
"Bagaimana keadaannya?" tanya Yansen.
"Sudah dinyatakan sembuh 100%. Tapi meskipun begitu, harus tetap rajin medical chek up, minimal 3 bulan sekali. Jadi kita bisa menilai perkembangan kesehatan pasien ini." Jawab dokter.
"Kapan pasien bisa dibawa pulang," tanya Yansen.
"Sekarangpun bisa."
"Baiklah, biar ku urus dulu administrasinya, nanti akan ada orang-orangku yang akan menjemputnya."
"Baik tuan."
Yansen segera memerintahkan orangnya untuk membawa Andre kesuatu tempat, setelah dirinya menyelesaikan administrasi.
"Dimana ini?" tanya Andre.
"Tuan Yansen membelikan rumah ini untuk tuan tempati." ujar salah seorang anak buah Yansen.
"Untukku? apa ini tidak salah? tapi kenapa?" tanya Andre.
"Masalah alasannya, bisa anda tanyakan sendiri pada tuan Yansen. Kami tidak berani memeberitahukan hal itu pada anda,"
Andre terdiam. Pria itu kemudian melihat-lihat rumah yang tampak baru dibangun. Rumah sederhana tapi tampak indah, karena tanah itu begitu luas dan memiliki taman kecil disana.
"Sebenarnya siapa pria itu? apa tujuan dia menolongku? seingatku aku tidak pernah memilikki kenalan orang-orang penting atau berpengaruh. Aku juga tidak merasa pernah meninggalkan jasa yang besar pada seseorang, sehingga mendapat keberkahan sebesar ini. Jadi siapa orang itu sebenarnya?" ujar Andre lirih.
Andre jadi teringat saat drama yang terjadi pada waktu dirinya dikeluarkan dari rumah Miranda dan putrinya. Wanita itu sempat melawan karena ingin mempertahankan dirinya. Bukan karena sengaja ingin mempertahankan, tapi Miranda ingin menahan Andre karena ingin mendapatkan Evellyn kembali dan menjual gadis itu.
"Hah...dimana kamu nak? apa kamu tahu, kehidupan Ayah sekarang sudah jauh lebih baik. Sekarang ayah sudah sehat dan bertekad akan mencarimu meskipun keujung dunia sekalipun," ujar Andre lirih.
Andre membuka pintu kearah belakang rumah barunya, pintu itu langsung terhubung dengan tanah yang luas. Andre sudah bisa membayangkan seperti apa hari-hari tua yang akan dia isi, Andre sangat suka berkebun, itulah sebabnya dia sangat senang saat melihat pekarangan rumah itu memiliki tanah lebih yang sangat luas.
Sementara itu ditempat berbeda, Evellyn yang tengah mengerjakan PR dikejutkan dengan kedatangan Yansen kedalam kamarnya.
"Ckk...mentang-mentang rumahnya, masuk seenaknya saja. Apa tangannya itu akan patah, kalau masuk ketuk pintu dulu?" batin Evellyn.
"Tanda tangani ini," ujar Yansen tanpa basa basi melemparkan sebuah map berwarna kuning diatas buku pelajaran Evellyn.
"Apa ini?" tanya Evellyn.
"Kontrak yang pernah kita bicarakan waktu itu."
Evellyn mengerutkan dahinya, dan membaca isi kontrak itu dengan seksama.
"Jadi aku harus bekerja gratis selama dua tahun? dan itu bukan termasuk satu tahun sebelumnya?"
"Ya."
"Jadi intinya aku harus bekerja gratis selama 3 tahun?"
"Ya."
"Kalau aku menolak, aku harus membayar uang sebesar 2 milyar?"
"Ya."
__ADS_1
"Dasar bujang lapuk sialan, apa mentang-mentang usiaku 17 tahun, mengira aku ini bodoh akut? ini pemerasan namanya. Tapi kalau aku menolak, selain membayar uang aku juga nggak bisa bertemu dengan ayah. Hanya ayah keluargaku yang masih aku milikki," batin Evellyn.
Tanpa berpikir panjang, Evellyn segera menanda tangani surat kontrak itu. Meskipun berat, Evellyn tetap melakukannya demi bisa bertemu dengan ayahnya.
"Sekarang bersiaplah! aku akan mengajakmu kesuatu tempat," ujar Yansen.
"Kemana?" tanya Evellyn.
"Jangan banyak tanya. Aku tidak suka lama menunggu, aku akan tunggu kamu dibawah. Jangan lebih dari 15 menit."
Yansen berbalik badan dan pergi dari kamar Evellyn. Evellyn yang kesal jadi menggerutu.
"Dasar bujang lapuk. Belum pernah kelilipan sendal kayaknya. Untung ganteng, kalau nggak udah ku bejek-bejek," gerutu Evellyn.
Yansen yang mendengarkan ocehan Evellyn hanya tersenyum tipis. Pria itu kemudian turun kebawah menunggu Evellyn diruang tamu.
Setelah menunggu hampir 15 menit, Evellyn turun dengan memakai baju kodok yang didalamnya dilapisi kaos putih. Untuk menunjang penampilannya, Evellyn mengenakan sepatu kets warna senada dengan rambut dikuncir jadi satu.
"Anak ini terlihat sangat imut," batin Yansen.
"Apa liat-liat? berasa tua kan liat penampilanku? nggak usah ngiler, seleramu juga bukan daun muda. Tapi perawan tua," batin Evellyn.
"Ayo tuan,"
Evellyn berjalan lebih dulu, karena Yansen terlalu fokus dengan pemikirannya sendiri.
"Sebenarnya kita mau kemana tuan?" tanya Evellyn saat mobil yang Yansen kendarai sudah meluncur bebas dijalan raya.
"Ikut saja, nggak usah bawel."
"Huuu...ya sudah, aku tinggal tidur aja kalau gitu," batin Evellyn.
"Ada apa?" tanya Yansen diseberang telpon.
"Kamu pergi dengan pelayan itu?" tanya Ivanka yang tak sengaja melihat kepergian Yansen dan Evellyn.
"Ya."
"Kok nggak ngajak aku?"
"Karena nggak ada kepentingan kamu disini. Aku mengajak dia karena ingin bertemu orang penting,"
"Kamu nyebelin deh," Ivanka langsung mengakhiri panggilan itu dan berharap Yansen menelpon balik karena ingin membujuknya. Tapi itulah Yansen, dia tidak pernah melakukan hal itu meskipun sekali saja selama mereka berhubungan.
"Orang penting? siapa orang penting yang dia maksud? atau dia hanya ingin mengelabuhi Ivanka saja?" batin Evellyn yang tengah berpura-pura tidur.
Setelah menempuh perjalanan hampir 30 menit, mobil itu berhenti pada sebuah rumah sederhana, namun tampak asri. Rumah sederhana namun dibangun diatas tanah seluas 1000 meter persegi.
"Ini rumah siapa tuan? apa ini rumah kerabat anda?"
"Turunlah, kamu akan tahu segera."
"Huuu...dasar pelit, apa susahnya kasih tahu. Ini kayak mau main teka teki," batin Evellyn.
"Ketuk pintunya!" ujar Yansen sembari membenarkan kaca mata hitamnya.
__ADS_1
Tok
Tok
Tok
Ceklek
Mata Evellyn terbelalak saat melihat sang ayah ada didepannya. Tidak jauh berbeda dengan Evellyn, Andre juga terkejut melihat keberadaan sang putri didepan matanya.
"A-Ayah,"
"E-Eve."
"Ayah,"
"Eve,"
Kedua ayah dan anak itu saling berhambur kepelukkan satu sama lain. Jangan ditanya isak tangis Evellyn, gadis itu seolah akan berhenti bernafas karena isak tangisnya yang terlalu berlebihan.
"Kenapa ayah bisa ada disini?"
"Mungkin sebaiknya kamu tanyakan hal itu pada tuan ini." Jawab Andre.
"Sebaiknya kita masuk ke dalam, biar kebih enak mengobrol," ujar Yansen.
Kini Evellyn mengerti, kenapa Yansen menyuruhnya menanda tangani surat kontrak itu. Itu karena Yansen sudah berhasil membawa Andre dari rumah Miranda.
"Sejak kapan ayah bebas dari rumah itu?" tanya Evellyn.
"Sejak 6 bulan yang lalu."
"6 bulan yang lalu?" Evellyn terkejut, kemudian menoleh kearah Yansen.
Yansen yang ditoleh, berpura-pura tidak tahu dan malah sibuk sendiri dengan ponselnya. Melihat situasi yang kurang baik, Andre buru-buru mengendalikannya.
"Apa pria ini memiliki hubungan spesial dengan Evellyn? dilihat dari bahasa tubuh mereka, sepertinya mereka saling menyukai," batin Andre.
"Tuan inilah yang menyelamatkan Ayah dari rumah itu, kemudian ayah dirawat di rumah sakit selama 6 bulan, dan akhirnya dinyatakan sembuh. Eve tidak boleh marah, tuan ini sudah banyak membantu ayah."
"Eh? Eve nggak marah kok,"
"Mana mungkin aku bisa marah sama dia? yang ada aku akan ditelan oleh singa ini hidup-hidup," batin Evellyn.
"Bagaimana keadaan ibu?"
"Jangan perdulikan dia, wanita itu sampai matipun tidak akan berubah."
"Hah...apa dia masih mencariku?"
"Itulah kenapa dia masih mau menahanku disisinya, karena berharap kamu kembali dan dia bisa menangkapmu."
Evellyn tertunduk, dia sangat sedih diperlakukan Miranda seperti itu. Padahal dirinya sudah menganggap wanita itu sebagai pengganti ibu kandungnya.
TO BE CONTINUE...🤗🙏
__ADS_1