
"Sayang, ini weekend, aku harus ke rumah kakek, senin aku kembali ke sini," pamit Bimo pada Viona.
Namun sepertinya Viona tak rela mengijinkan suaminya itu untuk meninggalkannya meski hanya 2 hari saja, terbukti dari raut wajahnya yang terus di tekuk, bibir yang terus cemberut ranpa senyuman dan ekspresi marah bercampur sedihnya.
"Vio, ini hanya 2 hari, aku sudah berjanji sama kakek kalau weekend selalu menemani nya, kau tau kan, kalau kakek satu-satunya keluarga yang aku punya di dunia ini?" Bujuk Bimo.
"Lantas kapan kamu menepati janji mu untuk menikah dengan ku? Bahkan hanya untuk menikah siri seperti yang kamu jajnjikan saja belum terlaksana sampai saat ini, kamu akan buat hidup ku seperti apa? Bagaimana nasib aku dan anak ini nantinya?" Nada suara Viona meninghi.
"Secepatnya-- Bimo menghela nafasnya,--- secepatnya kita menikah siri,"
"Kapan ? Kamu tak pernah memberi kepastian, secepatnya itu bukan suatu kepastian, definisi secepatnya versi ku dan versi mu mungkin saja berbeda, jika secepatnya menurutku besok, bisa saja secepatnya menurut mu itu bulan depan tiga bulan lagi, atau bahkan sampai menunggu anak ini lahir ke dunia!" Sewot Viona.
"Minggu ini, rabu atau kamis kita akan menikah siri, dan hanya di lakukan di depan pemuka agama, dan dua atau tiga orang saksi saja," putus Bimo akhirnya.
Sungguh tuntutan Viona perihal menikah itu merupakan teror tersendiri bagi Bimo, rasanyq dia seperti si kejar-kejar oleh penagih hutang saja, membuat makan tak enak dan tidur pun tak nyenyak.
Viona menyeringai, raut bahagia dan senyuman lebarnya langsung nampak menghiasi wajah cantiknya.
"Ah benarkah? Kalalu begitu aku harus mengabari orangtua ku, dan aku jugaa harus menghubungi fotografer ku untuk----" Viona terlihat sangat antusias sebelum akhirnya dirinya harus menelan kekecewaan saat Bimo merampas ponsel kekasihnya yang baru saja hendak di gunakan untuk menghubungi fotografer nya agar mengabadikan moment pernikahan sirinyaa dengan sang pengusaha ternama itu.
"Viona! Kita hanya menikah siri, jangan macam-macam, aku tak mau pernikahan kita bocor ke publik dulu, ini beresiko untuk kakek jika sampai pernikahan kita ini bocor dan terdengar olehnya," bentak Bimo.
Viona tersentak kaget, untuk pertama kalinya dia merasakan di bentak oleh Bimo yang selalu memperlakukannya sebagai ratu itu selama ini, sehingga membuat Viona sedikit bertanya-tanya apa sefatal itu idenya mengabadikan moment pernikahan mereka sampai Bimo harus semarah itu padanya.
Bukankah selama ini dia yang paling sering meminta dan mengajaknya untuk menikah, kenapa di saat dirinya bersedia justru malah dia bersikap seperti dirinya yang dulu yang menginginkan semua di rahasiakan dan di tutupi dari publik.
__ADS_1
Viona bahkan sampai sempat berpikir apa semua ini adalah karmanya yang dulu selalu ingin merahasiakan dan menutupi hubungan mereka berdua demi kariernya yang memang sedang menanjak dan berada di puncak popularitas itu.
"Aku hanya ingin mengabadikan pernikahan kita saja, tak ada niatan lain," cicit Viona lirih.
"Kau bebas mengabaikannya saat pernikahan resmi kita, dimana kakek ku berada di sana menyaksikan nya, jangan bertindak yang macam-macam, ini menyangkut kesehatan kakek ku!" Tegas Bimo.
"Iya, aku mengerti, aku akan menuruti apa yang kamu mau," kata Viona mengalah, baginya kini yang penting Bimo mau menikahinya meskipun itu hanya sebatas pernikahan siri terlebih dahulu.
**
Langkah Bimo terasa sangat ringan dan begitu bersemangat, hari ini dia akan ke apartemen Anisa dan akan menghabiskan waktu weekend nya bersama sang istri dengan menginap di rumah kakeknya, sungguh hari ini sangat di nantinya semenjak beberapa hari yaang lalu.
"Hai mas, kamu sudah datang," sapa Anisa nyaris seperti tak ada sedikit pun marah, bahkan kesal padahal selama hampir seminggu ini istrinya itu di tinggalkan olehnya di apartemen sendirian, sementara dirinya menemani kekasihnya di tempat lain.
"Apa semua nya baik-baik saja? Tak ada kesulitan selama aku tak di sini?" tanya Bimo, yang padahal sudah mewanti-wanti istrinya untuk tak segan menghubungi dirinya jika ada kesulitan atau masalah di apartemen.
"Kenapa kamu tak pernah menanyakan kabar ku seperti ini selama kita berjauhan, kamu hanya membalas pesan, tanpa pernah mengirimi kunoesan atau menghubungi ku terlebih dahulu," protes Bimo.
"Aku takut mengganggu kamu mas, lagu pula aku tak mau jika hal itu nantinya akan menjadi masalah antara mas dan mbak Viona," terang Anisa terlihat santai dan tulus.
Tentu saja mendengar keterangan Anisa itu membuat hatinya berdenyut sakit mendengarnya, betapa istrinya itu begitu sabar dan penuh pengertian dalam menghadapi dirinya yang jauh dari kata layak untuk di beri semua perlakuan itu darinya.
"Seharusnya kamu tak perlu berpikiran seperti itu, kamu istri ku, kamu berhak atas aku, tak perlu selalu memikirkan tentang kebahagiaan semua orang, dan mengabaikan kebahagiaan mu sendiri, kamu bukan malaikat, kamu jugaa juga berhak mendapat kebahagiaan mu," ujar Bimo seraya mendudukan dirinya di sofa sebelah Anisa duduk.
"Aku bahagia kok, mas." Anisa melempar senyumnya yang sumpah demi apapun itu sangat menggetarkan hati Bimo, rasa-rasanya dia tak pernah melihat senyuman semanis itu.
__ADS_1
"Bagaimana kabar kehamilan mba Viona, baik-baik saja, kan?" Lanjut Anisa menanyakan perihal kesehatan madunya.
Deg,!
Bimo terdiam, sepertinya dia baru menyadari satu hal, yaitu tentang perkembangan kesehatan dan kehamilan Viona, dia tak pernah menanyakan hal itu pada kekasihnya, bahkan selama ini dia tak pernah sekedar mengelus perut kekasihnya yang berisi bayi bayi tak berdosa itu.
"Kenapa mas? Mereka berdua sehat-sehat saja, kan?" Tanya Anisa lagi, karena tak mendapat jawaban apapun dari suaminya.
"Emh, baik. Mereka baik-baik saja!" Jawab Bimo agak tergagap.
"Syukurlah, aku turut bahagia mendengarnya dan turut mendoakan istri dan anak mu mas," Anisa hanya tersenyum tulus.
"Emh itu-- aku belum menikah dengan Viona," Bimo seperti keberatan saat Anisa mengatakan kalau Viona itu istrinya.
"Owh, aku pikir kalian sudah menikah," Anisa tentu saja tak menyangka jika ternyata dirinya masih satu-satunya istri Bimo, bahkan dia sendiri tak tau apa yang menyebabkan Bimo belum juga menikahi Viona, sementara kondisi Viona saat ini di ketahuinya sedang berbadan dua.
"Aku baru akan menikahinya secara siri minggu depan, sepertinya kalau tak hari rabu, mungkin kari kamis kami menikah secara agama saja, apa kamu tak keberatan?" Tanya Bimo ragu.
"Apa aku berhak untuk mengajukan keberatan?" Tatapan Anisa sungguh berasa seperti menusuk tepat di jantungnya, tajam dan menyakitkan, padahal pertanyaan itu hanya di ucapkannya dengan nada yang datar saja oleh istrinya.
"Tentu saja, kamu kan istri ku, istri sah ku." Hanya itu yang bisa Bimo ucapkan, meski dia juga mungkin akan sangat kebingungan menentukan sikap jika Anisa benar mengajukan keberatannya dan tidak lagi pasrah seperti biasanya.
"Aku bercanda mas, mana mungkin aku setega itu memisahkan ayah dan anaknya, memisahkan kalian yang saling mencinta, lagi pula pernikahan kita hanya sandiwara saja, mbak Viona tentu saja lebih berhak atas diri mas."
Untuk posisi Anisa sekarang ini dia sebenarnya bisa di katakan lebih unggul di banding Viona dan lebih berhak atas Bimo dari segi apapun, hanya saja Anisa tak ingin bersikap serakah seperti itu, dia cukup tau diri posisi dirinya di hati Bimo seperti apa dan sebagai apa dirinya bagi Bimo.
__ADS_1
Meski Anisa tak pernah tau dan tak pernah menyadari kalau arti hadirnya di hati Bimo kini sudah menggeser keberadaan Viona di hati dan kehidupannya.