
"Apa kamu sungguh baik-baik saja bocil? kalau kamu masih kurang sehat juga, kita pulang saja hari ini," tanya Zavier.
"Kok pulang sih? kalau kalian mau pulang, pulang saja sendiri. Biarkan aku dan Yansen saja disini," ujar Ivanka tidak senang.
"Eh? aku baik-baik saja kok kak. Aku sudah minum obat semalam, jadi sudah agak mendingan. Jangan karena aku, liburan kalian jadi terganggu."
"Seharusnya sejak awal tidak usah ikut saja kalau memang kurang enak badan, merepotkan!" tutur Ivanka sembari berlalu dari hadapan semua orang.
"Jangan di ambil hati, dia orangnya memang begitu," ujar Owen.
"Iya kak," Evellyn menyunggingkan senyumnya.
Yansen pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Pria itu seolah tidak perduli apa yang terjadi pada Evellyn.
"Kamu kok cuek sekali dengan si bocil? gitu-gitu dia pelayan kamu loh," ujar Diego sembari menghampiri Yansen yang tengah memandang laut lepas diatas kapal.
"Jangan berlebihan. Maaf saja, aku memang tipe orang yang kurang bisa mengekspresikan diri seperti kalian. Lagipula dia seorang gadis, aku tidak boleh sembarangan menyentuhnya."
"Cih...lagak loe nggak boleh sembarangan nyentuh wanita. Tapi nyelup boleh?"
"Ya beda dong. Liat-Liat situasi kita sedang ada dimana,"
"Cewek loe tu suruh rem dikit dong kalau ngomong, nggak enak banget kalau dia udah ngeluarin suara, kasihan bocil."
"Mana bisa aku nyuruh dia diem. Kalian kan tahu sendiri seperti apa Ivanka orangnya,"
"Paling nggak kamu perhatian sedikit ama si bocil,"
"Ya, nanti akan aku perhatikan. Sekarang lebih baik loe temani saja gundik loe itu, puas-puasin besok kita sudah balik soalnya."
"Keseringan sakit juga pinggangku, ntar malam aja tempur lagi," ujar Diego terkekeh.
"Dasar mesum,"
"Kayak loe nggak aja Yan."
"Entah kenapa aku jadi hilang selera terhadap Ivanka," batin Yansen.
Yansen beberapa kali menguap dengan mata yang sedikit memerah.
"Kebanyakan ya tadi malam? nguap terus," ujar Diego.
"He'eh...tidur dulu gue," ujar Yansen sembari berdiri dari duduknya.
"Ya. Buat cari modal untuk nanti malam ya?" tutur Diego sembari nyengir.
Yansen tidak menggubris ucapan Diego, pria itu melenggang pergi menuju kamarnya.
"Darimana," tanya Ivanka.
"Cari angin diatas,"
Grepppp
Ivanka memeluk Yansen dari belakang, dengan nakalnya salah satu tangan Ivanka menelusup masuk kedalam kain segitiga milik Yansen.
"Kamu kenapa? kok dia nggak bangun?" tanya Ivanka yang merasa heran, karena benda kebanggaan milik Yansen sama sekali tidak bangun meskipun dirinya sudah memberikan sentuhan.
__ADS_1
"Aku sedang tidak mood." Jawab Yansen sembari melepaskan tangan Ivanka dari dalam sana.
"Kamu sakit?"
"Iya. Aku sedikit tidak enak badan," dusta Yansen.
Ivanka menghela nafas, kemudian ikut berbaring disamping Yansen.
"Ya sudah, kamu istirahat saja. Apa mau kuambilkan obat?"
"Tidak perlu. Saat menuju kamar, aku sudah minum obat."
"Ya sudah tidurlah!"
"Emm." Yansen mengangguk dan memejamkan mata.
Yansen yang memang kurang tidur, cepat sekali terdengar dengkuran dari pria itu. Ivanka sedikit kesal, karena saat ini dirinya benar-benar sedang bergairah.
Waktu menujukkan pukul 7 malam saat Yansen mulai terbangun dari tidurnya.
"Kamu sudah bangun?" tanya Ivanka.
"Emm."
"Cepat bersihkan dirimu, kita akan makan malam bersama,"
"Emm."
Yansen segera beranjak dari tempat tidur dan masuk kedalam kamar mandi. Setelah menghabiskan waktu hampir 15 menit, Yansen keluar dengan hanya mengenakan handuk.
Ivanka menatap tubuh atletis kekasihnya itu dengan seksama. Tubuh yang selalu dia kagumi dan tubuh yang sudah mengungkungnya berkali-kali.
"Sepertinya aku harus mengajak dia berkomitment. Aku tidak bisa kalau dia sampai dimiliki orang lain. Sepertinya aku benar-benar sudah jatuh cinta padanya. Aku tidak ingin hubungan ini hanya sebatas patner diatas ranjang saja."
"Sayang. Ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu,"
"Nanti setelah makan malam kita bicara,"
"Hah...baiklah."
Yansen dan Ivanka pergi kemeja makan secara bersama. Lagi-Lagi tidak ada Evellyn disana.
"Kemana bocah itu? apa dia masih sakit?" batin Yansen.
"Kayaknya bocil masih sakit ya?" ujar Zavier.
"Biar aku yang antar makan malam buat dia," ucap Diego."
Diego mengambil sebuah piring dan mengisinya dengan nasi dan lauk pauk. Pria itu kemudian melenggang pergi untuk memberikan makanan dan minumam juga obat untuk Evellyn.
Tok
Tok
Tok
"Eve,"
__ADS_1
"Masuk kak!"
Diego menekan handle pintu dan mendapati Evellyn tengah meringkuk didalam selimut.
"Kakak bawain makanan dan obat buat kamu."
"Maaf ya kak, Eve jadi merepotkan kalian semua. Maaf Eve belum bisa berkumpul bersama kalian, masih pusing soalnya,"
"Tidak masalah. Sebaiknya kamu segera makan, habis itu minum obat kemudian tidur."
"Ya kak. Makasih ya kak,"
"Emm." Diego mengangguk.
Diego kemudian pergi dari kamar Evellyn dan kembali kemeja makan.
"Bagaimana? apa dia masih sakit?" tanya Zavier.
"Masih sedikit pusing katanya." Jawab Diego.
Mereka pun makan dalam diam, setelah selesai makan malam, merekapun kembali ke kamar mereka masing-masing.
"Sayang. Aku ingin bicara serius sama kamu," ujar Ivanka sembari berbaring dilengan kekar Yansen.
"Tidakkah kamu bosan dengan kehidupan yang seperti ini?"
"Langsung saja pada intinya," ujar Yaneen.
"Apa sebaiknya kita berkomitmen saja? usia kita tidak lagi muda. Usiamu sudah 34, sementara aku sudah 30. Apa kita benar-benar tidak menginginkan anak sebagai penerus keturunan?"
"Kenapa kamu tiba-tiba membicarakan soal ini? kamu kan tahu sendiri aku paling tidak suka berkomitment terlebih ada anak-anak. Aku tidak membutuhkan semua itu, bagiku teman tidur saja sudah cukup."
"Lalu bagaimana denganku? apa disaat aku sudah tua, kamu akan membuangku begitu saja?"
"Seharusnya kamu menyadari hal itu dari awal. Hubungan kita hanya sebatas patner ranjang dan tidak lebih. Jangan pernah melibatkan perasaan dalam hal ini, karena aku tidak suka itu."
"Yansen. Apa dihatimu sungguh tidak ada aku didalamnya? kita berhubungan hampir 7 tahun lamanya, apa selama itu tidak ada rasa cinta sedikitpun untukku?"
"Maaf Ivanka. Aku tidak punya banyak waktu memikirkan hal remeh seperti itu. Bagiku cukup melegakan yang dibawah pusar, dan mencari uang yang banyak. Aku tidak ingin dipusingkan dengan urusan percintaan, apalagi anak-anak."
"Jadi Ivanka. Inti dari ucapanku adalah, kamu bisa mencari pria yang mau berkomitment denganmu. Kalau aku sampai kapanpun tidak akan mau."
"Tapi aku hanya mencintaimu. Maaf Yansen, tanpa sadar aku sudah melibatkan perasaanku dalam hubungan ini. Aku baru sadar, ternyata aku takut kehilanganmu."
"Sebelum kamu mengatakan itu, sebaiknya kamu pahami dulu, apa benar kamu mencintaiku, atau ada hal lain yang kamu cintai?"
"Maaf Ivanka. Jujur aku katakan, meskipun kita berkomitment aku merasa kita tidak cocok bersama. Aku hanya cocok denganmu saat diatas ranjang."
"Jadi selamanya aku hanya akan kamu jadikan pemuas saja?"
"Bisa dibilang begitu. Kamu pasti sudah tahu bukan, ada berapa banyak gadis yang aku campakkan karena ingin mengajakku berkomitmen. Apa kamu juga ingin demikian?"
"Hah...ya sudahlah kalau kamu belum mau. Tapi Yansen, aku ingin selalu mencoba mengetuk pintu hatimu. Aku yakin suatu saat kamu akan melihatku sebagai wanita sungguhan."
"Terserah saja," ujar Yansen.
Yansen berbaring ditempat tidur dan berpura-pura memejamkan mata. Setelah Yakin Ivanka tertidur lelap, Yansen keluar karena ingin melihat sesuatu.
__ADS_1
TO BE CONTINUE...🤗🙏