Belenggu Mafia Lapuk

Belenggu Mafia Lapuk
26. Petaka Pesta


__ADS_3

"Bagaimana persiapan pesta nanti malam?" tanya Yansen.


"Sempurna." Jawab Zavier.


"Ingat! jangan sampai kecolongan, beri penjagaan yang ketat."


"Siap." Jawab Zavier.


"Itu si Ivanka sama bocil nggak ikut?" tanya Diego.


"Jangan melibatkan wanita untuk urusan perusahaan, bisa runyam urusannya."


"Biarkan saja mereka ikut, lagipula disana pasti banyak istri-istri dari kolegamu," timpal Owen.


"Aku tidak ingin kalau Ivanka membuat ulah." Jawab Yansen.


"Suruh bocil mengawasi wanitamu itu, aku rasa Ivanka juga tahu tempatlah kalau mau buat onar. Kamu tinggal ancam dia, dia kan takut kalau kamu putusin," ujar Zavier.


"Terserah saja." Jawab Yansen.


"Sebenarnya aku nggak perduli sih Ivanka mau ikut apa nggak. Aku cuma mau Evellyn yang ikut, tapi kalau cuma ngajak dia, pasti Ivanka akan protes," ucap Zavier.


"Jadi sudah diputuskan bocil boleh ikut ya? aku kan yang paling terlihat muda diantara kalian, jadi bolehlah aku jadi pasangan pura-pura si bocil," ujar Diego sembari terkekeh.


Yansen melirik tidak senang kearah Diego, hingga membuat pria itu berhenti tertawa.


"Owen. Suruh disigner kita untuk menyiapkan gaun untuk Evellyn dan Ivanka, lengkap dengan sepatu dan tasnya." ujar Yansen.


"Siap." Jawab Owen.


"Ya sudah kita bubar dulu, sampai jumpa nanti malam," ucap Yansen.


Yansen dan teman-temannya membubarkan diri dari markas. Mereka cukup merasa gerah, karena setelah pulang dari kantor maising-masing, mereka ketemuan di markas untuk membahas acara yang akan diselenggarakan di salah satu hotel berbintang 5 itu.


"Sungguh? kamu mengizinkan aku ikut? apa kamu sudah berubah pikiran?"


"Berubah pikiran tentang apa maksudmu?"


"Kamu akan memperkenalkan aku sebagai wanita masa depanmu bukan?"


"Ckk...jangan mulai lagi Ivanka. Sudah berulang kali aku katakan padamu, aku sama sekali tidak tertarik dengan kehidupan rumah tangga atau semacamnya, jangan membuat kesabaranku habis,"


"Lagipula tidak hanya kamu yang akan pergi kesana, Evellyn juga ikut."


"Apa? kenapa si pelayan itu harus ikut? dia kan tidak memiliki kepentingan apa-apa?"


"Sama sepertimu, malam ini tujuan kita hanya ingin meramaikan acara itu."


Ivanka berdecak kesal karena tidak senang.


"Lalu aku harus pakai apa buat malam ini?"


"Sebentar lagi gaunmu beserta MUA akan datang untuk merias kalian."


"Aku tidak perlu MUA. Aku ini model terkenal, mana mungkin tidak bisa touch up sendiri,"

__ADS_1


."Terserah saja. Yang pasti Evellyn membutuhkan itu,"


Waktu menunjukkan pukul 5 sore saat seorang MUA datang dikediaman Yansen. Wanita itu bergegas naik ke atas untuk mendandani Evellyn setelah sebelumnya menyerahkan gaun untuk Ivanka.


"Ckk...males banget ikut. Untung besok hari libur,"


Setelah berdandan lumayan lama, akhirnya Evellyn sudah berhasil didandani dengan sempurna. Gadis kecil itu menjelma persis boneka hidup, dengan bentuk tubuh yang terlihat sexy karena Evellyn mengenakan gaun malam yang lumayan terbuka.


"Kakak. Apa tidak ada gaun lain? ini terlalu mengekspose bagian dadaku," tanya Evellyn.


"Maaf nona. Ini pilihan tuan Owen langsung. Lagipula anda terlihat sempurna memakai gaun ini."


"Tapi aku merasa kurang nyaman. Terus terang aku sedikit kurang PD dengan ukuran dadaku ini. Tapi mau bagaimana lagi? toh nggak bisa ditinggal juga," ucap Evellyn yang membuat sang MUA terkekeh.


"Kalau begitu biarkan untuk malam ini saja anda berdandan seperti ini. Jangan mengecewakan tuan Owen."


"Ha...baiklah kalau begitu,"


"Ivanka...Evellyn..." teriak Yansen.


"Tuan Yansen sudah manggil nona, sudah waktunya kalian berangkat."


"Baiklah, makasih ya kak."


"Emm."


Evellyn bergegas turun setelah menyambar sebuah tas bermerk yang disediakan oleh Owen.


"Kemana sih pelayanmu itu. Udah kayak dia yang majikan," gerutu Ivanka.


Yansen sama sekali tidak menggubris ucapan Ivanka, dia sibuk dengan ponselnya yang dari tadi berdering.


Evellyn menuruni anak tangga , gadis itu terlihat cantik dan anggun. Tidak ada kesan gadis 17 tahun yang melekat pada dirinya saat ini. Gadis itu benar-benar disulap menadi gadis dewasa dan berkelas.


Mata Yansen sampai tidak berkedip saat melihat kecantikan dan kesexyan yang Evellyn tawarkan. Gadis kecil itu berhasil membuat jantung Yansen berdebar-debar seketika.


"Ayo," ujar Evellyn.


"Berasa majikan ya? kecil-kecil dandanan centil," ucap Ivanka yang kemudian langsung berlalu.


"Kenapa pakai baju seperti itu? ganti!"


"Aku juga kurang nyaman. Tapi katanya ini pilihan kak Owen langsung."


"Aku tidak perduli! pokoknya kamu harus menggantinya, aku tidak perduli kamu mau pakai baju apa, pokoknya jangan pakai baju itu,"


"Enak saja. Cukup aku saja yang pernah melihat benda indah itu. Aku tidak akan memperbolehkan siapapun melihatnya," batin Yansen.


Saat Evellyn akan melangkah naik ke atas, tiba-tiba ponsel Yansen berdering untuk kesekian kalinya.


"Sial. Tidak ada waktu lagi, Eve tidak usah ganti lagi. Kita hampir terlambat."


"Emm." Evellyn mengangguk.


Yansen , Evellyn dan Ivanka pergi bersama. Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, mereka pun tiba di salah satu hotel berbintang 5, tempat mereka mengadakan acara pesta ulang tahun perusahaan.

__ADS_1


Saat Yansen tiba, pria itu langsung memberikan kata sambutan sebagai tanda terima kasih karena banyak teman, kolega dan rekan bisnis sempat hadir di acara itu. Setelah itu Yansen mempersilahkan para tamu untuk mencicipi hidangan, atau memperluas jaringan antar pengusaha yang hadir.


"Kamu harus memasukan obat ini kedalam minuman yang punya acara malam ini. Kamu tahu siapa dia kan?"


"Tahu tuan. Tuan tenang saja, tuan pasti mendapatkan apa yang tuan inginkan,"


"Pergilah! lakukan pekerjaanmu dengan rapi,"


"Baik tuan."


"Happp"


Evellyn menutup mulutnya, karena takut membuat suara yang akan membahayakan dirinya.


"Obat apa yang mereka maksud? siapa orang yang ingin mereka celakai? aku harus mengikuti pelayan itu," batin Evellyn.


Evellyn yang niat awal ingin ke toilet, jadi mengurungkan niatnya dan segera mengikuti pelayan itu.


Evellyn dapat melihat pelayan itu memasukkan sebuah obat kedalam segelas minuman mahal.Gadis itu segera bersembunyi dibalik tembok saat pelayan itu akan keluar dan membawa minuman itu.


"Mau kemana dia?" ucap Evellyn.


Evellyn memperhatikan pelayan itu dari kejauhan dan perlahan mendekat ke arah Yansen.


"Oh...tidak...apa target mereka tuan Yansen?" ucap Evellyn lirih.


Evellyn bergegas mendekat kearah Yansen, meskipun sepatu hills nya sangat menghambat kecepatan jalannya. Dari jarak beberapa meter, Evellyn bisa melihat Pelayan itu menyodorkan minuman pada Yansen yang tengah berbincang dengan para koleganya.


"Terima kasih," ujar Yansen saat minuman itu sudah berada ditangannya.


Namun saat Yansen ingin menyesap minuman itu, sebuah tangan mungil menyambar gelas itu dan spontan menegaknya hingga tandas.


"Maaf tuan.Saya sangat haus," ujar Evellyn.


Sementara itu Yansen dan koleganya hanya bisa melongo melihat keberanian gadis kecil itu merebut minuman orang yang terkenal dengan sebutan singa kota itu.


Yansen segera menarik tangan Evellyn dan sedikit menjauh dari orang lain.


"Apa yang kamu lakukan? kamu ingin mempermalukan aku?"


"Iya apa yang aku lakukan? kenapa aku harus meminumnya? aku tidak berpikir panjang, bagaimana kalau itu isinya racun?"


"Oh tidak...sepertinya racun itu sudah bekerja tuan. Kalau aku mati, tolong ikhlaskan semua hutangku ya tuan," ujar Evellyn yang mulai tidak bisa mengendalikan diri.


"Apa maksudmu?"


"Mereka...mereka memasukan obat kedalam minuman itu,"Evellyn mulai merasakan tidak nyaman pada tubuhnya.


"Obat?" Yansen memperhatikan wajah Evellyn yang mulai merah dan gelisah.


"Tu-Tuan...ini sangat panas,"


"Sial,"


Yansen segera membawa Evellyn pergi ke kamar pribadinya, untuk menghilangkan efek obat pada gadis itu.

__ADS_1


__ADS_2