BENCI UNTUK MENCINTA

BENCI UNTUK MENCINTA
Duar !!!


__ADS_3

Akh,,, kenapa aku jadi terus membandingkan antara Anisa da Viona!' gerutu Bimo dalam batinnya.


Semenjak ada Anisa dalam kehidupannya, semua tentang Viona yang tadinya selalu istimewa di mata Bimo, kini menjadi seolah kurang dan tidak baik, jika itu di bandingkan dengan Anisa.


"Bimo, apa sebenarnya yang kamu sembunyikan dari ku, semenjak aku kembali ke tanah air, kamu sudah mulai berubah, apa kamu punya kekasih lain?" Tuduh Viona.


Sebenarnya Viona sudah mulai merasakan perubahan sikap Bimo itu sejak awal kepulangan dirinya dari luar negeri.


"Bim, aku melepaskan semua pekerjaan ku dan pulang ke sini demi agar kita bisa bersama, aku juga sudah bersedia mengekspose hubungan kita ke semua orang seperti keinginan mu selama ini, apa lagi yang kurang, apa lagi yang salah, aku bersedia mengikuti semua keinginan mu, termasuk untuk menikah dengan mu dalam waktu dekat." lanjut Viona.


Deg,


Hati Bimo sedikit tersentak saat Viona justru mengutarakan kesiapannya untuk menikah dengan dirinya, sungguh jika itu di katakan Viona dulu, seharusnya kata-kata itu bisa membuatnya berbahagia, karena selama ini dirinya yang selalu meminta dan memaksanya untuk agar Viona mau menjadi istrinya tapi sayangnya wanita itu selalu menolak dirinya, namun kini saat Viona mengatakan kesediaanya, justru perasaannya yang menjadi seolah gamang.


Bagaimana tidak, mana mungkin mereka bisa menikah sah secara negara, sementara di catatan sipil dirinya sudah terdaftar sebagai suami dari Anisa, dan bagaimana cara dia menjelaskan pada Viona kalau dirinya kini sudah menikah.


Bimo juga tak dapat membayangkan bagaimana murkanya Viona jika sampai dia mengetahui hal itu.


Dan bagaimana juga jika hubungannya dengan Viona ini sampai bocor ke telinga kakeknya, mungkin berita ini bisa saja membuat Surya mengalami serangan jantung akut yang tiba-tiba.


Bimo bergidig ngeri sambil menggeleng-gelengkan kepalanya berulang kali mengusir bayangan buruk yang memenuhi kepala nya.


"Sayang, aku benar-benar pulang, dan dari tadi aku hanya di rumah mengurusi kakek yang menolak untuk di ajak check up, bukankah dari tadi kamu video call aku berada di rumah?" Kelit Bimo yang menyelipkan sedikit kejujuran dalam kebohongannya.


Tentang dia yang berada di rumah sejak tadi tak kemana-mana itu 100 persen adalah kejujuran, namun untuk hal lain yang di ucapkannya barusan adalah seribu persen kebohongan.


"Jangan marah lagi, sebagai permintaan maaf ku, besok aku akan membawa mu ke mall, kamu boleh berbelanja sesuka hati mu." Bujuk Bimo.


Bimo memang paling tau dan mengerti cara ampuh untuk meredakan amarah kekasihnya itu, dan benar saja senyuman itu langsung muncul di bibir Viona yang beberapa detik yang lalu masih merengut kesal.

__ADS_1


"Hooo,,,, benarkah? Aku boleh beli apapun, sayang? Baju, tas, sepatu, make up?" ucapnya antusias.


"Hemh, semuanya!" Angguk Bimo.


Kini Bimo bisa kembali bernafas dengan lega karena kekasihnya itu sudah tak lagi membahas masalah pernikahan yang membuat kepalanya terasa cenut-cenut karena memikirkan semua itu.


Viona memang bisa melupakan segalanya jika sudah menyangkut masalah shopping, dan itu merupakan keuntungan tersendiri untuk Bimo karena kalau hanya membelanjai Viona, meski pun jumlahnya tak pernah sedikit, tapi bagi Bimo itu hanya hal kecil saja.


"Sayang, aku kesal dengan karyawan wanita yang tadi itu, kenapa dia bisa dengan lancang berada di sekitar ruangan mu, dan sejak kapan ada karyawan wanita di perbolehkan naik ke ruangan mu?" cicit Viona, meski nadanya sudah tak marah lagi, namun dia masih terlihat kesal saat membahas tentang Anisa yang berada di kawasan terlarang untuk karyawan wanita.


"Sayang, apa kamu sedang cemburu?" Goda Bimo mengalihkan pembicaraan.


"Cih, tentu saja tidak! Mana mungkin aku cemburu dengan gadis lusuh dan kucel seperti itu, bukan level ku, lagi pula aku juga yakin kalau kamu tak akan tergoda dengan gadis itu, hanya saja dia terlalu lancang melanggar aturan terpenting yang aku buat!" Viona mengerling membuang jauh pandangannya dari mata Bimo yang menatapnya seakan menyelidik.


Andai saja Viona tau kalau Anisa tak hanya ada di dekat ruangan kerja Bimo saja, namun setiap hari berada di satu kamar dengan kekasihnya, bahkan kini mungkin diam-diam Anisa juga sudah menempati salah satu ruang tersembunyi di hati Bimo, meski pria itu selalu menepisnya, mungkin Viona bisa mati berdiri.


"Jadi, dia itu bekerja sebagai desain interior di apartemen-apartemen yang aku renovasi atau aku desain ulang sebelum aku jual kembali agar harganya menjadi berkali-kali lipat lebih tinggi," terang Bimo.


"Rama juga ternyata kakak kelasnya dulu saat kuliah, dan me-mereka itu pacaran sayang, jadi dia datang untuk menemui kekasihnya, gitu!" Lagi-lagi kebohongan baru Bimo ciptakan.


Saking gugupnya dan tak ingin masalah dirinya dan Anisa terbongkar, akhirnya Bimo mengarang cerita baru dimana dia mengatakan kalau Anisa merupakan kekasih dari Rama.


Untuk masalah mengkondisikan Rama, Bimo rasa itu hal yang sangat mudah bagi Bimo, karena Rama pasti akan menuruti perkataan dan permintaannya dengan patuh.


"Bagaimana? Masih mau cemburu?"goda Bimo malam itu.


"Apa, cemburu, sepertinya itu tidak akan pernah mungkin lagi terjadi, siap yang mampu bersaing dengan ku?" ujar Viona penuh percaya diri.


Cukup masuk akal juga bagi Viona, dimana jika memang Anisa itu kekasihnya Rama, tentu saja Wanita itu bertandang ke lantai itu karena ingin bertemu kekasihnya, dan bukan menemui Bimo seperti apa yang ada di pikirannya.

__ADS_1


"Baiklah, tapi tetap saja aku tak suka jika ada wanita di dekat mu, kalau sampai aku melihatnya kembali di 'area terlarang', aku tak akan segan untuk berbuat yang lebih kasar dari pada yang aku lakukan padanya tadi." ancam Viona.


Membuat Bimo merinding mendengar ucapan Viona yang akan mencelakai istrinya yang nyaris sempurna itu.


Kenapa di katakan nyaris, karena dari semua pekerjaan dan tugas seorang istri Anisa lakukan dengan baik, hanya saja dia tak bisa memenuhi tugasnya sebagai seorang istri di ranjang, dan ironisnya, khusus tugas yang satu itu sudah di ambil oleh Viona.


Kurang lebih sekitar berjalan dua minggu semenjak kepulangan Viona ke tanah air dan kembali ke kehidupan Bimo, pria itu jadi sering pulang lewat tengah malam, bahkan beberapa kali tak pulang.


Tak perlu susah-susah mencari jawaban kemana Bimo pergi, Anisa sangat yakin kalau suaminya itu tentu saja bersama Viona sang kekasih.


Sikap Bimo pun berangsur kembali seperti awal mereka bertemu, dingin dan kaku. Meski begitu, Anisa tetap bersikap baik dan melakukan semua tugas seperti biasanya.


"Sayang, pulang kerja langsung ke apartemen ku ya, ada hal penting yang harus aku sampaikan pada mu," bujuk Viona dari ujung telepon saat menghubungi Bimo sore itu.


Bimo terpaksa mengiyakan permintaan Viona, padahal hari ini dia berniat untuk pulang tepat waktu ke rumah, sungguh dia di selimuti rasa rindu yang teramat sangat pada istrinya yang akhir-akhir ini sering di tinggalkannya karena waktunya lebih tercurah pada Viona.


"Sayang, aku rasa kamu harus segera mengenalkan ku pada kakek mu, dan kita harus segera menikah," wajah Viona begitu cerah merona saat menyambut kedatangan Bimo ke apartemen nya sore menjelang senja itu.


"Tapi--" cicit Bimo baru saja hendak beralasan,


Namun,


"Tara,,,,!" Viona mengacungkan sebuah alat tes kehamilan, dan menyodorkannya pada Bimo.


"A-apa ini?" Gugup Bimo, meski sebenarnya dia tau kalau itu adalah sebuah alat tes kehamilan, hanya saja dia tak mengerti kenapa tiba-tiba Viona menyodorkan benda itu padanya.


"Aku hamil, kita akan segera punya baby, itu berarti kita harus segera menikah sebelum perut ku semakin membesar," pekik Viona menceritakan dengan antusias dan sumringah.


Duar !!!

__ADS_1


Sungguh apa yang di sampaikan Viona padanya justru terdengar bak sambaran petir di siang bolong, Bimo tersentak kaget dan tak bisa berkata-kata.


__ADS_2