
"Sepertinya Yansen tidur pules nih, kita nggak mungkin ninggalin dia sendiri disini. Apa kita bangunkan saja dia?" tanya Owen yang melihat Yansen tampak lelap, dengan salah satu tangan masih bertengger diatas dahinya.
"Jangan! biarkan saja, mungkin dia lelah karena terlalu memikirkan masalahnya akhir-akhir ini," ujar Zavier.
"Jadi sebaiknya kita ngapain dong?" tanya Owen.
"Tentu saja memikirkan cara menemukan Evellyn dengan cepat. Kalau gadis itu tidak ditemukan, alamat akan hancur dunia persilatan. Kamu tahu sendiri seperti apa Yansen," ujar Zavier.
Byuuuurrrr
"Yansen tolong aku....aku tidak bisa berenang, Yansen...tolong aku dan anak kita,"
"Eve...Evellyn...ulurkan tanganmu Eve..."
"Aku nggak kuat lagi... selamat tinggal Yansen, aku mencintaimu..."
Blupppp
Bluppp
Bluppp
"Tidak Eve, jangan tinggalkan aku..Eve...eve.."
"Yan...bangun Yan...loe kenapa Yan?" ujar Zavier sembari menepuk-nepuk pipi Yansen.
Zavier bisa melihat, wajah Yansen dipenuhi keringat. Sepertinya pria itu sedang mengalami mimpi yang mengerikan.
"Eveeeee.....!" teriak Yansen sembari terduduk.
Hosh
Hosh
Hosh
"Minumlah!" Diego menyodorkan segelas air putih dan langsung diminum oleh Yansen.
"Kamu kenapa? mimpi buruk?" tanya Zavier.
"Aku melihat Evellyn tenggelam." Jawab Yansen dengan wajah cemas.
"Ckk...itu hanya mimpi. Lagian buat apa dia main air? dia kan nggak bisa berenang, dia sendiri yang cerita waktu kejadian terdampar dipulau itu," timpal Diego.
__ADS_1
"Apa mungkin ada orang yang memanfaatkan itu untuk mempengaruhinya?" tanya Owen.
"Maksudmu?" tanya Zavier.
"Bisa saja dia terpengaruh dan bunuh diri dengan cara terjun kelaut." Jawab Owen.
Bugh
Sebuah tinju ringan melayang dilengan Owen oleh Zavier.
"Bisakah mulutmu jangan bicara ngawur? nggak mungkin Evellyn putus asa hanya gara-gara itu," ujar Zavier.
"Bagaimana kalau itu benar?" tanya Yansen dengan pandangan mata kosong.
"Kamu juga. Jangan dengarkan kata Owen. Jelas-Jelas omongan tidak berbobot, masih saja kamu dengarkan."
"Tidak Zav. Apa yang Owen bilang ada benarnya. Bagaimana kalau pola pikir Evellyn jadi pendek? dia takut mempermalukan orang tuanya karena hamil diluar pernikahan. Jadi dia ingin mengambil jalan pintas. Ini semua gara-gara aku, ini semua gara-gara aku kan?" ujar Yansen sembari menjambak-jambak rambutnya.
"Hey...hentikan! rambutmu bisa botak kalau begitu, kamu jangan dengarkan omonganku..Aku tadi hanya asal bicara," ujar Owen yang terlihat panik karena Yansen terlihat sangat frustasi.
"Baiklah. Untuk memuaskan hatimu, bagaimana kalau kita kepelabuhan? bukankah hanya disana kemungkinannya?" tanya Zavier.
"Aku setuju. Bila perlu kita tanya semua seluruh nelayan disana," timpal Diego.
Yansen menatap para sahabatnya dan mengangguk. Mereka berempatpun bergegas pergi menuju pelabuhan. Zavier tahu itu usaha mereka yang sangat konyol, mereka mencari kepelabuhan hanya berdasarkan petunjuk sebuah mimpi. Tapi itu tidak mengapa bagi para sahabat Yansen, asalkan melihat Yansen tenang dan puas, mereka akan melakukannya.
Yansen duduk disebatang nyiur yang sudah tumbang. Pria itu tampak lesu, dia benar-benar tidak mampu memikirkan dimana kita-kira Evellyn pergi.
"Kamu tidak usah khawatir, masih banyak cara untuk menemukan dia. Bukankah kita tidak menemukan dia disini? setidaknya itu sudah menjadi satu harapan bagi kita," ujar Zavier.
"Iya Yan. Yang dikatakan Zavier benar, kita kan belum mengacek semuanya? bisa jadi dia keluar negeri atau keluar kota kan? kita bisa mengeceknya di penerbangan atau di loket." timpal Diego.
Wajah Yansen sedikit cerah, ucapan Diego seperti sebuah sinar yang memberikan dia sebuah pencerahan.
"Jangan ditunda lagi, kita pergi kesana sekarang!" ujar Yansen.
"Sebaiknya besok saja Yan. Ini sudah terlalu sore. Besok pagi kita bisa cari Evellyn sepuasnya," ujar Diego.
"Benar yang dikatakan Diego Yan. Kalau nyari jam segini takutnya nggak maksimal. Kalau besok kan bisa kita cari dari pagi," timpal Zavier.
"Baiklah." Jawab Yansen dengan wajah lesu kembali.
Merekapun kembali ke mobil dan beranjak pulang.
__ADS_1
"Bukankah ini sudah 24 jam dari kehilangan Evellyn?" tanya Yansen.
"Kenapa? kamu jangan berpikir mau mencari Evellyn lewat polisi atau media masa." tanya Zavier.
"Kenapa?" tanya Yansen.
"Coba kamu pikir dari segala aspek dan kemungkinan yang ada. Pertama, bagaimana kalau sebenarnya Evellyn sedang diculik? penculik akan panik, dan bisa saja nekad membunuh Evellyn untuk menghilangkan jejak. Kedua, bagaimana kalau ternyata Evellyn memang sengaja bersembunyi? dia semakin akan bersembunyi karena takut jadi bahan gunjingan." ujar Zavier.
"Aku kurang mengerti dengan penjabaranmu, tapi aku setuju dengan apa yang dia katakan. Kamu jangan gegabah, kita bisa mencarinya perlahan. Ingat, kalau memang dia masih hidup, suatu saat dia pasti akan menemui ayahnya, kita hanya perlu memantau tuan Andre saja," timpal Diego.
"Diego benar. Lambat laun Evllyn pasti muncul, ini hanya masalah waktu saja," ucap Owen.
"Bagaimana kalau dia dibunuh?" tanya Yansen dengan tatapan kosong.
"Apa yang kamu katakan? disini yang seharusnya berpikiran positif itu kamu, tapi kenapa kamu mikirnya yang tidak-tidak?" hardik Zavier.
Melihat Yansen terdiam dengan wajah murung, Zavier hanya bisa menghela nafasnya.
"Kamu harus punya keyakinan dalam dirimu, bahwa Evellyn dan anakmu baik-baik saja. Lagipula untuk apa orang itu melenyapkan Evellyn? gadis itu tidak memiliki apapun untuk dirampok." sambung Zavier.
"Sebaiknya kita pulang saja dulu. Kamu pasti sudah lelah, kita juga sudah lelah. Besok kita akan mulai mencari lagi," ujar Owen.
Yansen hanya bisa menganggukkan kepalanya, dan menuruti ucapan para sahabatnya.
*****
Keesokkan harinya...
Seperti yang mereka janjikan, pagi ini Yansen dan teman-temannya mencari jejak Evellyn disetiap bandara di kota J. Namun hasilnya nihil, Evellyn sama sekali tidak melakukan penerbangan keluar negeri maupun keluar kota. Setelah bertolak dari bandara, Merekapun menuju stasiun kereta api dan terminal bus. Namun tetap saja hasilnya nihil.
"Itu berarti Evellyn masih berada di kota J. Itu malah bagus kan? jadi ruang lingkup pencarian kita tidak terlalu melebar. Kita cuma fokus nyari dia di kota ini saja," ujar Zavier.
"Bagaimana dengan pengintaian markas geng sampah itu?" tanya Yansen.
"Mereka sudah melaporkan, tapi Evellyn tidak ada di markas itu." Jawab Diego.
"Kalau bukan dia, siapa lagi yang bisa melakukan ini? tidak mungkin secara kebetulan semua cctv dijalanan ini kena sabotase? apa kita ada musuh lain selain dia?" tanya Yansen.
"Coba kamu ingat-ingat, barangkali ada musuh dari saingan bisnis?" tanya Diego.
"Itu tidak mungkin. Siapa yang tidak ingin berbisnis denganku? apa kamu tahu? ada puluhan proposal yang ngantri ingin melakukan kerjasama denganku. Perusahaanku paling berpengaruh di kota ini, jadi tidak mungkin mereka ingin mengambil resiko dengan mengajak ku bermusuhan." Jawab Yansen.
"Ya kemungkinannya memang ada beberapa menurutku. Kalau melihat situasi ini, kemungkinanya cuma gara-gara usaha, kalau nggak karena saingan cinta," ceplos Diego.
__ADS_1
"Tapi saingan cinta nggak mungkin kan? disisi loe kan cuma ada Ivanka? nggak mungkin kan dia melakukan itu? bukankah katamu dia sedang berada di Amerika saat ini?" tanya Diego
Yansen terdiam, dia sama sekali tidak kepikiran tentang Ivanka. Dia jadi teringat saat wanita itu sempat menguping pembicaraannya dan Evellyn. Gadis itu cemburu karena Evellyn mengandung anaknya, dan kemudian terburu-buru pergi ke Amerika.