Belenggu Mafia Lapuk

Belenggu Mafia Lapuk
72. Pelukkan Terakhir


__ADS_3

Sudah 2 minggu dari kejadian itu, kini Yansen sudah bisa beraktifitas seperti biasanya. Bahkan saat ini dia sedang menyiapkan pesta pernikahannya dengan Evellyn. Tentu saja Tasya alias Ivanka tidak senang mendengar hal itu. Dirinya merasa sudah berkorban banyak untuk menunggu Yansen agar melihat kearahnya, termasuk harus mengubah penampilannya.


"Apa bapak benar-benar akan menikahi wanita lain? kenapa tidak sekali saja bapak melihat kearahku? padahal jelas-jelas selama ini kalau aku sudah menunjukkan rasa sukaku kan?"


"Tentu saja aku tidak mungkin memilihmu. Berapa usiamu sekarang? usiamu tidak lagi produktif untuk melahirkan anak-anakku,"


"Apa maksudmu?" tanya Ivanka.


"Kamu pasti mengerti maksudku Tasya, ups...apa aku harus menyebutmu dengan nama Ivanka?"


Mata Ivanka terbelalak saat Yansen menyebut namanya.


"Ka-Kamu sudah tahu semuanya?" tanya Ivanka.


"Tentu saja aku tahu. Bahkan aku tahu sejak kamu muncul pertama kali di hadapanku. Aku tidak mengerti kenapa kamu sebodoh itu, menunggu seseorang puluhan tahun yang tidak mungkin bisa bersamamu."


"Yansen. Apa kamu tidak terlalu kejam padaku? apa kebersamaan kita dulu benar-benar tidak ada artinya bagimu?"


"Untuk apa kamu mengungkitnya? beruntung Evellyn selamat dari maut, sehingga aku bisa membirkanmu hidup hingga detik ini. Jangan kamu kira, aku tidak berani membuangmu ke tengah laut lagi, jika kamu melakukan kesalahan serupa. Karena keberuntunganmu tidak akan datang dua kali, Orland tidak akan datang lagi memberimu nyawa." Jawab Yansen.


"Sekarang kamu pergilah dari sini! jangan pernah muncul lagi di hadapanku, aku berbaik hati melepaskanmu dan tidak membuatmu berada dipenjara karena kasus pencurian data perusahaan. Jangan kamu kira aku tidak tahu perbuatanmu selama ini, jangan pula kamu menganggap dirimu itu terlalu pintar. Pergilah!"


Air mata Ivanka jatuh berderai. Dirinya tidak percaya karena bisa gagal untuk kedua kalinya. Bahkan dirinya kali ini sudah kalah telak. Ivanka hendak pergi dari ruangan itu, namun di hentikan oleh Yansen.


"Tunggu!" ujar Yansen.


Ivanka berbalik badan dan menatap Yansen yang hendak menghampiri dirinya. Yansen menghela nafas panjang dan kemudian memberikan sebuah cek pada Ivanka.


"Jalani hidupmu lebih baik kedepannya. Maafkan aku yang tidak bisa membalas perasaanmu padaku. Aku tahu ini mungkin terlalu kejam bagimu. Tapi Ivanka, kamu pasti tahu sesuatu yang dipaksakan tidak akan berakhir baik."


"Aku mengerti. Mungkin ini akan sulit bagiku, tapi aku akan mencoba mengikhlaskan semuanya. Aku juga minta maaf karena sudah sempat mengacaukan hidupmu. Mungkin aku akan kembali ke Amerika."


"Kamu mau jadi model lagi?"


"Kenapa? dengan penampilan baruku, orang-orang tidak tahu, kalau aku sudah berusia 40 tahun. Lagipula, walau nggak jadi model lagi, aku masih bisa bekerja di dunia hiburan sebagai apa saja."


"Baiklah kalau itu keputusanmu. Jaga dirimu baik-baik,"


"Emm." Ivanka mengangguk.


"Kalau kamu tidak mendapat pekerjaan dimanapun, kamu gunakan uang dariku untuk membuka usaha."


"Terima kasih Yansen. Bolehkah aku memelukmu untuk terakhir kalinya?" tanya Ivanka.


"Tentu." Jawab Yansen.


Ivanka segera berhambur kepelukkan Yansen sembari terisak.


Ehemmm


Deheman besar membuyarkan pelukkan haru itu. Wajah Yansen jadi pucat, saat melihat Evellyn berada diambang pintu.


"Yansen...." ujar Ivanka.

__ADS_1


"Tidak masalah, aku bisa menyelesaikannya. Pergilah!"


"Terima kasih,"


Ivanka melenggang pergi sembari menyeka air matanya.


"Sayang...."


"Sayang? enak betul meluk wanita lain, masih bisa manggil aku dengan sebutan sayang? kayaknya nggak perlu lagi deh,"


"Ckk...kemarilah!" ujar Yansen sembari menepuk pahanya.


"Nggak mau!" ucap Evellyn dengan bibir mengerucut.


"Tadi itu hanya pelukkan perpisahan. Ivanka mau kembali ke Amerika. Akhirnya dia bisa mengikhlaskan aku bersamamu,"


"Kenapa kamu nggak ikut dia saja?"


"Kamu ngomong apa sih? besok hari pernikahan kita loh, ini cobaan buat kita."


"Justru besok hari pernikahan kita, kenapa kamu sempat-sempatnya meluk wanita lain?"


Yansen menarik tangan Evellyn hingga gadis itu terduduk di pangkuannya.


"Kamu cemburu. Hem?" tanya Yansen.


"Kamu kok di cemburui. Aku sudah kenyamg melihatmu bermesraan dengannya,"


"Jadi kamu tidak cemburu?"


"Sayang sekali. Padahal aku sangat berharap kamu cemburu, itu tandanya kamu benar-benar mencintaiku. Malang sekali nasibku, sudah tua tapi tidak ada yang mencintai," ujar Yansen berpura-pura sedih.


"Ingat umur. Usiamu tidak cocok lagi buat bermain drama."


"Kejam sekali. Baru juga mau belajar romantis," ujar Yansen sembari menyelipkan anak rambut Evellyn.


"Jadi pergi tidak?" tanya Evellyn.


"Jadi dong. Hari ini kita harus melihat baju pengantinnya bukan? agar di hari pernikahan dan resepsi besok, kamu terlihat tampil sempurna. Dan aku bisa memperkenalkan dirimu dengan bangga." Jawab Yansen.


"Yansen. Aku mau minta izin padamu, setelah dari WO nanti, aku ingin menyelesaikan masalahku dengan Orland."


"Tidak masalah. Aku percaya padamu 1000%."


"Terima kasih. Aku juga ingin mengembalikan ini padamu," ujar Evellyn sembari menyodorkan dua kartu berwarna hitam pada Yansen.


"Kartu apa ini?"


"Ini kartu dari Samudera. Dia bilang mendapatkannya dari penjahat yang menculik kami waktu itu. Dia mencurinya saat penjahat itu tertidur."


Yansen tertawa keras. Dia sangat bangga dengan putranya itu.


"Kamu simpan satu kartunya, karna itu dariku. Dan kartu satunya bisa kamu kembalikan pada Orland, karena itu miliknya."

__ADS_1


"Tapi kartu ini nilainya trliliunan di dalamnya. Aku takut menyimpannya."


"Kenapa harus takut? ini milikmu dan Samudera sekarang. Kamu bebas mengunakannya sesuka hati kalian."


"Apa kamu tidak keberatan kami menghabiskannya?"


"Bahkan jika kurang aku bisa menambahkan lagi. Aku ini sudah tua, semua milikku adalah milikmu dan milik anak kita."


"Terima kasih." Jawab Evellyn dan merebahkan kepalanya didada bidang Yansen.


"Ayo kita pergi, nanti keburu sore," ujar Yansen.


"Emm." Evellyn mengangguk.


Yansen dan Evellynpun pergi untuk fitting baju pengantin. Setelah selesai, Yansen mengantar Evellyn untuk bertemu Orland. Orland yang tengah bermain piano, menghentikan aksinya itu dan menyambut kedatangan Evellyn.


"Kamu datang sendiri?" tanya Orland.


"Tadi Yansen yang antar, tapi dia pergi karena ingin membiarkan kita bicara."


Evellyn mengeluarkan kartu berwarna hitam dan menyodorkannya pada Orland.


"Apa ini?" tanya Orland.


"Kartu yang Samudera curi dari penjahat itu. Isinya uang yang untuk menebus kami waktu itu.


"Anak pintar." Orland terkekeh.


"Simpanlah. Gunakan untuk masa depan Samudera."


"Ta-Tapi ini jumlahnya sangat banyak?".


"Tidak masalah. Kalau bukan untuk anak, untuk siapa lagi?" ujar Orland.


"Tapi suatu saat kamu akan memiliki keluarga sendiri, kamu pasti butuh biaya hidup."


"Aku tidak semiskin itu. Kekayaanku hampir setara dengan calon suamimu, meskipun masih lebih kaya dia. Lagipula aku hidup sendiri, aku belum memikirkan untuk menikah satu atau dua tahun mendatang," ujar Orland.


"Terima kasih. Terima kasih karena selama ini sudah menjaga Ayahku dan anakku dengan baik. Meskipun caramu salah, tapi aku sudah berdamai dengan kesalahanmu itu,"


"Terima kasih Eve... kakak tahu perbuatan kakak itu sangat salah. Tapi kakak sangat berterima kasih, sejak kehadiranmu kakak bisa jadi orang yang lebih baik lagi."


"Emm." Evellyn mengangguk.


"Bolehkah kakak memelukmu untuk terakhir kalinya?"


"Kita kan masih bertemu,"


"Tapi dengan memelukmu, kakak ingin benar-benar melepaskan perasaan kakak padamu."


"Baiklah," Evellyn lebih dulu memeluk pria itu, dan dibalas erat oleh Orland.


"Semoga kalian berbahagia," ujar Orland yang secepat kilat menyeka air matanya yang sempat terjatuh.

__ADS_1


"Terima kasih kak. Aku juga mendo'akan semoga kakak segera menemukan pendamping hidup," ucap Evellyn.


Evellyn melerai pelukkan mereka. Setelah berbincang cukup lama, akhirnya Evellyn pamit pulang setelah menolak Orland untuk mengantarnya.


__ADS_2