BENCI UNTUK MENCINTA

BENCI UNTUK MENCINTA
Nyaman


__ADS_3

Setelah meminum obatnya, Bimo sepertinya langsung mengantuk, terbukti dari dirinya yang kini malah tertidur di atas sofa saat dirinya menunggui Anisa yang sedang membereskan meja makan dan mencuci peralatan yang di pakainya untuk makan dan memasak tadi.


Anisa menatap wajah suaminya yang terlelap, perlahan dia menyelimuti tubuh Bimo yang sepertinya kedinginan itu, tanpa ingin mengganggu tidurnya.


Setelahnya Anisa yang juga merasa kelelahan tertidur juga di sofa sambil terduduk tak jauh dari tempat Bimo berbaring.


Sepertinya mereka berdua sama-sama kelelahan sampai tak ingat kalau mereka sebenarnya harus pulang.


Anisa terbangun saat hidungnya mencium bau makanan yang menguar di ruangan itu.


Wanita itu mengerjapkan matanya berulang kali ketika kedua netranya menerima cahaya menyilaukan dari tirai ang kini terbuka.


"Pagi! Apa aku membangunkan mu?" Suara Bimo tak kalah membuatnya kaget, belum lagi dirinya yang masih belum sadar jika dia berada di apartemen.


"Kita di--?" Anisa memutarkan pandangannya dengan perasaa bingung.


"Kita sepertinya ketiduran di sini, semalam!" terang Bimo.


Anisa menepuk jidatnya sendiri, dia baru sadar kalau ternyata dia tidur di tempat kerjanya.


"Lalu bagaimana dengan para perkerja?" tanya Anisa lagi saat melihat jam di tangannya sudah menunjukan pukul 10 pagi.


"Mereka tadi pagi ke sini, namun sudah ku suruh pulang lagi, hari ini mereka aku liburkan. Aku tak tega membangunkan tidur mu, sepertinya kamu lelah sekali," terang Bimo.


"Harusnya tadi kamu bangunkan saja aku, mas." ujar Anisa.


"Sudahlah, lebih baik kamu cuci muka dan kita sarapan, aku tadi memesan makanan." Bimo menunjuk beberapa makanan menu mewah yang terhidang di meja.


Saat ini Anisa dan Bimo duduk berduaan di meja makan untuk ke dua kalinya, jika semalam mereka makan malam berdua di sana, kini mereka sarapan berduaan, hati Anisa sedikit tergelitik membayangkan betapa bahagianya jika mereka dapat seperti itu selamanya.


"Kenapa hanya di lihat saja, kamu tidak suka?" tanya Bimo.

__ADS_1


"Bu-bukan begitu, aku hanya heran, mas pesan makanan-makanan ini lewat online?" Anisa mengalihkan pembicaraan,


"Oh, itu tadi aku pesan dari Mahesa hotel," jawab Bimo santai.


"Oh, pantas saja, sepertinya makanan kayak ini gak ada di aplikasi pesan antar ku," cengir Anisa, menempatkan beberapa makanan di piring untuk dia sajikan ke hadapan Bimo lalu menyodorkan sesendok makanan ke depan mulut suaminya itu.


"Tangan mas masih sakit, kan?" ujar Anisa yang tak di jawab apapun oleh suaminya hanya mulutnya saja yang terbuka menerima suapan dari istrinya.


Sejujurnya sejak tadi pagi perutnya merasa lapar, namun mengingat tangannya yang masih sakit dan tak bisa di paksakan untuk makan, dia hanya bi menunggu Anisa bangun, itupun setelah istri yang tak di harapkannya itu bangun, dia tak berani meminta padanya untuk di suapi.


Beruntung Anisa adalah istri yang sangat perhatian dan pengertian, dia langsung menyuapi dirinya tanpa harus di suruh.


"Kamu tak bekerja?" Tanya Anisa berbasa basi.


"Apa yang bisa di lakukan oleh ku dengan tangan yang seperti ini?" Bimo mengacungkan tangannya yang masih di balut perban.


"Karena kamu meliburkan pekerjaan ku, bagaimana kalau aku membantu pekerjaan mu?" tawar Anisa.


"Kamu? Tapi apa kamu bisa? Pekerjaan mu kan tentang menggambar dan--" Bimo merasa tidak yakin.


Namun beberapa saat kemudian Anisa mengernyitkan keningnya.


"Tapi mas, ngomong-ngomong pekerjaan mas itu apa?" Tanya Anisa dengan polosnya.


Sontak saja Bimo terbatuk-batuk dan menyemburkan makanan ang sedang di kunyahnya, "Jadi selama ini kamu tak tau apa pekerjaan suami mu?" kekeh Bimo yang lalu di balas dengan gelengan kepala Anisa, wajah gadis itu sangat mengemaskan saat kebingungan seperti itu.


Bimo baru menyadari betapa polosnya Anisa, bahkan saking lugunya dia tak pernah tau kalau suaminya itu pengusaha sukses dan terkenal.


Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya Bimo menyetujui keinginan Anisa untuk membantunya di kantor, apalagi pekerjaannya memang sedang banyak-banyaknya dan Rama pasti akan kewalahan jika dirinya absen lagi hari ini, mereka pergi kekantor setelah Bimo menyuruh salah satu asisten rumahtangga di rumahnya mengantarkan baju kantor dirinya dan Anisa.


"Kenapa kita ke Mahesa hotel?" tanya Anisa lagi-lagi dengan polosnya.

__ADS_1


Ingatannya kembali melayang saat dirinya bertemu untuk ke dua kalinya dengan Bimo saat dirinya melewati lobi hotel berbintang itu.


Namun yang membuat Anisa sedikit merasa aneh itu karena beberapa staf yang kebetulan berpapasan dengan suaminya selalu tersenyum dan menganggukan kepala tanda hormat, sementara pada dirinya mereka menatap seakan penuh tanya.


"Mas, apa mas Bimo kerja di sini, atau ada pertemuan di sini?" bisik Anisa.


"Hem," Bimo hanya berdeham menjawab rasa keingintahuan istrinya itu.


Terlihat juga Rama yang langsung berdiri saat dirinya dan Bimo hendak memasuki sebuah ruangan.


"Hai kak, kakak ada di sini juga?" Sapa Anisa.


"Iyalah, aku kan, asistennya pak Bimo, justru aku yng harus tanya sama kamu, kenapa kamu bisa ada di sini?" Rama malah bertanya balik, dia merasa ada yang aneh karena Bimo ta pernah membawa perempuan ke ruangan kerjanya kecuali Viona.


"Emh, aku---" gagap Anisa bingung harus menjawab apa.


"Ada yang perlu aku diskusikan dengan dia masalah desain!" sambar Bimo tak ingin Anisa keceplosan atau salah bicara.


Rama manggut-manggut meski masih merasa janggal dalam hatinya, namun dia bisa apa, Bimo atasannya, terserah dia kan, mau membawa siapa ke ruangan kerjanya, hanya saja berarti Anisa wanita ke dua setelah Viona yang bisa masuk ke ruangan pemilik hotel itu.


Rama sangat tau bagaimana cemburuannya Viona dan bagaimana bucin nya Bimo pada model cantik itu.


Viona tak pernah mengijinkan pegawai perempuan datang ke ruangan kekasihnya apapun alasannya, bahkan pemilihan dirinya sebagai asisten pribadi plus sekrtaris Bimo pun atas keinginan dan rekomendasi Viona, dia tak mau Bimo punya asisten atau sekretaris seorang wanita.


"Tak usah banyak bertanya dan tak usah banyak bicara!" ucap Bimo yang sepertinya mengerti apa yang tengah di pikirkn oleh Rama sekarang ini.


"I-iya bos, siap!" Jawab Rama kembali duduk di meja kerjanya yang terletak tepat di luar ruangan Bimo.


"Oh, jadi mas Bimo itu presdir mahesa Hotel? Waw, aku gak nyangka kalau nanti aku punya cerita hidup keren, aku pernah menjadi istri pemilik hotel mewah!" ocehnya dengan niat sedikit berkelakar.


Namun ternyata hal itu bisa membuat dada Bimo agak sedikit tak rela mendengarnya, 'pernah' itu berarti suatu saat dia tak lagi bersama dengan nya. Sempat sedikit terbersit dalam benaknya bagaimana jadinya nanti dirinya jika tak bersama Anisa lagi, sementara dirinya kini sudah terbiasa segala sesuatunya di urus oleh Anisa, mulai dari makanan, pakaian, dan kini pekerjaan juga.

__ADS_1


'Ah, tidak! Aku pasti bisa, sebelumnya saat tak ada dia juga aku baik-baik saja, tentu saja nanti saat dia sudah tak bersama ku lagi pun aku hanya perlu kembali menjadi aku yang sebelumnya saat tak ada dia, lagi pula, aku yakin Viona juga pasti bisa melakukan semua hal yang di lakukan Anisa saat ini,'


seperti biasa, Bimo menolak dengan keras kata hatinya, dia menyangkal mati-matian dengan apa yang di rasakan oleh hatinya kalau kini dia sudah mulai terbiasa dan nyaman dengan kehadiran Anisa di hidupnya.


__ADS_2