
Setelah membuat kesepakatan bisnis, dan melewati liburan yang panjang, akhirnya Yansen dan teman-temannya kembali ke kota J. Yansen juga sudah bisa menerima, kalau gadis yang dia lihat berkali-kali merupakan halusinasinya.
"Eve. Jika kamu butuh waktu hingga 10 tahun untuk bersembunyi, maka aku akan selalu setia menunggumu. Sampai aku melihatmu bahagia dengan orang yang kamu pilih. Tapi sangat besar harapanku, agar kamu bisa kembali padaku." batin Yansen.
Yansen menatap pemandangan indaj yang ada dibawahnya dari atas peswat. Saat melihat kebawah sana, dirinya baru merasa kalau sebenarnya dirinya manusia kecil dan lemaj. Namun karena merasa hebat, dirinya lupa bahwa ada dzat yang maha pengatur dan membolak-balikkan perasaan manusia.
*****
7 Tahun kemudian....
Evellyn semakin tumbuh menjadi gadis cantik dan dewasa. Sudah 10 tahun lamanya, sejak dirinya memutuskan pergi ke kota Palembang untuk melanjutkan pendidikkanya menjadi seorang dokter. Dan perjuangan itu tidak berakhir dengan sia-sia, kini dirinya tidak hanya menyandang gelar seorang dokter umum, tapi dia juga sudah melanjutkan kembali pendidikkannya untuk mengambil spesialis dokter bedah.
Karena kecerdasan Evellyn diatas rata-rata, pendidikkan yang harusnya ditotal selama 12 tahun, bisa dia selesaikan dengan cepat menjadi total 10 tahun.
"Ah...akhirnya aku bisa kembali bertemu anakku. Putra semata wayangku tumbuh dengan baik dan tampan. Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengannya," ucap Evellyn lirih.
Evellyn memandang disekitar area bandara soekarno hatta. Gadis itu ingin mencari keberadaan putranya dan juga Orland yang berjanji akan menjemputnya.
"Mama...." teriak seorang anak yang menghentikan langkah Evellyn, saat ingin mencari kearah lain.
Evellyn membalikkan badannya seketika, air matanya jatuh saat melihat seorang anak laki-laki, dengan jarak beberapa meter memasang senyum terbaik kearahnya.
"Ah...putraku, putra yang kukandung selama 9 bulan lebih. Tapi seluruh wajahnya malah cetakkan papanya. Bahkan mereka seperti kembar jika didekatkan," batin Evellyn dengan air mata yang membasahi wajahnya.
Evellyn merentangkan tangannya, Samuderapun segera masuk kedalam pelukkan Evellyn. Evellyn mencium tiap inci wajah putranya, sama seperti saat dirinya meninggalkan putranya 10 tahun yang lalu.
"Maaf," Evellyn terisak.
"Maaf sudah menghilangkan waktu kebersamaan kita selam 10 tahun terakhir. Tapi mama selalu mengingatmu dan menyayangimu. Hikz..." Evellyn semakin mengeratkan pelukkannya pada Samudera.
Samudera meraih kedua sisi wajah Evelliyn, dan menghapus air mata Evellyn dengan kedua ibu jari mungilnya. Anak yang hampir beranjak remaja itu, tampak begitu tegar tanpa mengeluarkan air mata sedikitpun. Evellyn menatap wajah putranya, wajah yang mengingatkannya pada seseorang yang dia anggap sudah menghancurkan hidupnya.
"Mama jangan sedih ya? Samudera ngerti kok. Kata Papa Orland mama sedang belajar jadi dokter disana, mama ingin membuat Samudera jadi bangga punya mama."
"Apa Samudera bangga punya mama seorang dokter?" tanya Evellyn.
"Tentu saja. Bukankah disana mama juga bekerja sambil sekolah? kata papa Orland mama bekerja uangnya buat Samudera sekolah nanti,"
"Iya. Papa Orland benar. Jadi kamu harus sekolah yang rajin ya?"
"Emm." Samudera mengangguk.
__ADS_1
"Kita ngobrol sembari pulang saja," ujar Orland.
Evellyn, Samudera dan Orland akhirnya pulang bersama.
"Apa mama akan pergi lagi nanti?" tanya Samudera yang sudah merebahkan diri dipangkuan Evellyn.
"Tidak. Mama akan cari kerja disini, kita nggak akan terpisahkan lagi." Jawab Evellyn.
Orland melirik kearah kaca, yang memperlihatkan Evellyn dan Samudera yang tengah bercengkrama.
"Evellyn semakin cantik dan dewasa," batin Orland
"Kakak apa kabar? apa selama aku pergi, kakak sudah menikah?" tanya Evellyn
Mendengar pertanyaan itu, Orland hanya menanggapinya dengan senyuman. Pria yang sudah berusia 44 tahun itu tidak berubah sama sekali bagi Evellyn. Tetap tampan dan terlihat muda, meski usianya sudah 10 tahun lebih tua dari saat dirinya meningalkan Orland waktu itu.
"Kok kakak malah ketawa sih? Eve serius nanya ini?" tanya Evellyn.
"Buat apa ada acara menikah segala. Kakak sudah punya keluarga yaitu kamu dan Samudera. Bagi kakak itu sudah cukup," ujar Orland.
"Eh? maksud kakak Orland bagaimana ya? apa dia ini pria penganut anti menikah, sama seperti si brengsek itu?" batin Evellyn.
"Papa. Samudera pengen makan seafood dong," ujar Samudera.
"Bahkan makanan kesukaannya saja, sama persis kayak si bajingan itu. Ugghhh..ini benar-benar nggak adil. Minimalkan hidung atau matanya mirip aku, ini kenapa semuanya mirip dia?" batin Evellyn kesal.
"Oke baiklah. Apa kamu juga ingin makan seafood Eve? kalau nggak pengen, kita cari restaurant yang menjual berbagai menu saja. Tapi kalau kamu tidak ada masalah, kita bisa mampir ke restaurant khusus seafood saja."
"Aku nggak masalah kok, dimana aja oke."
"Ngomong-Ngomong kamu rencananya ingin masukin lamaran dimana?" tanya Orland.
"Rumah sakit internasional hospital. Aku lihat ada lowongan untuk dokter spesialis bedah disana."
"Apakah kamu tidak masalah kalau bertemu dia lagi?"
"Bukankah sudah waktunya aku muncul saat ini?"
"Baguslah. Kalau begitu aku ingin kamu muncul dihadapannya secepatnya,"
"Maksudnya bagaimana kak?"
__ADS_1
"Aku ingin kamu membuat dia tidak memiliki apapun."
"Jadi maksud kakak, aku harus mendekati dia kembali? membuatnya jatuh cinta padaku lalu meninggalkan dia setelah mengeruk hartanya?"
"Tepat!"
"Aih...aku cuma asal menebak. Aku nggak mau alurku dengannya seperti kehidupan di sinetron. Masih banyak cara lain, buat pria itu tumbang selamanya dari dunia ini. Tapi untuk pura-pura bersama dengannya, aku nggak akan mau."
"Lagipula dia sudah menikah dan memiliki anak bukan? kakak mau jadikan aku seorang pelakor? mending aku suntik mati saja dia," sambung Evellyn.
"Yansen belum menikah." Jawab Orland yang membuat Evellyn jadi terdiam seketika.
"Dia belum menikah?" batin Evellyn.
Entah Evellyn juga tidak mengerti, mengapa ada perasaan bahagia saat mendengar Yansen masih seorang diri saat ini.
"Oh...ayolah Evellyn, yang benar saja. Ini sudah 10 tahun lebih, tapi kamu masih belum bisa move on juga. Bukankah hatimu ini yang brengsek?" batin Evellyn.
"Entahlah. Aku tidak punya pemikiran kearah situ. Aku malah berencana ingin belajar ilmu bela diri, agar aku bisa...."
Kata-Kata Evellyn terhenti, sejenak dia lupa bahwa saat ini ada Samudera didekatnya. Dia tidak ingin putranya suatu saat tahu, bahwa dirinya yang menghabisi papa kandungnya.
"Mama. Siapa Yansen?" tanya Samudera yang ternyata menyimak semua percakapan Evellyn dan Orland.
"Oh ya Tuhan...akhirnya datang juga pertanyaan ini. Aku harus jawab apa?"
Evellyn melirik kearah kaca yang memperlihatkan wajah Orland. Evellyn seolah ingin mencari pertolongan.
"Dia...."
"Apa dia papaku?" tebak Samudera.
Evellyn menghela nafasnya, dia tidak mungkin membohongi putranya terus menerus, dan dia juga tidak mungkin menanamkan kebencian yang sama seperti dirinya. Tapi Evellyn juga bingung, bagaimana harus menjawab semua pertanyaan Samudera nantinya? Evellyn tahu Samudera anak yang cerdas, rasa ingin tahunya sangat tinggi. Jadi meskipun dia berbohong, dia bisa mencari tahu sendiri tentang Yansen karena pria itu cukup populer dikalangan pengusaha.
"Ya." Jawab Evellyn dengan wajah sedih.
"Kenapa wajah mama mendadak sedih saat membahas orang itu? sebenarnya seperti apa hubungan mereka? kenapa sampai detik ini pria itu tidak pernah menemuiku?" batin Samudera.
Begitu banyak pertanyaan dibenak Samudera yang ingin dia tanyakan pada Evellyn. Tapi dia ingin bicara secara pribadi dengan ibu yang sudah melahirkannya itu.
TO BE CONTINUE...🤗🙏
__ADS_1