Belenggu Mafia Lapuk

Belenggu Mafia Lapuk
23.Bujang lapuk vs Perawan tua


__ADS_3

"Bagaimana keadaan anda?" tanya Yansen.


"Sudah membaik, dokter bilang kalau perkembangannya semakin baik, saya diperbolehkan buat rawat jalan." Jawab Andre.


"Baguslah. Semakin cepat anda sembuh, semakin cepat anda bertemu dengan orang penting itu."


"Sebenarnya siapa orang penting yang anda maksud?"


"Patuhlah selama 6 bulan ini. Anda harus menjalani pengobatan rutin selama 6 bulan, setelah itu anda bisa dinyatakan sembuh kalau memang hasilnya baik."


"Baiklah."


Yansen keluar dari ruangan itu dan pulang kerumahnya. Pria itu memang belum pulang kerumah, setelah pulang bekerja. Yansen menyempatkan diri mampir ke rumah sakit untuk menjenguk orang tua Evellyn.


"Tuan sudah pulang?" tanya Evellyn.


"Sayang. Kamu sudah pulang?" tanya Ivanka sembari menuruni anak tangga dengan cepat.


Brukkk


Ivanka berhambur kepelukkan Yansen namun semua matanya mengarah pada Evellyn. Terlihat sekali gadis itu sedang memprovokasi Evellyn dengan sengaja, hingga Evellyn terpaksa memutar bola mata dengan malas.


"Pasangan isi memang sejoli nggak tahu malunya. Kalau di ibaratkan bukan seperti piring dan sendok, tapi seperti pantat dengan wc umum. sama-sama menjijikkan!" batin Evellyn.


"Aku merindukanmu," ujar Ivanka.


"Aku juga merindukan uangmu," ujar Evellyn menirukan gaya Ivanka dengan sebuah spatula.


"Kamu pasti gerah, kita mandi bareng yuk?" ajak Ivanka.


"Iya sayang. Agar aku bisa menenggelamkanmu didalam bak," ujar Evellyn menirukan dengan mulutnya namun tanpa suara.


"Baiklah," ujar Yansen.


Dua sejoli itupun naik keatas bersama, dengan Ivanka bergelayut manja dilengan pria itu.


"Huu..pasangan menyebalkan! lihat kelakuan wanita itu, sudah persis kayak anak monyet. Bergelantungan terus," cibir Evellyn.


"Rasakan ini, aku akan membuat menu makan malam seperti menu di neraka. Jadi kalian bisa nginap di closed berdua," gerutu Evellyn.


Waktu menunjukkan pukul 7 malam, saat Ivanka dan Yansen turun kebawah untuk makan malam.


"Sayang. Aku dengar kantormu akan mengadakan acara ulang tahun perusahaan ya?"


"Ya. Pekan depan." Jawab Yansen singkat sembari menarik kursi dan mendudukkinya.


"Aku ingin kamu memperkenalkan aku sebagai pasanganmu disana,"

__ADS_1


Yansen mengerutkan dahinya, kalau dia melakukan itu, itu artinya dia mengakui kalau Ivanka akan menjadi wanita masa depannya. Padahal dirinya sama sekali tidak kepikiran soal itu.


"Maaf tidak bisa. Itu seolah aku mengakui kalau kamu itu nyonya dari Yansen."


"Apa kamu tidak mau membuat diriku senang sedikit saja?"


"Aku cukup membuatmu senang diatas ranjang saja."


"Ckk...apa-apaan sih obrolan si bujang lapuk dengan perawan tua ini? apa mereka menganggapku patung disini? obrolan ranjang dibawa kemeja makan, dasar nggak punya ahlak," batin Evellyn yang bersungut kesal.


"Kamu melukai hatiku Yansen,"


"Sudahlah. Kamu kan tahu semua prinsip-prinsipku, seharusnya kamu jangan terlalu banyak menuntut."


"Sebenarnya hubungan seperti apa yang mereka jalani ini? kenapa sang pria terlalu mendominasi? apa hubungan merek hanya sebatas ranjang saja?"


Evellyn menyendokkan nasi untuk Yansen dan Ivanka. Pasangan itu makan dalam diam, sampai sesuatu tiba-tiba membuat mereka bersuara seketika. Sementara Evellyn sudah kabur kedalam kamarnya.


"Ah...pelayan sialan itu, apa dia ingin membunuh kita? ini sama sekali tidak layak makan." hardik Ivanka, sembari meminum air hingga tandas.


"Tidak biasanya Evellyn masak seperti ini? apa dia sengaja melakukannya?" batin Yansen.


"Aku harus memberinya pelajaran!" ujar Ivanka yang tiba-tiba berdiri dari kursi, namun dicekal oleh Yansen.


"Hanya aku yang boleh memberinya pelajaran. Tidak seorangpun boleh menyentuhnya apalagi memperdayanya. Apa kamu mengerti?"


Ivanka menghentakkan kakinya dan naik ke kamar. Yansen menghela nafas, pria itu mengurungkan niatnya untuk makan malam, karena makanan itu sama sekali tidak layak untuk lambungnya.


"Sial. Kenapa dia memakai pakaian seperti itu?"


Evellyn yang lupa mengunci pintu, sama sekali tidak menyadari kalau Yansen sudah masuk kedalam, karena dirinya sedang memejamkan mata sembari mendengarkan musik.


Bisa Yansen lihat dada Evellyn yang membusung, dan juga paha Evellyn yang mulus, karena gadis itu hanya mengenakan tanktop dan celana hotpant.


Ctakkkk


Yansen menyentil dahi Evellyn yang tengah memejamkan mata dengan posisi terlentang. Mata Evelly terbelalak saat mendapati Yansen sudah berada di kamarnya.


"Tu-Tuan?"


Yansen menaikkan alisnya seolah mengintimidasi gadis itu, padahal sebenarnya dia sangat sulit berkonsentrasi, karena Evellyn benar-benar terlihat seksi dimata Yansen.


"Apa yang kamu lakukan dengan makananku? apa kamu ingin meracuniku dan kabur dengan membawa hutangmu?"


"Mana ada seperti itu? lagian ada apa dengan masakkanku?"


"Apa kamu sengaja memasukkan cabai satu ton kedalam masakkanmu?"

__ADS_1


"Ti-Tidak... memangnya terlalu pedas ya?"


"Ganti bajumu dan turun kebawah, buatkan aku nasi goreng sekarang juga."


"Baju?" ucap Evellyn lirih.


"Kenapa? kamu ingin menggoda tuan rumahmu? mana aku tertarik dengan gadis kecil sepertimu! cepatkah turun, aku sudah sangat lapar."


Yansen berbalik badan dan kembali turun kebawah. Sementara Evellyn yang baru menyadari kalau saat ini dirinya sedang berpakaian sexy, mengutuki kebodohannya.


"Siapa juga yang mau menggoda bujang lapuk sepertimu. Heh...bilang tidak tertarik dengan gadis kecil, bilang saja seleramu yang bermasalah karena menyukai perawan tua," gerutu Evellyn sembari mengganti pakaiannya.


Setelah selesai, Evellyn segera bergegas turun dan mulai menyiapkan bahan untuk membuat nasi goreng. Sementara Yansen tampak menunggu di meja makan, sembari bermain ponsel.


Setelah menunggu kurang lebih 5 menit, nasi goreng buatan Evellyn siap untuk Yansen santap.


"Duduklah! aku ingin bicara denganmu," ujar Yansen.


Evellyn duduk tepat diseberang kursi Yansen.


"Apa kamu ingin bertemu ayahmu?"


Evellyn sangat terkejut saat mendengar pertanyaan Yansen.


"Tentu saja aku ingin. Itu harapan terbesarku, kapan tuan akan mempertemukan aku dengan ayahku?"


"Secepatnya. Paling lama 6 bulan,"


"6 bulan? itu terlalu lama."


"Lebih baik lama daripada tidak sama sekali," ujar Yansen sembari memasukkan sendok demi sendok nasi goreng kedalam mulutnya.


Evellyn terdiam. Dia tahu hanya Yansen harapan dia satu-satunya agar bisa bertemu dengan ayahnya itu.


"Sebelum kamu bertemu dengan ayahmu, sebaiknya kamu tanda tangan kontrak dulu lalu setelahnya aku akan membuatmu bertemu dengan ayahmu."


"Tanda tangan kontrak?"


"Ya. Aku tidak mau mengambil resiko, mengeluarkan uang tapi ujung-ujungnya kamu malah kabur."


"Ya sudah, mana yang mau aku tanda tangani?"


"Besok." Jawab Yansen singkat.


"Yang terjadi maka terjadilah. Aku tidak perduli lagi ending hidupku mau seperti apa nantinya. Yang terpenting aku dan ayahku secepatnya bisa bersama lagi," batin Evellyn.


"Bagus gadis kecil. Jangan harap bisa lepas dariku dengan mudah. Aku sudah terbiasa denganmu, jadi aku ingin kamu berada disisiku selamanya meskipun tanpa status,"

__ADS_1


Evellyn dan Yansen larut dalam pemikiran masing-masing.


TO BE CONTINUE...🤗🙏


__ADS_2