
"Apa Mama takut aku akan ditahan papa, dan papa merebutku dari mama?" tanya Samudera yang membuat mata Evellyn terbelalak.
Evellyn tertunduk sedih, Samudera menyunggingkan senyumnya. Karena dia sudah tahu jawabannya.
"Ma. Samudera ini sudah berumur 10 tahun, bukan anak 3 atau 5 tahun yang masih bisa dibohongi. Samudera tidak tahu mama dan papa punya masa lalu seperti apa. Tapi Samudera pengen ketemu cuma mau menanyakan beberapa hal saja." ujar Samudera.
"Tapi kalau memamg mama tidak mengizinkan, Samudera akan menuruti perkataan mama." sambung Samudera.
"Makasih ya sayang," ujar Evellyn sembari memeluk putranya itu.
Evellyn tahu perasaan putranya itu saat ini, tapi dia belum siap buat melepas Samudera untuk bertemu Yansen.
"Kita pulang yuk?" ujar Evellyn.
"Ya."Jawab Samudera.
Evellyn dan Samudera akhirnya memutuskan pulang. Disepanjang perjalanan pulang Samudera hanya diam saja. Evellyn tahu perasaan putranya itu saat ini. Yang namanya anak-anak tetaplah anak-anak. Meski Samudera berkata baik-baik saja, tapi matanya tidak nisa dibohongi, bahwa anak itu mungkin merindukan sosok ayah kandungnya.
"Sayang. Apa papa Orland tidak bisa menjadi sosok pengganti bagi papa kamu?" tanya Evellyn saat mereka berada didalam sebuah taksi.
Samudera menoleh kearah Evellyn dengan mengerutkan dahinya.
"Maksud mama apa? apa mama mau menikah dengan papa Orland?"
"Eh? bukan begitu, kenapa kamu jadi punya pikiran seperti itu? maksud mama kenapa kamu harus penasaran dengan sosok papa Yansen, bukankah selama ini papa Orland sudah bisa menggantikan sosok papa kamu?"
"Mungkin saja bisa, tapi itu artinya kita harus membohongi diri kita sendiri. Kita tidak bisa merubah takdir bukan? kenapa harus pura-pura, hanya karena kita pernah merasa tersakiti."
"Aih...bocah ini. Obrolannya berat banget. Apa dia ini benar bocah 10 tahun? aku serasa ngobrol dengan orang berusia 70 tahun," batin Evellyn.
Supir taksi tiba-tiba menghentikan mobilnya sedikit agak mendadak. Membuat Evellyn dan Samudera tubuhnya sedikit terhuyung kedepan.
"Ada apa Pak?" tanya Evellyn.
"Maaf bu. Sepertinya terjadi kemacetan panjang." Jawab sang supir.
Evellyn membuka pintu mobil dan melihat situasi didepannya. Namun tiba-tiba Evellyn kembali masuk kedalam mobil dan menutup pintu dengan tergesa-gesa.
__ADS_1
"Ada apa ma?" tanya Samudra.
"Sepertinya ada aksi bentrok antara warga sipil dengan sekelompok orang yang mungkin sebuah geng." Jawab Evellyn.
"Kita diam didalam mobil saja, sampai situasinya aman," sambung Evellyn.
Namun baru saja Evellyn berbicara, segerombolan orang yang dalam aksi saling kejar mengejar memecahkan pintu kaca mobil yang mereka lewati, dengan senjata yang mereka bawa. Jerit ketakutan menjadi keramaian jalan pada siang itu.
Salah seorang dari geng itu menyeringai saat melihat Evellyn dengan memeluk Samudera. Pria itu memaksa membuka pintu mobil, yang membuat Evellyn menjerit ketakutan.
"Pemirsa, telah terjadi bentrokkan antara warga sipil dengan beberapa orang yang diyakini merupakan komplotan geng yang cukup meresahkan akhir-akhir ini. Para aparat sudah berusaha mengamankan bentrokkan itu, namun komplotan geng itu itu melakukan aksi perlawanan sehingga belasan aparat mendapat luka yang cukup serius,"
"Saat ini mereka juga menyandra seorang wanita dari warga sipil dan seorang anak yang berusia sekitar 10 tahun. Mereka juga sempat memberikan ultimatum bahwa sandra itu akan dibebaskan setelah jumlah tebusan yang mereka inginkan sudah terpenuhi. Berikut foto-foto dari sandra yang berhasil diabadikan oleh reporter kami," sambung pembaca berita.
Bruuuuuaaarrrr
Yansen dan Orland yang tengah minum teh ditempat berbeda, menyemburkan teh mereka saat melihat orang yang dilayar televisi adalah Evellyn dan Samudera.
"Eve..." ucap Yansen lirih.
Yansen mendekat kearah televisi dan meraba gambar yang menampilkan foto Evellyn dan Samudera.
"Ja-Jadi dia anakku? dia benar-benar mirip denganku," Mata Yansen mulai memanas, dan didetik berikutnya air mata itu sudah terjun bebas.
"Ya,"
"Yansen apa kamu sudah melihat berita hari ini?" tanya Zavier.
"Ya. Saat ini aku sedang berada di depan tv. Zav, dia anakku kan?"
"Ya. Aku sudah lihat, dia sangat mirip denganmu. Selamat ya Yan? akhirnya penantianmu terjawab sudah."
"Ya. Kamu cepat kesini, ajak yang lain. kita pecahkan soal ini bersama,"
"Oke." Jawab Zavier.
Yansen mengakhiri panggilan itu, dan mulai mencari tahu tentang keberadaan geng baru itu. Sementara itu ditempat berbeda, Evellyn dan Samudera tengan terikat dan disekap didalam sebuah gudang.
__ADS_1
"Sayang kamu jangan takut ya? Papa Orland pasti menyelamatkan kita." ujar Evellyn yang berusaha tegar demi membuat anaknya tidak ketakutan.
Namun sepertinya perkataan itu lebih cocok buat Evellyn, faktanya tubuh wanita itulah yabg tengah gemetar saat ini. Sementara Samudera bocah itu tampak tenang dan tidak ketakutan sama sekali.
"Bos. Pihak pemerintah meminta nomor rekening kita untuk mentransfer sejumlah uang, untuk menebus kedua sandera itu."
"Darimana kamu tahu?"
"Mereka langsung menyiarkannya secara live di Tv. Mereka juga sudah menuliskan nomor yang bisa kita hubungi, untuk meminta jumlah yang kita minta."
"Rahasiakan nomor itu dari yang lain. Jangan ada yang berani menghubungi nomor itu dengan nomor pribadi. Mereka akan bisa melacak kita."
"Baik bos."
Sementara itu, Yansen dan teman-temannya masih memantau kabar terbaru yang mereka tonton di televisi. Yansen rasanya hilang kesabaran, karena menurutnya pergerakkan dalam menemukan keberadaan Sandera sangatlah lambat.
"Sabar Yan. Mereka pasti baik-baik saja." ujar Zavier.
"Orang-Orang sialan itu tidak tahu sedang bermain-main dengan siapa. Dan orang-orang kita kenapa pula begitu lambat menemukan keberadaan markas mereka."
"Bersabarlah, sebentar lagi pasti akan ada hasilnya." ucap Owen.
Yansen mondar mandir menunggu info dari berbagai pihak yang dia sebar untuk mengetahui markas yang menyandera Evellyn dan juga putranya.
Yansen duduk disebuah sofa panjang, pria itu kembali membuka galery ponselnya, dan melihat foto yang sempat dia abadikan lewat ponselnya, karena memotret layar televisi. Ada perasaan rindu yang membuncah didadanya.
"Eve sangat cantik sekarang, tidak heran keturunanku juga berwajah luar biasa,' ujar Yansen.
Owen mencebikkan bibirnya, di susul dengan yang lain berdecak, karena menilai Yansen secara tidak langsung sudah membanggakan diri sendiri.
Yansen meraba layar ponselnya dan menyunggingkan senyumnya. Pria itu berpikir banyak hal yang akan dia lakukan setelah dirinya bertemu dengan Evellyn dan putra semata wayangnya.
"Bos sepertinya pemerintah sudah bereaksi," ujar Seorang pria bertubuh besar.
"Aku harap mereka tidak membahayakan anakku dan juga Evellyn," ujar Yansen lirih.
Yansen yang hilang kesabaran jadi beranjak pergi, dia ingin pergi kestasiun tv, untuk memantang para geng itu.
__ADS_1
"To be continue...🤗🙏