Belenggu Mafia Lapuk

Belenggu Mafia Lapuk
68. Duarrr


__ADS_3

"Oke clear, diantara kita tidak memiliki senjata apapun," ujar Codet.


Yansen dan Orland sama sekali tidak menghiraukan ucapan Codet, kedua pria itu malah fokus melihat kearah dalam hellykopter.


"Tidak sabar sekali. Apa kalian pikir Evellyn akan berlari ke arah kalian seperti film india dan memeluk kalian? he, mimpi!"


"Kamu terlalu banyak mulut. Cepat turunkan Evellyn dan Samudera," hardik Yansen yang tidak sabar.


"Ckk...tidak sabaran." Codet memberikan kode pada rekannya, pintu hellykopter pun terbuka.


Evellyn dan Samudera perlahan turun. Tatapan pertama yang Evellyn lihat adalah mata Yansen yang berkaca-kaca.


Tap


Tap


Tap


Langkah besar Yansen begitu mantap menapak bumi. Diluar dugaan, pria dewasa itu bukan memeluk putranya, tapi malah memeluk Evellyn dengan erat.


"Maaf, maafkan aku," air mata Yansen tumpah dipunggung gadis itu.


Tubuh Evellyn mendadak kaku, dia bingung harus bereaksi seperti apa. Namun ingatan yang menyakitkan membuat dia mendorong dada pria itu tiba-tiba.


"Jangan peluk-peluk sembarangan, aku bukan kekasihmu apalagi istrimu. Aku masih sangat membencimu!" hardik Evellyn.


Orland mengulum senyumnya, karena melihat Yansen ditolak oleh Evellyn. Kini giliran dirinya yang bergerak maju, ingin menghampiri Evellyn.


"Stop! jangan mendekatiku, kalian berdua sama saja, bajingan semuanya. Dasar pembohong! tega sekali kau berbohong padaku selama 10 tahun lebih. Kamu memisahkan aku dari Ayahku, kau mengurungnya, dasar pria jahat! aku benci kalian semua!" hardik Evellyn.


Langkah Orland mendadak kaku, sementara Codet jadi tertawa keras.


"Sekumpulan pria yang malang," ujar Codet.


"Diam!" hardik Orland dan Yansen bersamaan.


"Hah...ya sudahlah, aku pergi saja. Selamat berkumpul dan ber-ka-bung," ujar Codet.


Tak seorangpun menggubris ucapan terakhir Codet, hanya Samudera yang mendengarnya dengan jelas. Codet kemudian naik keatas hellykopter itu, dan sang pilot mulai menaikkan benda berbaling-baling. Saat codet sedang mengambil senjata apinya, Samudera melepaskan pemicu geranat yang dia sembunyikan sejak tadi.


Bocah itu kemudian sedikit berlari dan melempar geranat itu kearah hellykopter. Dan di luar dugaan benda itu malah masuk tepat dibawah kaki codet.


"Anak sialan, mati kau!" Codet membidik, namun belum sempat melepaskan pelurunya, geranat itu lebih dulu bereaksi.


Boom

__ADS_1


"Samudera," teriak Yansen, Orland, dan Evellyn secara bersamaan.


Mereka begitu panik saat tiba-tiba terjadi sebuah ledakkan yang dahsyat. Merekapun berlari ke arah Samudera, yang tampak berjalan santai kearah orang tuanya.


Greppppp.


Evellyn memeluk Samudera dengan tubuh bergetar dan air mata yang tumpah ruah.


"Apa itu tadi Samudera. Kamu mau buat mama jantungan? jangan lagi lakukan itu, mama takut. Hikz..." Evellyn terisak.


"Kalau Samudera tidak melakukan itu, maka Mama benar-benar akan terkena serangan jantung. Dia ingin menargetkan aku dari awal," ucap Samudera.


"Apa maksudmu?" tanya Evellyn.


"Semalam aku tidak sengaja mendengar percakapan mereka. Mereka ingin membunuhku saat mereka akan terbang. Jadi aku terpaksa mencuri sebuah geranat dan menghabisi dia duluan."


"Ap-Apa kamu tidak takut sama sekali?" tanya Evellyn.


"Tidak." Jawab Samudera mantap.


Yansen menyeringai saat mendengar ucapan Samudera.


"Dia memang putraku," ucap Yansen.


Samudera menatap kearah dua pria yang berdiri sejajar menatap kearahnya. Bocah itu maju perlahan dan berdiri tepat dihadapan kedua pria itu. Melihat hal itu Evellyn jadi gugup, dia ingin tahu siapa yang ingin Samudera peluk lebih dulu.


"Apa papa tidak ingin memelukku?" tanya Samudera yang membuat bingung Orland dan Yansen.


"Kenapa? apa kalian berdua bukan papaku?" tanya Samudera.


Yansen dan Orland tersenyum lebar dengan mata yang berkaca-kaca. Mereka kemudian berhambur kepelukkan Samudera secara bersamaan.


"Samudera maafkan papa. Maafkan papa yang tidak ada disampingmu selama 10 tahun. Maafkan papa yang sempat tidak berlaku adil padamu." ujar Yansen terisak.


"Itu kamu tahu, jadi lepaskan anakku! kamu juga penipu, tidak usah berpura-pura lagi. Kamu baik karena ingin memanfaatkan kami kan?" ujar Evellyn dengan penuh amarah.


Orland dan Yansen berdiri seketika. Dan mendekati Evellyn secara bersamaan.


"Eve, kumohon maafkan aku. Aku baru sadar kalau aku sangat mencintaimu setelah kamu pergi meninggalkan aku. Aku mohon beri aku kesempatan," ucap Yansen sembari menggenggam tangan Evellyn.


Evellyn memalingkan wajahnya. Dia tidak ingin menatap wajah pria yang masih membuat jantungnya berdebar itu. Dia tidak ingin pertahanannya runtuh dengan cepat.


"Samudera. Ayo kita pergi," ujar Evellyn yang menarik tangan Samudera.


"Eve tunggu! kamu mau pergi kemana? kita pulang kerumah kita ya?" tanya Orland.

__ADS_1


Evellyn menghentikan langkah kakinya saat mendengar ucapan Orland. Gadis itu kemudian. berbalik badan dan menatap sinis kearah pria itu.


"Rumah kita? aku tidak pernah merasa, kalau rumah itu adalah rumahku. Karena aku tidak akan pernah mau serumah dengan orang yang berbohong seperti makan kerupuk,"


Evellyn kembali melangkahkan kakinya.


"Lalu bagaimana dengan ayahmu? apa kamu tidak ingin bertemu dengan ayahmu?" tanya Orland.


Langkah kaki Evellyn kembali terhenti, dia memejamkan matanya dan kemudian berbalik badan kembali.


"Ternyata memang bajingan sejati. Kamu tahu menggunakan kelemahan orang, agar menahan orang itu berada disisimu."


"Eve. Kakak benar-benar minta maaf padamu. Kakak tahu, kakak salah. Tapi kakak sudah sadar sekarang, itu semua berkat kamu."


"Berkat aku?"


"Iya. Jujur aku tidak tahu kapan perasaan ini muncul, tapi aku tahu kalau itu perasaan yang lebih. Eve, kakak mencintaimu."


Ucapan Orland membuat mata Evellyn dan Yansen terbelakak.


"Brengsek! apa maksudmu bilang suka sama dia? Eve cuma milikku, hanya milikku!" hardik Yansen.


"Siapa yang milikmu?" tanya Evellyn tidak senang.


"Tuh dengar, dia aja nggak suka sama kamu," timpal Orland.


"Kamu juga. Aku juga tidak perduli dengan perasaan kalian berdua. Aku masih bisa mendapatkan pria yang jauh lebih waras otaknya dari pada kalian,"


"Dan kamu, antarkan aku ketempat ayahku. Mulai hari ini aku hanya akan hidup bertiga. Hanya akan ada Samudera, Evellyn dan Ayahku." ucap Evellyn.


Yansen hanya diam saja, menatap punggung Evellyn yang makin menjauh mengekor di belakang Orland yang merasa menang. Pria itu bahkan sempat mengedipkan matanya kearah Yansen. Sementara Samudera hanya diam saja, tidak memihak siapapun.


Zavier mendekati Yansen, saat melihat mobil Orland yang menjauh.


Puk


Zavier menepuk pundak Yansen. Sahabatnya itu terlihat hilang semangat.


"Kamu harus bersabar dan terus berjuang. Paling tidak kamu lega sekarang. Evellyn dan Samudera baik-baik saja. Dan kamu masih punya kesempatan untuk berjuang kembali," ujar Zavier.


"Ya kamu benar Zav. Paling tidak mereka masih bisa ku lihat dengan mataku. Aku masih bisa menemuinya. Aku tidak akan menyerah untuk mendapatkan hati Evellyn kembali."


"Bagus! itu baru gantleman namanya," ucap Zavier.


Yansen dan Zavier memutuskan pulang bersama. Sementara disepanjang perjalanan Evellyn hanya diam saja sembari mendengarkan pembicaraan Samudera dan Orland.

__ADS_1


TO BE CONTINUE...🤗🙏


__ADS_2