Belenggu Mafia Lapuk

Belenggu Mafia Lapuk
28.Perang Dingin


__ADS_3

Tidak ada pembicaraan sedikitpun saat Evellyn dan Yasen pulang menuju rumah. Mereka seakan merasa larut dalam pemikiran masing-masing. Bahkan saat sampaipun, Yansen dan Evellyn tidak mengatakan hal apapun.


Brakkkk


Evellyn sedikit membanting pintu. Rasa kesal, marah, dan dongkol, bercampur jadi satu. Evellyn menjatuhkan tubuhnya keatas tempat tidur dan terisak disana.


"Dasar bujang lapuk brengsek. Bahkan dia tidak mengucapkan maaf, setelah semuanya terjadi. Aku benci dia!" ujar Evellyn sembari memukul-mukul bantal gulingnya.


Sementara itu, Yansen yang berada diruang kerjanya sedang mondar mandir, sambil sesekali menjambak rambutnya sendiri.


"Bagaimana ini? aku harus bagaimana? Apa aku pergi saja kekamarnya dan meminta maaf?" ujar Yansen yang berbicara sendiri.


Waktu menunjukkan pukul 5 sore, namun tidak ada pergerakkan dari Evellyn yang ingin membuat makan malam. Yansen yang mengerti suasana hati Evellyn sedang buruk, memutuskan untuk mengajak Ivanka makan diluar agar wanita itu tidak berkoar-koar.


Evellyn mengintip dari tirai jendela kamarnya saat Yansen dan Ivanka keluar pintu gerbang dengan mengendarai mobil lambourgini. Hati Evellyn berdenyut sakit, karena merasa dirinya benar-benar seperti tidak ada artinya.


*****


Evellyn mengenakan seragam sekolahnya dan pergi begitu saja tanpa berpamitan ataupun membuat sarapan seperti biasanya. Yansen yang mulai terbiasa itu sedikit merasa kehilangan karena sudah lebih dari seminggu, dia tidak mencicipi masakan Evellyn.


"Husss ada Doni tu," senggol Maria teman sebangku Evellyn.


"Biarin aja. Aku nggak mau berurusan dengan para penggemarnya itu," ujar Evellyn.


"Kamu kenapa nggak jalan aja sama Doni? gadis yang menemuimu waktu itu juga udah nyerah, Doni cuma mau sama kamu," ujar Maria.


"Hai...Eve...kantin yuk?" tanya Doni.


Evellyn menatap kearah Doni dan kemudian menyeringai.


"Bukankah dia memiliki mata-mata disekolah? dia kan nggak suka kalau aku memiliki pacar? kalau begitu aku buat onar saja disekolah, aku ingin lihat dia bisa apa. Kalau dia bisa berbuat semaunya, kenapa aku tidak?" batin Evellyn.


"Don. Aku sedang tidak berminat ke kantin, tapi kalau kamu mau, kita bisa nonton ke bioskop sepulang sekolah." ujar Evellyn tak terduga.


Doni dan Maria yang mendengar itu jadi melongo. Evellyn yang selama ini terkenal cuek dan jutek, tiba-tiba mengajak Doni sang playboy pergi nonton.


"Oke." Jawab Doni antusias.


"Yes. Sepertinya aku bakal menang taruhan lagi," batin Doni.


Seperti janji Evellyn dan Doni. Kedua orang itu pergi nonton kebioskop. Evellyn bisa merasakan kalau setiap pergerakkannya seperti ada yang mengawasi.


Tring

__ADS_1


Sebuah chat masuk kedalam ponsel milik Yansen. Pria itu mengerutkan dahinya, saat melihat foto-foto Evellyn yang bersama dengan seorang pria sebaya sedang memasuki ruangan bioskop.


"Apa maksudnya ini? apa dia berhubungan dengan bocah ingusan itu?" gerutu Yansen.


Yansen menyuruh orang kepercayaannya untuk mencetak semua foto yang dia dapat. Hari ini Yansen memutuskan pulang lebih awal, karena ponsel Evellyn sama sekali tidak bisa dihubungi.


"Ckk..kemana anak itu? ini sudah kelewatan! sudah jam 10 malam tapi masih kelayapan," ujar Yansen.


Bruummmm


Bruummmm


Sebuah motor sport warna hitam berhenti tepat didepan pagar rumah Yansen. Yansen sedikit menyibak tirai rumahnya, dan mengintip apa yang Evellyn lakukan bersama Doni.


"Makasih ya Don, aku senang banget hari ini." ucap Evellyn.


"Sama-Sama. Lain kali kita bisa nonton lagi kalau kamu mau," ujar Doni.


"Tentu."


"Masuklah!" Doni mengusap puncak kepala Evellyn.


"Emm." Evellyn mengangguk.


Yansen mengepalkan tangannya saat melihat pemandangan manis itu. Entah mengapa dadanya jadi bergemuruh hebat.


Ctaaakkkk


Yansen menyalakan lampu ruang tamu, yang membuat langkah Evellyn jadi terhenti seketika.


"Apa kamu pikir ini penginapan gratis? sehingga kamu melupakan semua kewajibanmu dirumah ini? apa kamu sadar kalau kamu hanya menumpang dirumah ini?" ujar Yansen tanpa perasaan.


Greppppppppp


Evellyn mengepalkan tangannya, perkataan Yansen begitu menghinanya sehingga membuat hatinya berdenyut sakit, air matapun dengan cepat berkumpul dikelopak matanya.


Tanpa menoleh, Evellyn mengeluarkan kata-kata telak yang membuat Yansen jadi terdiam seketika.


"Semua urusan dirumah ini memang kewajibanku. Tapi aku tidak memiliki kewajiban untuk melayani majikan diatas ranjang." Jawab Evellyn yang kemudian pergi begitu saja sembari membawa air matanya yang sudah menetes ke pipinya.


Yansen mengusap wajahnya berkali-kali. Karena perasaannya yang kacau, tanpa sadar dia sudah mengucapkan kata-kata yang menyinggung perasaan Evellyn.


Sudah 2 minggu sejak kejadian malam itu, dua minggu pula Evellyn menghindari Yansen. Semua kewajibannya dia lakukan sebagaimana mestinya, tapi setelah selesai dirinya langsung masuk kamar, atau langsung pergi kesekolah.

__ADS_1


"Kamu kenapa sih? sudah dua minggu ini nggak nyentuh aku, aku kangen kamu Yansen," ucap Ivanka dengan manja.


"Aku sedang tidak berselera."


"Kamu yakin nggak selera?" Ivanka melepaskan semua kainnya dan menggoda Yansen hingga pria itupun menyerah.


Dalam pikirannya yang kacau, dia hanya bisa menuruti nalurinya. Namun anehnya, dipikirannya selalu ada tentang Evellyn yang akhir-akhir ini menghindari dirinya.


Tes


Tes


Air mata Evellyn merebak tidak bisa dikendalikan. Gadis itu benar-benar merasakan sakit, saat tidak sengaja mendengar suara-suara aneh dari kamar Yansen.


"Bodoh sekali kamu berharap dari bujang lapuk itu Evellyn. Dengan wanita itu masih dirumah ini saja, itu sudah membuktikan kalau kejadian malam itu sama sekali tidak berpengaruh padanya. Kamu masih muda, pria tua itu sama sekali tidak layak untuk daun muda sepertimu,"


Evellyn melangkah pergi dari pintu kamar pria itu. Meskipun hatinya mengatakan itu, tapi air matanya jauh lebih jujur hingga membuat mata gadis itu membengkak dipagi harinya.


"Eve. Aku suka sama kamu, kamu mau nggak jadi pacarku?" tanya Doni.


"Aku mau Don." Jawab Evellyn.


Evellyn tidak perduli Yansen akan mengamuk tidak jelas. Seperti 3 hari yang lalu, saat pria itu memperlihatkan foto-foto dirinya bersama Doni ditiap kesempatan.


"Yes. Makasih ya Eve? aku sangat bahagia hari ini, apa kamu mau jalan denganku setelah pulang sekolah?"


"Boleh." Jawab Evellyn singkat.


"Kamu senang karena merasa berhasil memenangkan taruhanmu itu bukan? tidak masalah, disini kita sama-sama saling menguntungkan," batin Evellyn.


Evellyn memang sudah tahu sejak lama, kalau Doni sering menjadikan gadis-gadis disekolahnya menjadi bahan taruhan. Tapi Evellyn ingin menjadikan moment itu untuk tujuannya sendiri. Seperti yang sudah-sudah, Doni akan mengumumkan pada semua orang bahwa mereka tengah berpacaran. Dan selama itu pula tidak akan ada yang berani mengganggu Evellyn disekolah.


"Apa maksudmu berpacaran dengan bocah ingusan itu?" tanya Yansen.


Evellyn menatap tajam kearah Yansen, bahkan terlampau tajam hingga membuat Yansen jadi sedikit salah tingkah.


"Bukankah itu bukan urusan tuan?"


"Apanya yang bukan urusanku? aku ini walimu,"


"Wali? wali yang berhak meniduri? setelah itu memperlakukannya seperti sampah?"


Yansen terdiam, disinggung masalah itu Yansen selalu tidak bisa berkutik.

__ADS_1


__ADS_2