Belenggu Mafia Lapuk

Belenggu Mafia Lapuk
37. Murka


__ADS_3

Andre mondar mandir didalam kamarnya, pria parubaya itu sangat gelisah saat ini. Bagaimana tidak? waktu sudah menujukkan pukul 11 malam, tapi tidak ada kabar dari Evellyn sama sekali. Sementara itu, Andre baru saja menemukan ponsel Evellyn yang ketinggalan dan sedang kehabisan baterai.


Sembari menungu baterai itu terisi, Andre selalu berdo'a dalam hatinya agar putri semata wayangnya baik-baik saja.


"Apa aku datangi saja rumah si Yansen? tapi bagaimana kalau mereka tidak ada dirumah? atau jangan-jangan mereka sudah tidur?" ucap Andre lirih.


"Sebaiknya besok pagi saja aku pastikan, malam ini biar aku istirahat dulu."


Andre berbaring diatas tempat tidur dan memejamkan matanya. Sementara itu tanpa Andre tahu Yansen sedang berada diluar pagar rumahnya. Pria itu tampak ragu ingin masuk kedalam, mengingat hari sudah larut malam. Yansen yakin Evellyn berada didalam, terlebih pria itu melihat seseorang yang baru saja mematikan lampu kamar.


"Sebaiknya besok saja aku menemui dia. Aku juga sudah menyuruh Zavier dan yang lain untuk memblokir Evellyn ditiap rumah sakit ataupun klinik yang ada di kota J."


"Hah...aku harus bagaimana sekarang? disisi lain aku tidak siap memiliki anak, tapi disisi lain teman-temanku berebut ingin memiliki anakku. Mana aku rela darah dagingku memanggil orang lain ayah, sementara aku dipanggil Om." ujar Yansen lirih.


Yansen menyalakan mesin mobilnya dan melaju perlahan meninggalkan pekarangan rumah itu.


*****


Andre, dengan segala tekadnya pergi menemui Evellyn di rumah Yansen. Pria parubaya itu berharap bisa bertemu dengan putrinya dan menanyakan pada pria yang sudah menghamili Evellyn, tentang tanggung jawab pria itu.


Andre duduk disebuah sofa panjang, setelah seorang pelayan mempersilahkan dirinya duduk dan menyodorkan dirinya secangkir kopi.


Yansen menuruni anak tangga, setelah sebelumnya seorang pelayan memberitahunya tentang kedatangan Andre. Sejujurnya Yansen sangat gugup, dia sudah menduga Andre pasti sudah tahu tentang kehamilan Evellyn.


"Apa maksud kedatangan anda kemari?" tanya Yansen sembari menyilangkan salah satu kakinya.


Andre mengerutkan dahinya, pertanyaan pria dihadapannya itu dinilainya terlalu santai, seperti tidak melakukan dosa apapun. Padahal pria didepannya ini pula yang sudah menghancurkan masa depan putrinya yang berharga.


"Saya rasa anda sudah tahu maksud kedatangan saya kesini. Saya ingin menanyakan bagaimana kelanjutan pertanggung jawaban anda terhadap putri saya." Jawab Andre.


"Ya saya mengerti maksud anda. Saya juga sudah menyuruh orang untuk memblacklist Evellyn dari rumah sakit agar dia tidak jadi menggugurkan anak itu."


"Apa itu artinya anda akan menikahi putri saya?"

__ADS_1


"Apa anda setuju jika saya menikahi putri anda?" tanya Yasen.


"Apa saya terlihat punya pilihan lain? anda sudah menghamilinya, anda juga bukan anak ABG lagi yang menganggap hal ini sebuah lelucon bukan."


"Jika anda setuju, maka saya akan menikahinya."


"Satu hal yang ingin saya pastikan sebelum anda menikahi putriku. Sebenarnya ini sedikit menggelikan buat saya, mengingat usia putriku baru 17 tahun. Tapi tidak ada salahnya juga aku bertanya, mungkin setelah mendengar jawaban anda aku sedikit merasa lega."


"Sebenarnya apa yang ingin anda tanyakan? anda ingin bertanya tapi anda malah menyidir saya, saya tahu saya terlalu tua untuk putri anda. Andai waktu bisa diputar kembali, saya juga tidak mau melakukannya."


"Apa anda mencintai Evellyn?" tanya Andre.


Yansen terlihat bingung menjawab pertanyaan itu. Bukan dia tidak tahu tentang perasaannya pada Evellyn, tapi dia cukup malu mengakuinya pada pria parubaya didepannya.


"Ah...sudahlah, aku sudah tahu jawabannya."


"Anda sudah tahu jawabannya?" tanya Yansen.


"Tentu saja. Itu sudah sangat terlihat diwajahmu. Aku tahu kamu malu dengan usiamu itu. Tapi tidak apa-apa, paling tidak aku cukup lega karena putriku akan menikah dengan orang yang mencintainya."


"Tapi lebih penting dari itu, kemana Evellyn? dari tadi dia tidak kelihatan. Ponselnya sampai ketinggalan dirumah saking buru-burunya dia ingin menemuimu," tanya Andre.


Mendengar itu Yansen jadi mengerutkan dahinya, dia belum mengerti apa maksud pertanyaan pria parubaya itu.


"Maksud anda apa?"


"Apanya yang apa? saya menanyakan Evellyn, dimana dia sekarang? apa dia masih tidur?" tanya Andre.


"Apa maksud anda menanyakan Evellyn disini? Evellyn tidak ada disini,"


"Omong kosong apa yang kamu bicarakan? apa setelah menemuimu kemaren sore dia langsung pergi?"


"Bahkan aku tidak bertemu dengannya setelah aku menyuruhnya menggugurkan anak itu."

__ADS_1


Andre langsung bangkit seketika dari tempat duduk dan menghampiri Yansen. Andre langsung mencengkram kerah baju pria itu.


"Jangan pernah bermain-main denganku, aku ini orang miskin. Meskipun aku kehilangan nyawa, tidak ada harta yang memberatiku. Tapi kamu? bermain-main dengan orang sepertiku, apa kamu tidak takut nyawamu itu hilang dari ragamu? apa kamu tidak takut kehilangan semua hartamu jika kamu mati?"


Yansen perlahan melepaskan cengkraman tangan Andre. Pria itu cukup menahan diri agar tidak terpancing emosi. Sebab, baru kali pertama ada orang yang berani berbuat begitu padanya.


"Aku tidak pernah bermain-main. Aku memang belum bertemu lagi dengannya."


"Apa yang kamu lakukan pada anakku? apa yang kamu lakukan pada anakku brengsek!" hardik Andre.


Tubuh Andre bergetar sembari mengguncang kedua pundak Yansen. Pria itu terlaku takut menerima kenyataan, bahwa putrinya sudah dilenyapkan untuk menghilangkan jejak.


"Saya tidak mengerti perkataan anda, anda menanyakan Evellyn kesini? apa Evellyn kemarin tidak pulang kerumah?" tanya Yansen jadi ikutan panik melihat keseriusan Andre.


"Kumohon berhentilah berpura-pura. Katakan dimana putriku kamu sekap? katakan juga kalau kamu memang sudah melenyapkannya. Aku mohon berikan putriku padaku, tidak masalah kalau kamu tidak mau bertanggung jawab, setidaknya biarkan aku dan putriku pergi. Kami berjanji tidak akan pernah muncul dihadapanmu lagi," ujar Andre dengan bibir bergetar dan tangan bertangkup.


"Aku bersumpah tidak melakukan apapun padanya. Apa dia sempat pulang kerumah kemarin?" tanya Yansen panik.


"Yansen. Kejam sekali kamu! kamu masih saja berpura-pura, padahal jelas-jelas kemarin sore kamu mengirim chat padanya meminta bertemu dengannya. Kenapa kamu harus berbohong? dia masih anak-anak, kenapa kamu tega menyakitinya hanya karena tidak menginginkan anak dalam kandungannya?"


Yansen sudah hilang kendali saat mendengar penjelasan Andre. Pria itu mendekati Pria parubaya itu dan mencengkram kedua bahunya.


"Dengar! aku tidak melakukan apapun padanya, terlebih aku sama sekali tidak pernah mengirin chat apapun padanya."


"Mustahil! aku sudah membaca chatmu,"


"Chat yang mana? mana buktinya?"


"Ada. Ponsel Evellyn ada dirumah, kamu tidak bisa mengelak lagi."


"Ponselnya ada dirumahmu? apa itu artinya Evellyn pergi tidak membawa ponselnya?"


"Ya. Beruntung ponselnya tinggal, jadi kamu tidak bisa melenyapkan barang buktinya."

__ADS_1


Tanpa banyak kata Yansen bergegas pergi, Andre yang emosi mengekor dibelakang pria itu dan ikut masuk kedalam mobilnya.


TO BE CONTINUE...🤗🙏


__ADS_2