
Sebenarnya kakek Surya agak keberatan jika di hari kedua setelah cucunya melangsungkan pernikahan mereka harus kembali menjalankan rutinitas biasanya, namun Anisa dan Bimo bersikukuh untuk tetap berangkat bekerja, dengan alasan jenuh jika berlama lama berdiam diri di rumah.
Anisa berangkat dengan mengendarai motor kesayangannya, dia tetap tak mau di antar Bimo ataupun sopir, Anisa keukeuh kalau dia lebih nyaman jika mengendarai motornya sendiri.
Bimo pun tak mau ambil pusing dengan keinginan istri palsunya itu, selama kakeknya tidak curiga, baginya tak harus mengeluarkan energi lebih untuk berdebat dengan istrinya yang terkadang keras kepala itu.
Jam istirahat siang, karena kebetulan Bimo baru saja bertemu klien di dekat apartemen yang sedang di kerjakan Anisa, akhirny Bimo yang saat itu di temani Rama sang asisten pribadi memutskan untuk mampir sekedar melihat sudah sampai mana pekerjaan yang di kerjakan istrinya itu.
Entah mengapa kadang Bimo tiba tiba ingin menemui istrinya itu, namun Bimo menolak kalau di sebut dirinya mulai tertarik pada istrinya, dia yakin kalau dia masih sangat mencintai Viona dan hanya akan selalu ada Viona tak ingin menggantinya dengan yang lain.
Bimo dan Rama sang asisten langsung masuk ke apartemen yang pintunya tak tertutup rapat itu, terlihat Anisa yang sedang mengarahkan beberapa tukang yang sedang melakukan pekerjaan sesuai arahannya, bahkan gadis itu pun tak canggung untuk ikut terjun langsung dalam pengerjaan pekerjaan kasar seperti menggergaji kayu, atau bahkan naik tangga untuk memasang lampu hias sendiri.
"Hati-hati!" Pekik Bimo tertahan saat melihat Anisa hampir saja terpeleset saat dia menuruni anak tangga seusai menempelkan rak hias di atas rak tv ruang tengah.
Anisa menoleh ke belakangnya ke arah suara Bimo yang tidak dia sadari kedatangannya karena saking asiknya bekerja.
Senyuman lebar dan sangat manis itu mengembang, senyuman yang tak pernah Bimo lihat sebelumnya dari wajah istrinya itu.
Hampir saja Bimo kegeeran dan mengira kalau Anisa terlalu berlebihan dalam menyambut kedatangannya itu, sebelum akhirnya dia ternyata menyadari kalau dirinya telah salah paham.
"Hai,,,,Kak Rama! bagaimana bisa ada di sini?" teriak Anisa terlihat sangat bahagia hanya karena bertemu dengan Rama yang merupakan asisten pribadi suaminya itu, mereka bahkan tak canggung berpelukan, seakan teman lama yang bertahun-tahun tak jumpa, mengabaikn keberadaan Bimo yang hanya melihat mereka berdua dengan tatapan sinis.
__ADS_1
"Nisa, kok kamu bisa ada di sini juga?" ujar Rama yang biasanya selalu terlihaat serius bila di hadapan Bimo, kini terlihat begitu lepas dan ceria, sama halnya dengan Anisa yang terlihat sangat berbinar binar kedua manik atanya saat bertemu dengan Rama.
"Ehemmm!" Deham Bimo yang iba-tiba saja menjadi merasa sangat menyesal telah mengajak asistennya itu ke tempat kerja istrinya.
"Ah, Mas maaf, aku tidak melihat mu, apa kalian datang bersamaan?" polos Anisa.
"What? Tak melihat ku ? Apa aku tiba-tiba menjadi transparan ketika bersebelahan dengannya?" kesal Bimo, sngguh hatinya menjadi sangat dongkol dan merasa tak di anggap oleh Anisa.
"Bu-bukan seperti itu mas, maksudnya tadi arah pandangan mata ku langsung menju ke arahnya jadi tak meliahat yang lainnya, maaf!" cicit Anisa lagi.
"Kalian?" Rama menatap Anisa dengan tatapan penuh pertanyaan.
Rama bertanya tanya ada hubungan apa antara Anisa dan bosnya itu, sementara dia sangat tahu kalau Bimo masih berpacaran dengan Viona si model terkenal itu, Rama memang tau hal itu dan mungkin satu satunya orang yang tau tentang hubungan mereka yang di rahasiakan pada siapapun itu, karena saking Bimo percaya padanya.
"Anisa itu---" Bimo yang akan menerangkan siapa Anisa pada Rama, langsung terdiam saat Anisa menyambar ucapannya.
"Dia bos ku, aku mengerjakan proyek pertama ku di apartemennya, bagaimana, keren kan, kak?" oceh Anisa, dia masih ingat permintaan Bimo padanya untuk merahasiakan status mereka pada umum, Anisa hanya ingin patuh saja pada perintah Bimo.
"Oh iya mas, kak Rama ini kakak kelas ku waktu SMU, dia juga dulu sahabatku," Anisa menjelaskan bagaimana hubungan antara dirinya dengan Rama meskipun sepertinya Anisa yakin kalau Bimo tak akan peduli.
Bimo hanya menghela nafasnya dalam, hatinya rasanya kok, terasa sedikit nyeri saat Anisa tak mengakui drinya sebagai suaminya. Tapi egonya kembali muncul, dia merasa semua itu mungkin baik untuk hubungan mereka, toh mereka sudah sepakat untuk merahasia kan status pernikahan mereka, lebih tepatnya dia yang menginginkan hal itu.
__ADS_1
"Kamu keren, selalu keren dari dulu, satu satunya dari dirimu yang tak keren itu saat kamu memutuskan untuk pacaran dengan Alan, bagaimana kabarnya dia?" Tanya Rama yang ternyata dulunya sahabat dari Alan juga.
Saat Anisa duduk di kelas 1 SMU, Alan dan Rama sudah duduk dikelas 3 di sekolah yang sama sebelum Anisa mengenal Alan dia terlebih dahulu mengenal Rama dulu yang merupakan sahabat dari Alan, hanya saja semenjak Anisa memutuskan untuk berpacaran dengan Alan, Rama seperti menarik diri dan tak mau berteman lagi dengan Anisa, entah dengan alasan apa, Anisa pun tak pernah tau alasannya sampai sekarang ini kenapa Rama seoalah menjauh dari dirinya.
"Aku gak tau kak, aku sudah tak bersama dia lagi sejak beberapa bulan yang lalu," jawab Anisa,wajahnya terlihat agak kurang suka saat membicarakan tentang mantan pacarnya itu.
"Lalu bagaimana kabar Luna, sahabat mu itu?" tanya Rama lagi.
Wajah Anisa terlihat muram dan masam,
"Aku tak tau kak, mungkin mereka sudah menikah sekaran ini! entahlh aku tak ingin membicarakan mereka," pungkas Anisa, sudah cukup jelas dan dapat dengan mudah Rama cerna pembicaraan Anisa , kalau Alan dan Anisa sudah putus karena Alan berselingkuh dengan sahabatnya sendiri yaitu Luna.
Rama pun memutuskan untuk tak meneruskan pertanyaannya tentang masalah itu lagi, karena mungkin bisa saja pertanyaannya itu akan melukai hati Anisa.
Bimo terus mendengarkan percakapan mereka, dan memperhatikan perubahan wajah Anisa, sepertinya alur ceritanya mulai dapat dia pahami.
"Bagaimana, sudah selesai reuni kalian? Ayo, pekerjaan kita , masih sangat banyak menunggu di kantor," ketus Bimo yang mulai jengah karena merasa di abaikan sejak tadi oleh Anisa dan Rama yang asik mengobrol berdua.
"Kakak kerja sama Mas Bimo juga?" tanya Anisa baru mempertanyakan hal itu, setelah lama mereka mengobrol ngalor ngidul.
"Dia asisten pribadi ku, tenang saja kau pasti akan sering bertemu dengan nya." Sinis Bimo, moodnya menjadi sangat jelek siang itu tnpa sebab yang jelas.
__ADS_1
"Oh, syukurlah kalau begitu," ucap Anisa tanpa dosa.