Belenggu Mafia Lapuk

Belenggu Mafia Lapuk
22. Taruhan


__ADS_3

"Ah...senangnya hari ini bisa masuk sekolah lagi," ujar Evellyn sembari memperhatikan penampilannya lewat cermin yang ada di kamarnya.


"Pasangan mesum itu udah bangun belum ya? nggak usaha pamit kali ya? buat memo aja deh,"


Evellyn kemudian menulis disecarik kertas dan menyelipkannya dibawah sepiring nasi goreng seafood buatannya. Evellynpun pergi sekolah dengan tenang.


"Kamu mulai masuk kantor hari ini?" tanya Ivanka saat melihat Yansen tengah memasang dasi.


"Ya. Sudah terlalu lama aku cuti, ada banyak pekerjaan yang menantiku."


"Aku ikut ya?" tanya Ivanka.


"Ckk...jangan aneh-aneh, aku nggak pernah bawa wanita ke kantor. Apa kamu ingin menciptakan rumor?"


"Loh tambah bagus dong, jadi mereka tidak akan mengira kalau CEO mereka seorang penyuka sesama jenis."


"Aku tidak butuh pembuktian apapun.Aku hanya ingin bekerja dengan tenang, tanpa ada gangguan apapun."


"Jadi kamu menganggap aku seorang pengganggu?"


"Huffftt...please ...jangan merusak moodku bertengkar sepagi ini. Ini hari pertamaku masuk kerja, jadi jangan mengacaukannya."


Ivanka terdiam. Dia tidak ingin membuat Yansen marah padanya.


"Ya sudah hati-hati. Tapi kalau aku bosan bagaimana?"


Yansen mengerti kalau Ivanka sudah bicara begitu, itu artinya gadis itu ingin menghabiskan waktu pergi berbelanja.


Yansen kemudian menyodorkan sebuah kartu berwarna gold, agar gadis itu bisa tutup mulut dan tenang.


"Ah...sayangku, kamu memang priaku yang paling pengertian." ujar Ivanka sembari memeluk pria tampan itu.


"Aku pergi dulu," ujar Yansen.


"Jangan pulang telat ya? aku pasti beli lingerie baru untukmu malam ini," bisik Ivanka.


Yansen tidak menjawab ucapan Ivanka. Pria itu hanya mencium kening gadis itu, dan kemudian pergi turun kebawah.


"Lihat saja, aku pasti bisa membuatmu berubah pikiran Yansen. Aku yakin kita ini memang berjodoh," ucap Ivanka lirih.


Yansen yang melewati meja makan, tidak sengaja melihat dua piring tertata diatas sana. Yansen kemudian mendekati meja, dan mendapati dua piring nasi goreng seafood sudah tersedia disana.


Yansen menarik secari kertas yang terselip dibawah piring, kemudian membacanya.


"Tuan maaf tidak pamitan lebih dulu, soalnya takut ganggu. Ini aku buatkan nasi goreng seafood untukmu dan untuk gadis kesayanganmu itu. Dimakan ya?"


Yansen menyunggingkan senyum saat membaca memo singkat dari Evellyn. Pria itu kemudian menyelipkan kertas itu kedalam tas kerjanya dan mulai menyantap nasi goreng buatan Evellyn.


Setelah selesai, Yansen kemudian pergi ke kantor dengan mobil mewahnya. Sementara itu, disekolah Evellyn lagi-lagi mendapat masalah baru. Pasalnya ada seorang siswa yang diam-diam memberikannya surat seminggu yang lalu. Namun naas, surat yang diletakkan dibawah meja itu ditemukan seseorang, yang ternyata juga menyukai si pengirim surat.


"Kamu ambil saja dia buatmu, aku sama sekali tidak tertarik dengan dia," ujar Evellyn dengan malas.


"Beneran ya? jangan munafik loh, nanti bilangnya nggak suka, tahu-tahu jalan dibelakangku," ujar Meysara.


"Aduh Mei. Aku kesini niat buat belajar, bukan buat pacaran. Lagipula aku juga sudah punya cowok kok," dusta Evellyn.


"Sungguh? awas kalau bohong ya?"

__ADS_1


"Iya. Buat apa aku bohong. Lagian ya, coba kamu pikir, aku kan sudah tidak masuk sekolah selama satu minggu. Jadi intinya bukan aku yang suka dia kan? dia nggak bisa paksa aku, aku sudah putuskan tidak mau nerima dia jadi pacarku."


"Baguslah. Jadi aku punya kesempatan buat deketin dia."


"Tembak saja duluan. Sekarangkan nggak jaman pria duluan yang nembak,"


"Nggak ah malu. Aku deketin dia dulu aja, lagian dia juga baru putus sama Gea. Jadi butuh waktu kan?"


"Butuh waktu apanya? baru putus udah ngirim surat untuk gadis lain. Kalau aku sih sudah bisa baca, seperti apa pria yang kamu sukai itu."


"Ya wajar Ev. Dia kan cowok populer disekolah, jago basket, ganteng, dan tajir. Pasti cewek-cewek ngantri buat jadi pacar dia, termasuk aku."


"Jadi misalkan kamu cuma dijadikan pacar selama satu minggu juga nggak apa-apa?"


"Ya nggak apa, yang penting bisa ikutan populer kayak mantannya. Lagian aku yakin, aku bisa lebih dari satu minggu. Bahkan mungkin bisa untuk selamanya."


"Aihh...cinta buta ini namanya."


"Kamu yakin nggak ada cowok yang kamu sukai di sekolah ini?"


"Emm...siapa ya? emm...kalau aku sih mending si ega dari cowok incaranmu itu."


"Ega? si kutu buku itu? iyuuuhhhh...nggak banget deh Ev. Ganteng sih, tapi terlalu monoton."


"Ya selera orang kan beda-beda Mey,"


"Gue salamin ya?"


"Sama siapa?"


"Ya sama Ega."


"Oh iya. Memang cowok kamu beda sekolah?"


"Dia sudah kerja."


"Wah pria matang ya?"


"Emm." Evellyn mengangguk, entah mengapa dia jadi membayangkan sosok Yansen yang menjadi kekasihnya itu.


"Kapan-Kapan kenalin dong,"


"Iya."


"Ya udah, aku duluan ya? udah laper soalnya," sambung Evellyn.


"Ya."


Evellyn melenggang pergi, namun saat didepan pintu gerbang, Evellyn dihadang oleh pria yang mengirimi dia surat.


"Kamu mau pulang?" tanya Doni.


"Ya."


"Aku antar ya?"


"Nggak usah, rumahku dekat dari sini."

__ADS_1


"Kamu sudah baca suratku?"


"Sudah."


"Apa jawabanmu?"


"Maaf aku menolakmu."


"Kenapa?"


"Aku sudah punya pacar."


"Siapa? apa dia anak sekolah sini juga?"


"Bukan. Anak luar sekolah."


"Itu berarti kita bisa jalan dong. Kan dia nggak tahu."


Evellyn menatap lekat kearah Doni. Jelas sekali pria didepannya ini bukan pria yang baik.


"Maaf ya Don. Prinsip setiap orang berbeda-beda, mungkin ada segelintir orang mau kamu ajak berbuat serong, tapi tidak denganku. Jadi tolong cari orang lain saja."


Evellyn segera berlalu dari hadapan Doni.


"Sial. Sepertinya aku bakal kalah taruhan ini. Tidak bisa, Evellyn harus aku taklukkan juga. Bisa-Bisa reputasiku sebagai cowok popular jadi meredup, kalau sampai aku gagal memenangkan taruhan ini," batin Doni lirih.


"Dasar cowok sialan. Dia pikir siapa dirinya? apa dia pikir semua wanita mau dia perlakukan seperti itu?" gerutu Evellyn.


Evellyn memperbesar langkahnya agar cepat tiba dirumah. Evellyn bergegas masak karena mengira ada Yansen dan Ivanka dirumah.


Tok


Tok


Tok


"Tuan. Makan siangnya sudah siap,"


Tak ada jawaban dari dalam, yang membuat Evellyn jadi penasaran dan membuka pintu itu. Tak ada siapapun didalam, keadaan kamar itu sungguh membuat Evellyn pusing kepala. Baju yang berserakkan dilantai, dan juga tempat tidur yang berantakan.


"Kemana mereka? apa mereka ini sudah gila? pergi dengan keadaan kamar seperti kapal pecah seperti ini?"


Evellyn kemudian memungut pakaian itu dan mengganti seprei dengan yang baru. Evellyn kemudian keluar setelah kamar itu sudah layak kembali dihuni oleh manusia.


Hampir pukul 5 sore, saat Yansen tiba dirumahnya. Evellyn yang tengah berkutat di dapur sangat terkejut melihat penampilan Yansen yang terlihat tampan dan gagah saat mengunakan jas berwarna hitam. Yansen yang lelah langsung naik ke atas untuk membersihkan diri.


"Apa Ivanka belum pulang?"


"Belum tuan. Aku kira dia pergi bersama tuan,"


"Siapa yang membersihkan kamar?"


"Eh? a-aku. Maaf tuan kalau aku sudah lancang, aku tidak sengaja masuk saat tidak mendengar jawaban dari dalam. Jadi aku tidak sengaja melihat kamar berantakan dan merapikannya," ujar Evellyn gugup.


"Terima kasih."


"Eh?"

__ADS_1


Evellyn tersenyum tipis nyaris tak terlihat. Tanpa Evellyn tahu, Yansen juga sangat senang karena saat dia pulang, kamar sudah dalam keadaan rapi, mengingat Ivanka yang tidaj pernah melakukan itu selama mereka bersama.


TO BE CONTINUE...🤗🙏


__ADS_2