BENCI UNTUK MENCINTA

BENCI UNTUK MENCINTA
The Wedding


__ADS_3

###


POV Author


Hari pernikahan tiba, acara yang di langsungkan di rumah sederhana Anisa itu benar benar hanya di hadiri oleh keluarga terdekat dan pegawai pencatat pernikahan saja, bahkan tak ada satupun teman mereka yang di undang di acara itu, namun demikian, tak mengurangi khidmatnya acara itu, semua di lakukan dengan lancar dan sempurna.


Anisa yang dibalut dengan kebaya sederhana berwarna putih dengan riasan wajah yang sederhana itu tampak sangat cantik, wajah yang tak pernah di poles itu pun berubah menjadi sangat memancar aura pengantinnya, Bimo pun sejak tadi tampak mencuri curi pandang pada gadis yang kini sudah bertstatus sebagai istrinya itu.


Hari pernikahan yang seharusnya menjadi hari paling bahgia bagi kedua mempelai itu tak dirasakan oleh Anisa dan Bimo, mereka justru sudah cukup bahagia saat melihat orang-orang terdekatnya bahagia.


Judulnya pernikahan untuk membahagiakan orang lain ini, tapi ya memang begitu kenyataanya yang terjadi, mereka melakukan pernikahan ini semata untuk membahagiakan orang tua mereka saja, bukan untuk diri mereka sendiri.


Sesuai kesepakatan awal, setelah menikah Anisa akan di boyoong Bimo untuk pindah ke rumahnya.


Di sini lah Anisa sekarang ini, di rumah Bimo, lebih tepatnya di kamar Bimo tempat pertamakali dia bertemu dengan pria tampan tapi arogan dan kasar itu, sungguh dia tak pernah menyangka akan ada pertemuan ke dua,ketiga dan pertemuan ke sekian kalinya sampai sekarang akhirnya mereka terikat dalam sebuah pernikahan yang rumit seperti sekarang ini.


"Kenapa?" tanya Bimo saat melihat Anisa termenung seperti tidak nyaman berada di ruangan pribadinya itu.


"Ah, tidak! Apa kita harus satu kamar seperti ini?" tanya Anisa, bukan apa apa, Anisa tak bisa membayngkan bagaimana nasib ksehatan jatungnya, jika hanya dengan bertemu sesekali saja terkadang dia tidak bisa mengendalikan debaran jantungnya yang seakan menggila, lalu sekarang harus satu kamar selama 6 bulan lamanya, sungguh benar-benar tidak baik untuk kesehatan jantungnya.


"Tenang saja, aku tak akan berbuat macam-macam dengan mu, tipe wanita ku bukan seperti mu!" ucap Bimo, lagi-lagi lumayan mencubit nyeri harga dirinya sebagai perempuan,.


'Harus banget ya, bilang aku bukan tipe nya!' kesal Anisa, meski dia juga sadar diri, jelas lah seorang Bimo Mahesa yang tampan dan mapan itu seleranya pasti sangat tinggi, dan yang jelas bukan wanita seperti dirinya, kalaupun dirinya seakan tak tau diri karena kadang mengagumi ketampanan Bimo, ya wajar saja kali ya, sebagai wanita normal mengagumi pria tampan, apalagi di umur-umur Anisa seperti sekarang ini.


"Bu-bukan itu maksud ku mas, maksudnya aku takut kalau mas merasa tergangu dengan kehadiran saya di ruang pribadi mas ini." elak Anisa.

__ADS_1


"Akan menjadi pertanyaan bagi kakek dan yang lainnya jika kita tidak satu kamar, lebih jauh lagi mungkin mereka bisa curiga dengan pernikhan kita." terang Bimo.


"Aku sengaja mengganti ranjang dengan ukuran yang sangat besar, sehingga kalau kita tidur satu ranjang masih ada space yang luas di antara kita." lanjut Bimo.


Anisa hanya mengangguk patuh, meski terus terang saja ada perasaan ragu dan canggung, di seumur hidpnya dia tak pernah tidur satu ranjang dengan pria lain.


Benar saja, saat malam tiba, kalau orang bilang ini saatnya malam pertama, bagi para pengantin, semua itu tak berlaku bagi Bimo dan Anisa.


Merasa lelah dengan rentetan acara seharian tadi, Bimo langsung terpejam di ranjang luasnya, sementara sampai hampir tengah malam Anisa belum bisa memejamkan matanya sama sekali.


Akhirnya Anisa memilih untuk menyelesaikan gambarnya, karena besok sudah mulai penggarapan, Bimo sudah memberikan beberapa orang ahli untuk menjadi tim kerjanya dalam pengerjaan apartemen nya itu.


Tak terasa, saking asik Anisa menggambar, waktu sudah menunjukkan pukul setengah 5 pagi, Anisa buru buru turun untuk menuju dapur, meski tak termasuk kategori jago, Anisa bisa lah kalau hanya memasak sarapan.


"Masak apa bi?" Tanya Anisa mengagetkan asisten rumah tangga paling senior di rumah itu.


"Akh, nyonya bikin kaget saja,!" ucap perempuan paruh baya itu sambil mengelus dadanya sendiri, sepertinya bi Nani benar-benar merasa kaget dengan sapaan Anisa barusan.


"Boleh saya bantu, saya ingin memasak untuk kakek dan juga mas Bimo, bibi bisa ajari saya dan kasih tau apa sarapan yang biasanya mereka makan?" Tanya Anisa lagi.


"Tuan besar dan tuan muda biasanya sarapan omelet, mereka paling senang dengan omelet sayur." jawab bi Nani.


"Baiklah, apa boleh kalau hari ini saya yang memasak? Bibi hanya pastikan kalau saya tidak memasukan bahan makanan yang kakek dan mas Bimo tidak sukai, karena aku belum---" hampir saja Anisa kelepasan berbicara kalau dirinya belum tau apa apa tentang kesukaan suaminya itu.


"Ah iya nyonya, tenang saja. Oh iya nyonya, bibi bingung, katanya nyonya sudah 3 tahun berpacaran dengan tuan muda, tapi waktu itu,,, kalian seperti---" Tanya bi Nani yng saat itu merupakan saksi dimana dirinya bertengkar dengan Bimo, dan bi Nani yakin kalau mereka saat itu benar benar tak saling mengenal.

__ADS_1


"Ah, tidak usah di bahas bi, namanya jodoh dan takdir itu rahasia Tuhan," elak Anisa yang berhasil memuat bi Nani tak lagi bertanya mengenai hal itu, ungkin bi Nani merasa itu bukan urusannya, dan majikannya tak bersedia memberi tahu dirinya, dia harus menghirmati itu.


"Oh iya, satu lagi, jangan panggil saya nyonya, saya berasa jadi ibu ibu pejabat gimana gitu! panggil nama saya saja, panggil Nisa," ujar Anisa.


"Baik nyo- eh, mba Nisa," kata bi Nani yang merasa masih tak biasa dengan cara memanggil istri tuannya itu.


Hanya saja sejauh ini dari beberapa kali dirinya bertemu dengan gadis ayu itu, bi Nani sudah dapat menyimpulkan kalau Anisa orang ang baik dan ramah, buktinya dia tak sungkan untuk mengobrol dengan dirinya di dpur, dan mengerjakan pekerjaan dapur.


"Bi, apa masakan bibi pake bumbu lain?" tanya Bimo yang merasakan ada yang asing yang di tangkap oleh indera pengecapnya.


Bimo memang sangat teliti bila itu tentang rasa masakan yang di makannya.


Anisa yang juga kini duduk di meja makan yang sama dengan Kakek Surya dan juga Bimo langsung merasa ketakutan sendiri, jangan-jangan Bimo tak suka dengan masakan yang di buatnya, padahal dia sudah mengikuti arahan yang di berikan oleh bi Nani tadi.


"Anu, itu tadi Mba Nisa yang masak," jawab bi Nani takut-takut.


"kenapa, kamu tak suka dengan masakan ku, ya? Maaf!" sesal Anisa.


Setelah tau kalau Anisa yang memasak, Bimo langsung terdiam, dia tak lagi berkata apapun, tidakprotes atau pun memuji masakannya.


"Maaf, besok aku tak memasak lagi," ucap Anisa yang mulai insecure karena sikap Bimo.


"Iya, besok tak usah memasak lagi untuknya, kamu masak untuk kakek saja, karena kakek suka masakan kamu, ini enak!" puji kakek Surya.


"Aku tak pernah melarang mu memasak, aku juga tak pernah mengatakan masakan mu tak enak, kenapa kamu sensi sekali!" cicit Bimo.

__ADS_1


__ADS_2