BENCI UNTUK MENCINTA

BENCI UNTUK MENCINTA
Temen atau Temen ?


__ADS_3

Hampir jam 10 malam Anisa baru di bolehkan pulang oleh Surya, karena kakeknya Bimo itu sangat senang mengobrol dengan Anisa yang dia kenal sebagai kekasih cucu kesayangannya itu.


Itupun setelah Anisa berjanji kalau besok siang dia akan kembali mengunjungi kakek tua itu dan menemaninya bercerita.


Entahlah, ini memang pertemuan ke dua mereka, tapi rasanya Anisa sudah merasa dekat sekali dan sayang pada kakek tua itu, sehingga Anisa dengan suka rela menjanjikan hal itu pada Surya.


Padahal sebelumnya saat Bimo memintanya untuk kembali menemui kakeknya tadi siang dia terlihat seperti enggan, kini malah dia yang menawarkan dirinya sendiri untuk menemui kakeknya besok.


Setelah berpamitan dengan Bimo, mereka berpisah di lobi rumah sakit, Anisa keukeuh tak mau di antar Bimo pulang walaupun hari sudah malam, dengan dalih kalau dirinya bisa dan sudah terbiasa sendiri.


Bimo tak ingin berdebat lebih jauh, dia memilih untuk menuruti kemauan gadis yang kalau boleh dia nilai, sepertinya dia termasuk gadis ang mandiri dn cukup keras kepala.


Namun tanpa sepengetahuan Anisa, Bimo membuntuti laju motor gadis itu dri belakang, entahlah, rasanya dia merasa khawatir dan tidak tega membiarkan seorang gadis di jalanan malam malam begini, dia merasa ikut bertanggung jawab atas keselamatan Anisa, mengingat yang Anisa lakukan saat ini adalah atas permintaan dirinya.


Sesekali jantung Bimo berdesir kuat saat Anisa melajukan kendaraannya dengan sedikit mengebut, ada rasa cemas dan was was takut kalau tiba tiba gadis itu terjatuh dari motornya.


"Ish,,, apa tidak bisa dia melaju dalam kecepatan normal? Bagaimana kalau terjatuh, bgaimana kalau di depan ternyata ada kendaraan tak di ketahui, main salip salip aja!" gerutu Bimo sambil matanya terus terkunci pada sosok mungil yang mengendarai motor matik di depannya itu.


Akhirnya sampai juga di kawasan rumah Anisa yang tadi siang di sambanginya,terlihat gadis berambut pendek sebahu itu turun dari motorny dan lalu membuka gerbang pagarnya, lalu masuk ke dalam rumah mungil itu.

__ADS_1


Bimo yang sejk tadi memarkirkan mobilnya agak jauh dari rumah Anisa, untuk memastikan Anisa sampai di rumah dengan selamat, akhirnya melajukan kembali mobilnya perlahan.


Namun saat dirinya melewati rumah Anisa, tanpa di duga ternyta gadis itu sedang berdiri di balik pagar rumahnya, dan saat dirinya melewati rumah itu, terlihat Anisa melambaikan tangan lalu menganggukan kepala ke arahnya.


Bimo terlihat serba salah,


"Ah, tidak tidak, dia bukan melambaikan tangan dan mengangguk pada ku, mungkin pada orang lain, bukankah kaca film mobil ku gelap? apa lagi ini malam hari, tidak tidak,,, dia pasti tak tau kalau aku mengikutinya, tidak mungkin!" gumam Bimo heboh berdebat dengan pikirannya sendiri.


Bimo menginjak pedal gasnya sambil berandai andai jika ternyata Anisa tau tentang dirinya yang mengikuti dirinya diam diam tadi, oh,,, betapa malunya dia besok saat bertemu dengan gadis itu lagi.


###


POV Anisa


Tapi tunggu,,, dia juga berhenti di ujung jalan sana saat aku sampai, mataku menyelidik.


Tentu saja aku tau kalau yang di dalam mobil itu pasti Bimo, aku masih ingat mobilnya yang pernah aku buntuti dari hotel waktu itu.


Aku sengaja berdiri di balik pagar menunggu pria itu lewat, dan saat mobil sedanvmewah itu lewat tepat di depan halaman rumah ku, aku melambaikan tangan ku dan menganggukan kepala ku, ya terlepas dari dia mengikuti ku atau tidak, setidaknya aku bersikap sopan padanya, bisa saja kan, dia berniat baik mengikuti ku memastikan aku sampai rumah dengan selamat, haha ngarep.

__ADS_1


"Nisa,,, sedang apa kamu berdiri di sana, nak?" suara bapak membuyarkan lamunan absurd ku.


"Oh, ini,,,, Nisa sedang mengunci pintu gerbang,pak!" jawab ku sambil buru buru mengunci gerbang rumah ku lalu segera berlari menghampiri bapak dan ibu yang sedang menikmati sepiring pisang goreng dan teh hangat di meja teras.


"Bapak dan ibu belum tidur?" tanya ku.


"Kami menunggu mu, nak!" jawab bapak.


"Maaf pak, tadi Nisa menjenguk kakeknya temen Nisa yang di rawat di rumah sakit, keasikan ngobrol kemaleman deh!" kata ku sambil langsung bergabung bersama mereka duduk di teras, sungguh saat saat seperti ini yang selalu aku rindukan, mereka itu segalanya buat ku.


"Iya ibu tadi sudah bilang sama bapak," ujar bapak tersenyum hangat, tak pernah beliau meragukan atau mencurigaiku, bapak selalu percaya pada ku, begitu pun ibu.


Kebodohan terbesar ku adalah menjalin hubungan dengan Alan diam diam tanpa sepengetahuan mereka, dan sampai saat ini masih sangat aku sesali.


"Pria yang tadi siang datang menemui mu itu siapa, nak? Dia ganteng sekali!" goda ibu ku.


Aku tak menyangka ternyata tadi ibu melihat Bimo saat datang ke sini.


"Oh itu Mas Bimo, ya kakeknya mas Bimo itu yang sedang sakit itu, bu!" terang ku santai.

__ADS_1


"Bimo? perasaan ibu baru tau kalau kamu punya teman yang bernama Bimo, temen kuliah, atau---- temen apa nih?!" goda ibu ku, di iringi tawa bapak ku yang sepertinya ikut menggoda ku.


"Ish,, ibu ini, apaan sih, orang beneran temen, kok!" jawab ku sambil terus berlalu masuk ke dalam rumah, karena takut bapak dan ibu terus mengorek ngorek informasi tentang Bimo.??


__ADS_2