
Kini Anisa merasa seperti wanita yang sedang menculik pengantin pria dari pelaminan orang.
Anisa juga tak tau bagaimana Bimo bisa tau keberadaan nya, padahal seingatnya dia tak memberi tahu siapapun perihal kepergiannya dengan Alan.
"Mas, dari mana kamu tau aku di bawa ke tempat itu?" Anisa mencoba mengungkapkan rasa kepenasarannya, berharap bisa mencair kan suasana yang kini terasa menegang, aura dingain bahkan kini menyelimuti mereka berdua, dan yakinlah itu bukan karena AC mobil Bimo, namun dingin karena sejak tadi mereka tak saling bicara.
"Feeling suami!" Jawab Bimo singkat dan terdengar begitu sarkas.
Anisa kembali terdiam, pun saat Bimo membawanya ke sebuah penginapan di kota yang terkenal dengan kota yang dingin itu, setelah sekitar satu jam perjalanan.
"Ayo turun!" Titah Bimo.
"Ta-tapi---" kata Anisa ragu-ragu untuk turun dari mobil.
"Ayolah tidak ada tapi-tapian, aku lelah aku ingin istirahat, aku tak sanggup jika harus mengemudi malam-begini untuk pulang!" Kata Bimo seoalah tak ingin di bantah.
Anisa melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kanannya, waktu sudah menunjukan hampir pukul 10 malam, jika mereka memaksa untuk kembali ke apartemen, setidaknya jam 2 dini hari baru akan sampai di sana, pantas saja Bimo merasa sangat kelelahan, apalagi dia juga baru saja mengemudi jarak jauh demi menyelamatkan dirinya dari sekapan Alan.
Anisa mengekor langkah suaminya dan mensejajarkan langkah nya di sisi Bimo, dirinya masih merasa ketakutan jika tak berdekatan dengan suaminya itu.
__ADS_1
Rasa trauma akan perlakuan Alan padanya membuatnya diam seribu bahasa sampai mereka berada di kamar yang sebelumnya Bimo pesan di resepsionis tadi.
Bayangan saat Alan akan menggagahinya tadi terus saja berputar di kepalanya, membuat dirinya merasa jijik pada badannya sendiri yang tadi sempat di ciumi mantan kekasihnya itu, meskipun dulu mereka pun sering berciuman, namun hal itu mereka lakukan atas perasaan suka sama suka bukan atas paksaan seperti yang Alan lakukan tadi terhadapnya.
"Aku permisi mau mandi, mas!" Pamit Anisa, sungguh dia ingin menghilangkan bekas sentuhan, ciuman dan gerayangan tangan Alan di tubuhnya, dia merasa dirinya sangat kotor.
Merasa menjadi seorang istri yang tak dapat menjaga kehormatan dirinya sendiri.
Hampir satu jam berlalu, namun Anisa tak juga keluar dari kamar mandi, Bimo tau pasti ada yang tidak beres dengan istrinya itu, Anisa bukan tipe wanita yang berlama-lama di kamar mandi, karena sepanjang yang dia tahu, biasanya istrinya itu hanya membutuhkan waktu paling lama seperempat jam untuk mandi, itu pun biasanya dia sambil menggosok lantai kamar mandi, kalau tidak, kurang dari sepuluh menit saja biasanya sudah selesai.
"Nis, Nisa, Anisa!" Panggil Bimo dari luar kamar mandi sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi itu berulang kali.
Tak terdengar suara apapun selain suara isakan tangis Anisa dari dalam, karena merasa sangat khawatir dengan keadaan istrinya itu, Bimo nekat membuka pintu kamar mandi yang ternyata lupa Anisa kunci.
Tak berpikir panjang lagi Bimo langsung mematikan shower yang membasahi tubuh istrinya, lalu mengambil handuk yang berada di lrak tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini, melilitkan handuk itu ke tubuh istrinya dan mengangkat tubuh lemas Anisa yang terus menangis itu keluar ari kamar mandi dan memdudukannya di tepian kasur.
Helai demi helai baju basahnya di buka oleh Bimo agar Anisa tak semakin merasa kedinginan, sampai dua kain penutup yang tersisa di tubuh Anisa yang pasrah dan seakan tak berdaya untuk melarang atau pun mencegah perbuatan Bimo padanya.
"Maaf Nis, aku juga harus membuka ini, dan ini. Kamu akan masuk angin jika terus memakainya dalam keadaan basah seperti ini," ucap Bimo tergagap seraya menunjuk dua kain atas dan bawah penutup tubuh Anisa yang tersisa.
__ADS_1
Namun Anisa masih saja terdiam, tak tau itu sebagai ijin mengiyakan atau bahkan larangan untuk suaminya itu, namun Bimo memilih mengartikan kalau diamnya Anisa itu merupakan ijin untuk dirinya.
Dengan menahan hasratnya sebagai lelaki dewasa yang normal, sekuat tenaga Bimo mengalihkan pikirannya untuk tak memikirkan hal itu.
'Ah tidak, tidak! Bukan saatnya memikirkan hal itu sekarang!' Bimo memperingatkan dirinya sendiri.
Bimo lantas buru-buru menyelimuti tubuh polos istrinya karena dua kain terakhir yang menempel di tubuh istrinya sudah berhasil dia singkirkan tanpa perlawanan sedikit pun.
"Sayang apa yang terjadi, sebenarnya? Ceritakan pada ku, jangan simpan semua kesedihan mu sendiri, aku ada di sini untuk mendengarkan semua keluh dan kesah mu, percayalah! Tolong jangan seperti ini!" Bimo membawa tubuh istrinya yang berbalut selimut dan mirip kepompong itu, lantas membaringkannya di tengah kasur, dengan dirinya yang ikut berbaring di sebelahnya.
'Apa yang di lakukan si bangsat itu padanya sampai dia jadi seperti ini!' Batin Bimo.
Melihat istrinya terdiam seperti itu membuat hatinya merasa teriris perih, sungguh dia tak rela dan tak tega melihat beban yang sedang di rasakan Anisa saat ini, dia tak tau kesakitan apa yang tengah Anisa rasakan, namun yang jelas itu pasti sangat berat, sehingga sampai membuatnya syok seperti itu.
"Sayang, tolong jangan seperti ini, maafkan aku yang tak mengerti keadaan mu, maafkan aku yang terlambat menolong mu, maafkan aku jika sikap ku tadi semakin membebani mu, aku tak marah pada mu, demi Tuhan, aku hanya khawatir dan marah pada diri ku sendiri yang tak bisa menjaga diri mu, maafkan aku!" Lirih Bimo, seketika dia merasa sangat bersalah karena menyalahkan dan bersikap dingin pada istrinya itu, tanpa dia mau peduli tekanan dan peristiwa apa yang telah terjadi pada istrinya itu.
Alih-alih membuat istrinya tenang justru tadi dia malah semakin menambahi beban pikiran dan tekanan pada Anisa, oh,,, sungguh kini Bimo benar-benar merasa suami paling jahat di dunia ini.
"Anisa, maafkan aku, bicaralah jangan diam seperti ini, aku bingung," cicit Bimo sambil membingkai kedua pipi istrinya yang terasa dingin itu dengan kedua telapak tangannya untuk menyalurkan rasa hangat tubuhnya.
__ADS_1
"Aku mencintai mu, sungguh aku mencintai mu dan tak bisa melihat mu seperti ini, hati ku sakit melihat mu terdiam seperti ini, tolong bicaralah!" Bimo seakan tak kenal lelah terus meminta Anisa untuk bicara padanya.
"Aku,,,hiksss,,, aku bukan istri yang baik, aku tak bisa menjaga diri ku sendiri, aku---aku,,," Anisa lalu menangis lagi tersedu-sedu tak mampu meneruskan kata-katanya.