Belenggu Mafia Lapuk

Belenggu Mafia Lapuk
62. Yansen Murka


__ADS_3

Tring


Sebuah chat masuk kedalam ponsel Yansen. Pria yang tengah lelap tertidur itu sedikit tergnggu dengan suara dering dari pesan chat itu. Yansen meraih ponselnya dan membuka isi chat dengan mata menyipit.


Namun mata Yansen terbelalak seketika saat melihat sebuah video yamg dikirim oleh nomor yang tidak dia kenal. Di video itu terlihat jelas Samudera tengah berbaring disebuah karpet usang dan tengah menggigil hebat.


"Brengsek!" hardik Yansen yang membuat Orland terjengkit kaget disebelahnya.


"Ada apa? kenapa kamu berteriak? bikin aku jantungan saja tahu nggak?" tanya Orland.


"Kamu lihat saja sendiri. Sebenarnya siapa bajingan ini? kalau aku tahu orangnya , aku tidak berpikir dua kali buat melubangi kepalanya dan mematahkan tangan juga kakinya," ucap Yansen.


Orland meraih ponsel Yansen dan melihat video yang Yansen maksud. Darah Orland mendidih seketika, meskipun Samudera bukan darah dagingnya, tapi Samudera dibesarkan oleh tangannya sendiri. Pria itu yang menyuapkan makan, pria itu yang membersihkan kotorannya, dan pria itu pula yang menemani Samudera sampai anak itu tertidur.


Orland mengerti kemarahan Yansen, karena dirinya juga merasakan hal yang sama.


"Pengecut sekali orang ini. Beraninya dengan anak-anak dan wanita," ujar Orland.


Yansen memijat kepalanya, tiba-tiba saja kepalanya berdenyut sakit memikirkan hal ini. Saat Yansen ingin menghubungi nomor si pengirim, nomor itu tiba-tiba tidak aktif lagi.


Tring


Tring


Tring


"Ya?"


"Bos. Kami sudah berhasil menemukan markas mereka."


"Benarkah? kirim alamatnya!"


Yansen menyeringai setelah mendapat informasi itu. Seringai yang membuat Orland sedikit merasa ngeri.


"Ada apa?" tanya Orland.


"Anak buahku sudah menemukan markas orang itu. Heh, mereka pikir bisa lepas dari jangakauanku dengan mudah? kalau maskasnya masih di kota J ini, tentu akan tertangkap dengan mudah."


"Baguslah, jangan tunggu pemerintah mendatangkan kelompok CIA. Kita harus bergerak sekarang," ujar Orland.


Ting tong


Ting tong


Yansen dan Orland saling berpandangan. Yansen menghela nafas, dia tahu itu pasti Zavier dan teman-temannya yang lain.

__ADS_1


"Kenapa? apa kamu tahu siapa yang datang itu?" tanya Orland.


"Itu pasti Zavier dan teman-temanku yang lain. Mereka pasti akan marah saat melihatmu. Kamu kalau mereka ngomel-ngomel diam saja, tidak usah emosi. Apalagi omongan Owen, dia paling bawel dari teman-temanku yang lain."


"Jadi kamu menyuruhku diam saja saat mereka memarahiku? enak saja, aku ini sudah tua. Bukan bocah lagi yang bisa dimarah-marahi,"


"Kalau nggak kamu diam saja di kamar, atau buruan mandi saja. Bila perlu berendam yang lama."


"Itu urusanku. Siapa yang berani denganku, akan kuajak bertarung."


"Dasar sudah tua, keras kepala lagi." ujar Yansen sembari meninggalkan Orland, untuk membuka pintu.


Krieekkkk


"Lama amat sih? kamu baru bangun?" tanya Owen.


"Kalian cepat masuk! ada yang ingin ku bahas dengan kalian," ucap Yansen.


"Apaan?" tanya Zavier, setelah mereka duduk di sofa.


"Anak buah kita sudah mengetahui markas bajingan tengik itu. Anakku sedang sakit saat ini. Jadi kita harus bergerak cepat,"


"Itu bagus. Sudah lama tidak bertarung, rasanya badanku sudah mulai sakit-sakit semua," ujar Diego.


"Jangan gegabah. Sayangi nyawa kalian. Sekarang lebih baik kalian pergi dulu ke markas, kerahkan seluruh anak buah kita. Nanti aku akan segera menyusul," ujar Yansen.


"Tidak. Kalian duluan saja, ada hal yang ingin aku selesaikan dulu."


"Baiklah kami pergi duluan saja. Kamu...."


Zavier menghentikan kata-katanya saat melihat seseorang berdiri diatas tangga, sembari menuruninya satu persatu.


"Hai...bro," sapa Orland.


Zavier, Owen, dan Diego menoleh kearah Yansen. Pria itu langsung memijat keningnya, dia tahu pasti sebentar lagi beberapa pertanyaan meluncur dari para sahabatnya itu. Dan benar saja, pertanyaan pertama meluncur dari mulut Owen.


"Apa-Apaan ini Yan?" tanya Owen yang langsung berdiri dari duduknya.


"Iya Yan. Jadi kamu nyuruh kita cepat-cepat pergi, karena nyembunyiin ini?" timpal Diego.


"Apa kalian sudah berbaikkan?" tanya Zavier.


Yansen menghela nafas dan menatap ketiga temannya secara bergantian.


"Iya. Kami memang sudah berbaikkan. Dan perlu kalian ketahui, bukan Orland dibalik kejadian ini."

__ADS_1


"Kamu percaya gitu aja Yan?" tanya Owen


"Ya. Aku percaya sama dia."


"Setelah dari sekian bentrokkan yang terjadi antara kita dan dia? nyawa kita hampir mati loh gara-gara dia," tanya Owen.


"Ya. Aku tetap percaya sama dia." Jawab Yansen.


"Kalau aku mah enggak!" ujar Owen.


"Oke kita hargai keputusanmu buat percaya sama dia. Sekarang kita pergi saja dulu ke markas." ujar Zavier.


Owen, Zavier dan Diego langsung berdiri dari tempat duduknya, dan pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah katapun lagi.


"Sudahlah, tidak perlu kamu pikirkan, aku nggak apa kok. Wajar saja kalau mereka masih belum bisa percaya sama aku."


"Baguslah kalau begitu. Kamu sudah mandi? kalau sudah pulanglah!"


"Kenapa kamu mengusirku?" tanya Orland.


"Soalnya aku mau pergi ke markas. Kami mau menyerbu markas penculik itu."


"Baiklah. Aku pulang, beritahu aku markas penculiknya, nanti aku dan anak buahku menyusul."


"Oke."


Orland akhirnya meninggalkan kediaman Yansen. Sementara itu Yansen bergegas mandi dan pergi ke markas.


"Kalian boleh protes padaku setelah urusan ini selesai. Sekarang saja dia ingin membantu kita buat menyerbu markas perculik itu. Lagipula selama ini ternyata dia yang sudah menyelamatkan Evellyn dan anakku. Terlepas dia mempunyai tujuan lain atau tidak."


"Dia bahkan memisahkan Evellyn dan Anakmu selama 10 tahun. Tapi kamu berlagak seolah dialah pahlawannya selama ini. Enak banget jadi dia?" ujar Owen.


"Iya Yan. Apa kamu lupa, kamu sudah seperti orang gila mencari Evellyn selama ini. Bahkan kamu sudah dianggap seperti orang gila," timpal Diego.


"Ya mau gimana lagi. Masa iya aku menolak permintamaafan dia?" tanya Yansen.


"Kenapa kamu begitu mudah percaya sama dia? bagaimana kalau ini semua rencana busuknya? aku takut kalau ini hanya jepakkannya," ujar Owen.


Zavier hanya menatap para sahabatnya yang tengah berdebat sengit itu. Dia jadi bingung harus berkomentar apa.


"Ya sudahlah. Kita hentikan dulu perdebatan ini. Kita akan bahas, setelah Evellyn dan Samudera ditemukan. Sekarang jangan banyak buang waktu lagi. Ayo kita berabgkat," ujat Zavier.


Mereka berempatpun pergi menuju markas yang sudah ditemukan oleh anak buahnya. Markas itu memang sangat jauh dari pusat kota. Bisa dibilang sudah hampir mencapai batasan pinggiran kota. Dengan segala persiapan, mereka mulai memasukkan peluru kedalam senjata.


Seperti yang Orland janjikan, dirinya membawa orang-orangnya dengan segala perlengkapan senjata. Saat tiba diperbatasan markas, mereka mulai mengatur strategi penyergapan.

__ADS_1


TO BE CONTINUE...🤗🙏


__ADS_2