Belenggu Mafia Lapuk

Belenggu Mafia Lapuk
29. Kita Harus Bicara


__ADS_3

Yansen yang sudah tidak tahan lagi di abaikan oleh Evellyn, menyusul gadis itu. Hingga saat Evellyn akan menutup pintu kamarnya, pintu itu tertahan oleh tangan kekar milik Yansen.


"Kita harus bicara," ujar Yansen.


"Tidak ada yang perlu tuan bicarakan."


"Bersikaplah sopan, walau bagaimanapun aku ini masih majikkanmu," ucap Yansen.


Evellyn tersenyum sinis mendengar ucapan Yansen. Lagi-Lagi Yansen mengingatkan dirinya, bahwa Evellyn bukan siapa-siapa dirumah itu.


Kriekkkk


Evellyn membuka lebar pintu kamarnya, Yansen perlahan masuk dan duduk dipinggir tempat tidur. Sementara Evellyn duduk disebuah kursi meja rias.


"Apa kamu marah padaku, hanya karena kejadian malam itu? akhir-akhir ini kamu membrontak, bahkan cenderung berlebihan."


"Hanya? tuan menganggap itu cuma hanya?" tanya Evellyn kecewa.


"Aku tidak tahu kalau tuan hanya menganggap keperawanan hanya sebuah mainan, karena tuan biasa melakukan itu dengan para wanita lainnya. Tapi aku? apa tuan tidak ingat kenapa aku bisa sampai ada disini?"


"Ya tapi kamu juga tidak bisa menyalahkan aku, malam itu kamu sedang dalam pengaruh obat dan menggodaku. Kamu yang memintaku melakukannya," ujar Yansen.


Air mata Evellyn tidak bisa dikendalikan. Meski usianya 17 tahun, bukan berarti dia tidak mengerti, Yansen saat ini ingin mencari pembenaran atas perbuatannya.


"Jadi karena aku dalam pengaruh obat, tuan bisa melakukan itu hanya karena aku yang memintanya? bukankah tuan dalam keadaan sadar? tapi kenapa tuan melakukan itu padaku?"


Yansen terdiam, dia bingung harus bicara apa.


"Yang lebih menyakitkan, tuan bersikap seolah tidak terjadi apapun. Dan tuan sama sekali tidak meminta maaf, apa karena saya pembantu dirumah ini, saya tidak memiliki hak protes? jadi tuan bebas bersikap semena-mena?"


"Katakan saya harus bagaimana? apa yang kamu inginkan? apa kamu menginginkn kata maaf dari mulutku? oke aku minta maaf atas kejadian malam itu, lalu apa lagi?"


Air mata Evellyn bertambah deras, karena sikap Yansen sangat menyakitkan gadis itu. Permintamaafan yang tidak tulus, dan terkesan begitu arogant.


"Sebaiknya tuan keluar saja dari sini, tuan tidak akan mengerti apa yang saya rasakan saat ini," usir Evellyn.


"Sebenarnya kamu ingin saya bagaimana? kamu ingin saya ganti rugi? katakan berapa harga keperawananmu itu?" Yansen mulai emosi.


Air mata Evellyn membasahi wajahnya, darah Yansen terasa terjun bebas saat melihat air mata gadis kecil itu. Pria itu baru menyadari ucapannya yang seolah menghina harga diri Evellyn.

__ADS_1


Tanpa banyak kata Evellyn mendorong tubuh kekar Yansen keluar kamar. Evellyn menutup pintu itu dengan lumayan keras dan kemudian tubuh gadis itu merosot ke lantai.


"Hikz....bujang lapuk brengsek...aku sumpahin mati digilas bajaj," gerutu Evellyn sembari terisak.


Sementara itu Yansen yang masih diluar pintu mendengarkan semua tangisan maupun ucapan Evellyn yang menyumpahi dirinya. Pria itu menghela nafas panjang, Yansen sadar dirinya memang tidak pandai merayu seorang gadis, terlebih gadis yang sedang merajuk.


"Aku harus bagaimana? minta maaf sudah, mau ganti rugi juga sudah kukatakan. Tapi kenapa jadi seperti ini?" ujar Yansen.


"Kamu kenapa ada didepan pintu kamar pelayan itu?" tanya Ivanka yang baru saja keluar dari kamar.


"Aku menginginkan minuman segar, tapi sepertinya dia tidur. Apa kamu bisa membuatkan aku minuman?"


"Minuman? minuman apa?"


"Jus mangga." Jawab Yansen asal.


"Sayang. Kamu kan tahu sendiri aku nggak pernah pegang pisau buat ngupas-ngupas buah. Apalagi aku baru aja manicure pedicure, nanti kuku aku bisa nggak cantik lagi. Kalau es teh mau nggak?"


"Ya boleh." Jawab Yansen seadanya yang langsung turun ke bawah, sembari menunggu diruang tamu.


"Apa aku harus cerita masalah ini pada Owen, Zavier dan Diego? tapi bagaimana kalau mereka menertawakan aku atau marah padaku?" batin Yansen.


"Sayang. Ini es teh nya,"


"Makasih."


Yansen segera meraih satu gelas besar es teh yang dibuat oleh Ivanka.


Sruuuupppp


Satu sesapan sudah mampu membuat mata pria itu terpejam.


"Itulah sebabnya aku tidak ingin memiliki istri. Apalagi kalau dapat istri seperti dia. Bisa-Bisa usiaku tidak mencapai 50 tahun, karena mati terkena penyakit diabetes. Apa dia memasukkan gula satu ton kedalam es teh ini?"


"Enak?" tanya Ivanka.


"Sangat enak. Kamu juga harus mencicipinya," ujat Yansen sembari menyodorkan es teh itu dihadapan Ivanka.


Ivanka meraih gelas itu dan menyesap es teh itu. Namun belum sampai ketenggorokkan, gadis itu sudah berlari ke washtafel. Sementara Yansen tidak memperdulikan Ivanka, gadis itu harusnya sudah mengerti apa kekurangannya saat ini.

__ADS_1


"Kamu mau kemana?" tanya Yansen sembari meletakkan koran diatas meja.


Evellyn menghentikan langkahnya, tanpa menoleh gadis itu berkata dengan dingin.


"Mau berkencan dengan pacarku." Jawab Evellyn sembari melangkah pergi.


"Selangkah lagi kamu pergi, aku akan mematahkan kakimu!" hardik Yansen.


Evellyn memejamkan matanya tanpa menoleh.


"Kalau begitu patahkan saja, atau bunuh saja aku sekalian, mungkin anda akan jauh lebih puas," ujar Evellyn.


Evellyn melangkah tanpa ada rasa takut sedikitpun. Sementara Yansen hanya bisa mengepalkan tangannya.


"Ada apa dengan pelayanmu itu? apa ada sesuatu yang sudah aku lewatkan diantara kalian?"


"Jangan ikut campur, lebih baik belajar lagi cara membuat es teh yang benar," ujar Yansen sembari pergi dari hadapan Ivanka.


"Kenapa dia emosi? ada apa dengan dia dan pelayan itu? mereka bertingkah seperti sepasang kekasih yang tengah bertengkar."


Sementara itu diam-diam Yansen mengutus orang untuk mengikuti kepergian Evellyn. Evellyn yang sudah membuat janji dengan Doni, akhirnya pergi berkencan ke salah satu pusat perbelanjaan terbesar di kota J.


"Kamu kenapa? sepertinya kamu sedang memikirkan sesuatu."


"Ya. Aku butuh pendapatmu,"


"Pendapat apa?"


"Salah satu temanku terjebak dalam situasi yang rumit. Dia suka dengan pria berumur, tapi pria itu tidak menyukainya. Saat ikut menghadiri sebuah pesta, temanku itu tidak sengaja meminum obat perangsang, lalu ditolong oleh pria yang dia sukai itu. Namun naas pria itu memanfaatkan dia, dan malah meniduri temanku itu. Saat terbangun paginya, pria itu bersikap cuek dan tidak minta maaf, bahkan dia minta temanku menyebutkan harga keperawanannya. Menurutmu apa yang harus dilakukan temanku itu?"


"Kenapa harus pusing memikirkan pria seperti itu. Itu sudah jelas dia tipe pria brengsek. Aku juga seorang playboy, tapi aku berpikir 1000 kali buat merusak anak gadis orang, paling cuma sekedar pegangan tangan, pelukan, atau yang paling fatal adalah ciuman. Pria seperti itu jangan berharap dia mau bertanggung jawab, lebih baik kubur perasaan temanmu dalam-dalam."


Evellyn tampak berpikir keras, apa yang Doni katakan terdengar masuk akal.


"Kapan masa taruhanmu selesai?" tanya Evellyn tanpa basa basi.


Mendengar itu mata Doni jadi melotot, dia tidak menyangka Evellyn sudah mengetahui semuanya.


TO BE CONTINUE...🤗🙏

__ADS_1


__ADS_2