Belenggu Mafia Lapuk

Belenggu Mafia Lapuk
35.Pengecut


__ADS_3

"Gugurkan janin itu!" ujar Yansen tegas.


Saaappppppp


Aliran darah Evellyn seolah terhempas dari atas kebawah. Perkataan Yansen membuat air mata Evellyn berkumpul dengan cepat dipelupuk matanya. Tubuh gadis itu bahkan bergetar, dengan sesuatu yang terasa tercekat ditenggorokkannya.


"Kenapa?" tanya Evellyn dengan suara sedikit bergetar.


"Karena seperti yang aku katakan waktu itu, aku tidak suka berkomitmen dan tidak suka anak-anak. Aku akui saat itu aku ceroboh karena tidak menggunakan pengaman, tapi seharusnya tidak masalah juga bagimu kalau kamu menggungurkan anak itu bukan?" ucap Yansen.


Lagi-Lagi perkataan Yansen bergitu menghantam perasaan Evellyn.


"Jadi anda ingin menjadi seorang pengecut?"


"Apa maksudmu mengatai aku pengecut? apa kamu lupa sedang bicara dengan siapa?"


"Apa namanya kalau anda bukan seorang pengecut? mau berbuat tapi tidak mau bertanggung jawab?"


"Tanggung jawab? oke aku akan tanggung jawab. Sebutkan berapa harga janin itu agar kamu mau menggugurkannya?"


Evellyn seketika tertawa keras, sungguh pria dihadapannya ini bukan sejenis manusia menurutnya.


"Hewan saja, tidak ada yang tega membunuh anaknya. Tapi anda?" perkataan Evellyn sangat tajam, setelah tawanya mereda.


"Aku tidak perduli dengan apa yang kamu katakan. Setelah anak itu hilang, kamu boleh tinggal disisiku untuk selamanya. Kamu tidak usah takut dibuang,"


Evellyn menatap Yansen dengan tatapan merendahkan, dan sedikit menyeka air matanya yang terlanjur jatuh dari sudut matanya.


"Apa anda yakin tidak menginginkan anak ini? karena aku tidak ingin anda menyesalinya,"


"Aku yakin 100%."


"Baiklah aku menginginkan uang untuk biaya menggugurkan anak ini," ujar Evellyn.


"Berapa yang kamu butuhkan?"


"Terserah saja. Berapapun yang kamu berikan aku akan menerimanya."


"Aku akan mentransfer 100 juta ke rekeningmu."


"Terima kasih." Evellyn segera berbalik badan ingin meninggalkan ruangan itu, namun langkah kakinya terhenti karena ingin mengatakan hal untuk terakhir kalinya.


"Tuan. Seandainya anak ini tetap aku pertahankan, tapi tidak mengganggu kehidupan tuan lagi, apa tuan akan membiarkannya tetap hidup?"


"Tidak akan. Aku tidak ingin mengambil resiko."


"Baik. Terima kasih,"


Evellyn berbalik badan diiringi air matanya yang jatuh membasahi pipi. Sementara itu, Ivanka yang usai menguping percakapan itu bergegas pergi. Dirinya cukup puas setelah mendengar ucapan Yansen.


Yansen menjambak-jambak rambutnya sendiri, sungguh dia dilema meskipun ucapannya begitu lancar dari bibirnya menolak kehadiran darah dagingnya. Ditempat berbeda, Evellyn menangis sesegukkan dibawah sebuah pohon besar yang tidak jauh dari rumah Yansen.


"Dasar pria bajingan! jahanam, terkutuk. Aku tidak akan pernah melupakan penghinaanmu ini. Suatu saat kamu pasti akan menyesal."

__ADS_1


Ting


Sebuah chat masuk yang berasal dari Yansen. Pria itu memberitahu dirinya, bahwa dia sudah mengirim uang 100 juta ke rekeningnya.


"He...100 juta, bahkan 100 triliunpun aku tidak akan pernah mau membunuh darah dagingku. Baiklah Yansen, mungkin tadi adalah pertemuan terakhir kita. Selamat tinggal,"


Evellyn bergegas pulang kerumah ayahnya. Sementara itu Yansen pergi ke kamar Evellyn , karena mengira gadis itu pergi ke kamarnya.


Kriekkkk


Yansen tidak menemukan keberadaan Evellyn setelah beberapa kali mengetuk pintu. Yansen mengerutkan dahinya saat melihat Ivanka keluar kamar dengan terburu-buru.


"Kamu mau kemana?" tanya Yansen.


"Aku akan kembali ke Amerika untuk beberapa hari."


"Ada apa? bukankah kamu bilang sudah mengakhiri kontrakmu dengan agensi disana?"


"Ya. Ini bukan soal kerjaan, tapi aku akan menghadiri undangan pernikahan sahabatku. Aku nggak lama kok, cuma beberapa hari saja."


"Ya sudah hati-hati saja. Nanti akan ku kirim uang ke rekeningmu,"


Cup


"Makasih sayang," Ivanka mencium pipi Yansen.


Ivanka melenggang pergi, dan menyetop sebuah taksi.


"Bagaimana?" tanya Andre.


Evellyn menggelengkan kepalanya dan kemudian berhambur kepelukkan sang ayah.


"Hikzz ....dia ingin aku menggugurkan anaknya, bahkan uang 100 juta sudah masuk ke rekeningku. Seolah dia tidak ingin menunggu lama-lama untuk melenyapkan anaknya."


Andre menarik kedua pundak Evellyn, mata pria itu memerah karena menekan amarahnya.


"Ayah akan menemui bajingan itu," ujar Andre.


Andre ingin beranjak pergi, namun lagi-lagi ditahan oleh Evellyn.


"Tidak ayah, dia sudah membuat keputusan seperti itu, maka biarkan saja. Aku tidak ingin kita jadi pengemis, meskipun kita bukan apa-apa dimatanya."


"Jadi kamu mau menggugurkan anak itu?" tanya Andre.


"Apa ayah merasa malu kalau eve melahirkan tanpa suami?"


"Tidak."


"Aku tidak butuh pendapat orang lain tentang diriku, asalkan ayah mau bersamaku dan mendukungku itu sudah cukup."


Andre memeluk sang putri yang sedang rapuh itu, pria parubaya itu tahu meski terlihat tegar, namun Evi saat ini sedang terluka.


"Apa rencanamu?" tanya Andre.

__ADS_1


Evellyn segera melepaskan pelukkannya, gadis itu baru teringat akan tujuan utamanya.


"Ayah. Ayo kita cepat pergi dari sini, aku tidak mau dia menemukanku dan memaksaku menggugurkan anak ini,"


"Ayah mengerti," ujar Andre.


Merekapun bergegas pergi dari rumah itu. Semua baju-baju Andre mereka masukan kedalam tas.


"Bagaimana dengan pakaianmu? bukankah masih ada dirumah Yansen?"


"Jangan hiraukan pakaianku, aku bisa membelinya disembarang tempat nanti. Sekarang kita harus pergi dulu dari sini,"


"Baiklah."


Setelah semuanya sudah beres, Andre dan Evellynpun bergegas pergi dari rumah itu. Namun baru saja mereka melangkahkan kaki dari pintu kamar, Evellyn mendapat sebuah pesan yang membuat bibirnya mengembang.


"Ada apa?" tanya Andre.


"Ayah. Sepertinya dia berubah pikiran, dia mengirim chat padaku dan ingin bertemu denganku,"


"Benarkah? apa yang dia katakan?" tanya Andre.


"Intinya dia meminta maaf padaku, dan ingin bertemu untuk bicara serius denganku. Apa menurut ayah dia ingin bicara tentang pernikahan kami?"


"Mungkin saja. Kalau begitu pergilah, ayah menuggu kabar baik darimu."


"Apa menurut ayah Eve perlu berdandan?"


"Tidak ada salahnya jika ingin menyenangkan hatinya,"


Evellyn tersipu malu, gadis itu bergegas berganti pakaian dan sedikit memoleskan bedak. Setelah itu dia bergegas pergi ketempat yang sudah pria itu janjikan.


"Sial. Karena buru-buru aku lupa membawa ponselku, tapi tidak apa-apa yang penting aku bertemu dulu dengannya. Setelah itu aku bisa mengambil ponselku dirumah ayah." ujar Evellyn lirih.


Disepanjang jalan Eve tersenyum-senyum sendiri. Dia merasa tidak sabar ingin bertemu dengan Yansen, bahkan dia sudah bertekad ingin mengungkapkan perasaannya kalau Yansen benar-benar merubah keputusannya.


Taksi yang Evellyn tumpangi berhenti disebuah kafe, namun saat Evellyn ingin memasuki kafe itu, dua orang pria bertubuh tegap menghampirinya.


"Nona Evellyn ya?" ujar salah seorang pria bertubuh kekar.


"Ya. Kalian siapa?"


"Kami orang suruhan tuan Yansen, beliau menyuruh kami membawa anda kesuatu tempat,"


"Kesuatu tempat? kemana? bukankah dia menyuruhku bertemu disini?"


"Beliau tiba-tiba pergi karena ingin menyiapkan kejutan untuk nona."


"Apa dia berencana melamarku? jadi dia membuat kejutan seperti yang ada difilm-film gitu?" batin Evellyn.


Evellyn tersenyum-senyum sendiri membayangkan kemungkinan yang ada dipikirannya. Gadis itupun setuju untuk mengikuti kedua pria itu.


TO BE CONTINUE ...🤗🙏

__ADS_1


__ADS_2