BENCI UNTUK MENCINTA

BENCI UNTUK MENCINTA
Tak ingin berpisah


__ADS_3

"Anisa, bagaimana jika aku ternyata telah sungguh-sungguh mencintai mu?"


Ucapan Bimo itu terus terngiang-ngiang di telinga Anisa membuat gadis itu tak bisa memejamkan matanya lagi sama sekali.


'Apa Bimo sudah kehilangan kewarasannya, mengatakan hal seperti iti dengan entengnya, di saat dirinya akan menikah dengan kekasihnya dalam waktu dekat ini? Atau itu hanya candaan? Ah, sungguh cara bercanda yang sama sekali tidak lucu !' Umpat Anisa dalam batinnya.


"Nisa, apa kamu sudah tidur?" Tanya Bimo lagi, meski mata Anisa terlihat memejam, namun Bimo bisa membedakan antara yang tidur arau hanya pura-pura tertidur.


Dan saat ini Bimo yakin kalau Anisa hanya sedang pura-pura tertidur, namun dirinya tak ingin terus mengusik gadis itu.


"Baiklah jika kamu memang sudah tertidur, aku hanya ingin meminta maaf karena aku sudah menyeret mu dalam pusaran masalah ku, terimakasih sudah menjadi istri yang sebena-benarnya untuk ku, dalam pernikahaan pura-pura ini, kamu tidak pernah berpura-pura dalam menjalankan tugas mu sebagai istri, aku bahagia menjadi suami mu, sampai aku lupa kalau semua ini hanya sandiwara, aku harap--- aku juga akan lupa jika kita harus berpisah, aku sepertinya tak sanggup jika harus berpisah dari mu, aku telah nyaman dan telah terbiasa menjadi suami mu, sampai aku tak berharap ada istri lain yang mendampingi ku selain kamu, tapi ternyata Tuhan menggariskan nasib lain untuk ku, aku di paksa untuk menikahi wanita lain oleh keadaan, maafkan aku yang sudah serakah karena ternyata tak bisa melepas mu juga!" Urai Bimo panjang lebar.


Selang beberapa menit kemudian Anisa menyembunyikan wajahnya di dada Bimo, terdengar suara isakan tertahan dari wanita yang sepertinya tergugu dengan kejujuran yang di sampaikan Bimo padanya.

__ADS_1


Sungguh ini di luar perkiraannya, ternyata Bimo benar-benar mempunyai perasaan yang sama dengan apa yang di rasakannya.


Satu-satunya hal yang kini membuatnya terisak pilu hanya karena menangisi nasib yang tak berpihak padanya, di saat dirinya mengetahui kalau Bimo juga ternyata mencintainya, di saat yang bersamaan dia jugaa harus merelakan suami yang di cintainya menikahi wanita lain karena di paksa oleh keadaan.


"Anisa,, Nisa,, sayang dengarkan aku, aku minta maaf jika aku lagi-lagi menyakiti mu, menyakiti perasaan mu, sungguh aku hanya ingin mengatakan semua yang aku rasakan pada mu, tak ada sedikit pun niat ku untuk menambah beban di pikiran mu, aku benar-benar minta maaf," Bimo memeluk erat tubuh istrinya untuk pertama kali, jika sebelumnya sia memeluk kalau hanya di depan kakeknya kali ini benar-benar hanya berdua, berpelukan dalam keadaan yang keduanya dalam keadaan sadar.


Namun Anisa masih betah menyembunyikan wajahnya di sana, di dada bidang Bimo yang baru Anisa tau kalau ternyata dada milik suaminya itu sangat nyaman sekali untuk di jadikannya tempat untuk menumpahkan segala kesedihan yang di rasakannya itu.


"Kenapa, kenapa mas mengatakan semua itu pada ku?" Ucap Anisa dalam isak tangisnya.


"Ta-tapi mas mengatakannya persis dimana pernikahan mas dengaan mbak Viona akan dilangsungkan dalam hitungan hari, apa mas berniat mempermainkan ku?" Anisa masih menyembunyikan wajahnya yang basah karena air mata di dada suaminya, rasanya Anisa tak mampu mengangkat wajah di hadapan Bimo.


"Nis, aku tak mau berpisah dari mu, aku mau kita tetap bersama, aku tak mau ada perpisahan di antara kita, persetan dengan perjanjian kita, aku hanya ingin tetap bersama kamu, itu saja.

__ADS_1


"Lantas bagaimana dengan mbak Viona? Dia mengandung anak mu, mas!" Sungguh Anisa tak bisa mengabaikan Viona begitu saja, meskipun dalam hal ini dia mempunyai hak penuh untuk melarang Bimo menikah lagi, tapi Anisa tak bisa melakukan hal itu, sebagai sesama perempuan Anisa tak mau menyakiti perempuan lainnya, anak itu lebih memerlukan Bimo, dia perlu ayahnya.


"Aku baru menyadari kalau rasa cinta ku untuk Viona ternyata sudah hilang, kehadiran mu telah menggantikan posisinya di hati ku tanpa aku sadari, jujur saja di awal aku menyadari ketertarikan ku pada mu aku menyangkalnya mati-matian, namun ternyata semakin aku sangkal maka semakin besar rasa cinta ku dan semakin aku tak bisa membohongi diri ku kalau kamu orang yang aku inginkan dan aku butuhkan dalam hidup ku, bukan Viona atau orang lain." Jujur Bimo yang tak kuasa lagi menahan segala perasaan yang ada di dadanya untuk di ungkapkan.


"Mas, anak itu butuh ayahnya. Aku tak ingin menjadi wanita yang jahat dan kejam karena memisahkan anak dari ayahnya, kalian dulu sangat saling mencinta, mungkin perasaan mu saat ini hanya sebuah godaan untuk kalian yang akan melangsungkan pernikahan, setelah kalian menikah semua akan kembali baik baik saja seperti semula." Urai Anisa yang tak ingin menjadi perusak hibungan antara Bimo, Viona dan juga calon anak mereka kelak.


Bimo tak bisa lagi berkata apa-apa selain mendekap erat tubuh istrinya lalu menciumi dalam kening wanita yang tak ingin dia tinggalkan itu.


"Anisa, aku mencintai mu, terlepas apapun yang kau katakan kalau ini hanya godaan atau apalah itu, aku tak ingin kita berpisah!" Tegas Bimo sekali lagi.


Bimo mengangkat dagu istrinya agar menengadah dan menghadap padanya, perlahan wajahnya mendekat ke wajah Anisa yang terlihat pasrah dengan apa yang akan suaminya perbuat padanya.


Bimo menyatukan bibirnya ke bibir merah Anisa, perlahan Anisa memejamkan matanya dan tak ada penolakan sedikit pun dari gadis itu saat Bimo mulai melu mat bibirnya dengan lembut.

__ADS_1


"Terimakasih sudah menjadi istri yang baik untuk suami yang tak baik seperti ku!" Ucap Bimo sesaat setelah ciuman itu terlepas.


Anisa hanya mematung, dia seperti tergugu dengan apa yang baru saja di alaminya, sungguh di luar dugaannya, dia berciuman dengan Bimo, suami pura-pura nya.


__ADS_2