
Beberapa jam yang lalu di Mall,
"Bagaimana apa kamu bersedia?" Alan menanyakan kembali kesanggupan Anisa untuk mendesain Villa milik salah satu kliennya itu.
"Emhh, bagaimana ya,, pekerjaan ku masih kurang lebih 1 minggu lagi baru selesai," Anisa terlihat agak bingung dengan tawaran pekerjaan dari Alan tersebut.
"Hey, kata orang tua zaman dulu, pamali jika menolak rezeki!" Seloroh Alan degan senyum penuh harapnya.
"Padahal aku udah promoin kamu habis-habisan sampai orangnya bener-bener tertarik dan mau memakai jasa mu, tak harus buru-buru, selesaikan saja dulu pekerjaan mu, hanya tinggal seminggu lagi, sebulan pun sepertinya klien ku mau menunggu." Sambung Alan.
Setelah beberapa saat menimbang-nimbang semuanya, akhirnya Anisa menyetujuinya, rasanya Anisa tak enak hati jika harus menolaknya, apalagi setelah kejadian kemarin saat pengerjaan kantor Alan dia berhenti tiba-tiba di tengah jalan, dan mantan pacarnya itu tak protes atau keberatan, anggap saja ini sebagai kompensasi atas ke tidak profesionalan dia dalam menjalankan pekerjaan pertamanya dengan Alan.
"Oke baiklah kalau begitu, lebih baik kita tinjau dulu tempatnya, biar nanti kamu bisa menggambar denahnya dulu dan membuat beberapa desain, karena tempatnya jauh jadi sebaiknya kita berangkat sekarang agar pulangnya tak terlalu malam," Ajak Alan.
"Maksudnya kita berangkat ke sana sekarang?" Gagap Anisa.
"Mumpung kamu santai dan aku juga tak ada pekerjaan, daripada susah lagi menyesuaikan jadwal kita, kamu kan sekarang disainer sibuk," goda Alan.
Berangkatlah mereka ke villa dimana Alan katakan miliksalah satu kliennya yang akan di desain oleh Anisa mengendarai mobil Alan, kebetulan tadi Anisa memang menggunakan taksi online saat berangkat dari apartemennya menuju Mall tempat mereka janjian.
Tak banyak yang mereka bicarakan di sepanjang jalan menuju perbatasan kota yang memakan waktu kurang lebih 3 setengah sampai 4 jam itu.
Hati dan pikiran Anisa justru melayang memikirkan Bimo yang mungkin kini tengah berbahagia karena sedang melangsungkan pernikahannya dengan wanita yang di cintainya selama ini, wanita sempurna sekelas Viona seorang artis papan atas, bahkan kecantikan dirinya rasa-rasanya tak ada walau seujung kukunya saja.
...'Tak perlu khawatir ku hanya terluka...
__ADS_1
...Terbiasa 'tuk pura-pura tertawa,...
...Namun bolehkan s'kali ini ku menangis...
...Sebelum kembali membohongi diri'...
Sayup-sayup alusan lagu 'Runtuh' milik Fiersa bestari mengalun dari speaker mobil mewah Alan, seakan sedang mengejek dirinya yang memang sedang mengalami hal seperti itu sekarang ini, terluka namun berpura-pura baik-baik saja.
"Kok dimatikan, lagunya, bagus tau!" Protes Alan saat Anisa memencet tombol off pada layar pemutar musik yang berada di dashboard mobilnya.
"Emang lagunya gak ada yang bahagiaan dikit gitu? Melow amat, bikin ngantuk tau!" Kilah Anisa berusaha menutupi apa yang terjadi pada dirinya yang sebenarnya ingin nagis jejeritan saat mendengar lagu yang sangat relate dengan perasaanya itu.
"Ya tidur aja kali, bahu ku siap menopang seperti biasanya," goda Alan sambil menepuk-nepuk bahu kirinya dengan tangan kanan nya yang sedari tadi memegangi kemudi.
Anisa merasa tak nyaman jika harus mengungkit kembali cerita masa lalu di antara mereka, sudah benar sikap mereka sebatas sekarang ini saja, selain dirinya terkadang masih kesal dengan penghianatan yang di lakukan Alan, dia juga sudah tak punya perasaan apa-apa lagi pad mantan kekasihnya itu.
Anisa kini seorang istri, dia bukan tipe wanita yang bisa menghianati komitmen sejak dulu, apa lagi saat ini dirinya terikat tali suci pernikahan, meski hanya sebuah sandiwara, tapi akad itu di laksanakan darri awal sampai akhir dengan prosesi yang tidak pura-pura, janji suci yang di ikrarkan di depan keluarga, penghulu dan Tuhan sebagai saksinya, rasa-rasanya itu tak bisa di sebut sebuah pernikahan pura-pura.
Kalaupun Ada yang berpura-pura saat itu adalah perasaan mereka.
"Kita sudah sampai," ucap Alan memarkirkan mobilnya ke halaman luas sebuah villa mewah yang tempatnya seperti sebuah hutan, hampir tak ada rumah penduduk satu pun di sana, hanya banguan villa itu saja yang terlihat mentereng di area yang banyak di tumbuhi pohon-pohon besar seperti akasia, pinus, bahkan beringin, membuat kawasan itu terkesan angker.
"Serius, ini tempatnya?" Tanya Anisa seolah tak percaya.
"Kenapa, takut ya? Enak tau buat ngadem, sepi gak ada suara bising kendaraan, cuma ada suara jangkrik." Canda Alan.
__ADS_1
Anisa turun dari mobil sedan hitam itu, meregangkan badannya yang terasa pegal akibat sekitar 4 jam perjalanan hanya duduk dan tak berhenti sebentar pun meski tadi Alan sudah menawarkan padanya untuk makan atau mampir ke toilet saat di perjalanan, namun Anisa menolaknya karena ingin mengejar waktu, dan tak mau pulang kemalaman.
Baru jam 4 sore tapi daerah itu sudah terasa seperti masuk waktu magrib, Anisa bahkan sampai ***;ak balik memeriksa jam yang melingkar di tangannya memastikan kalau saat itu benar-benar masih pukul 4 sore.
"Di sini memang seperti ini, masih sore serasa sudah malam, ayo masuk," Ajak Alan.
Anisa mengekor langkah Alan, sambil memeriksa ponselnya, ada beberapa panggilan masuk dari Rama, sepertinya pria itu menelponnya saat dia sedang berada di jalan dan dia tak mendengarnya, namun saat akan di hubungi balik dia tak dapat menggunakan ponselnya sama sekali.
"Di sini tidak ada jaringan, mau menelpon siapa?" Tanya Alan yang melihat Anisa sibuk dengan ponselnya.
"Emh, tidak. Tadinya aku mau mengabari orang rumah, takutnya mencari," Anisa beralasan.
"Tenang saja, nanti aku pasti mengantar mu pulang sampai rumah, kalau perlu aku yang bilang sama orangtua mu kalau anaknya pergi dengan calon menantunya ini," Alan menaik turunkan alisnya menggoda mantan kekasihnya itu agar tak terlalu khawatir.
"Apa sih, gak jelas banget kamu dari tadi!" Anisa melengos, menunjukkan wajah tak senangnya dengan candaan Alan yang terkesan terus memancingnya sejak di perjalanan tadi.
"Kenapa Nisa? Kenapa kamu terus menghindari ku? Aku hanya ingin mencoba meruntuhkan tembok pembatas di antara kita, aku ingin kita seperti dulu." Perangai Alan tiba-tiba berubah, dia yang tadinya selalu mengalah dan terkesan cuek meski di perlakukan jutek oleh Anisa karena sadar akan kesalahannya, kini seakan tak bisa bertahan untuk bersikap seolah-olah menerima semua perlakuan Anisa padanya itu.
Alan memegangi kedua tangan Anisa dengan tatapan yang tak bisa Anisa baca sebagai tatapan apa, namun Anisa seakan bisa merasakan firasat kalau bahaya kini sedang mengincarnya.
"Tembok yang kamu bangun sendiri, tembok penghianatan yang tak hanya memisahkan kita namun juga menjadikan ku sangat benci pada mu!" Tegas Anisa seraya melepaskan tangannya dari cengkeraman tangan Alan yang terasa kencang di pergelangan tangannya.
"Tolong lepaskan, ini sakit. Aku ingin pulang saja, aku tak jadi mendesain villa ini, tolong antarkan aku pulang sekarang juga!" Mohon Anisa mengiba.
"Pulang? Sepertinya tidak semudah itu, kamu harus bermalam di sini dengan ku malam ini, sayang. Tak ada sejarahnya wanita yang dekat dengan ku namun tak pernah tidur dengan ku, kamu membuat ku penasaran setengah mati, kamu selalu jual mahal tak ingin di sentuh oleh ku saat dulu kita pacaran, membuat ku melampiaskannya pada sahabat mu," Seringai Alan sudah nampak tak biasa, sepertinya dia sudah di liputi napsu setan saat ini
__ADS_1