobil. Zavier dan Diego langsung menyusul dengan menggunakan mobil mereka masing-masing.
Sesampai disana merekapun berpencar karena ingin mencari keberadaan anak yang Owen maksud. Namun pencarian itu nihil, karena mereka sama sekali tidak menemukannya.
Yansen duduk disebuah kursi taman. Pria itu tampak termenung, dia sangat berharap apa yang Owen katakan menjadi sebuah pencerahan bagi hidupnya.
Seperti yang sudah-sudah, Zavier dan Diego jadi ikutan bersedih melihat penantian sahabatnya itu tidak kunjung usai.
"Ma. Seperti apa papa Yansen orangnya? apa dia sangat mirip denganku? apa pekerjaannya? apa nama kepanjangannya?" tanya Samudera saat mereka baru saja tiba dirumah dan bersantai di balkon.
Sudah Evellyn duga, dirinya pasti akan mendapatkan rentetan pertanyaan dari putranya itu. Dan dia harus berhati-hati dalam menjawab, dia tidak ingin menanamkan kebencian pada putra semata wayangnya itu.
__ADS_1
TO BE CONTINUE...🤗🙏